Namanya Amalea

Namanya Durata

Amalea dan Durata berdampingan

Mereka saling pandang

“Durata, aku ingin menari bersamamu”

“Menari apa? Kamu tahu aku tidak bisa menari”

“Menari apa saja. menari apa saja”

“Aku ingin menari sambil berkabung”

“Bicaramu aneh. Apa maksudmu menari sambil berkabung?”

“Ya, menari sambil berkabung. Bersedih”

“Durata, kamu aneh sekali. Orang menari di saat senang. Bukan di saat sedih”

“Memangnya tidak ada tarian khusus untuk orang yang sedang sedih?”

“Mungkin ada. Mungkin saja ada. Tapi jarang orang yang melakukannya, karena biasanya orang menari saat mereka gembira. Misalnya saat pesta ulang tahun, pesta pernikahan…”

“Kamu tahu darimana kalau mereka yang menari di pesta itu sedang bersenang-senang?”

“Mereka tertawa. Mereka punya energi untuk menari. Mereka menari seperti tidak ada hari esok”

“Siapa bilang? Siapa bilang begitu? Mereka bisa saja sedang sedih”

“Tapi paling tidak mereka berusaha untuk senang, kan?”

“Berusaha untuk senang bukan berarti tidak sedang sedih. Mengapa mereka tidak menarikan tarian tentang kesedihan?”

“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan kesedihan, Durata?”

“Aku tidak terobsesi. Aku hanya berpikir realistis saja. Banyak orang sedih di dunia ini”

“Tapi bukan berarti kau harus memikirkannya bukan?”

“Aku tidak bisa tidak memikirkannya. Kamu tega sekali tidak memikirkan mereka”

“Lho, ini bukan tentang tega tidak tega. Kamu bisa lelah luar biasa kalau kamu memikirkannya”

“Aku bilang aku tidak bisa tidak memikirkannya”

“Durata, bisakah kita menari sekarang?”

“Menari kesedihan?”

“Tidak penting menari apa. Aku hanya ingin menari bersama kamu. Kamu boleh memikirkan kesedihan ketika menari bersamaku. Aku boleh memikirkan kamu memikirkan sesuatu yang indah ketika kamu menari bersamaku”

“Setuju. Aku setuju, Amalea”

Amalea dan Durata menari disiram sinar oranye dari matahari yang hampir sembunyi di balik awan abu

Senayan, 17.52 WIB. 3 Juli 2008

Jakarta baru saja merayakan ulang tahunnya. Di usia 481 tahun, Jakarta menunjukkan transformasi yang begitu pesat. Hingga saat ini, Jakarta masih tetap menjadi destinasi utama bagi mereka yang ingin mengembangkan dirinya, terutama dalam hal ekonomi. Itulah kenapa Jakarta menjadi bentuk nyata dari melting pot di Indonesia.

 

Puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang tumpah di Jakarta untuk mengadu nasib. Sebagian beruntung, sebagian lagi harus bekerja keras dengan hasil yang tak seberapa. Hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Ya, Jakarta bukan cuma gedung tinggi dengan interior luks. Jakarta bukan hanya mal berisi butik disainer ternama dunia. Sosok Jakarta tidak hanya melulu mereka yang berdasi yang duduk di dalam mobil mewah mengkilat. Joki ’3 in 1’ adalah Jakarta. Pemukiman liar dan kumuh juga Jakarta. Pedagang asongan di lampu merah juga sosok Jakarta. Mereka adalah bagian dari jakarta. Kita sering sekali bertemu dengan mereka, namun mungkin kita memilih untuk tidak ”melihat” mereka. Menganggap mereka bagian dari kota ini tanpa memikirkan bagaimana kehidupan yang mereka jalani, bagaimana cara mereka menghidupi diri dan keluarga, apa yang mereka hadapi setiap hari dan apa cita-cita mereka.

Irfan Kortschak adalah salah satu dari penduduk Jakarta yang ”menyadari” kehadiran ’invisible people’ ini. Irfan bukan orang Jakarta. Ia bahkan bukan asli Indonesia. Penulis/Fotografer yang bekerja di UNICEF ini berasal Australia, namun keakrabannya dengan Indonesia tidak perlu ditanyakan. Mengambil studi tentang Indonesia dan Jawa, Irfan yang beristrikan orang Indonesia ini telah berdomisili di Jakarta sejak 1993.

 

Irfan memang bukan ekspatriat pertama yang memiliki perhatian tinggi akan kota Jakarta. Namun lewat buku ’Nineteen’ yang disusunnya bersama fotografer asal Amerika, Josh Estey, Irfan berhasil membuka mata kita sebagai orang Jakarta untuk melihat sosok Jakarta dalam perspektif berbeda. ’Nineteen’ berisi 19 profil orang yang berada di sekitar kita namun sering luput dari perhatian, yaitu para pedagang kaki lima. Irfan (dan Josh Estey) melakukan pendekatan dan mewawancarai pedagang asongan, penjual jamu, pemilik warung di daerah Senen hingga veteran yang menyambung hidup dengan menjual minyak.

 

Jika melihat sosok pedagang kaki lima di sekitar kita, mungkin sebagian dari kita akan memandang pekerjaan mereka dengan sebelah mata. Memang, sektor informal di Jakarta belum dianggap serius, padahal beberapa di antara mereka, penghasilannya tidak kalah dengan mereka yang kerja kantoran, meski setting ”kantor” dan penampilan kerja mereka tidak rapi jali nan wangi seperti mereka yang bekerja di gedung tinggi.

 

Masalah informalitas memang dihadapi kota Jakarta. Berita tentang pedagang kaki lima yang digusur tentunya bukan hal asing di telinga kita. Informalitas sudah menjadi bagian dari sebuah kota. Menurut Ananya Roy dan Nezar Alsayyad, informalitas adalah suatu moda urbanisasi yang menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi dan ruang di kawasan perkotaan. Menurut pengamatan mereka, pada kota-kota di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia, perkembangan kawasan perkotaan disebabkan oleh urbanisasi informal. [lebih detil bisa anda baca di sini]

 

Memang dari segi keamanan (baca: asuransi kesehatan dan pensiun) posisi mereka sangat lemah. Namun tidak semua orang punya kesempatan untuk bersekolah hingga S1 bahkan S2, atau punya kenalan yang bisa membantu mendapat pekerjaan di perusahaan yang bisa memberikan keamanan hidup. Oya, tidak semua orang juga merasa senang dan nyaman bekerja dengan orang lain atau berada di dalam institusi. But well, menurut Kortschak, kita semua yang tinggal di kota Jakarta ini, baik yang pedagang kaki lima maupun yang kerja di ruangan AC toh punya kesamaan, sama-sama berjuang hidup. Sama-sama ingin bahagia. Sama-sama ingin hidup tenang. Meski tahu bahwa mencapai hidup tenang itu kadang terasa mahal. Terasa mahal karena bukan melulu mengenai materi. Bagi setiap manusia di Jakarta, gambaran hidup berkecukupan tentunya sangat berbeda. Namun bagaimanapun, baik pedagang kakilima, maupun karyawan bank tentu setuju kalau hidup perlu diperjuangkan. 

 

Apalagi hidup di Jakarta.

 

Bintaro-Senayan, Juni-Juli 2008

ps : thank you for Mr. Irfan Kortschak and Mr. Josh Estey

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
aduh!
jakarta hanya untuk konstipasi
karena jakarta bau terasi
Senayan, 3 Juli 2008

setiap orang meniupkan harapan

aku ingin jari-jariku menari di tepian rambutmu

 

setiap orang melukiskan kenangan

aku ingin merasakan desir angin

 

setiap orang membisikkan cinta di telinga

aku ingin membiarkanmu tertidur

 

tak ada yang lebih dari segaris senyum di bibir

 

Senayan, 17.48, 23 Juni 2008 

 

Manusia seribu rupa

Sungguh tidak tertera
Tersenyum polos
Lalu menyeringai kasar
Menatap kosong
Lalu tertawa lepas
Terkadang bingung
Terkadang sinis
Terkadang menggelegak
Seperti ada energi yang terus memompa
Lalu diam
dan bertanya
“Bagaimana dengan kamu?”

Sekitar Bintaro, Awal Februari 2008

 

duduk di atas sofa

laki-laki menghinggapkan telapak kaki kanannya di tepi meja

perempuan menekuk kedua kakinya di atas sofa

keduanya berbincang

tawa kecil

bercerita tentang sahabat si perempuan yang baru saja punya pacar

membicarakan banjir

membahas tentang perilaku atasan si laki-laki

berdebat tentang di mana tempat tinggal yang ideal

berbicara tentang kebun bunga Oma si perempuan yang kini jadi apotek hidup

sesekali tertawa panjang

sesekali diam sejenak

bukan kehabisan bahan pembicaraan

hanya ingin diam

tapi senang

tidak ingin bicara tentang politik

tidak ingin bicara tentang agama

tidak ingin bicara tentang gender

tidak ingin bicara tentang krisis

tidak ingin bicara tentang pengadilan

tidak ingin bicara tentang bencana

tidak ingin bicara perbedaan

laki-laki mengeluarkan gunting kuku dari tasnya

ia menggunting kuku-kuku kaki perempuan

Bakoel Koffie, awal April 2008 - Bintaro, tengah Juni 2008

BHBS

big.hearted.big.sadness

Tengah Juni 2008

Try me, please me

Show me you can fill me

Go away, leave me

Show me I can feel you

February 24th 2003

negeri pelupa

Lupa

Lupa

Lupa

Kita ini negeri pelupa

Sudah lupa masih juga cengengesan

Merah

Merah

Merah

Yang merah jangan diingat

Tolong!

Kami tenggelam

Bintaro, Juni 2008

Ilustrasi : Serpong, Mei 2008

Malam itu

Setengah Satu

Kamu

Aku

Berbagi detak

    Setengah satu

    Hening di penjuru

    Kamu

    Aku

    Beradu rasa

Kamu

Hasrat menderu

Kamu

Aku

Berucap semu

    Aku

    Lisan meramu

    Kamu

    Aku

    Detak Rasa Semu Meramu

Bintaro-Serpong, 16-18 Mei 2008

Bulan ini, sepuluh tahun yang lalu. Mungkin kita sudah lupa kalau bulan ini sepuluh tahun yang lalu kita berada pada situasi yang lain.

Mungkin saya, kamu dan sebagian besar dari kita sudah tidak ingat lagi.

Mungkin terlalu banyak getir. Terlalu banyak harapan yang hilang. Terlalu banyak kecewa yang harus ditelan. Terlalu banyak…hingga kita menjadi pelupa.

***

Suara tembakan yang bukan latihan militer. Tank-tank yang bukan di film perang. Ketakutan yang tidak didramatisir. Semua takut, semua khawatir, semua marah, semua bingung.

Korban sudah berjatuhan. Luka-luka. Kerugian materi yang tidak bisa dihitung. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah marah. Semua sudah “out of control” dan mereka tidak perlu menutupi semuanya. Semua sudah jelas.

15 Mei 1998

Tulisan ini adalah potongan dari jurnal yang saya tulis sepuluh tahun yang lalu saat kerusuhan berlangsung. Saya masih ingat waktu itu saya dan teman-teman baru saja menyelesaikan ujian EBTANAS SMP. Kami terpaksa mengerjakan ujian hari terakhir dengan konsentrasi yang tidak maksimal. Setelah jam ujian berakhir kami langsung diminta berkumpul di lobi sekolah oleh Kepala Sekolah dan diminta untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

Sejak siang itu, semua sudah tidak sama lagi.

Bintaro, 17 Mei 2008

Kamis malam 24 April 2008 lalu SORE mengadakan konser peluncuran album kedua mereka, Ports of Lima. Setelah beberapa lagu, saya beranjak dari kursi lalu duduk lesehan di tangga depan panggung. Jeprat-jepret sedikit sambil menikmati ‘Apatis Ria’, ‘In 1997 the bullet was shy’ dan lagu-lagu lain dari ‘Ports of Lima’.

Sore [album launching]

Sore [album launching]

Sore [album launching]

Foto dan gambar lain bisa dilihat di sini

:: Sedikit prolog ::

Anda pernah tidak sengaja menemukan bagian dari masa lalu? Misalnya menemukan buku harian saat anda masih anak-anak, coretan gambar yang anda buat di sekolah dasar, atau foto norak saat masih SMP. Lalu setelah itu anda merasa kaget, senang, geli dan bingung dalam waktu bersamaan.

Saya baru saja mengalaminya. Beberapa minggu lalu, saya membongkar isi lemari dan menemukan (semacam) jurnal yang saya tulis sewaktu masih remaja nan naif bin polos. Ini adalah salah satunya. Tulisan ini saya buat sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kemungkinan besar terinspirasi dari perang di Timur Tengah. Tidak ada yang saya ubah dalam tulisan ini kecuali memberi judul dan mengubah kata ‘shock‘ yang saya ganti dengan ’shocked’ .

Selamat menikmati ;)

Cahaya Langit

Aku duduk sendiri menatap cahaya-cahaya di langit yang memecahkan kesunyian. Udara dingin menyentuh kulitku yang tipis. Kupejamkan mataku beberapa detik lalu kubuka kembali, berharap sesuatu yang baik telah terjadi. Aku mulai menangis, namun aku tidak mau berhenti sampai di sini…aku tidak mau pergi dari sini dan aku akan tunggu mereka di sini

Aku memandang bintang-bintang di langit, namun cahaya menyilaukan selalu membuatku shocked dan berpikir, lalu menangis..

Malam ini, kemarin dan esok hari tak sama dengan malam saat aku kecil. Aku tidak mengerti tentang semua omong kosong ini dan itu. Yang kutahu hanyalah suara dari radio yang mengabarkan hal-hal tragis yang menimpa orang-orang tak berdaya, termasuk aku.

Adikku menangis bila mendengar suara ledakan itu. Ia masih balita. Kasihan Ibu. Ia yang selalu menenangkan adik walaupun hatinya gundah.

Kilatan itu telah mengambil nyawa beberapa keluarga dekat kami, dan kami berharap hal itu tak terulang lagi.

Aku berusaha menentramkan hati dan pikiranku. Aku menarik nafas panjang dan mencoba untuk melelapkan diri. Dan aku akan teruskan nanti…

Minggu, 22 Februari 1998

 

hidup dan pasar malam

Jakarta, Februari 2003

rasarasa

Hidup itu adalah apa yang kita rasakan dengan indra kita

Hati adalah yang menghidupkan hidup

Bintaro, Mei 2002