h1

mi amigos [01]

November 3, 2009

mari menggambar teman-teman sendiri :)

ang oleh nik.e

anggia.dian.indirawati

bintaro,25 oktober 2009

h1

berbagi hidup nikmat [02]

October 22, 2009

Merasakan indahnya hembusan  nafas dan denyut nadi dalam kesunyian

Terbangun di pagi hari dan menyadari ada jemari hangat yg menggenggam erat

Saat menyadari klo kita diberikan memori… sehingga banyak yang bisa dikenang

Teringat kalau kita hanya manusia biasa

Membiarkan wajah tertampar angin pantai dan menghirupnya dalam-dalam

Melihat keceriaan anak2 kecil bermain di tengah hujan deras

Ketika tahu tak akan kehabisan kata untuk menuliskan hidup nikmat

[viba]

-
Nonton film kartun, especially Ghibli’s at night before monday. It helps increases my mood of facing the upcoming week

[achi]

-

Sesusah apapun gw. Sesulit dan seriweh apapun, kalo dengerin musik dan mainin musik itu nikmaaaaattttttt banget

[rishanda wicaksono]

hidup nikmat ketika bisa membaca

[zia]

h1

sign.natures

October 18, 2009

sebulan yang lalu saya membuat gambar (semacam) signatures untuk Dimas dan Titiw. Kebetulan dua orang ini memang minta dibuatkan gambar sejak tahun lalu :p tapi saya baru bisa menggambarnya bulan lalu karena baru dapet mood-nya.

Oya, mereka ini salah dua dari orang-orang paling kreatif yang pernah saya kenal. Mampir ke blognya deh untuk mengenal mereka lebih dalam :)

dmaz merah oleh nik.e

tiw bw oleh nik.e

bintaro, oktober 2009

h1

Hidup Nikmat [5]

October 15, 2009

Hidup nikmat no. 14

‘adalah berbagi.’

Hidup nikmat no.15

‘ketika kemacetan kota bisa membuat saya menikmati masa.’

Hidup Nikmat no.14

‘ketika hari ini saya bisa merasakan sedapnya apple turnover dari resto cepat saji McDonald’s. Sudah 12 tahun lebih saya kangen cemilan itu’

McDonald's Apple Turnover

*terimakasih spesial untuk mariska yang sudah membawakan ini :)

kemang, 19 oktober 2009

h1

berbagi hidup nikmat [01]

October 15, 2009

Selain berbagi hidup nikmat versi saya sendiri. Teman-teman lain juga ikut berbagi hidup nikmat versi mereka.

Hidup nikmat adalah ketika saya -sebagai ciptaan- bisa menyenangkan hati Sang Pencipta -Tuhan itu sendiri-. Saya yakin itu bisa memberikan kenikmatan yang tiada duanya di dunia ini.

[mario]

-

Pas pikiran gue lagi penuh dalam kendali gue. Kalo uda gitu sih pas lagi apes2nya tetep bisa jadi lucu tuh hahaha…

[budi]

-

  1. Dikelilingi teman2 yang positif when I was in a bad mood
  2. facebook gw di-add sama sahabat gebetan ;p
  3. suatu hari melihat orang di mobil belakang dari kaca spion nyanyi-nyanyi sendiri dan ikutan tersenyum gara-gara itu
  4. liat video klip ’changcuters’ – yang entah kenapa hari itu terlihat konyol, padahal gw benci banget lagu itu
  5. bangun di pagi hari dan menyadari kalo ternyata itu hari libur – thank god!  (trus tidur lagi)
  6. Suasana malam takbiran dan lebaran

[uti]

-

Bangun pagi-pagi, melihat cahaya matahari menerobos dari jendela bujur sangkar di lantai dua, dan lenyap beberapa menit kemudian.

Berjalan kaki ke warung nasi langganan dengan langkah lambat sambil merasakan sinar mentari di punggung, leher, lengan. Menarik nafas panjang berkali-kali, sampai paru-paru mau meledak kepenuhan udara segar dan asap kendaraan bermotor (pengennya sih bilang: “udara sejuk pagi yang jernih tanpa polusi”, tapi nggak realistis banget kayaknya, hehehe). Mendengar anak tetangga berteriak memanggil, “TANTE!” sambil main sepeda, dan berseru balik, “OY!”. Menghirup bau tanah basah sore-sore, lengkap dengan setitik-dua gerimis kecil. Mendengar pintu kos dibuka bergantian jelang senja dan teman-teman berceloteh dalam berbagai logat: Batak, Betawi, Jawa. Berbagi sebungkus keripik dan permen jelly di meja bundar. Tertawa-tawa sampai sakit perut menirukan Rhoma Irama dan Soneta Groupnya, sambil main tebak-tebakan: apa bedanya sekretaris senior dan sekretaris junior?

Oh, ada satu lagi versi hidup nikmat yang agak membuka aib: membeli sarapan di warung saat akhir bulan, dan mendengar Mbak-mbak penjualnya bilang: “Empat setengah aja, Neng.” :-D

[jenny]

-

1. menikmati musik jazz dalam mobil ditengah siraman hujan lebat

2. menikmati jakarta di waktu malam menjelang pagi, damai, tenang dan sunyi

[rani]

-

Hidup nikmat,hhmm..jika kamu bisa berbagi hidup dengan seseorang yang selalu bisa mensupport dirimu.ada disaat susah maupun senang,dan disaat kamu meraih kesuksesan dia tetap ada disampingmu..

[anonim]

-

Nikmat satu : menghabiskan waktu bersama teman atau orang yang tersayang tanpa beban pikiran

Nikmat dua : Bermain gitar kesayangan

Nikmat tiga : berjalan kaki menyusuri jalan menuju tempat tujuan dengan santai sambil mendengarkan alunan lagu kesayangan

[pratama putra]

-

Beberapa di antaranya:

1. Mengigit daging sirloin berlemak berlumur saus jamur dan mengunyahnya sambil menutup mata biar bisa meresapi rasanya.

2. Tertawa lepas bersama keluarga besar dalam kaos seragam berwarna ungu pastel sambil melihat terong-terong yg jadi korban lomba futsal ibu-ibu.

3. Menari-nari sendiri mengikuti ritme lagu Wake Me Up Before You Go-go nya mas George Michael atau Please Don’t Stop The Musicnya Rihanna, sambil bergaya di depan cermin.

4. Tidur, memakai selimut ungu tua, menyetel CD musik, dan mendengar rintik hujan di luar jendela.

5. Tidur, di sebelah meja kerja, setelah ngantor dari subuh

6. Tidur, di dalam mobil yg berguncang lembut sehingga terasa seperti dinina bobokan

7. Sebenarnya tidur, itu saja sudah sangat nikmat.

[miranti]

-

  1. I like to go fast on corners and straights, why? Because at that very moment I’m having full control of my life. My hand on the throttle, the road and me. Others don’t play any part in this situation.
  2. I hate my job, I’m a planner. But hey, I love to invade your privacy. As much as I hate my job, making a TV plan and see your ads on TV is the best feeling ever if you love to annoy people as much as I do. You’ll be like “Hey, I fahkin put that TV ads!!” I just love to annoy people because that is what I do best. SUE ME!!!

[tody]

-

Memandang langit, menghela nikotin dan menghirup cinta untuk dirinya.

[rangga sastrowardoyo]

-

secangkir kopi sambil muterin lagu2 yg gw suka,sore hari selepas kerja

[susanto]

-

hidup nikmat adalah iman dan takwa. takwa adalah total surrender. kuncinya adalah ikhlas.

[bob sadino]

Buat yang ingin ikut berbagi, sila kirim ke nike.pd@gmail.com dengan subject ‘hidup nikmat’.

terimakasih. mari berbagi, karena berbagi itu nikmat :)

masih ada kloter-kloter ‘berbagi hidup nikmat’ selanjutnya. yuk berbagi!

h1

bulan.langit.perjalanan.pantai.laut.perahukertas

September 28, 2009

Beberapa hari lalu saya baru saja menyelesaikan novel Perahu Kertas. Hadiah ulang tahun dari mas Reza dan istrinya yang juga Penulis Perahu Kertas, mba Dewi.

Tiga malam saya membaca kisah gadis mungil penuh imajinasi Kugy dan pemuda ganteng-karismatik-pelukis-pula Keenan. Di malam ketiga saya berhasil merampungkannya dan sukses tidak bisa tidur karena pikiran saya justru sibuk membayangkan tentang visualisasi Perahu Kertas.

dan inilah Perahu Kertas versi saya :)

perahu kertas oleh nik.e

Bintaro, Lebaran 2009

h1

diri.saling.maaf.lahir.batin

September 20, 2009

happy idul fitri oleh nik.e

h1

sila mampir

September 15, 2009

lovelikeschoolboy

Gambar ini dibuat oleh Octa Ramayana dan diwarnai oleh saya. Psssst, saya sering iri dengan bakat corat-coretnya.  Ayo mampir ke blog si tukang gambar berzodiak Libra yang ada di sini :)

h1

Let’s Unite

September 15, 2009

Kampanye yang berawal dari spontanitas, #indonesiaunite masih segar dibahas di keseharian kita. Peristiwa ledakan bom di hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton yang (lagi-lagi) menelan korban ternyata “membangunkan” sadar kita.  Gerakan #indonesiaunite semakin menggaung. Ternyata, gerakan  ini kita bisa melihat dua hal. Satu, sadar begitu besarnya kita cinta dengan negeri kita. Kesadaran itu semakin nyata ketika melihat ternyata kita selama ini diam-diam bangga dengan negeri kita. Kenapa diam-diam? Karena sebagian dari kita selama ini belum cukup sering menyatakannya secara lisan. Diam-diam lebih senang pecel lele dengan sambel ulek daripada aglio olio spaghetti with anchovies. Diam-diam hapal lagunya Peterpan. Diam-diam ketagihan menyeruput wedang jahe dibanding hot mocha latte. Ya, selama ini semua itu ada di depan mata kita. Namun kita belum cukup sering menunjukkan seberapa besar cinta atau bangga kita akan berbagai hal ‘Indonesia’, karena kita merasa itu biasa saja karena sejak dulu kita sudah akrab dengan semua itu. #indonesiaunite membuat kita berhenti sejenak dan berpikir, lalu mencoba mendaftar ulang apa saja yang kita cinta dari negeri kita ini. Hal kedua yang muncul karena gerakan ini adalah kita menjadi sadar begitu banyak hal berharga di negeri kita yang sering kita lewatkan begitu saja. Kita selama ini menghabiskan waktu hidup kita di Indonesia. Bahkan mungkin sebagian besar hanya tinggal di Indonesia sejak lahir. Namun istilah ‘taken for granted’ dan ‘rumput tetangga lebih hijau’ sering membuah kita lengah akan kekayaan yang kita miliki. Indonesia memang belum menjadi negara populer seperti Perancis, Amerika atau Jepang yang diketahui dan menjadi destinasi favorit para penduduk dunia, bahkan penduduk Indonesia. Namun sepertinya beberapa tahun ke depan, daerah-daerah cantik di Indonesia bakal jadi tujuan wisata favorit wisatawan lokal. Begitu juga produk-produk, terutama kerajinan, dari Indonesia. Semakin banyak warga Indonesia yang bangga memakai produk lokal.
Buat mereka yang belajar pemasaran atau tertarik dengan bidang pemasaran pasti akrab dengan istilah ‘words of mouth’. Bentuk penyebaran  informasi dari satu orang ke orang lainnya, melalui berbagai tehnik. Mulai dari secara langsung, telepon, SMS, hingga blog dan Facebook atau Twitter. Sebuah penelitian menyimpulkan hampir 90% orang Indonesia lebih memercayai rekomendasi teman atau keluarga saat memutuskan untuk membeli produk. Nah, jika Indonesia adalah suatu produk, dan warganya adalah konsumen atau calon konsumen, maka jika kita menyebarkan informasi positif tentang Indonesia ke sekitar kita, maka kita juga ikut berperan meningkatkan kredibilitas negeri kita. Begitu juga sebaliknya, kalau kita bicara buruk tentang Indonesia, berarti kita juga berperan menurunkan kredibilitasnya. Apalagi sekarang teknologi informasi sudah demikian dashyatnya. Informasi yang positif maupun negatif bisa tersebar hanya dengan satu klik. ‘send’, ‘update’, ‘submit’, ‘publish’.

 
Sudah banyak lho teman-teman kita yang melakukan metode ‘words of mouth’ ini. Misalnya di urusan ‘jalan-jalan’. Kalau sepuluh tahun lalu, pilihan destinasi wisata lokal tak jauh-jauh dari  Bali, Lombok atau Manado. Sekarang ’surga-surga tersembunyi’ seperti Karimunjawa, Sikuai atau Cubadak sudah mulai dilirik. Kenapa? Karena wisatawan lokal sudah mulai  ‘menyiarkannya’ ke banyak orang. Teknologi internet berperan besar karena memudahkan kita menyampaikan dan mengakses informasi. Coba deh ketik nama ‘Karimunjawa’ di mesin pencari Google, dijamin hanya dalam waktu singkat kita bisa mendapat info lengkap tentang pulau indah itu. Nggak sekedar informasi penginapan saja, tapi juga review atau laporan perjalanan lengkap dengan tips yang dibuat oleh bloggers yang sempat mengunjungi Karimunjawa.
Nah, teknologi internet memungkinkan kita untuk menyampaikan informasi selengkap-lengkapnya. Nggak cuma sekedar tulisan singkat, tapi disertai juga dengan gambar bahkan video untuk menunjang informasi yang ingin kita sebarkan. Dengan begitu, mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia akan langsung dapat gambaran. Kalau kita bilang alam Indonesia itu sangat indah, orang pasti akan lebih yakin jika kita menunjukkan buktinya lewat gambar atau video. Kalau kita bilang kain tenun Indonesia itu cantik, jangan lupa foto kain tenun cantik itu dan tampilkan di blog, facebook atau twitter kita supaya lebih banyak orang yang tahu. Bisa jadi teman-teman kita yang melihat posting kita itu tertarik dan memberitahu beberapa temannya lagi, dan seterusnya.
Ya, salah satu cara menyelamatkan dan meningkatkan kredibilitas Indonesia adalah dengan menghargainya. Kalau mau dibuat perumpamaan yang sederhana, coba deh kita balikin ke diri sendiri. Kalau kita sering mengeluh tentang diri kita, bisa jadi orang sekitar kita akan punya persepsi negatif akan kita. Sementara kalau kita menghargai diri kita, dengan tetap memperbaiki diri tentunya, maka bisa jadi sekitar kita juga akan menerima dan menghargai kita. Begitu juga dengan negeri kita. Mari sebarkan keistimewaan negeri kita. Let’s unite!

Awal Agustus 2009

artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, Oktober 2009

h1

Pank Ponk [seri 3, cerita 1 & 2]

September 5, 2009

Komik serial Tachiri Haruko ini hanya terdiri 6 edisi tapi legendaris minta ampun buat pembacanya. Serial Pank Ponk ini makin sulit dicari. Kebetulan di rumah ada edisi ketiga. Jadi discan aja, deh. Lumayan, obat penawar rindu :)

Pank Ponk seri 03


Pank Ponk 3 [cerita 1, halaman 1]

Pank Ponk 3 [cerita 1, halaman 2]


Pank Ponk 3 [cerita 2, halaman 1]

Pank Ponk 3 [cerita 2, halaman 2]

h1

Let’s Get Connected to the (real) world!

September 4, 2009

Dulu, fenomena ketergantungan dengan telepon genggam sering jadi topik yang hangat untuk dibahas. Sekarang, perangkat teknologi yang awam dipakai banyak orang tidak hanya telepon genggam atau akrabnya HP, tapi juga laptop, music player hingga blackberry (BB). Memang, HP masih menjadi “tentengan” wajib. Hanya kali ini fiturnya lebih gahar lagi. Mulai dari video call hingga GPS. Apalagi biaya untuk menikmati fasilitas teknologi ini juga semakin murah.

Nah, akhir-akhir ini saya mengalami tiga kejadian yang membuat saya berpikir tentang sebesar apa arti sebuah perangkat teknologi, terutama teknologi komunikasi, dalam kehidupan kita.

Pertama, ketika sedang berada di salah satu coffee shop sebuah mal. Saat masuk dan mulai ”menyapu” ruangan, saya melihat pemandangan yang agak berbeda. Lalu, saya mulai menghitung. Satu, dua, empat, enam… Paling tidak ada enam laptop nangkring dengan manis di meja-meja coffee shop. Setiap meja punya minimal dua penghuni plus satu laptop, dan si empunya laptop sibuk melototin layar “mainan kesayangannya”. Wah, pemandangan di sebuah kafe sekarang ini tidak saya temui saat dua tahun lalu. Sekarang, lebih mirip pemandangan di warnet daripada di kafe. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang datang berempat. Dua orang sibuk dengan laptop, satu sibuk dengan blackberry, satu lagi bengong dengan tampang kasihan minta diperhatikan. Ada yang datang berdua. Satunya sedang tenggelam dengan facebook atau youtube-nya, sementara satunya lagi membolak-balik majalah gratisan yang disediakan kafe itu.

Bentuk interaksi yang hangat, intim dan santai ala kafe sepertinya mulai jarang ditemui. Sebagian pengunjung, baik yang sendiri maupun berdua ataupun rombongan, justru menikmati kegiatannya intimnya dengan gadget masing-masing.

Kedua, ketika saya dan dua teman saya merencanakan cuti bareng sambil berlibur ke sebuah pantai. Awalnya sih bicara tentang lokasi pantai mana yang akan kami singgahi. Kemudian ketika mulai diskusi tentang barang apa saja yang dibawa, argumentasipun dimulai. Satu teman saya mengatakan kalau ia akan membawa semua perangkat komunikasinya. Mulai dari HP-, BB hingga laptop. Teman saya yang satu lagi menimpali, ia tidak akan membawa laptopnya tapi pasti membawa satu HP dan satu blackberry-nya. Saya spontan langsung mengeluarkan jurus-jurus kontra. Menurut saya, salah satu esensi berlibur adalah menenangkan diri. Termasuk dengan cara menjauhkan diri dari distraksi berbagai gadget yang biasa menggerayangi kita seiap hari. Email dari kantor atau klien, kolom-kolom surat kabar, tayangan di televisi, belasan SMS dari teman, deringan HP dan kotak-kotak instant messenger adalah hal-hal yang ingin saya bersihkan dari otak saya di saat berlibur. Apalagi semua perangkat itu butuh listrik. Malas juga membayangkan kami rebutan colokan untuk recharging. Mau liburan kok repot?

Nah yang ketiga adalah ketika saya sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Ketika kami sedang asyik ketawa-ketiwi, mengomentari cerita masing-masing, lama-lama kami sadar…kok ada suara yang kurang ya? sepertinya dari tadi yang seru ngerumpi cuma kami bertigaWah, ternyata satu teman kami itu malah asyik dengan BB-nya. Kami cuma bisa geleng-geleng kepala.

Tiga kejadian ini sudah cukup membuat saya berpikir betapa tergantungnya kita akan teknologi, apalagi teknologi komunikasi. Mungkin hampir semua orang setuju dengan ungkapan “Lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP” . Saya sendiri juga harus mengakui kalau saya lumayan bergantung dengan alat komunikasi ini sejak tujuh tahun lalu. Bahkan, saat tidur saya selalu menaruh HP tidak jauh dari jangkauan tangan. Mungkin hanya pada weekend atau sedang lelah sekali saja saya tidak menyalakan atau menjauhkan HP dari wilayah pribadi.

Ya, sejak 10-15 tahun lalu kehadiran HP sudah cukup menyita waktu pribadi kita, lalu sekarang muncul teknologi lain yaitu BB yang memastikan kita selalu terhubung dengan “dunia” di manapun kita berada. Namun, terasa ironis kalau segala bentuk teknologi ini tidak hanya memberi kemudahan tapi juga memberi efek negatif dalam kehidupan sosial kita, yaitu justru membuat kita terisolasi dan menjauhkan kita dari keintiman dengan orang-orang sekitar kita, termasuk orang-orang terdekat. Kafe yang biasanya merupakan simbol tempat bertemu untuk mengobrol santai dengan teman, sahabat atau orang tersayang, berangsur bergeser maknanya menjadi “warnet” dan para pengunjungnya sibuk membuat “kafe” di dunianya masing-masing, meskipun saat datang ke kafe mereka tidak sendiri. Kalau begini, jadinya bukan ‘jauh di mata dekat di hati’, tapi ‘dekat di mata jauh di hati’ karena secara fisik bersama namun tingkat keintimannya rendah. Lama-lama mungkin orang lebih nyaman berhubungan via twitter dibanding ngobrol langsung.

Kita semua tahu kalau HP, BB, laptop dan kawan-kawannya itu sangat membantu dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi yuk diingat kembali, apakah kehadiran perangkat-perangkat ini membuat kualitas hubungan kita dengan orang sekitar, termasuk orang-orang terdekat, jadi semakin baik atau sebaliknya. Tidak lucu juga kan kalau jadi sering diprotes teman atau pasangan karena nggak bisa melepaskan BB dari tangan saat ber-quality time? Jangan sampai momen yang (sebenarnya) kita miliki kehilangan makna karena kita sibuk menjelajah negeri maya. Selain itu, sesekali otak kita juga perlu rileks. Lagipula kalau setiap saat dibombardir informasi, bisa-bisa sensitivitasnya berkurang lalu kita lupa untuk memperhatikan sekitar dan kehilangan waktu berkualitas untuk orang-orang terdekat juga diri kita sendiri. Keep ourselves connected but don’t forget to stay in the real world.

artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, September 2009

h1

Everybody’s Free (to wear sunscreen)

August 20, 2009

Dinyanyikan Dinarasikan oleh sutradara Australia, Baz Luhrmann (Romeo+Juliet, Moulin Rouge), lagu ini dirilis sepuluh tahun yang lalu.

Everybody’s Free (to wear sunscreen)

Ladies and Gentlemen of the class of ‘99…

Wear Sunscreen

If I could offer you only one tip for the future, sunscreen would be it.

The long term benefits of sunscreen have been proved by scientists whereas the rest of my advice has no basis more reliable than my own meandering experience…

I will dispense this advice now.

Enjoy the power and beauty of your youth;

oh nevermind;

you will not understand the power and beauty of your youth until they have faded.

But trust me, in 20 years you’ll look back at photos of yourself and recall in a way you can’t grasp now how much possibility lay before you and how fabulous you really looked….

You’re not as fat as you imagine.

Don’t worry about the future;

or worry, but know that worrying is as effective as trying to solve an algebra equation by chewing bubblegum.

The real troubles in your life are apt to be things that never crossed your worried mind;

the kind that blindside you at 4pm on some idle Tuesday.

Do one thing everyday that scares you

Sing

Don’t be reckless with other people’s hearts, don’t put up with people who are reckless with yours.

Floss

Don’t waste your time on jealousy; sometimes you’re ahead, sometimes you’re behind…

the race is long, and in the end, it’s only with yourself.

Remember the compliments you receive, forget the insults;

if you succeed in doing this, tell me how.

Keep your old love letters, throw away your old bank statements.

Stretch

Don’t feel guilty if you don’t know what you want to do with your life…

the most interesting people I know didn’t know at 22 what they wanted to do with their lives, some of the most interesting 40 year olds know still don’t.

Get plenty of calcium.

Be kind to your knees, you’ll miss them when they’re gone.

Maybe you’ll marry, maybe you won’t, maybe you’ll have children, maybe you won’t, maybe you’ll divorce at 40, maybe you’ll dance the funky chicken on your 75th wedding anniversary…

what ever you do, don’t congratulate yourself too much or berate yourself either – your choices are half chance, so are everybody else’s.

Enjoy your body, use it every way you can…

don’t be afraid of it, or what other people think of it, it’s the greatest instrument you’ll ever own..

Dance…even if you have nowhere to do it but in your own living room.

Read the directions, even if you don’t follow them.

Do NOT read beauty magazines, they will only make you feel ugly.

Get to know your parents, you never know when they’ll be gone for good.

Be nice to your siblings; they are the best link to your past and the people most likely to stick with you in the future.

Understand that friends come and go,but for the precious few you should hold on.

Work hard to bridge the gaps in geography in lifestyle because the older you get, the more you need the people you knew when you were young.

Live in New York City once, but leave before it makes you hard;

Live in Northern California once, but leave before it makes you soft.

Travel.

Accept certain inalienable truths, prices will rise, politicians will philander, you too will get old, and when you do you’ll fantasize that when you were young prices were reasonable, politicians were noble and children respected their elders.

Respect your elders.

Don’t expect anyone else to support you.

Maybe you have a trust fund, maybe you have a wealthy spouse;

but you never know when either one might run out.

Don’t mess too much with your hair, or by the time it’s 40, it will look 85.

Be careful whose advice you buy, but, be patient with those who supply it. Advice is a form of nostalgia, dispensing it is a way of fishing the past from the disposal, wiping it off, painting over the ugly parts and recycling it for more than it’s worth.

But trust me on the sunscreen…

h1

Java Rockin’ Land 2009

August 12, 2009

Sedikit foto dari 3 hari Java Rockin’ land 2009

JRL 2009 oleh nik.e

JRL 2009 oleh nik.e

JRL 2009

IMG_8775

Foto-foto lain bisa dilihat di sini

Artikel konser Mew bisa dilihat di sini

Kemang, 12 Agustus 2009

h1

sungguh dan lapang

August 12, 2009

Di saat sedang merasa semua terpencar dan tidak tahu memulai darimana. Saya diingatkan ayat ini :)

Terimakasih

-

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
(QS: Al-Insyirah, (Solace/The Comfort/Kelapangan), ayat 7-8)

Kemang, 12 Agustus 2009

h1

rindu masa ‘kaset’

August 9, 2009

Hari ini memang hari Pemilu. Lumrahnya saya membuat tulisan tentang Pemilu, tapi saat membaca lagi tulisan tentang ‘album-album sakti’ yang saya buat 1,5 tahun lalu i, saya jadi ingin menulis tentang rasa kangen saya akan masa di saat saya mendengarkan album-album itu. Simpelnya saya namakan masa ‘kaset’. Ya, masa di mana kita “dipaksa” untuk mendengarkan tracks dari awal sampai akhir. Sekarang, kita cenderung memutar track yang kita suka berulang kali dan melupakan tracks lain.

Coba deh kita pikirkan. Sebuah album itu  idealnya hasil nyata dari sebuah konsep kreativitas yang digodok berbulan-bulan. Mulai dari temanya, musiknya, liriknya, atmosfirnya, urutan lagunya hingga visualisasinya, lewat album sleeve dan videoklip. Ngapain juga para musikus ini memperhitungkan urutan lagu? Ya, untuk mengatur mood pendengar saat mendengarkan albumnya. Ibaratnya sebuah film di mana kreatornya benar-benar mematangkan cerita supaya mood penonton terjaga, begitu juga dengan album di mana si pembuat album akan berusaha menformulasikan isi sebaik mungkin agar mencapai impresi tertentu saat album itu didengarkan secara utuh. Namun kalau dipikir lagi, sekarang ini buat apa capek-capek matengin konsep dan mikirin urutan atau atmosfir album? Wong, akhirnya pendengar hanya memilih satu atau dua lagu.

Sekarang, kalau ngomong album baru sebuah band/penyanyi, saat saya tanya, “Eh si A baru ngeluarin album, ya?”, lawan bicara saya langsung menjawab, “Iya, dan gue udah punya. Baru aja gue download kemarin. Lo mau? Besok gue kasih, deh!”. Ya, di satu sisi menyenangkan karena kita bisa dengan cepat mendapatkan album/lagu yang kita mau, tapi di sisi lain ada momen-momen ‘magic’ yang hilang. Sekarang? Tradisi membeli album di toko lalu pulang dan membuka CD/kaset dan mendengarkan dari track pertama hingga akhir sambil menikmati album sleeve-nya semakin jarang dilakukan. Ya, diam-diam saya kangen dengan ‘ritual’ itu. Saya masih ingat saat saya membeli album Monster-nya R.E.M. lalu saya putar dari track pertama. Saya bolak-balik album sleeve berwarna oranye itu, kemudian ‘first impression’ setiap lagu saya tulis. Buat saya, itu bentuk “tamasya” yang menyenangkan sekali.
Sekarang, saya semakin sering mendengar kalimat, “Iya, gue suka band A tapi ya dua lagu yang jadi single aja. Gue udah download tuh. Mau?”. Hmmm, “kuasa” kita untuk hanya memilih dan mendengarkan lagu yang kita suka, membuat kita menilai karya musisi hanya lewat satu atau dua karyanya. Menurut saya kondisi seperti ini jika dilihat dari sisi kreatif nggak fair bagi musikusnya dan nggak baik buat kita sebagai pendengar. Ya, teknologi serba mudah dan cepat memang memungkinkan kita memilih apa yang (kita pikir) kita mau, namun akhirnya membuat semakin banyak orang yang tidak mengapresiasi karya musik secara keseluruhan. Padahal musik (baca: album) itu kan salah satu bentuk karya seni yang paling dekat dengan kita dan layak dinikmati secara lengkap.

Well, lewat tulisan ini saya memang nggak pengen bicara dari sisi ekonomis, karena jika sudah bicara dari sisi komersial semuanya bisa “diatur”:p Oya, dan saya sengaja nggak memasukkan isu ringbacktone karena bisa lebih panjang dan miris lagi ;)

Bintaro, 9 April 2009