h1

sign.natures [02]

February 9, 2010

kali ini nasta. Produser salah satu radio jakarta. Ia penghangat suasana yang punya blog unik di http://mykindofperson.blogspot.com Nasta, tunggu versi ‘rapih’nya ya :)

h1

hidup nikmat [7]

January 1, 2010

Hidup nikmat no.18

‘dermaga.langit malam.dua kursi.corona dan musik’

bintaro, desember 2009

h1

kutub

December 23, 2009

apakah

kamu

dari yang berlawanan?

kemang,  desember 2009

h1

jujur/bahagia

December 9, 2009

amalea kali ini tidak secerah biasanya.

rananya menyuram. hari ini ia tidak banyak bicara.

setiap durata bercerita, hanya sesekali amalea berada.

“kamu sedang berpijak di mana, amalea? beberapa kali kamu tidak di sini ketika aku berbagi.”

“aku tidak paham di mana aku sekarang. maaf, hari ini aku tidak selalu bersama kamu ketika kamu ingin berbagi.”

“tak apa, amalea. mungkin kamu yang perlu berbagi. apa yang kau pikirkan?”

“kenapa orang sering bertanya tentang rasa bahagia?”

“karena itulah ukuran pencapaian langkah yang sudah kita ambil”

“maksudmu?”

“seribu langkah yang telah kamu ambil selama ini tak ada artinya jika kamu tidak merasa bahagia.”

“tetapi orang memiliki ukuran yang berbeda untuk menentukan apakah ia sudah bahagia atau belum, bukan?”

“ya, tentu saja.”

“dan jika kita semua saling berkaitan satu sama lain, namun dengan takaran kebahagiaan yang berbeda. apakah mungkin kita bisa benar-benar bahagia, durata?”

“coba jelaskan, amalea.”

“ya, setiap orang memiliki bentuk kebahagiaan masing-masing dan mereka memberinya kepada orang lain. Namun bukankah kita tidak saling mengetahui bentuk kebahagiaan satu sama lain?”

“kurasa kebahagiaan bukan esensinya”

“lalu apa, durata? aku bingung berkalikali diminta menjawab pertanyaan apakah aku bahagia atau tidak.”

“lalu apa jawabanmu ketika ditanya?”

amalea meninggalkan durata, ia berlari ke arah savana. melepas kedua sepatunya dan membiarkan telapaknya diseka lembab. ia menapak rumput, menapak lumpur, menapak genangan, menapak kerikil.

“bukan itu yang penting, durata…dan jangan tanya tentang bahagia lagi”, sahut amalea.

langit.langit.langit.

amalea menapak langit dan menatap tanah.

bali-bintaro-kemang, desember 2009

h1

jak.art.a.roman.tis [02]

December 9, 2009

h1

secangkir lagi

December 1, 2009

“Mau tambah minum lagi?”

Kamu bertanya sambil melirik cangkir tehku yang dasarnya menyisa ampas.

“Ya, satu lagi.”, aku menjawab lirih.

Kamu memanggil pelayan dan memesan dua. Satu cangkir teh hangat untukku dan segelas teh dengan es untukmu. Aku tahu kamu sebenarnya menyukai teh hangat, namun begitulah cara kita. Sengaja memesan menu yang berbeda supaya aku dan kamu bisa saling mencoba. Saat ingin memesan, kamu selalu bertanya dulu apa yang aku inginkan saat itu dan apa pilihan keduaku. Lalu kamu akan memesan pilihan pertama untukku dan kedua untukmu. Seperti saat ini, saat aku memesan menuman hangat maka kamu akan memilih minuman dingin.

“Kalau kita teruskan ini, akhirnya akan menyakitkan.”

Kamu memecah sunyi dengan kalimatmu.

Aku masih diam.

“Menyakitkan untuk kamu, aku dan semuanya. Aku tidak ingin kamu sakit.”, kamu meneruskannya.

Ah, lidahku seperti lelah. Bibirku tetap kaku. Entah tanganku mendapat kekuatan darimana hingga ia tiba-tiba bergerak mendekat ke wajahmu. Menyentuhnya pelan. Tanganmu segera menangkap tanganku dan mendekapnya erat. Kamu menarik tanganku ke arah bibirmu. Kamu ciumi telapak, jari-jari lalu punggung tanganku. Lalu kamu biarkan telapak tanganku merasakan hangat wajahmu. Ada yang berbeda ketika kita berbicara tanpa kata. Aku tahu itu.

Earl Grey

Secangkir hangat teh Earl Grey yang tinggal ampasnya. Aku mengenal teh ini dari sahabatku. Awalnya aku tak menyimpan rasa tertarik pada teh ini. Namanya yang terkesan tua dan kaku membuatku malas untuk mencobanya. Dulu aku lebih memilih Chamomile yang terdengar lebih manis dan feminin. Namun setelah mencoba Earl Grey, aku tak pernah lagi memesan teh jenis lain. Aku tidak tahu bagaimana awal perkenalanmu dengan Earl Grey hingga kamu juga menyukainya. Ada begitu banyak kesamaan di antara kita namun aku tidak tahu dengan Earl Grey. Apakah kamu juga mengenalnya dari orang yang dekat denganmu? Apakah kamu menemukannya sendiri setelah mencicipi berbagai jenis teh? Aku tidak tahu. Padahal ada begitu banyak jenis teh yang tersebar di dunia dan Earl Grey bukanlah yang berkualitas paling baik, namun entah kenapa aku dan kamu memilihnya. Earl Grey adalah salah satu dari begitu banyaknya kesamaan kita. Meneguknya bisa membuat suasana hati lebih baik. Menghabiskannya dapat menenangkan hati yang meriak. Kenapa aku dan kamu masih memilih Earl Grey padahal kita tahu benar tak perlu bercangkir-cangkir kafein untuk membuat kita tenang? Bukankah kita telah menemukannya saat kita bersama? Ide itu begitu sederhana, dan katamu itu sudah lebih dari cukup. Aku dan kamu bersama, tanpa harus berkata-kata. Tak ada pertanyaan. Tak ada kegundahan.

Malam ini

Saat ini. Bukankah kita selalu merasa begitu damai saat hanya saling memandang atau memberi sentuhan kecil? Pertemuan adalah gelanggang kita untuk melakukan aksi-aksi tanpa tendensi. Hanya keinginan untuk menunjukkan rasa, karena aku dan kamu sering tidak pandai menjaring dan menyulam kata. Mungkin kita sepakat bahwa ungkapan rasa tak perlu selalu dengan muntahan verbal, dan kita telah menyepakatinya tanpa satu kata.

Satu cangkir dan satu gelas datang

Pelayan mengambil cangkir yang telah kosong dan meletakkan secangkir air hangat di depanku dan segelas teh dengan batu-batu es di hadapanmu. Kurobek bungkus kertas teh itu dan mencelupnya ke dalam cangkir. Kuaduk perlahan. Pelan sekali. Aku tahu pemanis dan teh itu telah tercampur sempurna, namun ada keengganan untuk tergesa. Aku ingin malam ini berjalan lebih lamban. Ini menyiksa, tapi mungkin hanya malam ini yang kita punya.

Kamu menghisap dalam rokok yang tinggal sepertiga. Menghembuskannya berat. Penuh kekhusyukan. Seakan kamu telah menformulasikan setiap momen dan beban yang kamu alami ke dalam sekali hisapan. Kamu hembuskan asapnya. Gumpalan  putih keabuan saat ini bergesekan dengan bekunya angin. Ya, aku tahu beban itu.

Tak ada kata terucap. Kamu belum juga menyentuh gelasmu. Gelas teh dengan batu-batu es mengambang itu telah kaku menunggu. Namun usahanya untuk tetap teguh menjadi percuma ketika titik-titik air di dinding gelas mulai meluncur ke dasar. Jika kamu tidak segera meneguknya, aku yakin dalam waktu kurang dari sepuluh menit teh itu akan meluber.

Pelan aku dekatkan wajahku ke cangkir di depanku, bermaksud meneguknya sedikit. Dengan cekatan tangan kirimu menyentuh wajahku dan melekatkan bibirmu di keningku. Dua detik. Empat detik. Semakin kabur dayaku untuk mengucap.

“apa yang sedang kamu pikirkan?”

Tanyamu setelah melepaskanku

“aku sedang berusaha untuk memahami.”

“apa yang ingin kamu pahami?”

“aku ingin memahami bahwa mungkin ada saatnya aku mengalah dengan intuisiku dan berdamai dengan keadaan.”

“Ini yang terbaik.”

“Bisa jadi. Namun apa kamu yakin ini akan membuat aku dan kamu bahagia?”

“aku tidak tahu. Tidak ada jaminan untuk itu. Namun bukan ini yang kita inginkan.”

“Aku ingin kamu bahagia.”

Nonsens.”

Aku tiba-tiba merasa muak.

“Itu benar. Aku aku ingin kamu bisa hidup tanpa harus merasa susah. Aku ingin melihat kamu bahagia. Itu sudah cukup buatku.”

“Kamu benar-benar egois.”

“Aku tidak ingin kamu susah. Darimana letak egoisnya?”

“Susah, tidak susah. Bahagia atau tidak bahagia. Itu semua aku yang rasa. Aku yang memutuskannya. Bukan apa yang kamu pikir aku rasakan. Kamu selalu berpikir kamu tahu cara terbaik untuk semua masalah. Kamu selalu berpikir dengan berkorban maka masalah akan selesai dan semua orang bahagia.”

Kamu diam. Lama kamu memandang ke arah jauh. Tanpa berkedip. Entah kenapa aku merasa badai di dalam dadamu siap membuncah dan aku pun tidak sanggup menahan kata-kata yang tersimpan.

“Pada akhirnya setiap malam kamu akan menemukan diri kamu marah dan mengutuk semua keputusanmu. Iya kan? Katakan aku benar!”

Wajahmu mengeras. Menatapku dingin dan berkata, “Mungkin memang itu akibat yang harus kutanggung. Penyesalan setiap malam. Bahkan setiap detik. Aku sudah biasa dengan penyesalan. Sudah tidak kaget dengan kekecewaan. Aku bisa hidup dengan semua itu.”

“Tidak. Kamu tidak bisa. Aku tahu itu. Sampai kapan kamu ingin seperti ini? Kamu tidak bisa seperti ini terus.”, jawabku dengan suara yang kali ini melemah. Aku mulai ragu dengan sikapnya. Mungkin saja segala yang telah ia lalui bersama memang tidak begitu berarti. Mungkin saja ia selalu menyiapkan perpisahan di setiap awal pertemuan. Namun aku tahu itu bukan dia. Dia tak bisa.

“Jika aku tidak bisa. Itu bukan urusanmu lagi. Aku akan berusaha untuk bertahan. Aku sudah biasa dengan ini.”

Aku merasa telah nyaris di garis batas. Segera kuhabiskan teh hangatku. Aku bisa merasakan wajahku menghangat.

Aku berdiri. Diam. Air di dalam gelasmu meluap. Meluber tak terkendali.

“Kamu tidak ingin tambah minum lagi?”, tanyamu

Aku menggeleng.

“Aku lelah. Apa kamu masih berpikir ada gunaku di sini? Untuk apa aku menawarkan diri kalau memang ini yang kamu inginkan?”

Aku memandang lekat wajahmu. Matamu. Kedua matamu menjadi layu.

Kamu segera berdiri, menarik tubuhku. Memelukku erat sekali. Tak pernah seerat ini sebelumnya.

Di saat seperti ini aku tahu. Kamu tahu.

Kata-kata itu percuma.

a tribute to december skies and you.

h1

hidup nikmat [6]

November 18, 2009

Hidup nikmat no.17

‘terbangun di pagi hari. gerimis. melihat ponsel. Oh, hari Minggu. Lalu kembali tidur nyenyak ditemani sejuk’

bintaro, november 2009

h1

mi amigos [01]

November 3, 2009

mari menggambar teman-teman sendiri :)

ang oleh nik.e

anggia.dian.indirawati

bintaro,25 oktober 2009

h1

berbagi hidup nikmat [02]

October 22, 2009

Merasakan indahnya hembusan  nafas dan denyut nadi dalam kesunyian

Terbangun di pagi hari dan menyadari ada jemari hangat yg menggenggam erat

Saat menyadari klo kita diberikan memori… sehingga banyak yang bisa dikenang

Teringat kalau kita hanya manusia biasa

Membiarkan wajah tertampar angin pantai dan menghirupnya dalam-dalam

Melihat keceriaan anak2 kecil bermain di tengah hujan deras

Ketika tahu tak akan kehabisan kata untuk menuliskan hidup nikmat

[viba]

-
Nonton film kartun, especially Ghibli’s at night before monday. It helps increases my mood of facing the upcoming week

[achi]

-

Sesusah apapun gw. Sesulit dan seriweh apapun, kalo dengerin musik dan mainin musik itu nikmaaaaattttttt banget

[rishanda wicaksono]

hidup nikmat ketika bisa membaca

[zia]

h1

sign.natures

October 18, 2009

sebulan yang lalu saya membuat gambar (semacam) signatures untuk Dimas dan Titiw. Kebetulan dua orang ini memang minta dibuatkan gambar sejak tahun lalu :p tapi saya baru bisa menggambarnya bulan lalu karena baru dapet mood-nya.

Oya, mereka ini salah dua dari orang-orang paling kreatif yang pernah saya kenal. Mampir ke blognya deh untuk mengenal mereka lebih dalam :)

dmaz merah oleh nik.e

tiw bw oleh nik.e

bintaro, oktober 2009

h1

Hidup Nikmat [5]

October 15, 2009

6Hidup nikmat no. 14

‘adalah berbagi.’

Hidup nikmat no.15

‘ketika kemacetan kota bisa membuat saya menikmati masa.’

Hidup Nikmat no.16

‘ketika hari ini saya bisa merasakan sedapnya apple turnover dari resto cepat saji McDonald’s. Sudah 12 tahun lebih saya kangen cemilan itu’

McDonald's Apple Turnover

*terimakasih spesial untuk mariska yang sudah membawakan ini :)

kemang, 19 oktober 2009

h1

berbagi hidup nikmat [01]

October 15, 2009

Selain berbagi hidup nikmat versi saya sendiri. Teman-teman lain juga ikut berbagi hidup nikmat versi mereka.

Hidup nikmat adalah ketika saya -sebagai ciptaan- bisa menyenangkan hati Sang Pencipta -Tuhan itu sendiri-. Saya yakin itu bisa memberikan kenikmatan yang tiada duanya di dunia ini.

[mario]

-

Pas pikiran gue lagi penuh dalam kendali gue. Kalo uda gitu sih pas lagi apes2nya tetep bisa jadi lucu tuh hahaha…

[budi]

-

  1. Dikelilingi teman2 yang positif when I was in a bad mood
  2. facebook gw di-add sama sahabat gebetan ;p
  3. suatu hari melihat orang di mobil belakang dari kaca spion nyanyi-nyanyi sendiri dan ikutan tersenyum gara-gara itu
  4. liat video klip ’changcuters’ – yang entah kenapa hari itu terlihat konyol, padahal gw benci banget lagu itu
  5. bangun di pagi hari dan menyadari kalo ternyata itu hari libur – thank god!  (trus tidur lagi)
  6. Suasana malam takbiran dan lebaran

[uti]

-

Bangun pagi-pagi, melihat cahaya matahari menerobos dari jendela bujur sangkar di lantai dua, dan lenyap beberapa menit kemudian.

Berjalan kaki ke warung nasi langganan dengan langkah lambat sambil merasakan sinar mentari di punggung, leher, lengan. Menarik nafas panjang berkali-kali, sampai paru-paru mau meledak kepenuhan udara segar dan asap kendaraan bermotor (pengennya sih bilang: “udara sejuk pagi yang jernih tanpa polusi”, tapi nggak realistis banget kayaknya, hehehe). Mendengar anak tetangga berteriak memanggil, “TANTE!” sambil main sepeda, dan berseru balik, “OY!”. Menghirup bau tanah basah sore-sore, lengkap dengan setitik-dua gerimis kecil. Mendengar pintu kos dibuka bergantian jelang senja dan teman-teman berceloteh dalam berbagai logat: Batak, Betawi, Jawa. Berbagi sebungkus keripik dan permen jelly di meja bundar. Tertawa-tawa sampai sakit perut menirukan Rhoma Irama dan Soneta Groupnya, sambil main tebak-tebakan: apa bedanya sekretaris senior dan sekretaris junior?

Oh, ada satu lagi versi hidup nikmat yang agak membuka aib: membeli sarapan di warung saat akhir bulan, dan mendengar Mbak-mbak penjualnya bilang: “Empat setengah aja, Neng.” :-D

[jenny]

-

1. menikmati musik jazz dalam mobil ditengah siraman hujan lebat

2. menikmati jakarta di waktu malam menjelang pagi, damai, tenang dan sunyi

[rani]

-

Hidup nikmat,hhmm..jika kamu bisa berbagi hidup dengan seseorang yang selalu bisa mensupport dirimu.ada disaat susah maupun senang,dan disaat kamu meraih kesuksesan dia tetap ada disampingmu..

[anonim]

-

Nikmat satu : menghabiskan waktu bersama teman atau orang yang tersayang tanpa beban pikiran

Nikmat dua : Bermain gitar kesayangan

Nikmat tiga : berjalan kaki menyusuri jalan menuju tempat tujuan dengan santai sambil mendengarkan alunan lagu kesayangan

[pratama putra]

-

Beberapa di antaranya:

1. Mengigit daging sirloin berlemak berlumur saus jamur dan mengunyahnya sambil menutup mata biar bisa meresapi rasanya.

2. Tertawa lepas bersama keluarga besar dalam kaos seragam berwarna ungu pastel sambil melihat terong-terong yg jadi korban lomba futsal ibu-ibu.

3. Menari-nari sendiri mengikuti ritme lagu Wake Me Up Before You Go-go nya mas George Michael atau Please Don’t Stop The Musicnya Rihanna, sambil bergaya di depan cermin.

4. Tidur, memakai selimut ungu tua, menyetel CD musik, dan mendengar rintik hujan di luar jendela.

5. Tidur, di sebelah meja kerja, setelah ngantor dari subuh

6. Tidur, di dalam mobil yg berguncang lembut sehingga terasa seperti dinina bobokan

7. Sebenarnya tidur, itu saja sudah sangat nikmat.

[miranti]

-

  1. I like to go fast on corners and straights, why? Because at that very moment I’m having full control of my life. My hand on the throttle, the road and me. Others don’t play any part in this situation.
  2. I hate my job, I’m a planner. But hey, I love to invade your privacy. As much as I hate my job, making a TV plan and see your ads on TV is the best feeling ever if you love to annoy people as much as I do. You’ll be like “Hey, I fahkin put that TV ads!!” I just love to annoy people because that is what I do best. SUE ME!!!

[tody]

-

Memandang langit, menghela nikotin dan menghirup cinta untuk dirinya.

[rangga sastrowardoyo]

-

secangkir kopi sambil muterin lagu2 yg gw suka,sore hari selepas kerja

[susanto]

-

hidup nikmat adalah iman dan takwa. takwa adalah total surrender. kuncinya adalah ikhlas.

[bob sadino]

Buat yang ingin ikut berbagi, sila kirim ke nike.pd@gmail.com dengan subject ‘hidup nikmat’.

terimakasih. mari berbagi, karena berbagi itu nikmat :)

masih ada kloter-kloter ‘berbagi hidup nikmat’ selanjutnya. yuk berbagi!

h1

bulan.langit.perjalanan.pantai.laut.perahukertas

September 28, 2009

Beberapa hari lalu saya baru saja menyelesaikan novel Perahu Kertas. Hadiah ulang tahun dari mas Reza dan istrinya yang juga Penulis Perahu Kertas, mba Dewi.

Tiga malam saya membaca kisah gadis mungil penuh imajinasi Kugy dan pemuda ganteng-karismatik-pelukis-pula Keenan. Di malam ketiga saya berhasil merampungkannya dan sukses tidak bisa tidur karena pikiran saya justru sibuk membayangkan tentang visualisasi Perahu Kertas.

dan inilah Perahu Kertas versi saya :)

perahu kertas oleh nik.e

Bintaro, Lebaran 2009

h1

diri.saling.maaf.lahir.batin

September 20, 2009

happy idul fitri oleh nik.e

h1

sila mampir

September 15, 2009

lovelikeschoolboy

Gambar ini dibuat oleh Octa Ramayana dan diwarnai oleh saya. Psssst, saya sering iri dengan bakat corat-coretnya.  Ayo mampir ke blog si tukang gambar berzodiak Libra yang ada di sini :)