everybody has gone through bad times
so, all you have to do is choose your own way
to be better or bitter

ibu.

Screen Shot 2013-05-01 at 3.32.49 PM

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya benar-benar menjadi seorang Ibu, hingga akhirnya saya menjalaninya sendiri.

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi ibu seperti dirinya, hingga akhirnya saya menjalaninya sendiri.

Saya tidak pernah secinta dan sesayang ini dengannya, hingga akhirnya saya menjalaninya sendiri.

Selamat ulang tahun, Ibu.

Sekarang saya mengerti ketika Ibu memilih untuk tetap terjaga ketika saya pulang larut malam.

Ketika Ibu selalu meyakinkan kepada saya kalau semua akan baik-baik saja ketika saya merasa ragu.

Selamat ulang tahun, Ibu.

[25.04.2013]

illustrated greeting card by Inez Tiara

bali trip: bali agung theatre

Kalo sebelumnya saya bahas tentang tempat kami menginap selama di Ubud, Room at Bali. Sekarang saya mau bahas destinasi utama kami. Sebagai keluarga dengan anak batita, tentu saya dan suami mulai menambah perbendaharaan destinasi seperti taman bermain dan kebun binatang. Termasuk saat liburan dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan kami awal Maret lalu. Bukannya ke tempat-tempat romantis, kami justru mampir ke Bali Safari and Marine Park.

Nah, saya mungkin seperti para calon pengunung Bali Safari and Marine Park lainnya, ingin melihat aneka binatang seperti gajah, harimau dan jerapah. Semua binatang itu memang ada di sana dan menyenangkan sekali bisa menikmati aktivitas mereka sambil menghirup udara segar. Meski anak kami ternyata lebih doyan nontonin ikan-ikan di bagian akuarium. Hehe. Namun yang justru bikin saya kagum itu justru Bali Theatre-nya.

Jujur, ketika pertama kali mendengar kalau Bali Safari punya teater, saya hanya berpikir kalau pertunjukannya pasti teater berskala kecil yang dilakukan di luar seperti dan banyak diisi atraksi binatang. Namanya juga bagian dari Bali Safari, kan? Tapi ternyata saya salah, saudara-saudara.  Dan saya sadar saya salah sejak pertama kali masuk ke gedung teater-nya. Gedung teaternya megah dan modern dengan sentuhan tradisional khas Bali. Bagian lobinya luas dengan lighting  berwarna kuning sehingga terkesan hangat. Kapasitas penontonnya 1.200 orang, sama dengan Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Namun jujur, saya lebih suka dengan suasana Bali Theatre yang desainnya lebih Indonesia., berbeda dengan Teater Jakarta yang punya kapasitas sama namun desainnya lebih menonjolkan unsur megah nan futuristik.

bali agung

Bagaimana dengan pertunjukannya? Saya berani bilang kalau pertunjukan satu jam  ini bahkan jauh lebih bagus dari pertunjukan musikal yang pernah saya tonton di Jakarta. Dari segi skala pertunjukannya saja Bali Theatre  ini lebih unggul. Pemainnya sekitar 150 orang dengan kostum yang niat. Lighting-nya luar biasa dengan props panggung dan music scoring yang keren. Bahkan ada bagian yang mengingatkan saya dengan film ‘Life of Pi‘. Dari segi ceritanya juga menarik. Menyuguhkan kisah tentang Raja Jaya Pangus yang menikahi putri dari Cina, namun kemudian Raja Jaya Pangus terlibat dalam hubungan cinta dengan Dewi Danu, ratu kerajaan air.

Buat saya, ini salah satu pertunjukan paling menarik yang pernah saya lihat. Mungkin ada beberapa pertunjukan seperti ini di Indonesia. Namun yang bikin saya salut adalah pertunjukan ini digelar 6 kali seminggu (Selasa s.d Minggu) dan biaya yang dikeluarkan setiap pertunjukan sekitar 70 juta! Bayangkan deh kalau kita jadi pemain atau kru yang menggelar sajian epik seperti itu hampir setiap hari selama sekian tahun.

Bali Agung 5  Bali Agung 3 Bali Agung 2 Bali Agung 1

Sayangnya, waktu itu kami telat datang. Saat itu pertunjukan udah berjalan sekitar 15 menit. Itu kenapa pas kebetulan mampir ke Bali  lagi bulan depannya, kami memutuskan untuk nonton lagi. Kali ini kami menggiring teman-teman satu kantor suami. Para anak-anak berlatar belakang produksi video ini pun ternyata kagum juga dengan pertunjukan ini. Berarti cukup sah kalau saya bilang Bali Agung Theater ini bagus. Sekarang kalau ada teman yang liburan ke Bali, saya rekomendasikan untuk menyempatkan diri menikmati teater yang satu ini. Harganya memang nggak murah, sekitar Rp210.000/orang (termasuk tiket masuk ke Bali safari-nya) untuk wisatawan lokal, tapi sepadan kok dengan suguhan yang didapat. :)

*All performance photos are courtesy Bali Theatre.

bali trip: room at bali

Harusnya sih saya bikin posting ini awal Maret lalu sepulang kami dari liburan dalam rangka ulang tahun pernikahan. Tapi ternyata kesibukan pekerjaan dan pribadi bikin saya baru bisa nulis ini sekarang. Bahkan di bulan April sempat kembali ke Bali lagi. Jadi, bulan Maret lalu saya, suami dan anak kami yang baru setahun berlibur ke Bali. Sebenarnya kami nggak merencanakan liburan ini, tapi seorang sahabat nan baik hati memberikan kejutan manis berupa tiket Jakarta-Bali-Jakarta.

Kalau biasanya kami memilih untuk nginap di daerah Seminyak. Kali ini kami memilih Ubud, karena ingin suasana dan destinasi yang nggak itu-itu lagi. Padahal saya dan suami termasuk orang yang lebih suka ke pantai daripada ke dataran tinggi. Tapi berhubung waktu libur yang singkat (3 hari 2 malam), jadi kami memilih untuk fokus di satu daerah saja.

Kami memilih hotel di daerah Sayan. Memang agak minggir dari Ubud. Bahkan sopir yang membawa mobil sewaan saja heran kenapa kami memilih lokasi hotel yang agak jauh dari Ubud. Tapi saya memang penasaran sekali sama hotel ini. Namanya Room at Bali. Hotel ini hanya punya empat kamar dengan tiga tipe. 1 kamar dengan kolam renang pribadi, 2 kamar dengan double bed dan 1 kamar dengan dua double beds. Saat masuk ke area hotel ini. Saya sejujurnya sempat bingung dan ragu-ragu, soalnya kami seperti nggak masuk ke sebuah hotel tapi area kontrakan. Yup, setelah masuk gerbang Safari hotel, di sebelah kanan kami berjejer kamar-kamar  ala kontrakan. “Waduh, kok begini?, pikir saya. Lalu setelah parkir, kami disambut seorang cowok geeky dengan kaos dan celana pendek bola plus sandal jepit. Ternyata cowok ini adalah receptionist sekaligus bagian service Room at Bali. Ruang reseption-nya, meski didekor dengan pajangan unik, pun nggak besar seperti hotel pada umumnya. Saya pun sempat ragu dan sedikit kasian ketika cowok ini mengangkat koper kami yang besar menuju kamar.

Berjalanlah kami menuju kamar. Lebih tepatnya turun dengan anak tangga yang lumayan banyak. Saat masuk ke dalam kamar, keraguan dan harap-harap-cemas saya tadi hilang seketika. Kamarnya luas luar biasa dan pemandangannya langsung bikin betah nggak mau pulang. Jadi, hotel ini memang cuma punya empat kamar. Tapi satu kamar itu luasnya satu lantai sendiri. Luas satu kamarnya sekitar 10×12= 120 m. Sudah kayak rumah aja, kan?

Setiap kamar punya teras besar dengan sofa, ruang makan, dapur bersih, ruang TV, kamar tidur dan kamar mandi dengan shower dan bath tub. Bahkan untuk tipe kamar ‘Pool Suite’ kamar mandinya terbuka dengan bath tub lumayan besar dan desain yang mengingatkan akan rumah-rumah putih Yunani. Kami memilih kamar ‘Industrial Chic’. Nama kamar sesuai dengan gaya interiornya. Jadi, interior kamar kami memang banyak unsur besi, namun tetap terlihat cantik dan nyaman.

Screen Shot 2013-04-28 at 4.48.22 PM

OK, balik lagi ke pemandangan. Kalau biasanya hotel dan restoran di Ubud menjual pemandangan hijau berupa sawah terbentang. Di Room at Bali pemandangan hijaunya adalah lembah dan sungai Sayan. Rasanya ingin santai menghabiskan waktu sambil baca dan minum kopi anget. Sayangnya, keinginan nyantai berjam-jam itu nggak bisa dilaksanakan karena jadwal kami lumayan padat. Salah satu destinasi utama kali adalah Bali Safari and Marine Park.

Buat yang ingin tahu lebih detail tentang kamar yang tempati ini, boleh lho berkunjung ke blog saya yang satu lagi, Living Loving. ;)

ps: thank you so much to our bestfriend, Anggie Nasution for a very lovely surprise :)