saya sekolah lagi
January 14th, 2012 § 8 Comments
Sudah lebih dari satu bulan saya tidak menyentuh blog, lebih tepatnya tidak menulis apa-apa. Kalau membalas komentar masih saya lakukan karena ada aplikasi wordpress di blackberry. Alasannya tentu saja karena hadirnya Kirana yang lahir di akhir November lalu. 95% hidup saya sepanjang bulan ini hanya untuk dia. Dalam sehari, waktu buat saya pribadi rata-rata sekitar 5-7 jam yang terdiri dari tidur 2-4 jam.
Gila? Kalau saja ini bukan karena Kira, mungkin saya sudah mengeluh hebat dan jatuh sakit. Bayangkan, setiap hari saya hanya bisa tidur tenang paling lama empat jam. Saat bangun pun saya harus benarbenar curi waktu untuk makan dan mandi, atau memompa ASI (kegiatan baru saya). Lupakan pergi ke mal, jalanjalan dengan suami atau teman, apalagi nonton film di bioskop atau menikmati konser. Selama aktivitas tersebut memakan waktu lebih dari satu jam, maka saya tidak ada pilihan selain membawa anak. Online dan menulis blog seperti sekarang ini bisa saya lakukan setelah berminggu-minggu beradaptasi dan mencoba mencari cara supaya bisa menidurkan Kira lebih dari satu jam.
Minggu lalu teman kampus saya menyapa lewat BBM. Ia bertanya kabar saya, dan obrolan singkat itu berlanjut tentang bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Menjalani hidup sebagai orangtua baru bukan hal mudah. Kegiatan dan prioritas yang berubah drastis, ditambah dengan kebingungan tipikal orangtua baru saat menghadapi bayi harus kami jalani. Senang dan bersyukur luar biasa bercampur dengan bingung, stres dan lelah. Namun betapa lelah atau bingung bahkan jengkelnya kami dengan kondisi, terutama saat anak kami terus menangis dan hampir tidak ada waktu untuk istirahat sejenak, ia juga yang membuat kami waras. “She keeps me sane.”, begitu kata saya saat menyimpulkan pengalaman menjadi ibu selama satu bulan pertama ini.
Sama seperti ibu lain, merawat anak sendiri membuat kami sadar menjadi ibu butuh dedikasi penuh. Setiap keputusan tidak lagi hanya melibatkan diri sendiri sebagai bahan pertimbangan, namun juga anak. Bahkan anak menjadi bahan pertimbangan utama. Pengalaman ini juga membuat saya akhirnya tahu bagaimana Ibu saya (dan juga ibu-ibu lainnya) merawat anak-anaknya. Ini membuat saya semakin sayang dengan Ibu dan menghormati para ibu di sekitar saya.
Merawat anak juga berarti sekolah buat saya. Sekolah paling intens karena saya belajar setiap waktu untuk memahami dan menghadapinya. Saya masih belum apa-apa dibanding ibu-ibu lain. Saya baru mengikuti sekolah ini selama 1,5 bulan. Itu saja sudah membuat saya sadar begitu banyak hal tentang anak yang belum saya ketahui. Sekarang, setiap bisa online informasi yang saya cari pasti seputar anak. Mulai dari kesehatan hingga cara merawat anak. Hal yang luput dari pengamatan saya selama ini. Saya pun heran dengan diri saya sendiri. Kalau sebelumnya saya menjelajah situs YouTube untuk video musik terbaru, sekarang saya mencari video cara memijat bayi.
Untuk suami saya, terima kasih atas dukungannya. Terima kasih selama ini sudah ikut terjaga di malam hari, menggantikan popok, membawakan makanan dan minuman, menenangkan Kira di saat saya sudah lelah, memberi saya semangat ketika rasa percaya diri saya menurun, dan banyak lagi hal yang sudah dan akan kamu lakukan.
Buat semua ibu baru yang sedang “berkenalan” dengan anaknya dan dunia yang benarbenar berbeda ini. Selamat menjalani “sekolah” yang luarbiasa.
Kira, kamu inspirator Ibu. :)
Ramuan Melankolia Nick Drake
November 24th, 2011 § 4 Comments
Bagi mereka pecinta film romantis, ‘Serendipity’ tentu sudah masuk dalam daftar tontonannya. Tak sedikit yang menyukai film yang dibintangi John Cusack dan Kate Beckinsale ini. Film yang dirilis tahun 2001tersebut sebenarnya bukan termasuk film romantis favorit saya. Justru album soundtracks-nya lah yang impresif buat saya dan jadi teman setia menemani perjalanan rumah-kampus-rumah. Bahkan beberapa lagunya sukses bertahan di playlist mp3 player hingga detik ini.
Nah, salah satu lagu yang berkesan buat saya adalah “Northern Sky” dari Nick Drake. Lagu ini memang bukan lagu pertama yang saya suka saat mendengarkan album soundtracks ini. Kover Bob Marley yang dibawakan Annie Lennox, “Waiting in Vain” atau “The Distance” dari si kembar Evan and Jaron tentu lebih menarik perhatian. “Northern Sky” baru mengundang rasa penasaran setelah beberapa kali memutar album ini. Saat menikmatinya, sama sekali tidak ada pikiran kalau lagu ini umurnya sudah tiga dekade. Ya, suara dan suasana lagu ini bagi saya masih terdengar “baru”. Paling tidak awal 90an, begitu asumsi saya saat itu. Namun ketika akhirnya saya penasaran ingin menyelami karya-karya Nick Drake yang lain, saya kaget sekali ketika tahu kalau ia adalah musisi era akhir 60an.
Sepanjang hidupnya, Nick Drake hanya merilis tiga album. Five Leaves Left (1968), Bryter Layter (1972) dan Pink Moon (1972). Ketiganya bisa dikatakan tidak meledak secara komersil, dan Drake meninggal karena overdosis di tahun 1974 saat ia masih berumur 26 tahun. Namun karir musik yang singkat dan karya yang hanya tiga album tersebut sudah cukup menunjukkan betapa berbakatnya musisi asal Inggris ini. Ya, dia berasal dari Inggris. Lagi-lagi ini fakta yang mengagetkan saya. Tentunya pada saat itu, di Inggris maupun belahan dunia lain, musik The Beatles sedang merajalela. sementara, Drake menawarkan musik folk-blues yang jauh berbeda dengan atmosfir yang jauh lebih suram dan melankolis dibanding musik yang populer saat itu. Jadi, tidak heran kalau namanya memang seakan terkubur di era tersebut.
Drake yang kerap enggan melakukan aktivitas promo seperti wawancara dan konser semakin membuat karyanya “kalah” secara popularitas. Ia dikenal cenderung asosial dan kabarnya menderita depresi serta insomnia selama hidupnya. Namun menurut saya, lagu-lagu yang dibawakan Drake tidak otomatis selalu menghadirkan sisi yang depresif atau suicidal. Bahkan ada lagu yang saya tangkap justru lumayan cerah dan ada rasa “lega” saat mendengarnya, meski sentuhan melankolis memang nggak bisa terlepas, yaitu lagu “From The Morning” yang sering saya putar saat pagi atau menjelang tidur. Simak sebagian liriknya yang indah.
So look see the days
The endless coloured ways
And go play the game that you learnt
From the morning.
Beberapa lagu lain yang saya dengarkan adalah “Day is Done”, “Place to Be” dan “Mayfair”. Ketiganya sering jadi andalan saat kuping sudah lelah mendengarkan lagu-lagu dengan berlapis suara dan polesan. Lagu-lagu Drake yang sebagian direkam one take jadi semacam dimensi yang sederhana yang tidak pretensius. Well, memang sih tak sedikit lagunya yang depresif, namun satu yang bisa dipastikan dari musik Nick Drake. Jujur.
Dengarkan juga Iron and Wine membawakan “Place to Be”. :)
Hidup Nikmat [22]
November 22nd, 2011 § Leave a Comment
60.000 dan 38
November 19th, 2011 § 4 Comments
Kemarin membuka blog ini dan melihat bagian pengunjung. Ternyata sejak ada di tahun 2008, blog ini sudah mendapat lebih dari 60.000 kunjungan. Mungkin bukan prestasi fantastis ya buat para blogger lain yang jauh lebih aktif dan populer. Tapi sudah cukup menyenangkan buat saya. Sama menyenangkannya ketika mendapat komentar-komentar akan tulisan dari teman-teman yang datang. Baik yang saya kenal baik di luar jaringan maya ini, hingga yang baru berkunjung pertama kali. Mengetahui ada orang-orang yang bisa merasakan apa yang saya tulis itu sulit dideskripsikan. Mungkin kami punya latar dan referensi yang berbeda, namun ketika sebuah tulisan bisa menciptakan koneksi tentu rasanya luar biasa.
Oya, bukan hanya angka ini yang ada di minggu saya kali ini, tetapi juga angka 38. Ya, ini minggu ke-38 kehamilan saya. Jadi, dalam kurun tak lebih dari sebulan lagi akan hadir anggota baru di keluarga kecil kami, anak pertama yang insyaAllah akan jadi cahaya bagi kami.
Terima kasih temanteman yang sudah mengunjungi blog ini. :)
lupakan.ledakan
November 8th, 2011 § 2 Comments
karena di saat kamu berkata begitu banyak yang kamu benci
sebenarnya satusatunya cara adalah menerima diri kamu apa adanya
pengakuan 140 karakter
November 4th, 2011 § 8 Comments
Kamu perhatikan tidak? Saat ini sebuah status kurang dari 140 karakter dipercaya bisa menggambarkan pencitraan.
Kamu perhatikan tidak? Sebenarnya kamu tidak sepintar itu, kamu hanya mencarinya di google lalu mengemasnya dalam 140 karakter.
Kamu perhatikan tidak? Orangorang lain mungkin berpikir seperti itu. Tidak semua orang tidak bisa melihat apa motivasi di balik pesan 140 karakter.
Lucunya, justru kamu yang tidak melihatnya. Terlarut dalam kepuasan pengakuan lewat 140 karakter.
Manusia tidak sedangkal itu.
digitali(f)e.
October 20th, 2011 § 3 Comments
Ketika mata ini memang bertugas untuk melihat satusatu.
Tak bisa memilih untuk beralih.
Sebagian jujur
Sebagian purapura
Sebagian terlalu berusaha
dan sebagian lagi lupa usaha
Lahan yang kosong dan bisa diisi dengan hangat hanya saat kulit, pandang dan senyum beradu
Aku rindu
Masa itu
Kamu
Aku
Berbagi cerita saat bertemu
penulis di media sosial : organik lebih menarik
October 6th, 2011 § 7 Comments
Bagi sebagian penggemar buku di Indonesia, nama Paulo Coelho kemungkinan besar sudah tak asing lagi. Penulis asal Brazil ini dikenal lewat buku ‘The Alchemist’ yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia.
Lalu apa hubungannya Paulo Coelho dengan media sosial? Fans Coelho di halaman Facebook-nya ternyata lebih banyak dari Madonna, ikon pop asal Amerika yang sudah populer sejak kurun 80an. Jika Madonna pada halaman Facebook-nya mendapat sekitar 6,2 juta likes, Coelho telah meraih 6,6 juta likes. Followers di akun Twitter Coelho pun cukup besar, lebih dari 2,4 juta followers.
Besarnya angka audiens Coelho di media sosial tentu tidak terjadi secara instan. Coelho sendiri menyadari kekuatan media sosial sejak pertengahan 2000an. Di tahun 2006 ia memulai blog-nya, kemudian diikuti dengan Facebook dan Twitter. Tak hanya itu, format media video pun ia maksimalkan dengan akun YouTube.
Di antara empat jejaring sosial yang digunakan Coelho, Twitter merupakan sarana yang ia pegang secara personal. Sementara akun-akun jejaring sosial lainnya tampaknya dikelola oleh manajemennya. Coelho menghabiskan tiga jam setiap harinya untuk media sosial. Jika Anda memperhatikan linimasa di akun Twitter pria berumur 64 tahun ini, ia cukup sering membalas tweet dari para followers-nya. Coelho juga tidak melulu membicarakan bukunya sendiri. Meskipun jejaring sosial sudah tentu bisa menjadi sarana mempromosikan karya, namun ia membawanya ke tingkat yang berbeda. Ia mengatakan,
“Of course, I could use these social communities solely to promote my books, but what would be the point? The art of writing is not limited to the printed book—it is the act of communicating a message.”
“Tentu saja saya bisa memanfaatkan komunitas (media) sosial ini untuk mempromosikan buku saya. Namun bagi saya, seni menulis itu tidak hanya terbatas pada buku cetak saja. Seni menulis itu tentang bagaimana menyampaikan pesan.”
“Be authentic and organic. It can’t be forced or it won’t work. And most importantly, have fun.”
Coelho sadar betul, jika berada dalam ranah media sosial, audiens mencari seorang teman yang bisa diajak berinteraksi. Bukan seorang penulis atau seniman yang hanya sibuk mempromosikan karyanya namun tidak responsif dengan para penggemar atau followers-nya. Bisa dikatakan cara Coelho kuranglebih sepaham dengan prinsip entrepreneur pemilik Virgin Group, Richard Branson tentang aktivitasnya di media sosial, “Be authentic and organic. It can’t be forced or it won’t work. And most importantly, have fun.”
Meskipun Twitter tampaknya menjadi jejaring sosial yang dipilih Coelho untuk berinteraksi lebih personal, bukan berarti jejaring sosial lainnya seperti blog, Facebook dan YouTube-nya minim perhatian. Masing-masing sarana tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Coelho dan timnya. Bahkan untuk ukuran seorang penulis, Coelho memaksimalkan YouTube dengan baik. Pada kanal YouTube-nya, Coelho tak hanya menyajikan video teaser karyanya atau wawancara, tetapi juga menyapa para pembacanya dengan berbagai topik yang inspiratif.
Menunjukkan sisi lain yang humoris dan tak melulu puitis membuat followers merasa lebih dekat.
Bagaimana dengan penulis Indonesia dan media sosial? Dewi Lestari atau Dee termasuk salah satu nama yang fasih dengan media sosial. Ia memulai blog di tahun 2006. Bahkan di tahun 2007, ia juga sempat membuat blog khusus selama menyelesaikan buku Perahu Kertas yang memakan waktu 55 hari. Dee juga memiliki halaman Facebook yang telah mendapat sekitar 37.000 likes. Namun mirip dengan Coelho, aktivitas jejaring sosial yang paling sering ia gunakan saat ini adalah Twitter. Berhasil meraup 237.670 followers, Dee tidak hanya bicara tentang menulis. Topik yang hadir di linimasa akun Twitter-nya cukup beragam, dari mulai masalah spiritual, musik, hiburan hingga apapun yang menarik baginya. Gaya bahasanya pun santai dan cukup interaktif dengan para followers-nya. Tak jarang tweets-nya bernada konyol, dan aksi itu tampak direspon positif oleh para followers. Menunjukkan sisi lain yang humoris dan tak melulu puitis seperti yang tertangkap pada karya penulis selama ini memang bisa menjadi magnet bagi followers, karena membuat followers merasa lebih dekat.
Masih banyak penulis internasional maupun lokal lainnya yang juga aktif di media sosial. Beberapa penulis internasional yang dikenal cukup aktif berinteraksi di berbagai jejaring sosial adalah Neil Gaiman (@neilhimself), Chuck Palahniuk (@chuckpalahniuk) dan Meg Cabot (@MegCabot). Sementara di Indonesia ada Sitta Karina (@SittaKarina), Raditya Dika (@RadityaDika), Adhitya Mulya (@AdhityaMulya) hingga penulis senior seperti Goenawan Mohamad (@gm_gm) dan Sitok Srengenge (@1srengenge).
Sayangnya, penulis populer yang bukunya begitu laku di berbagai belahan dunia seperti J.K Rowling dan Stephenie Meyer tidak banyak bermain di media sosial. Rowling sendiri sempat menyapa linimasa Twitter di tahun 2009 lewat akun @JK_Rowling, namun hingga saat ini hanya menghasilkan tujuh tweets. Sementara Meyer menyatakan bahwa ia tidak memiliki akun Facebook maupun Twitter. Bayangkan jika Rowling yang dikenal dengan Harry Potter, dan Meyer dengan seri Twilight-nya aktif di jejaring sosial. Followers mereka kemungkinan besar akan melampaui jumlah followers penulis yang gencar di media sosial saat ini. Kontennya pun bisa seru, karena tentu banyak penggemar buku mereka yang ingin mengetahui bagaimana penulis favoritnya ini membangun fantasi sedemikian rupa dalam buku-bukunya.
Well, siapapun penulisnya. Bahkan siapapun pelaku media sosialnya, kita sepertinya perlu terus mengingat pesan Branson. Be authentic. Be organic. Have fun!
artikel serupa di salingsilang














