a beautiful week

so we spent the rest of our week in Balikpapan. it was a lovely one. I was able to finish my Murakami’s, he had fun meeting with some old friends, she couldn’t stop splashing the salt water. we explored the city.

Image

Image

Screen Shot 2014-06-25 at 7.58.30 PM

Screen Shot 2014-06-25 at 8.07.22 PM

 

well, it wasn’t like we didn’t do anything but having fun. we still juggled with works and things, but I just loved how time feels so slow and that we can do many things in one day. :)

make things. make friends.

one of the best things having a blog that really represents your favorite things is meeting new friends with similar interests. so when Living Loving, the blog I run with my good friend Miranti, held a casual make-and-do gathering named ‘Afternoon Delight‘ couple weeks ago, these girls we invited were easily connected.

IMG_9300-edit

afternoon-delight-for-blog-1IMG_9638-edit IMG_9230-edit

sometimes I forgot how lovely it is to do this kind of thing. to sit, relax and make things and have fun.

we had a lovely time, and yes, now my mind is filled with dreams and lovely things.

thank you everyone. :)

Β photos courtesy of Pixel Paper Asia

we still have choice

the perks of being a wallflower

 

So I guess we are who we are for a lot of reasons. And maybe we’ll never know most of them. But even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them.

So, I just finished this book called ‘The Perks of Being a Wallflower’ by Stephen Chbosky. I saw the movie first and decided to buy the novel.

This quote might not be original. We know there are thousands quotes about happiness or finding your own true self. But that’s what I really love about reading. It’s a self-reminder.

Yes, we can still choose where we go from here.

:)

do nothing

do nothing

when was the last time you do nothing?
i know there’s certainly something wrong with me when my days filled up with millions things to do
i’ve been that person who couldn’t stop moving
I forgot how to spend weekend finishing one novel
I forgot how to listen to music and enjoying the surroundings without letting my mind strolling around my plans
I forgot how to sit still, or in bed doing nothing
let’s do nothing for a while
because it’s worth something

love is paradise

Everything was love.
Everything will be love.
Everything has been love.
Everything would be love.
Everything would have been love
that was it. The truth at last.
Everything would have been love.

The past was folded out and in the twinkle of an eye and everything had been changed.
And made beautiful and good.

memulai blog

Screen Shot 2013-11-18 at 11.54.56 AM

Sebelum tahun 2013, saya nggak pernah sama sekali menyebut diri saya sebagai Blogger. Saya memang mulai blogging sejak 2007. Bahkan kalau mau ditarik lagi ke belakang, di awal tahun 2000an pun sempat punya dua homepages, salah satunya U2indonesia.Namun saya selalu merasa nggak bisa menyebut diri saya sebagai Blogger. Sebutan itu selalu muncul dari pihak lain, biasanya pihak yang mengundang atau mengajak kerjasama. Sementara saya sendiri lebih nyaman bilang kalau saya memang blogging (tapi bukan Blogger). Kenapa? Karena saya kok rasanya lebih memperlakukan blog pribadi saya lebih sebagai jurnal, bukan media seperti teman-teman lain yang punya blog. Frekuensi mengisinya pun nggak stabil. Jadi, sungkan rasanya menyebut diri Blogger.

Baru saat Living Loving diluncurkan saya agak berani menyebut diri sebagai Blogger. Kenapa? Karena ini blog pertama saya yang semuanya benar-benar pakai persiapan. Bukan sekadar blog pribadi yang tinggal dibikin seperti kita membeli sebuah buku jurnal kosong tanpa berpikir panjang akan diisi apa. Living Loving, blog kreatif yang saya garap bersama Miranti, melalui proses yang lumayan panjang sebelum akhirnya diluncurkan. Obrolan via instant messengers dan e-mail panjang berisi ide-ide sudah nggak terhitung lagi. Saya sendiri termasuk orang yang lebih senang semuanya terencana dan jelas tujuannya. Spontanitas memang tetap harus ada, tapi nggak semua spontan melulu. Kalau semuanya selalu serba spontan, bisa-bisa berhentinya juga spontan. Makanya kami sepakat untuk serius menggarap Living Loving dari mulai bentuknya hanya sebuah konsep hingga akhirnya bisa berjalan dengan frekuensi posting yang cukup stabil.

Kalau ada teman yang cerita dia ingin membuat blog, biasanya saya tanya balik tujuannya membuat blog apa. Kalau isinya memang lebih sebagai jurnal pribadi, biasanya sih nggak perlu pakai konsep dan perencanaan khusus. Semuanya hanya perlu niat. :D Beda lagi kalau ada yang ingin buat blog dengan konten dan tujuan spesifik. Saya sangat menyarankan perlunya perencanaan yang agak niat. Apalagi kalau misalnya blog itu direncanakan akan berkolaborasi dengan banyak pihak, atau dikomersilkan. Mau nggak mau ya direncanakan dengan matang. Kira-kira seperti ini langkah-langkah yang waktu itu saya dan Miranti lakukan sebelum Living Loving diluncurkan.

  1. Target Pembaca. Tentukan target pembaca utama blog kamu. Laki-laki atau perempuan? Berapa range usianya? Tinggal di mana? Apa hobi dan minatnya?
  2. Nama. Nama blog ini susah-susah-gampang. Kecuali kalau kamu memang mau memakai nama kamu sendiri, coba cari nama blog yang benar-benar merepresentasikan konten blog sekaligus memberi “perasaan” tertentu. Kalau namanya pakai bahasa asing, usahakan jangan yang sulit ya. Coba bayangkan Β kamu bertemu orang dan menyebut nama blog-mu. Kalau kamu sendiri susah mengucapkannya, atau orang lain perlu dengar dua-tiga kali dan kamu perlu menjelaskan dengan panjang apa arti namanya mendingan lupakan dulu nama itu. Pilih nama yang nggak menyusahkanmu dan orang lain. Kalau sudah ketemu, langsung periksa apakah nama tersebut sudah dipakai orang lain. Ini nih yang biasanya jadi pe-er. Sudah nemu nama yang pas dan gampang, tapi ternyata domain-nya sudah dipakai semua.
  3. Konten. Buat mapping konten blog kamu dengan menulis apa saja topik yang ingin kamu tulis nanti. Misalnya kamu ingin membuat blog tentang home decor, maka kamu bisa membaginya menjadi: ruang tamu, kamar tidur, ruang keluarga, ruang makan, dapur, rekomendasi produk, dll. Membuat mapping seperti ini akan terasa banget manfaatnya saat nanti blog sudah berjalan dan kehabisan ide. Kita tinggal cek mapping yang sudah kita buat, dan biasanya nih baru sadar kalau ternyata kita sudah jarang membahas 2-3 topik tertentu.
  4. Hosting. Pilih blog hosting yang paling nyaman buat kamu. Mungkin kalau yang sudah punya blog sebelumnya lebih gampang menentukan mau pilih yang mana. Tapi buat yang belum pernah punya blog juga enak, kok karena adaptasinya dari awal. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya lebih suka menggunakan blog hosting yang sudah ada daripada membangun sendiri (self hosted blog). Kenapa? Karena saya sudah nyaman dengan blog hosting tertentu dan saya mau memastikan kalau saya maish tetap bisa menjalankan blog saya meski web developer saya berhalangan. Blog hosting yang sudah ada, seperti WordPress, juga memudahkan saya untuk update melalui mobile. Selain itu, biasanya persiapannya pun jadi lebih singkat. :)
  5. Survey. Lakukan survey kecil-kecilan. Tanya teman-temanmu yang kamu tahu suka banget browsing blog dan punya minat yang sejalan dengan konten blog kamu. Minta daftar blog favorit mereka. Kamu juga bisa membuat daftar kecil blog favorit kamu yang kontennya mirip dengan blog yang kamu buat. Lihat kontennya, berapa kali posting dalam seminggu, bagaimana tampilan blog-nya, seperti apa gaya bahasanya, dll. Lebih bagus lagi kalau ada blog lokal yang punya benang merah dengan konten blog-mu. Selain untuk dipelajari, bisa juga buat diajak kolaborasi suatu hari nanti.
  6. Tampilan. Urusan tampilan ini penting sekali, karena sering jadi kunci orang akan tetap tinggal untuk terus membaca blog-mu atau memilih untuk segera keluar. Pikirkan warna-warna apa saja yang akan dominan. Seperti apa penempatan menu dan konten. Kalau bisa sih jangan terlalu sering mengganti tampilan blog supaya pembaca nggak bingung. Lebih baik urusan tampilan ini memakan waktu berminggu-minggu daripada buru-buru diluncurkan tapi dua bulan kemudian sudah ganti layout/scheme lagi. Oya, jangan lupa pikirkan tampilan di mobile, karena saat ini lebih banyak orang mengakses via mobile/tablet daripada PC. Nah, ini (lagi-lagi) kenapa saya lebih memilih blog hosting yang sudah ada daripada membangun dari awal. :)
  7. HOLD IT! Kalau semuanya sudah siap, saatnya mengisi blog, deh. Saran saya, lebih baik isi blog dengan beberapa post dulu baru luncurkan secara resmi, daripada hanya menulis 1 post “hello everyone” kemudian langsung cerita ke banyak orang kalau punya blog baru. 5-7 post sudah cukup untuk memberi gambaran akan seperti apa konten blog kamu selanjutnya. Saya dan Miranti sudah aktif mengisi Living Loving sejak akhir bulan Desember 2012 meskipun Living Loving baru diluncurkan bulan Februari.
  8. Sebarkan. Nah, kalau sudah punya konten yang cukup, sudah mantap sama tampilan dan sisi teknisnya juga sudah beres semua, berarti sudah waktunya blog kamu disebarkan ke teman-teman dan khalayak luas. Caranya bisa macam-macam. Mulai dari yang simpel seperti memberi tahu lewat social media atau e-mail, sampai mengirim paket ke orang-orang tertentu yang kamu rasa cocok dengan blog-mu. Be creative! ;)

Lebih mudah memulai daripada menjalankan. Mungkin ada suatu waktu di mana kita kehilangan semangat buat blogging, atau ingin sekali menulis tapi kesibukan nggak bisa ditoleransi. It’s okay…dan percaya deh pasti ada jalan. Buka terus keran di otak. Ini blog kita, jangan sampai membatasi. Justru kita bisa banyak berkembang dari sana. ;)