Berbagi Inspirasi di #LOKALVOKAL

Sebelum kuliah, saya sudah mutusin untuk bekerja tidak jauh dari media. Saya pun memilih jurusan yang dekat dengan bidang media. Lulus, saya masuk ke dunia televisi. Sebenarnya dunia broadcasting bukan bagian dari cita-cita saya yang ingin masuk di media cetak. Namun setelah dijalani saya sadar bahwa bukan bentuk medianya yang jadi esensi bagi saya. Tujuan dari apa yang saya kerjakan ternyata jauh lebih penting.

Mengurus sebuah program talk show Pagi Jakarta di televisi lokal Jakarta, O Channel, live setiap jam tujuh pagi, Senin hingga Jumat selama sekitar dua setengah tahun adalah salah satu hal yang saya syukuri banget sampai sekarang, karena saya jadi tahu apa yang menjadi gairah saya, yaitu berbagi inspirasi. Nah, sabtu malam lalu (14/7), saya merasakan gairah yang sama lewat #LOKALVOKAL.

AdalahKita merupakan gerakan menyebarkan dan berbagi bangga akan karya-karya Indonesia. Saya mengetahuinya saat diajak bergabung oleh tim AdalahKita tak lama setelah mereka berdiri sekitar akhir 2010. Berawal dari mengerjakan akivitas media sosial dan konten situs mereka, hingga akhirnya ikut ambil bagian mengurus kegiatan-kegiatan mereka di luar media digital. Kegiatan offline yang terakhir dilakukan adalah sebuah acara ngumpul bareng sambil diskusi bernama #LOKALVOKAL ini.

Awalnya, kami sempat cukup lama menimbang topik apa yang kira-kira cocok buat diskusi ini. Berapa banyak peserta yang diharapkan datang, dan di mana lokasinya. Akhirnya dipilihlah bidang fesyen sebagai topik diskusi. Namun sejak awal membuat konsep acara ini, saya pribadi sih nggak ingin acara diskusi fesyen ini membicarakan tentang tren atau cara bergaya, karena fesyen jauh lebih luas dari itu dan banyak banget potensi di bidang fesyen yang bisa digali.

Satu nama yang muncul di kepala saya saat membayangkan sebuah diskusi fesyen. Chitra Subiyakto. Ya, Chitra memang bukan fashion designer atau editor majalah fesyen, dua sosok yang sering menjadi pembicara berbagai diskusi fesyen. Ketika saya menyebut namanya di depan teman-teman yang cukup minat dengan fesyen, nggak semuanya tahu dia siapa. Namun justru ini sesuai dengan tujuan #LOKALVOKAL, berbagi bangga dan inspirasi. Chitra adalah seorang fashion stylist berbagai film layar lebar dan creative buyer department store Alun-alun. Dua profesi di bidang fesyen yang relatif jarang dibicarakan namun berpotensi untuk dikembangkan.

Kleting Titis Wigati adalah nama kedua yang muncul. Sebagai fashion designer muda Indonesia yang sudah cukup populer, Kleting mencoba mengembangkan fesyen lokal tanpa merasa wajib untuk menampilkan sisi tradisional atau etnik Indonesia secara gamblang. Ia pun bukan tipe desainer yang hanya berbekal lulusan sekolah fesyen lalu langsung membuat label. Perlu bertahun-tahun untuk belajar dan mencari pengalaman di bidang fesyen dan retail untuk Kleting akhirnya memutuskan mendirikan KLE. Inilah yang menurut saya bisa jadi kunci inspirasi Kleting.

Kedua adalah masalah berapa banyak peserta yang akan hadir. Berhubung kami ingin acara ngumpul bareng ini tetap santai, maka diputuskan jumlah peserta sekitar 30 orang saja. Tempatnya? Kebetulan bulan Mei lalu saya datang ke acara dia.lo.gue artspace, ‘smART‘, dan langsung jatuh cinta dengan tempat milik rumah desain LeBoye ini. Dari depan, dia.lo.gue artspace yang berlokasi di jalan Kemang Raya no. 99a, Jakarta, ini terkesan kecil. Malah terlihat seperti sebuah toko saja. Namun ketika masuk, ternyata nggak hanya sebuah toko souvenir (kamu harus datang karena pernak-perniknya unik dan banyak sekali karya Indonesia).  Ada sebuah galeri, kafe dan taman belakang yang cukup luas. Desainnya pun keren dan ternyata punya misi mengembangkan dunia kreatif Indonesia.

 

 

Akhirnya setelah repot di sana-sini, jadi juga acara #LOKALVOKAL ini pada hari Sabtu malam, 14 Juli 2012. Saya dan teman-teman AdalahKita datang sejak jam empat sore. Saat itu diskusi yang diadakan di ruangan tempat #LOKALVOKAL diadakan masih berlangsung. Berhubung kami sudah tahu kalau diskusi akan selesai jam lima sore, jadi kami tenang saja menunggu sambil menyiapkan printilan. Jam 17.10, diskusi masih berjalan. Kami mulai deg-degan. Kira-kira jam berapa ya akan selesai? Kapan ya kita boleh mulai pasang meja registrasi, display produk, dll? Untungnya diskusi berakhir sekitar 30 menit kemudian dan kami langsung gerak cepat menyiapkan tempat. Dua pembicara pun datang. Kesan pertama saya? Mba Chitra dan Kleting ternyata jauh membumi dibanding yang saya harapkan. Mba Chitra juga sempat menunjukkan sehelai taplak asli Indonesia berwarna ungu muda dengan pola sulam geometris warna-warni. Unik dan sama sekali jauh dari gaya etnik yang selama ini saya tahu. Sangat modern dan cantik.

Jam enam sore, para peserta mulai datang. Saya masih kemerungsung mengurus slides presentasi, goodie bags hingga anak saya yang saya ajak. Jam tujuh lewat, sekitar 30 peserta sudah datang dan kami pun memulai diskusi. Chitra pun menceritakan pengalaman awalnya sebagai fashion stylist di sebuah majalah. Dari sana ia akhirnya juga bekerja sebagai fashion stylist untuk iklan televisi hingga musisi-musisi Indonesia. Saat ini ia menikmati profesinya sebagai fashion stylist berbagai film, seperti Gie, Laskar Pelangi, Ungu Violet dan Sang Penari.

Pekerjaannya sebagai creative buyer di Alun-Alun juga menarik. Alun-alun terletak di Grand Indonesia, Jakarta, merupakan one stop shopping center khusus produk-produk Indonesia berkualitas. Chitra tidak hanya menyeleksi produk apa saja yang bisa masuk ke Alun-alun, namun juga membantu desainer dan produsen produk. Beberapa kali Chitra juga mengajak peserta yang punya karya atau desain yang ingin dipasarkan untuk mengirim desainnya ke Alun-alun.

Sementara itu, Kleting berbagi cerita tentang perjalanannya sebagai fashion designer. Memutuskan bercita-cita menjadi fashion designer sejak kelas empat SD, Kleting serius menekuni minatnya di bidang fesyen dengan bersekolah fesyen selama lima tahun yang diikuti dengan pengalaman bekerja di industri retail sebelum akhirnya mendirikan label fesyennya sendiri, KLE.

Setelah sesi tanya-jawab, diskusi ditutup dengan Parade Karya Terunik alias best dressed pilihan Kleting dan Chitra. Uniknya, dua peserta yang dipilih ternyata memakai karya sendiri. Dhea memakai jaket yang ia buat sendiri, dan Clara dengan sepatu kulit rancangannya. Beberapa peserta lain juga memakai baju rancangan sendiri. Senang melihat para peserta yang datang dengan tampilan lokal mereka masing-masing.

Terima kasih banyak untuk tim AdalahKita, teman-teman yang datang, para pembicara dan dia.lo.gue artspace. Super terima kasih juga untuk teman-teman dari Tulisan, dan Dreamesh Living yang telah berbagi karyanya untuk para peserta. Juga Diela Maharanie dan Babibuta Film yang bersedia meminjamkan poster ‘Postcard from The Zoo’. Tidak lupa HardRock FM sebagai media partner.

Senang rasanya bisa ikut ambil bagian dalam berbagi inspirasi, meski akhirnya harus mengorbankan beberapa hal. Salah satunya kegiatan blogging yang sempat terbengkalai. Beberapa kali teman-teman pembaca blog sempat menyapa di Twitter dan bertanya kenapa blog saya jarang diupdate. Ya, ternyata jadi ibu, istri dan pekerja cukup menyita sebagian besar waktu.  Toh, berbagi inspirasi bisa dengan cara apa saja (lho, kok Tapi mudah-mudahan saya bisa kembali sering update blog, ya. Mohon maklum. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s