penulis di media sosial : organik lebih menarik

Bagi sebagian penggemar buku di Indonesia, nama Paulo Coelho kemungkinan besar sudah tak asing lagi. Penulis asal Brazil ini dikenal lewat buku ‘The Alchemist’ yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia.

Lalu apa hubungannya Paulo Coelho dengan media sosial? Fans Coelho di halaman Facebook-nya ternyata lebih banyak dari Madonna, ikon pop asal Amerika  yang sudah populer sejak kurun 80an.  Jika Madonna pada halaman Facebook-nya mendapat sekitar 6,2 juta likes, Coelho telah meraih 6,6 juta likes. Followers di akun Twitter Coelho pun cukup besar, lebih dari 2,4 juta followers.

Besarnya angka audiens Coelho di media sosial tentu tidak terjadi secara instan. Coelho sendiri menyadari kekuatan media sosial sejak pertengahan 2000an. Di tahun 2006 ia memulai blog-nya, kemudian diikuti dengan Facebook dan Twitter. Tak hanya itu, format media video pun ia maksimalkan dengan akun YouTube.

Di antara empat jejaring sosial yang digunakan Coelho, Twitter merupakan sarana yang ia pegang secara personal. Sementara akun-akun jejaring sosial lainnya tampaknya dikelola oleh manajemennya. Coelho menghabiskan tiga jam setiap harinya untuk media sosial. Jika Anda memperhatikan linimasa di akun Twitter pria berumur 64 tahun ini, ia cukup sering membalas tweet dari para followers-nya. Coelho juga tidak melulu membicarakan bukunya sendiri. Meskipun jejaring sosial sudah tentu bisa menjadi sarana mempromosikan karya, namun ia membawanya ke tingkat yang berbeda. Ia mengatakan,

“Of course, I could use these social communities solely to promote my books, but what would be the point? The art of writing is not limited to the printed book—it is the act of communicating a message.”

“Tentu saja saya bisa memanfaatkan komunitas (media) sosial ini untuk mempromosikan buku saya. Namun bagi saya, seni menulis itu tidak hanya terbatas pada buku cetak saja. Seni menulis itu tentang bagaimana menyampaikan pesan.”

“Be authentic and organic. It can’t be forced or it won’t work. And most importantly, have fun.”

Coelho sadar betul, jika berada dalam ranah media sosial, audiens mencari seorang teman yang bisa diajak berinteraksi. Bukan seorang penulis atau seniman yang hanya sibuk mempromosikan karyanya namun tidak responsif dengan para penggemar atau followers-nya. Bisa dikatakan cara Coelho kuranglebih sepaham dengan prinsip entrepreneur pemilik Virgin Group, Richard Branson tentang aktivitasnya di media sosial, “Be authentic and organic. It can’t be forced or it won’t work. And most importantly, have fun.”

Meskipun Twitter tampaknya menjadi jejaring sosial yang dipilih Coelho untuk berinteraksi lebih personal, bukan berarti jejaring sosial lainnya seperti blog, Facebook dan YouTube-nya minim perhatian. Masing-masing sarana tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Coelho dan timnya. Bahkan untuk ukuran seorang penulis, Coelho memaksimalkan YouTube dengan baik. Pada kanal YouTube-nya, Coelho tak hanya menyajikan video teaser karyanya atau wawancara, tetapi juga menyapa para pembacanya dengan berbagai topik yang inspiratif.

Menunjukkan sisi lain yang humoris dan tak melulu puitis membuat followers merasa lebih dekat.

Bagaimana dengan penulis Indonesia dan media sosial? Dewi Lestari atau Dee termasuk salah satu nama yang fasih dengan media sosial. Ia memulai blog di tahun 2006. Bahkan di tahun 2007, ia juga sempat membuat blog khusus selama menyelesaikan buku Perahu Kertas yang memakan waktu 55 hari. Dee juga memiliki halaman Facebook yang telah mendapat sekitar 37.000 likes. Namun mirip dengan Coelho, aktivitas jejaring sosial yang paling sering ia gunakan saat ini adalah Twitter. Berhasil meraup 237.670 followers, Dee tidak hanya bicara tentang menulis. Topik yang hadir di linimasa akun Twitter-nya cukup beragam, dari mulai masalah spiritual, musik, hiburan hingga apapun yang menarik baginya. Gaya bahasanya pun santai dan cukup interaktif dengan para followers-nya. Tak jarang tweets-nya bernada konyol, dan aksi itu tampak direspon positif oleh para followers. Menunjukkan sisi lain yang humoris dan tak melulu puitis seperti yang tertangkap pada karya penulis selama ini memang bisa menjadi magnet bagi followers, karena membuat followers merasa lebih dekat.

Masih banyak penulis internasional maupun lokal lainnya yang juga aktif di media sosial. Beberapa penulis internasional yang dikenal cukup aktif berinteraksi di berbagai jejaring sosial adalah Neil Gaiman (@neilhimself), Chuck Palahniuk (@chuckpalahniuk) dan Meg Cabot (@MegCabot). Sementara di Indonesia ada Sitta Karina (@SittaKarina), Raditya Dika (@RadityaDika), Adhitya Mulya (@AdhityaMulya) hingga penulis senior seperti Goenawan Mohamad (@gm_gm) dan Sitok Srengenge (@1srengenge).

Sayangnya, penulis populer yang bukunya begitu laku di berbagai belahan dunia seperti J.K Rowling dan Stephenie Meyer tidak banyak bermain di media sosial. Rowling sendiri sempat menyapa linimasa Twitter di tahun 2009 lewat akun @JK_Rowling, namun hingga saat ini hanya menghasilkan tujuh tweets. Sementara Meyer menyatakan bahwa ia tidak memiliki akun Facebook maupun Twitter. Bayangkan jika Rowling yang dikenal dengan  Harry Potter, dan Meyer dengan seri Twilight-nya aktif di jejaring sosial. Followers mereka kemungkinan besar akan melampaui jumlah followers penulis yang gencar di media sosial saat ini. Kontennya pun bisa seru, karena tentu banyak penggemar buku mereka yang ingin mengetahui bagaimana penulis favoritnya ini membangun fantasi sedemikian rupa dalam buku-bukunya.

Well, siapapun penulisnya. Bahkan siapapun pelaku media sosialnya, kita sepertinya perlu terus mengingat pesan Branson. Be authentic. Be organic. Have fun! 

artikel serupa di salingsilang

7 thoughts on “penulis di media sosial : organik lebih menarik”

  1. iya mbak, dengan adanya sosial media kita (penggemar) lebih dapat ‘menyentuh’ para penulis top diatas. Dan lebih mengenal secara dekat, lebih efektif dibanding membaca artikel wawancara dengan si penulis.

  2. Jadi ingat buku yang judulnya “tipping point”, pernah digratisin di kick andy. Pemasaran memang bukan pekerjaan sehari jadi, butuh waktu, tenaga, uang dan konsistensi.

  3. Wah, saya malah belum sempat baca buku itu meski sudah masuk daftar buku yang ingin dibaca. Konsistensi sepertinya memang jadi faktor penting ya dalam pemasaran/program media sosial.
    Terimakasih sudh mampir dan berkomentar mas Kunto :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s