belajar jadi perempuan

besar di rumah yang sebagian besar lakilaki. satusatunya anak perempuan dengan dua abang, masa saya kecilpun isinya sedikit bermain Barbie dan lebih banyak ngesotngesot dengan sepeda. bersepeda lepas tangan, ngebut di turunan, nabrak motor yang sedang belok di tikungan, mbonceng temen di stang sepeda sudah jadi makanan seharihari. eh, nabrak motornya sih cuma sekali tapi jangan tanya saya berapa kali jatuh dari sepeda.

saat sekolah pun, meski sudah mulai naksirnaksir lakilaki (syukurlah masih suka lakilaki), tapi nggak membuat saya kepengen banget punya pacar soalnya nggak ada lakilaki yang bisa sekeren musisi-musisi idola saya waktu itu. maklum, jaman putih-biru dan putih-abuabu dulu saya baru kenal dengan mereka dan waktu saya habiskan banyak untuk ke toko kaset, dengerin lagu, berselancar di inetrnet mengumpulkan informasi tentang musik, bikin mading soal musik. pokoknya saya mah bukan tipe perempuan yang dilirik lakilaki. kalaupun dilirik, ya paling karena mereka mau ngobrol atau minjem kaset. intinya, saya pun sepertinya dianggap satu kelamin sama mereka. tongkrongan pun nggak menarik, jeans-kaos longgar-topi-walkman.

jaman di kampus, baru deh agak perempuan sedikit. meski jalan masih kayak preman dan penampilan kadang diprotes Ibu saya karena selalu pakai kaos hitam dan jeans plus apalagi kalau bukan sepatu converse yang pernah ditanya oleh seorang teman (lakilaki, anak mushola), “itu sepatu lo emang udah lama atau gayanya belel?”. belum lagi setelan muka yang sebagian bilang galak, sebagian lagi bilangnya ‘muka tanpa ekspresi’. dijamin, #pencitraan sebagai gadis manis-polos-lucu-gemesin-ngangenin jelas nggak mampir selama saya di kampus, tapi paling nggak punya pacar lah jadi saya anggap itu kemajuan. eh tapi tapi tapi, saya mulai senang fesyen saat ngampus, kok. paling nggak saya nggak melulu beli majalah Hai atau majalah musik, tapi baca majalah perempuan dan suka mampir ke style.com untuk lihat baju-baju. Sudah punya desainer favorit pula, Marc Jacobs. Lumayan lah, meski nggak bisa beli beneran. saya juga mulai rajin menggunakan hairdryer dan catokan rambut. selain itu, saya mulai tahu tempat-tempat belanja dan beberapa kali menyambangi ITC Kuningan atau Mangga Dua. Tentunya bersama teman-teman karena kondisi saya yang tuna informasi akan toko-tok ‘lucu dan murmer’. Namun, ternyata cara ini ngak begitu mulus. Dua-tiga kali jalan bareng segerombol perempuan ke ITC, saya selalu menyerah di tengah belanja dan mata saya lebih sigap mencari kursi daripada dress lucu saat singgah di setiap toko. Akhirnya, saya memilih untuk pergi sendiri saja kalau perlu belanja ke ITC, karena saya nggak butuh waktu panjang untuk mutusin jadi membeli baju atau nggak dan saya bisa memanfaatkan waktu setelahnya untuk “merampok” lapak DVD. Gagal kah usaha saya jadi perempuan? nggak juga, paling nggak saya tahu kalau ITC (dan tentunya Plaza Melawai) adalah tempat paling pas kalau ingin belanja pakaian yang keren dan terjangkau.

saya dulu selalu meramalkan kalau saya pasti akan tampil femini saat bekerja nanti. setelan rok dan blazer rapi, rambut cepol dan sepatu hak tinggi. apa yang terjadi? setelah lulus kuliah saya masuk ke stasiun TV bagian produksi. Tahun pertama masih memakai pakaian bebas. lalu apa yang kenakan? lagilagi tongkrongan andalan saya seperti di kampus, namun kali ini celana jeans sering digantikan dengan celana kargo karena kantongnya banyak. jujur, ingin sekali baju bahan atau bahkan dress simpel saat bekerja seperti mbak-mbak kantoran lainnya, tapi buat apa kalau akhirnya hanya bikin ribet saat harus shooting membawa tripod di tengah bundaran HI jam 12 siang? Tahun selanjutnya kantor saya mewajibkan seragam berupa kemeja dan celana hitam. semakin pupus keinginan untuk tampil lebih perempuan. selanjutnya, saya bekerja di perusahaan-perusahaan yang nggak mewajibkan pakaian bekerja yang rapi jali. situasi kantor yang non formal justru membuat saya akan jadi alien kalau menggunakan setelan rapi. sekarang, masih dengan pakaian yang relatif santai namun sudah bisa pakai dress atau rok karena nggak ada pekerjaan yang mewajibkan saya lari-lari atau jongkok di tempat umum.

nah, itu kalau bicara pakaian. kan yang namanya perempuan nggak hanya lengket dengan pakaian, tapi juga masakan. kalau soal yang ini rasanya kemampuan memasak saya justru berkurang setelah saya bekerja. jaman kuliah, saya suka nyobain resepresep terutama resep makanan favorit. kadangkadang saya membawa masakan saya ke kampus dan nyuruh temanteman nyobain. sekarang? mungkin karena saat sudah kerja, pas akhir pekan malah lebih milih istirahat atau jalanjalan daripada ngulik resep. nanti kalau sudah tinggal di tempat yang baru, saya janji mau mencoba resepresep baru yang nggak melulu pasta atau kue kering. amin!

bagaimana usaha saya menjadi perempuan setelah menikah? saya anggap saya sudah jadi 100% perempuan karena sekarang saya nggak cuma jadi sosok untuk diri saya sendiri dan anak dari orangtua serta adik bungsu dari dua abang saya. saya juga pendamping buat -ehem- suami dan -insyaallah- ibu dari anak saya nanti. tentu saja dong saya akan terus belajar untuk menjalani semua peran tersebut dengan baik, sama seperti kamu. yup, saya pernah berada pada sebuah titik di mana saya merasa apa yang saya jalani dan miliki sekarang sudah cukup. sadar bahwa kita selalu punya rencana dan terus berusaha namun Yang Di Atas juga tahu yang terbaik buat kita. mudah? tentu tidak. butuh waktu lama untuk menerimanya. saya sadar berusaha untuk jadi sosok perempuan yang ideal bukanlah sesuatu yang perlu dikejar, atau menjadi sosok apapun itu. kita sudah diberi begitu banyak hal positif. kita sudah menjalani berbagai atas dan bawah. kita juga diberi kekurangan.  mungkin kamu tidak setuju dengan saya, tapi menurut saya salah satu keinginan Dia yang menciptakan kita adalah kita menjadi yang terbaik dari apa yang kita miliki sekarang, bukan untuk siapasiapa tapi untuk diri kita sendiri. :)

5 thoughts on “belajar jadi perempuan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s