raja saja butuh proses

Beberapa waktu lalu, dunia film barat dihebohkan dengan film The King’s Speech. Sebuah film asal Inggris yang berhasil meraih Oscar di ajang penghargaan paling bergengsi di Hollywood, Academy Awards. Menontonnya sekitar dua bulan lalu, saya terkesan sekali dengan film yang dibintangi Colin Firth ini. Namun baru sekarang ada kesempatan untuk membahasnya.

Saya nggak akan memberikan review tentang betapa bagusnya cerita atau indahnya sinematografi film ini. Meskipun saya rela memberi empat jempol untuk dua hal tadi. Saya mau membahas tentang bagaimana film yang bercerita tentang seorang raja ternyata bisa terasa dekat dengan saya (dan mungkin kamu) sebagai penonton. Biasanya film-film drama yang menampilkan kisah orang biasa lah yang bisa memberikan efek kedekatan secara psikologis dengan kita. Film tentang seorang raja atau tokoh besar lebih menggambarkan bagaimana kehidupan mereka yang begitu berbeda dengan kita yang biasa-biasa saja ini. Namun berbeda dengan The King’s Speech.

Inti film ini adalah menceritakan bagaimana seorang (calon) raja (Colin Firth)  mencoba menyembuhkan gagapnya dengan menjalani terapi dengan seorang Australia bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush). Cerita yang (terdengar) sederhana dengan masalahnya yang sepertinya tidak besar, namun menarik bukan?

Kisah dimulai dengan pertemuan antara King George dan Logue. Raja dengan segala protokolernya yang begitu kaku, dan Logue yang memiliki pemikiran agak bohemian. Perbedaan keduanya selain memberikan cerita yang sangat menarik, juga menyuguhkan banyak poin yang bisa kita ambil.

Pertama, mencoba hal baru. Sebelum akhirnya sang raja memutuskan untuk menyembuhkan gagapnya dengan seorang speech therapist, Lionel Logue, ia telah mencoba berbagai macam cara penyembuhan.  Awalnya, metode Lionel yang tidak diakui secara formal sempat membuatnya ragu. Namun setelah beberapa waktu, metode tersebut terbukti mengurangi gagapnya dan sang raja memilih untuk terus melakukan terapi dengan Lionel. Sesuatu yang baru saat awal tentunya sering dipertanyakan. Namun jika terbukti bermanfaat tentu akan diakui.

Kedua, berani untuk berbeda. Kehidupan protokoler kerajaan sangat berbeda dengan Logue. Meski Logue tahu ia sedang berhadapan dengan raja, namun ia menolak dengan tegas beberapa aturan kerajaan, termasuk memanggil raja dengan sebutan monarkinya. Meski ekstrim dan sempat menyebabkan argumentasi dengan raja, namun penolakan Logue didasari alasan yang masuk akal. Nah, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Sistem yang ada memang membuat kehidupan menjadi teratur, namun kadang membuat jarak sehigga komunikasi mandeg. Panggilan “Yang Mulia” kepada raja memang sudah menjadi bagian dari  aturan. Tetapi panggilan tersebut juga menghasilkan jarak. Panggilan tersebut membuat yang memanggil dan yang dipanggil sudah memberikan setting kepada diri sendiri bagaimana harus bersikap, apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan, dll sehingga lupa bahwa keduanya juga manusia.

Ketiga, I have a voice. Kalimat ini yang berkali-kali dilontarkan King George untuk meyakinkan dirinya. Jujur, saya agak tercengang dengan bagian ini. Saya tidak menyangka bahwa seorang raja juga bisa merasakan tidak berdaya. Ternyata, budaya kerajaan yang kaku penuh aturan  dan tekanan dari berbagai pihak bisa membuat seorang raja merasa tak memiliki hak untuk bicara. Padahal setiap manusia punya suara. Kadang, di suatu kondisi tertentu kita ragu untuk bicara karena khawatir salah atau dianggap remeh. Sementara salah satu satu bentuk menghargai diri sendiri adalah dengan berani untuk bicara. Tentunya berani untuk bicara ini nggak sembarangan. Namanya juga hidup di tengah masyarakat, perhatikan dulu baik-baik dengan siapa kita bicara. Wong, sudah hati-hati saja kadang kita masih merasa salah ucap. Isi kepala dan hati setiap orang kan berbeda.

Keempat, bahkan seorang raja pun harus belajar.  Sebagian besar hal di dunia ini butuh proses. Nggak peduli kalau kamu tukang las, guru, mahasiswa, aktor atau presiden. Bahkan maling paling gesit pun butuh proses supaya menjadi maling paling canggih (maaf, perumpamaan mungkin nggak pas). Nah, seorang King George VI saja perlu melakukan terapi dalam waktu lama dan konsisten untuk sebuah aktivitas sesederhana berbicara dengan lancar. Begitu pula dengan aktivitas lain, baik yang sederhana  seperti menyantap makanan dengan baik hingga yang rumit seperti meluncurkan roket. Semua bukan bakat dari lahir dan perlu proses belajar untuk mengembangkannya.

Terakhir, persahabatan antara King George VI dan Lionel Logue menunjukkan kalau perbedaan latar belakang mungkin rentan akan perselisihan, namun ada begitu banyak manfaatnya. Salah satunya memperkaya diri masing-masing, karena satu sama lain memberikan perspektif yang berbeda. Indah, ya? :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s