rindu.baca dan tulis.

Tumbuh terbiasa dengan kegiatan membaca dan menulis ternyata cukup membuat saya gelisah ketika menyadari sudah berminggu-minggu saya jauh dengan aktivitas tersebut. Tentunya yang dimaksud dengan membaca dan menulis ini tidak termasuk dalam kategori pekerjaan atau kegiatan yang bersifat tugas. Saya rindu membaca dan menulis apa yang saya inginkan.

Jujur, saya memang bukan tipe pembaca yang tekun seperti beberapa anggota keluarga dan teman-teman saya. Mereka mampu melahap sejumlah buku dalam waktu singkat dan rajin menambah koleksi bacaan mereka. Akhir-akhir ini, saya jarang membeli buku. Pertama, belum ada yang menarik perhatian saya. Kedua, ada tiga buku yang belum selesai saya baca (dua fiksi dan satu non fiksi). Ketiga, saya harus memprioritaskan kebutuhan yang lain dulu. Namun, ternyata meski tampak kecil dan saya selalu merasa bisa mengesampingkan urusan tamasya batin ini, diam-diam saya jadi gelisah sendiri. Rasanya otak ini jadi tumpul kalau sudah lama tidak membaca. Tentang menulis, saya rindu menulis apa yang saya suka dengan format yang cukup panjang. Beberapa kali muncul ide di otak ketika mendengarkan lagu di jalan atau sekadar mencuri dengar percakapan orang ketika berada di restoran, namun ide itu hilang begitu saja karena saya dengan bodohnya tidak membekukannya di Blackberry saya seperti yang selama ini dilakukan.

Memang banyak sekali alternatif cara yang bisa dilakukan supaya kegiatan membaca dan menulis jalan terus. Misalnya mengunduh e-book, tapi saya masih agak susah beradaptasi dengan format bacaan (apalagi yang panjang) dalam bentuk layar seperti itu. Rasanya mata ini mudah sekali lelah dan kebiasaan menggenggam, membuka tiap lembaran hingga mengendus aroma kertas itu nggak bisa saya lakukan lagi. Ini mengurangi kenikmatan melahap buku. Sementara menulis, saya termasuk orang yang konservatif. Selalu membawa buku tulis ke manapun. Rasanya pengalaman menulis dengan tangan di atas kertas jauh lebih organik. Contoh sederhananya, tulisan tangan kita bisa berubah baik secara jangka panjang maupun jangka pendek. Mood bisa mempengaruhi gaya tulisan kita. Itu hal yang nggak bisa dicapai dengan gadget. Ya, saya tahu kita bisa kok menulis tangan di PC tablet atau apapun namanya teknologi itu, tapi seberapa banyak sih yang sudah terbiasa dengan itu? dan sepertinya menulis di atas selembar kertas (lagi-lagi) lebih terasa nyata.

Tampak seperti mempersulit diri sendiri ya? Namun entah kenapa saya yakin, di jaman yang semakin serba digital ini, tetap akan ada Β rindu dengan hal-hal yang bersifat nyata dan manusiawi. Bisa diraba dan dirasa. Seperti salah satu aktivitas kegemaran saya seumur hidup, menghabiskan waktu sore di sebuah tempat yang nyaman sambil baca-ngelamun-menulis-menggambar. Hm, saya jadi benar-benar ingin membeli jurnal polos dari Oma Anna secepatnya, nih. Buku jurnal saya sudah hampir habis dan saya ngiler banget dengan koleksi buatan Oma Anna ini. Selain keren dan buatan tangan, ini juga produk kreasi lokal. Mungkin punya jurnal dengan tampilan keren bikin saya nulis banyak lagi. :)

One thought on “rindu.baca dan tulis.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s