ubud.dan.pelebon

Bicara soal jalanjalan keliling Indonesia nggak pernah bisa selesai dibahas. Selalu saja ada daerah-daerah menarik yang sepertinya memanggil dengan gencarnya untuk dikunjungi. Bahkan daerah yang sudah super populer dan bagi sebagian dari kita jadi tempat langganan untuk rekreasi seperti Bali. Entah kenapa, meski eskpos akan Bali sudah begitu besarnya dan saya sudah tiga kali ke sana tetapi saat pulang selalu ada daftar hutang daerah atau acara menarik yang belum disambangi.

Salah satu daerah di Bali yang masuk daftar hutang saya saat pulang dari sana akhir tahun lalu adalah Ubud. Waktu itu kebetulan saya dan teman-teman memang sengaja menyusun perjalanan ‘pantai ke pantai’. Fokus kami adalah menikmati pantai, jadi daerah yang dikenal damai dan tenang itu nggak masuk daftar destinasi. Eh, sesampainya di Jakarta kok saya malah jadi kepikiran terus dengan Ubud. Dosis keinginan itu bertambah setelah menonton ‘eat, pray, love’ seminggu yang lalu.

Nah, sebenarnya saya pernah datang ke Ubud dua kali. Pertama saat masih kecil jadi saya nggak terlalu ingat detilnya. Kedua sekitar lima tahun yang lalu, itupun hanya mampir makan dan melihat pemandangan sebentar. Saya termasuk penikmat pantai, jadi suka merasa kalau wisata dataran tinggi terlalu hening. Namun selain keinginan untuk mengunjungi lagi itu sudah muncul dari tahun lalu, sebuah ritual langka di sana juga bikin saya makin pengen ke Ubud. Nama ritualnya adalah Pelebon. Sebenarnya Pelebon adalah ritual upacara kematian para keturunan raja di sana, dan tanggal 2 November 2010 kemarin baru saja diadakan.

Bagi beberapa suku di Indonesia, upacara kematian merupakan ritual yang menyedot perhatian. Baik dari segi waktu maupun besarnya upacara itu sendiri. Sama seperti upacara kematian suku Toraja yang kebetulan pernah saya datangi di jaman SD dulu di mana upacara kematian diadakan besar-besaran. Apalagi kalau yang meninggal masih memiliki keturunan raja, pasti upacaranya lebih besar lagi. Nah, Pelebon yang baru saja diadakan ini adalah upacara kremasi Raja Peliatan IX, Ida Dwagung. Jadi ini merupakan salah satu upacara kematian besar di Ubud.

Beberapa minggu sebelum Pelebon, para relasi dan keluarga sudah datang dan membuat tempat prosesi kremasi. Bayangkan, mereka menyusun sebuah menara kremasi dari kayu, kertas dan bamboo sebelas tingkat setinggi lebih dari 25 meter yang akan diusung oleh ratusan orang. Sebuah sarkofagus atau peti tempat abu berbentuk banteng dengan aksen emas juga dibuat.

Pelebon kali ini adalah Pelebon terbesar dalam 30 tahun terakhir. Peliatan sendiri adalah salah satu kerajaan tertua di Ubud dan dikenal akan tari Legong dan gamelannya. Kabarnya, beberapa minggu sebelum upacara diadakan, sudah banyak turis yang datang untuk mengamati persiapan. Ah, andaikan saya bisa semudah itu pergi-pulang Jakarta-Bali, pengen banget bisa menyaksikan persiapan dan upacara Pelebon ini.

Baiklah, meski saya melewatkan Pelebon tapi niat untuk mengunjungi Ubud (lagi) sudah makin mantap surantap, saudara-saudara. Sesekali perlu juga menikmati wisata yang tenang, siapa tau hati jadi makin adem seperti Elizabeth Gilbert :)

2 thoughts on “ubud.dan.pelebon”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s