bicara tentang ukuran

Beberapa waktu lalu, teman saya Nasta menulis di twitternya tentang sebuah merek baju yang menggunakan ukuran baju berbeda dari merek pada umumnya. Kalau selama ini kita sangat akrab dengan jenis ukuran S,M dan L. Nah, merek baju ini justru menggunakan jenis ukuran Mini, Small dan Curvy. Unik , ya? Menurut saya nggak hanya sekadar unik tapi juga berpengaruh dengan bagaimana kita, terutama perempuan, menghargai bentuk tubuhnya.

Status update Nasta langsung membuat saya teringat salah satu pembahasan mata kuliah di kampus saya beberapa tahun lalu, yaitu mengenai body image. Body image bisa didefisinikan sebagai representasi psikologis kita akan tubuh atau penampilan. Simpelnya, cara pandang kita akan tubuh dan penampilan kita. Sejujurnya, saya bukan orang yang setuju dengan pendapat inner beauty adalah yang terpenting. Bukan berarti saya mengatakan kalau faktor kepribadian nggak krusial. Di saat kita merasa down, biasanya itu mempengaruhi tubuh kita, atau paling nggak kita jadi lebih kritis dengan tubuh kita. Saat kita tidak puas akan tubuh atau penampilan kita, itu akan mempengaruhi cara pandang kita akan diri sendiri dan akhirnya membuat tingkat percaya diri jadi menurun. Tingkat percaya diri yang menurun pasti akan berpengaruh dengan karakter kita. Nah, gimana caranya bisa mengeluarkan ‘inner beauty’ dengan rasa percaya diri yang masih dipertanyakan?

Kembali ke pembahasan jaman kuliah. Nah, body image ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan dan media. Menurut hasil studi, faktor media memiliki andil yang besar dalam isu ini. Bagaimana media (terutama majalah-majalah perempuan) masih sering mengekspos  sosok-sosok kurus sebagai panduan cantik, di mana jalan untuk menjadi seseorang yang stylish adalah dengan memiliki badan yang cenderung kurus bahkan mungil karena dengan begitu kamu bisa cocok mengenakan pakaian apa saja. Akibatnya banyak perempuan, bahkan yang sudah berbadan proporsional sekalipun, tidak merasa puas dengan dirinya. Akhirnya, ‘pipi gue tembem’ serta ‘paha dan lengan gue besar’ selalu jadi isu seharihari. Aksi diet instan tanpa konsultasi atau konsumsi obat pelangsing tanpa mempertimbangkan kesehatan bukanlah sesuatu yang aneh di kalangan perempuan. Tubuh ideal tampaknya lebih baik daripada tubuh yang sehat.

Kalau sudah seperti ini, rasa aman dan nyaman akan diri sendiri menjadi begitu mahal. Ukuran tubuh memiliki standar tertentu yang entah kenapa sulit dicapai, bahkan oleh yang memiliki tubuh proporsional sekalipun. Seakan standar ideal itu hanya ada pada rentang sekian mili. Sudah susah mencapainya, kalau sudah berhasil harus sangat pintar menjaganya hingga repot sendiri. Belum lagi citra ‘tubuh sempurna’ yang diekspos di berbagai media selama ini. Lagi-lagi menimbulkan problem khas masyarakat kota, “nggak pernah merasa cukup”.

Ukuran hanya angka. Apa yang disepakati di sekitar kita  sering kali didasari kepentingan lain yang tentunya bukan untuk kepentingan kita, yaitu kepentingan untuk merasa nyaman dengan diri. Sebelum mengeluh, mungkin sebaiknya kita bertanya dulu apa alasan di balik itu. Apakah sebuah program diet ketat akan membuat kita merasa lebih baik? Benarbenar baik? Apakah itu jawabannya? Apakah slogan ‘beauty is pain‘ bisa benarbenar diterima dengan logika? For me, it’s a matter of embracing your truly self.

Selamat menyayangi diri (dan tentunya tubuh) sendiri. :)

“Enjoy your body, use it every way you can…don’t be afraid of it, or what other people think of it, it’s the greatest instrument you’ll ever own.”, Baz Luhrmann.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s