berputar arah

Barisan lampu kuning itu mengisi udara malam.

Temaramnya tidak bisa mengurangi dinginnya suhu.

Kedua tangannya kaku menggenggam setir. Pandangannya berusaha nyala menembus radius.

Di sebelahnya, aku yang kaku. Memainkan jemariku di tepi jahitan kursi kulit mobil ini.

Ia ada dalam jarak pandangku. Ia selalu berada di sisiku. Ia tak pernah lelah memeluk dan menyentuh sadarku.

Sembilanpuluhtiga hari sudah. Ia tak gentar meninggalkanku. Ia hadir. Mendekapku. Membasuhku. Menjadi tampah airmataku. Menguras marahku dan menegukkan segelas air ketika aku lelah.

Ia selalu ada. Namun saat ini, aku merasa sendiri.

Dan aku bisa merasakan heningnya.

Sembilanpuluhtiga hari aku dan dia begitu riak, namun senyap di dalam.

Aku dan dia hening seperti saat ini.

“Aku takut…”

Ia menoleh. Tangannya menuju tanganku. Jemarinya menyusup di antara ruasruas jariku.

Ia tak bicara. Ia kembali menatap ke depan. Dari sini terlihat jelas bayangan gelap di bawah matanya.

Ia lelah. Aku tahu. Aku juga.

“Apakah ini yang terbaik?”

“Mungkin. Aku tidak tahu harus merasa apa saat ini.”

Genggamannya di jemariku mengeras. Sebulir, dua bulir jatuh di pipiku.

Aku ingin dia. Aku ingin dia. Namun aku dan dia hening seperti saat ini.

“sembilanpuluhtiga hari. Aku tidak bisa mengorbankannya.”

“Apapun, re. Apapun yang terbaik buat kamu. Kamu tahu aku juga tidak menginginkan ini.”

Ponselku menyalak. Rumah. Kami terdiam. Lima detik. Sepuluh detik. Ponselku kembali sunyi.

“Aku lelah berbohong, re. Kamu juga. Mereka akan tahu.”

“Bagaimana dengan dia?”, aku menunduk.

Ia kembali sepi. Kembali melihat ke depan. Kembali menyusuri jalan malam.

Aku kembali sendiri. Ia kembali sendiri. Kami kembali sunyi.

Bicara tentang kesalahan. Bicara tentang akibat yang harus didapat. Bicara tentang kemungkinan yang bisa ditempuh. Semua sudah habis dimuntahkan selama sembilanpuluhtiga hari terakhir. Terlalu berat bahkan hanya untuk dipikirkan. Sekarang. Sekarang mungkin sudah terlambat untuk kembali. Sudah terlambat untuk meminta waktu. Sudah terlambat untuk memohon jeda.

Namun,

Apakah sudah terlambat untuk menyusun asa?

Aku biarkan dia di sisiku selama ini, maka aku akan menerimanya. Aku akan menerimanya memadu langkah bersama. Meski mungkin akan terasa kaku di saat kami memulainya. Meski mungkin ia akan tidak sengaja menginjak kakiku, dan aku tak sengaja menyandung kakinya. Namun aku akan menerimanya. Demi dia, dan demi kami berdua.

“Putar arah sekarang.”

“Kamu yakin, re?”

“Ya, aku yakin sekarang. Belum terlambat untuk kita, gra. Belum terlambat untuk kita berjalan ke depan. Ia sudah ditakdirkan, gra. Putar arah sekarang.”

Tubuhnya meringkuk ke tubuhku, dan bibirnya membelai hangat perutku.

Aku dan dia telah berputar arah. Aku dan dia memilih untuk melaju, karena ia telah digariskan.

bintaro, 13 agustus 2010.

brick/ben folds five/whatever and ever, amen

“the world is sleeping and I am..numb”

9 thoughts on “berputar arah”

  1. I don’t get this one either but the writing hit me :)
    powerful arrangement of words.
    Seperti menonton indie movie that you don’t understand,
    but you enjoyed till the last end.

    1. hahaha there no such thing as indie short writing for me.
      Because this blog is already as indie as nike writing could be, except if you have some restriction to write this then its not independent anymore :)

      but what happen knp gak Jadi ?? hehe
      bisa di jadiin Film Indie beneran nih
      konflik nilai yang terjadi disadur dengan gaya menulis loe pasti menarik untuk di simak dan di resapi.

      1. hahahahhaa
        very interesting quote from you, l am..so if we’re at the point where there are do’s and don’ts then it’s not an indie anymore right?

        well, kenapa ga jadi? lo pernah berada pada suatu momen di mana sebuah keputusan itu terjadi dalam waktu singkat namun dengan kesadaran penuh? Nah, kalo iya..kira-kira seperti itu momen yang dialami tokoh ini :)

  2. Ow its that kind of moments :)

    Btw its not quite what I meant.
    What I’m trying to say is that, we will always have our dos and don’ts as part of our existence as a human being. Even an atheist has his dos and don’ts, but as long as those restrictions are not limiting your expression or objectivity to write this, than its indie enough for me :)

  3. Ow its that kind of moments :)

    Btw its not quite what I meant.
    What I’m trying to say is that, we will always have our dos and don’ts as part of our existence as a human being. Even an atheist has his dos and don’ts, but as long as those restrictions are not limiting your expression or objectivity to write this, than its indie enough for me :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s