mengawinkan tradisi dan pribadi

Minggu lalu saya menonton film Sex and The City 2 bersama sahabat-sahabat. Jujur, sejak film itu dirilis di bioskop dan banyak perempuan yang berbondongbondong menonton. Saya tidak terlalu antusias dengan film ini. Dua tahun lalu, saya cukup menikmati versi layar lebar pertama serial yang kabarnya jadi semacam ‘kitab’ wanitawanita metropolis ini, kok. Munculnya versi film yang kedua membuat saya jadi lebih skeptis. Ngapain sih bikin yang kedua? Pasti ini alasan bisnis a.k.a uang semata.

Maaf untuk yang tidak sependapat dengan saya, tapi ternyata dugaan saya akan film ini memang nggak jauh dari ekspektasinya. Biasa saja dengan parade pakaian yang sungguh tidak biasa, dan berhubung saya bukan pecinta tren fashion jadi saya susah untuk memahami di mana letak kerennya sebagian besar pakaian yang dipakai Carrie, Samantha, Miranda dan Charlotte (but i have to admit, that green dress at the end of the movie looked very stunning). Namun saya bukan sedang ingin membuat review film di sini, sudah banyak temanteman yang lebih ahli untuk bagian kritik. Jadi saya mau membahas dari segi nilai yang bisa diambil dari film ini.

Ada satu pesan yang saya dapat di film ini, yaitu tentang perbedaan antara nilai-nilai yang ada di sekitar dengan nilai-nilai pribadi. Ini ditunjukkan dengan perbedaan perspektif Carrie (yang modern) dan Charlotte (yang konservatif) akan institusi pernikahan dan aturan-aturan di dalamnya. Selain itu, perjalanan Carrie, dkk ke Abu Dhabi yang harus berkalikali menghadapi benturan budaya. Mulai dari masalah aturan berpakaian yang awalnya dianggap tidak masuk akal, hingga urusan PDA (public display affection) yang dilakukan oleh, siapa lagi kalau bukan, Samantha.

Sebenarnya kondisi perbenturan antara situasi yang ada dengan apa yang kita yakini selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Berhubung ini sebuah film, maka dibuat exagerrated dengan membawa sekumpulan sahabat itu ke sebuah negeri dengan budaya yang punya perbedaan ekstrim dari yang mereka jalankan selama ini. Benturan nilai tentang bagaimana sebuah keluarga pun bukan hal asing dalam kehidupan kita. Mungkin kasus pasangan menikah yang memutuskan tidak memiliki anak seperti Carrie dan Big jarang ada di sekitar kita, tetapi kasus pasangan menikah yang memutuskan menunda punya anak pasti beberapa kali kita temui dan itu saja sering menimbulkan konflik. Yup, konflik yang berasal dari perbedaan nilai selalu kita temui. Entah dengan orang tua, sahabat, guru, atasan, rekan kerja hingga pasangan sendiri. Kita dengan sadar paham bahwa perbedaan itu bersifat abadi, namun cekcok mulut bahkan putusnya silaturahmi bisa terjadi karena hal ini.

Di akhir cerita, setelah melalui aneka pertentangan nilai dan ngotot-ngototan tentang nilai-nilai, termasuk di dalamnya aturan-aturan, sebuah institusi pernikahan. Carrie akhirnya menyimpulkan satu pesan yang sederhana namun mungkin jarang kita renungkan. You have to take the tradition, and decorate it your way. Carrie memang menyatakannya dalam konteks pernikahan, namun menurut saya ini juga baik diimplementasikan di situasi-situasi lain. Seringkali kita terlalu seru mengagungkan ‘cara kita’ tanpa mencoba berhenti sejenak melihat di mana kita berada dan mencari makna di balik nilai-nilai yang memang nyata ada di depan kita tanpa bersikap defensif. Kadang, kita bersikap terlalu keras dengan diri sendiri dan berusaha untuk nggak terjebak sebuah tradisi. Padahal, kita bisa mencoba memahami bahwa nilai-nilai, terutama tradisi yang ada selama ini tidak bertujuan buruk dan tentunya punya alasan yang kuat mengapa semua itu bisa terus melekat di kehidupan masyarakat hingga berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun. Alasan itu kemungkinan besar adalah harmoni. Orang tua kita sering bicara bahwa kita jangan sampai lupa darimana kita berasal. Kita sering mendengar nasihat bahwa kita perlu menghargai tempat kita berpijak. Di mana pun kita berada, terima (nilai-nilai) dan kolaborasikan dengan cara kita. Kawinkan tradisi dengan (nilai-nilai) pribadi kita, karena kita nggak bisa berdiri sendiri. No matter how successful we are, how good we are at our field, we are part of the society and we should contribute harmony :)

7 thoughts on “mengawinkan tradisi dan pribadi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s