inspiring sunday!

Akhirnya saya bisa mampir juga ke TEDxJakarta!  TED  yang punya kepanjangan Technology, Entertainment and Design adalah sebuah pergerakan non profit yang punya misi menyebarkan ide. Dari yang awalnya membahas tentang ide dan apa saja yang terjadi di ketiga bidang tersebut, saat ini pembahasan dan kalangan yang menghadiri TED semakin luas. Kalo mau tau info yang lebih jelas sekaligus nonton video-video seminar yang diadain TED, langsung ke www.ted.com, deh.

Nah, hari Minggu 25 Juli 2010 lalu saya dan tiga teman saya semasa kampus datang ke TEDxJakarta ke-5 (TEDxJKT V). Berlangsung selama sekitar empat jam, TEDxJKT V ini diisi oleh enam pembicara lokal yang super inspiratif, yaitu Irwan Ahmett, Irfan Amalee, Dr. Nurul Taufiqu Rochman, Barry Likumahuwa, Ade Rai dan Ridwan Kamil. Selain itu, diputarkan juga video-video dari seminar TED yang digelar di luar Indonesia.

Irwan Ahmett menggebrak lewat ide bermain. Ia menyodorkan pandangan bagaimana Jakarta, kota yang kita tinggali selama ini, adalah tempat bermain kita. Ia membuat berbagai aksi lewat ‘Urban Play’ dengan memanfaatkan fasilitas, alat hingga “monumen monorail” yang ada di daerah Senayan. Irwan membangunkan sektor imajinasi yang selama ini mungkin sering kita istirahatkan karena memilih untuk memaksimalkannya untuk hal-hal lain. Kalau dilihat dari permukaan, apa yang dilakukan Irwan seakan-akan cuma aksi iseng yang bikin hari lebih berbeda. Ajakan kalau kita nggak perlu lah terlalu serius memandang hidup. Padahal menurut saya nih, apa yang ia coba sampaikan jauh lebih dalam dari itu. Ia mencoba menyampaikan bahwa selama ini sudut pandanglah yang perlu diubah ketika kita merasa kondisi nggak sesuai dengan harapan kita, dan hanya diri kita yang mampu mengubah sudut pandang itu. Bukan Foke, bukan kantor Pemda, bukan tempat ngurusin SIM yang entah kenapa suka lelet itu. Ya, kita hidup di kota dengan komplikasi masalah namun kita toh tetap memilih bertahan. Jadi kalo bukan diri kita sendiri yang bikin happy, siapa lagi? :)

Peaceful relationship starts with the proper view of ourselves. | Irfan Amalee

Pembicara selanjutnya adalah Irfan Amalee. Ia adalah pentolan Peace Generation Program, sebuah program bermisi kedamaian yang dijalankan melalui pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia, dari Aceh hingga Sulawesi. Irfan mengawali materinya dengan menceritakan bagaimana masa kecil anak diisi dengan berbagai aturan dan larangan. Anak nggak boleh bergaul dengan temannya yang berbeda agama atau suku dengan alasan yang nggak masuk akal. Ia juga  sempat menyentil tentang isi kurikulum Sekolah Dasar di Indonesia di mana para murid lebih diajarkan teori membosankan yang akhirnya nggak bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Benar juga, kalau dipikir-pikir nih jaman SD sampai SMA dulu rasanya soal ulangan PMP/PPKn tuh muter-muter itu aja. Akhirnya tujuan belajar pun hanya sekadar ‘supaya dapat nilai bagus atau supaya lulus’. Sehabis  itu? Nggak ingat lagi, deh. Apalagi mempraktekkan. Apa yang mau dipraktekkan? Wong yang kita pelajari itu ada berapa fraksi di DPR atau ada berapa jumlah anggota dewan.  Akhirnya hingga dewasa hidup kita dipenuhi dengan kumpulan hapalan dan dogma yang akhirnya tanpa disadari  mengungkung kita. Nah, berbekal keprihatinan akan kondisi seperti itu, Irfan membuat seri buku yang berisi pesan-pesan moral yang bisa diterapkan anak-anak di kesehariannya. Di ujung seminarnya, ia meminta semua penonton berdiri dan sama-sama mengumandangkan janji Peace Generation. Tentunya janji ala Peace Generation nggak kayak Janji Siswa jaman sekolah dulu yang sering susah dicerna, apalagi diingat. Oya, ada satu kutipan dari Irfan yang menurut saya sangat benar. 100 persen setujuh!. “Peaceful relationship starts with the proper view of ourselves.”

Nah, abis itu pembicaranya adalah Dr. Nurul Taufiqu Rochman. Ia adalah ahli nanoteknologi di Indonesia. Berhubung saya kuper yah, jadi nggak paham tuh nanoteknologi itu apa. Pas mendengar istilah itu, berbekal referensi seadanya yaitu iPod Nano, saya berasumsi saja kalau nano itu hubungannya dengan yang kecil-imut-cilik-mikro. Ya, untunglah asumsi sok tau itu ternyata nggak jauh-jauh amat. Dari hasil tangkapan saya, nanoteknologi adalah sebuah sebuah ilmu yang mampu memecah suatu elemen menjadi partikel yang sangat-sangat-sangat kecil. Nah, dengan nanoteknologi, sumber daya alam Indonesia yang sangat beragam ini bisa diberi nilai tambah untuk bersaing dengan ekonomi global. Kenapa bisa begitu? Mendingan langsung koprol ke artikel yang ditulis Dr. Nurul ini.

Setelah digempur perspektif dan ide dari empat narasumber (satu berupa video), pembicara selanjutnya adalah Barry Likumahuwa. Eh, sebenarnya sebelumnya ada juga pembicara dari sponsor acara ini, Anomali Coffee tentang kopi-kopi di Indonesia. OK, lanjut ke  Barry Likumahuwa. Ia salah satu pemain bass ciamiks yang nggak cuma sekadar menghibur lewat penampilan solonya yang keren, tapi juga memberi pandangan tentang gimana passion dan visi yang sejalan bisa menghasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat.

Nah, selanjutnya adalah Ade Rai. Ya, kalau dengar namanya pasti sudah bisa ditebak kalau sosok berkepala kecil (atau berbadan super besar?) ini pasti bicara tentang kesehatan. Gimana kesehatan menjadi lebih bermakna ketika kita sakit dan gimana kita suka melakukan aksi mengeluh-menyalahkan-pembenaran ketika bicara soal kesehatan. Padahal yang perlu diubah adalah kebiasaan dan pola makannya. Dalam hal ini, sosok Ibu dalam keluarga punya peran penting dalam menjaga pola makan anggota keluarganya. Kenapa Ibu? karena biasanya Ibu yang mengatur apa dan bagaimana urusan pangan di rumah. Kalau Ibu terbiasa bikin stok cemilan banyak di lemari dan sering memasak hidangan berkalori tinggi, ya jangan heran kalau bobot tubuh anggota keluarganya lebih. Jadi, penting banget seorang Ibu (atau siapapun yang mengatur urusan makan di rumah) punya informasi dan kesadaran yang baik akan jenis dan pola makanan sehat.

Pembicara terakhir adalah Ridwan Kamil. Ada banyak sekali inspirasi yang didapat dari arsitek jebolan ITB yang berdomisili di Bandung. Misalnya, pandangannya tentang banyaknya sosok kreatif ada di Jakarta namun jarang ‘ngumpul’ dan berkolaborasi untuk kotanya. Hanya salah satu yang paling saya ingat adalah tentang empat macam pemuda di Indonesia. Pertama, pemuda yang pintar namun tidak peduli. Mereka adalah yang belajar, bekerja di luar negeri dan nggak balik lagi ke Indonesia. Kedua adalah yang peduli namun tidak pintar. Mereka yang suka aksi demo tanpa jelas juntrungannya masuk ke dalam golongan ini. Ketiga adalah yang tidak pintar dan tidak peduli. Keempat adalah yang pintar dan peduli.

Selain keenam pembicara, ada juga tiga video seminar TED yang diadakan di luar sana.

http://www.ted.com/talks/chip_conley_measuring_what_makes_life_worthwhile.html

http://www.ted.com/talks/lang/eng/joachim_de_posada_says_don_t_eat_the_marshmallow_yet.html

http://www.ted.com/talks/sir_ken_robinson_bring_on_the_revolution.html

Sebenarnya ada satu kata yang akhirnya muncul di kepala saya setelah TEDxJKT V ini. Perubahan. Perubahan memang biasanya nggak pernah nyaman, dan perlu adaptasi. Namun jika perubahan itu bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kenapa nggak?

Happy. I had an inspiring weekend !:)

PS: Berhubung lokasi duduknya agak jauh dari panggung akhirnya banyak foto yang blur. Jadi, nggak semua pembicara fotonya dimasukkan di sini.

9 thoughts on “inspiring sunday!”

    1. betul! ini kayak pechakucha tapi kalo pechakucha ada tema khusus setiap eventnya.
      ini TEDxJKT yg kelima. setauku akan ada terus kok :)
      salam kenal juga, terima kasih sudah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s