Bara dan Baja #3

Langit malam mulai menyapa. Tatapannya lurus menuju lampu merah.

“79..78..77..Sialan! Siapa yang bikin ide lampu merah nyala satu setengah menit?!Bangsat!”

Ia menoleh ke kursi sebelahnya. Ransel berisi laptop, ponsel dan pekerjaannya. Hidupnya.

Ia membesarkan volume radionya. Tidak ada lagu yang sesuai dengan suasana hatinya saat itu. Memilih tombol CD dan membiarkan kepingan itu berputar.

“Don’t get offended
If I seem absent minded
Just keep telling me facts
And keep making me smile”

.

Aku sudah pasti terlambat sekarang dan malam ini penting bagimu. Berani-beraninya aku mengatakan tidak akan membuatmu kecewa kalau selama ini yang aku lakukan selalu berujung dengan kamu diam. Setengah jam. Lima jam. Satu hari. Seminggu. Tiga minggu.

“25..24..23..”

Aku tahu ini sama seperti hidup. Kadang aku harus berjalan pelan, kadang berlari, kadang hanya diam seperti sekarang. Menunggu. Katanya, tidak ada yang suka menunggu. Meski pada kenyataannya, hidup sering memiliki bagian menunggu. Biasanya aku sudah hampir mati bosan karena menunggu.

Aku tidak berbakat menunggu

Aku tidak suka menunggu

Aku bosan menunggu

“9..8..7..6”

Tolong

Aku

Tidak suka

Terlalu lama

Menunggu seperti ini

Namun demi kamu aku mau

Menunggu meski itu berarti aku

Harus memendam sabar lebih banyak

.

Hijau dan ia menekan klakson mobilnya meski tahu itu tak ada gunanya. Peduli amat. Toh orang-orang di kota ini menggunakannya untuk melampiaskan penat dan kesal, bukan untuk memberi peringatan. Di sini, semua orang merasa perlu didengar. Padahal sudah begitu bising. Karena itu kota ini sesak dengan cacimaki bahkan klakson cempreng tak tahu diri. Seperti yang baru ia lakukan.

Mobilnya kini melesat terus mencari sela di antara serakan mobil .

Ia harus segera sampai di sana secepatnya karena ia tidak mau mengecewakannya lagi. Tidak kali ini. Di malam yang istimewa untuknya dan ia mencintainya. Ia tidak mau mengecewakan orang yang dicintainya.

.

Ah, ia pasti sudah di sana sekarang dengan rambut terbaiknya. Gaun terbaiknya. Sepatu terbaiknya. Scarf tercantiknya yang baru saja ia beli bersamaku minggu lalu. Cantik. Ia selalu cantik dengan warna marun itu. Marun melekat sempurna dengan kulitnya.

I saw sparks…”

Begitu kataku ketika melihatnya pertama kali begitu cantik dengan marun.

[this modern love – bloc party]

***

Sepuluh hari sudah dan sepertinya ia memang benar-benar lelah.

Pesanku mungkin sudah dihapus sebelum dibaca. Ya, aku tahu cepat atau lambat siapa yang akan luka.

Hold on to nothing
hold on to coldest steel
it chills you down inside

Ia tidak akan pernah bisa aku raih. Aku bahkan tidak percaya kenapa aku begitu keras menjaganya. Aku begitu kuat menopangnya. Tidak ada yang tahu aku selalu berdoa sebelum tidur, berharap semoga saat aku membuka mata esok hari yang aku tahu adalah aku kembali ke masa kuliah yang hanya memusingkan bagaimana mencapai limit SKS dan apakah aku akan bertemu mahluk dengan sepasang mata coklat  dan alis tebal memikat yang sumpah mati selalu bisa mencairkan hati setiap melihatnya.

Aku ingin kembali. Kembali ke masa itu. Bersama mereka yang selalu ada  dan saat konsep  hidup hanyalah untuk saat ini. Hanya untuk saat ini. Bukan esok atau lusa, apalagi sepuluh tahun lagi.

Sekarang, aku seperti pemimpi yang selalu mendambakan hari esok. Menyusun kepingan ideal akan hidup bahagia dalam puluhan tahun ke depan. Memikirkan warna yang cocok untuknya. Mempelajari setiap detilnya lalu menjahitnya dengan bagianku. Semua yang telah dan sedang aku lakukan adalah untuk hari esok. Tahun esok. Puluhan tahun nanti.

Aku memang pemimpi, tapi aku tahu benar mimpi-mimpiku dan aku mau kamu menjadi nyata. Nyata dalam mimpiku, karena itu aku berani menunggu. Menunggu kamu.

walking against the stony crowd
trying not to listen
but they shout so loud

Hanya kamu lelah sekarang, dan apa yang harus aku perbuat dengan mimpi-mimpiku ketika kamu lelah. Apakah kamu akan berangsur hilang? Aku tahu di mana kamu malam ini. Mungkin kamu sedang menerobos padatnya jalan, mengejar waktu sebelum ia kecewa.

Aku ingin kamu sekarang. Aku mau kamu saat ini.

Sekarang semua jadi ragu. Semua langkah jadi terasa abuabu.

there’s nowhere to write it
there’s nowhere to write it down

Terbenam di hangatnya bantal biru. Berharap semuanya sesederhana imaji kartupos.

Selembar foto terjatuh dari tanganku. Tersungkur di permukaan dingin ubin.

[hold on to nothing – david gray]

Bintaro, 18 Mei 2010

Sebenarnya sudah dipublikasi secara privat di pertengahan Mei lalu. Namun, baru merasa pas mengeluarkannya sekarang. Terima kasih  Permata yang sudah mengingatkan :)

Bara dan Baja #2 Mei 2010

Bara dan Baja Juli 2008

2 thoughts on “Bara dan Baja #3”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s