plesiran ngayogyakarta hadiningrat

pecah telor!

Itu padanan yang pas untuk edisi jalanjalan saya kali ini. Kenapa? Karena sejak bertahun-tahun lalu saya dan kakak saya sudah merencanakan perjalanan ini tapi selalu mentok karena ada saja halangannya. Baik karena jadwal yang nggak pas maupun urusan dana yang diprioritaskan ke bagian lain. Padahal, kami nggak asing dengan kota ini. Apalagi kakak saya sempat berdomisili cukup lama di sini. Dulu, setiap mengunjungi kota ini artinya adalah pulang. Meski ayah dan ibu saya bukan warga asli, namun sebagian saudara ayah saya di sini dan ibu saya bersekolah di sini. Rumah keluargapun ada di sini. Jadi sudah cukup untuk mengatakan kalau tujuan ke kota istimewa ini (biasanya) bukan berlibur, tapi sowan.

stasiun tugu, yogyakarta
yk pagi hari
sudut yk pagi hari

Nah, kali ini kami punya tujuan lain. Kami ke kota ini bukan untuk pulang dan menyambangi keluarga. Kami mau jadi turis di kota sendiri. Kebetulan saya sudah lama nggak mengunjungi Yogya. Hmmm, mampir selama sekian jam untuk sowan ke rumah saudara-saudara atau nyekar ke makam Mbah tidak dihitung, ya. Pokoknya kali ini beneran mau jalanjalan. Nggak pake rencana. Akhirnya kami naik kereta Taksaka dari Gambir pukul 20.30. Setelah pesanan teh tarik datang namun nggak ada pemandangan yang bisa dinikmati, akhirnya saya ke gerbong restorasi karena selama ini nggak pernah tuh yang namanya makan di restorasi. Makannya? Mie rebus saja saudara-saudara. Padahal biasanya (menurut memori masa kecil) kalo makan di atas kereta itu ya nasi goreng atau steak. Biar aja, deh. Wong mau merasakan aroma restorasi, bukan penasaran gimana santapannya.

Kembali dari restorasi, kami istirahat dan pada pagi hari akhirnya sampai di Stasiun Balapan. Eh, bukan. Maaf, itu mah Didi Kempot! Saya jadi terbiasa menyambung kata “stasiun” dengan “balapan”. OK, sampai di Stasiun Tugu. Lalu kami langsung memberikan pemanasan kepada bokong-bokong kapalan akibat semalaman duduk ini dengan berjalan ke warung gudeg dekat Tugu. Dua belas ribu lengkap dengan minum buat dua orang saudara-saudara! Setelah itu hari diisi dengan berkeliling Yogya layaknya turis, dan hampir semuanya dilakukan dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan Malioboro menuju Pasar Beringharjo, lalu ke Keraton dan Museum Kereta. Kemudian mengunjungi situs Tamansari yang membuat saya nggak berhenti kagum. Situs ini berisi masjid, tempat pemandian, tempat bersemedi untuk para Raja. Oya, harga tiket masuk ke tempat-tempat wisata ini hanya sekitar Rp. 2000/orang.

mbah di keraton yogyakarta
tamansari, yogyakarta
tamansari, yogyakarta
ngasem, yogyakarta

Setelah terkagum-kagum dengan Tamansari, maka kami langsung menuju  Sosrowijayan di daerah Malioboro untuk mencari tempat penginapan. Berhubung kaki sudah tak kuat dan punggung capek menopang beban ransel. Maka kami memutuskan naik Becak menuju Malioboro. Berhasil mendapat tempat berlabuh, maksudnya tempat beristirahat, dengan harga Rp. 250.000/malam (dibagi dua) di sebuah penginapan bernama Wisma Gembira yang menurut saya cukup memuaskan karena kamarnya bersih, AC, TV dan kamar mandi di dalam. Airnya pun, meski tidak ada air panas, bersih dan ada pancuran.

Selanjutnya plesiran di kota berhati nyaman ini lebih banyak bergumul di sektor gastronomi alias perut.

  • Makan nasi goreng kambing, gule balung (gulai tulang) dan sate kambing di Pak Dakir yang dulu sempat jadi langganan keluarga.
  • Nyeruput Kopi Joss di dekat Stasiun Tugu. Buat saya kopi ini terlalu manis, sih.
  • Sarapan di Soto Sawah dengan tempe bacem yang sumpah enak banget kalau ke sana harus makan itu lagi deh saya jamin pasti bahagia. Soto per porsi Rp.6000 plus es jeruk Rp.2000.
  • Makan siang di SGPC Bu Wiryo yang terletak di seputaran kampus UGM. Diiringi home band andalan. Makanannya sekitar Rp. 10.000/orang.
  • Menyantap Sate Klathak yang dibaluri sambel kecap dengan semilir angin pedesaan.

Oya, atas nama nostalgia maka kami pun menyambangi bioskop Empire XXI. Kakak saya penasaran sekali ingin melihat bagaimana rupa tempat nonton yang sering didatanginya dulu sebelum terbakar di tahun 1999 (kalau salah, tolong ralat ya :) ).

pasar beringharjo, yogyakarta
lesehan malam, yogyakarta
punakawan main catur
soto sawah, yogyakarta

Hari terakhir pun diisi dengan pantai mendung di daerah Wonosari, kemudian leyeh-leyeh di kamar yang super nyaman di wisma MM UGM. Lalu melahap sate Samirono. Buat kuliner yang ini memang agak nyeleneh dari konsep wisata kuliner kami yang bersahaja. Hanya saja justifikasi berupa (lagi-lagi) nostalgia dan ini santapan terakhir sebelum meninggalkan Ngayogyakarta Hadiningrat, maka tak apalah keluar ekstra untuk satu porsi sate ayam, satu porsi sate kambing, 1 porsi gulai, dua piring nasi dan minuman favorit kami, es jeruk nipis. Kalau ditotal sekitar Rp. 45.000 untuk berdua. Lumayan tinggi dibanding total biaya makan sebelumnya yang biasanya nggak mencapai Rp.20.000 untuk berdua.

kota dari sudut wisma MM UGM

Akhirnya di sore berawan pada hari ketiga itu saya harus pamit dengan kota yang entah kenapa selalu membuat saya kangen ini. Sampai beberapa hari sesudahnya masih lekat sekali ‘rasa’ yang didapat selama berada di sana. Kota ini adem sekaligus hangat. sederhana sekaligus bingar.

Foto-foto lain bisa dilihat di sini

Perkiraan budget 3 hari 2 malam

Kereta Taksaka      Rp. 220.000 (hari biasa) – Rp. 320.000 (akhir pekan)

Saya berangkat dengan Taksaka (Rp.320.000) dan pulang dengan Bus (Rp.125.000), jadi untuk transport Jkt-YK menghabiskan Rp. 445.000

Makan (9x)             Rp. 100.000 – Rp.150.000

Penginapan            Rp. 200.000 – Rp. 350.000 per malam

Transport               Rp. 50.000 per hari (motor) atau naik TransYogya Rp. 3000

Wisata                      Rp. 20.000 (museum, tempat wisata)

Kalau mau dihitung secara kasar, biaya per orang sekitar Rp. 750.000 – Rp. 900.000 untuk 3 hari 2 malam di Yogya. Itu sudah super mewah banget dengan tidak memanfaatkan teman atau saudara untuk penginapan/transport dan makan minum kenyang banget. Biaya bisa diminimalkan lagi dengan menekan biaya transport menuju/dari Yogya, misalnya dengan naik kereta bisnis atau bus.

6 thoughts on “plesiran ngayogyakarta hadiningrat”

  1. saya pun teringat dengan masa2 kuliah di Jogja… kota yang benar2 menyenangkan sebagai seorang yang muda…

    nice photos Nike.. ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s