jalanjalan

Tema tulisan kali ini masih nyambung dengan foto-foto lama yang dikumpulkan. Seru banget melihat foto waktu kecil dulu di berbagai tempat. Saya jadi sangat bersyukur sudah sempat tinggal dan menyambangi beberapa tempat di Indonesia. Nggak mengeram di satu daerah saja sejak orok hingga dewasa. Misalnya, mengunjungi Tanjung Pinang di pulau Bintan. Mencicipi seafood di Tanjung Pinang dan Sungai Enam yang katanya enak Β karena saya menghabiskan beberapa tahun masa balita saya tak jauh dari sana. Sayang, saya masih terlalu bocah untuk mengingat seenak apa makanan di Restoran Panjang, rumah makan yang populer di Tanjung Pinang. Namun yang saya ingat adalah perayaan Imlek yang meriah dan saya ikut dapat angpao. Itu terakhir kalinya saya merasakan hawa Imlek yang paling kental, karena sebagian besar penduduk di sana merayakannya. Akhirnya hingga sekarang, Ibu saya selalu iseng membeli kue keranjang di supermarket saat masa Imlek karena “kangen” dengan hidangan tahun baru Cina itu. Selain itu, selama tinggal di sana kami sekeluarga juga sering berkunjung ke Batam, berwisata ke Pulau Samosir dan tamasya ke Pulau Penyengat dengan speedboat.

Saat SD, saya menghabiskan waktu di Sulawesi Tenggara. Wisata saat itu hanya pantai dan pantai lagi. Andai saja saat tinggal di sana saya sudah tahu betapa indahnya kepulauan Buton atau Wakatobi. Pasti kami sekeluarga sudah menyambangi salah satu destinasi favorit para penyelam itu. Jadi, saat liburan, selain “pulang kampung” ke pulau Jawa, wisata banyak dihabiskan di Sulawesi Selatan. Makan pisang epe’ di pinggir Pantai Losari sudah dilakukan beberapa kali. Naik kuda di daerah adem Malino juga lebih dari sekali. Main air di air terjun Bantimurung juga sudah. Lalu mengunjungi Museum La Galigo. Namun yang nggak bisa dilupakan adalah Toraja. Perjalanan dari kota Ujung Pandang (sekarang Makassar) ke Toraja cukup panjang dan melelahkan. Sekitar delapan jam! Melewati kota-kota dengan nama yang (buat saya) terdengar lucu seperti Pare-pare, Enrekang dan Sidendreng. Namun ketika sampai di sana, ada atmosfir lain yang nggak pernah saya dapat di kota-kota lain. Tempat wisata di sana juga lumayan bikin bergidik karena kami mengunjungi berbagai makam, tapi rasa serem itu mengalahkan penasaran. Saya masih ingat pertama kali mengunjungi Londa. Tourist guide kami menjelaskankalau goa Β di tempat ini digunakan untuk “tempat peristirahatan” alias peti-peti mati beserta isinya digeletakkan saja di dalamnya. Bukannya takut, saya malah penasaran berat dan lari duluan meninggalkan rombongan lalu menuju goa. Itu terakhir kalinya saya melihat tulang belulang benar-benar berserakan. Selain mengunjungi berbagai makam, kami beruntung sekali bisa ikut melihat upacara kematian yang diadakan besar-besaran. Yup, upacara kematian di daerah ini memang diadakan nggak tanggung-tanggung dan bisa menelan biaya ratusan juta karena dirayakan berhari-hari serta mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi (sampai sekarang saya masih ingat teriakan babi-babi yang diikat dengan radius kurang dari satu meter dari tempat saya berdiri). Makanya upacara kematian ini sering diadakan bertahun-tahun setelah kematian orangnya, karena keluarganya harus menabung cukup banyak untuk merayakannya. Jadi sementara itu, jenazah ditempatkan di Tongkonan, rumah adat penduduk. Entah kenapa meski sudah dua kali ke sana, ingin sekali ke Tana Toraja lagi dan merasakan udara magisnya.

Malino, Sulawesi Selatan
ketauan pas bocah nggak bisa diem
Tana Toraja
Tana Toraja

Sejak kembali ke Jakarta di tahun 1994, tidak banyak perjalanan yang dilakukan. Lebih banyak perjalanan liburan dan mudik setiap tahun ke Solo-Yogya, selebihnya Bali atau beberapa kota di pulau Jawa yang dikunjungi dalam waktu super singkat. Padahal perjalanan itu selalu menyenangkan, kecuali yang menghabiskan waktu di jalan terlalu lama saat musim mudik, ya. Melihat pemandangan yang berbeda, orang-orang yang berbeda. Akhirnya sesekali kalau sedang ingin, saya melakukan perjalanan super instan di dalam kota Jakarta. Muter-muter di stasiun kota lalu ke taman Fatahillah. Sendiri, kadang bersama teman. Iseng mengunjungi Museum Nasional (Museum Gajah) dan Museum Sejarah. Bahkan sekadar menghabiskan waktu di atas Trans Jakarta lalu turun di halte yang saya inginkan. Nggak mewah. Nggak super wow, tapi menyenangkan dan lumayan memenuhi hasrat untuk berjalan.

Karang Anyar, Jawa Tengah
Prambanan, Yogyakarta (pose sangarnya nggak usah dikomentarin)

Sejak dulu, kalau boleh mimpi (nggak boleh juga teteup mimpi, sih), saya lebih memilih mengunjungi daerah-daerah di Indonesia dulu. Salah satu bentuknya ya #tamasyahore ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu dua bulan lalu. Soalnya nih, kalau menurut saya, rasanya memuaskan banget kalau bisa menikmati daerah yang keren tapi dekat dengan kita. Relatif mudah dicapai dan bikin kita makin sayang plus bangga dengan negeri kita. Tamasya, yuk? : )

Bintaro, Juni-Juli 2010

5 thoughts on “jalanjalan”

  1. Kamu hebat banget masih inget perjalanan jaman dulu dan menyusun fotonya secara kronologis. Aku aja yang orang Makassar gak segitu jalan2nya di sana.. Hmh.. maklum ortuku bukan tipe traveler.. *semangat untuk explore makassar*.

    Setuju sama kata2mu, bahagia rasanya pergi ke tempat yang deket dan gak begitu pricey, kepuasan batiin! Kapan2 traveling bareng yuuk! :D

    1. hihihi mungkin karena udah SD jadi masih inget, tiw. apalagi Toraja, nggak akan mungkin lupa dengan atmosfir kota itu..
      ayuk, dong..kamu kan udah hits banget kalo jalan-jalan. aku mau dipandu olehmu hahaha

    1. alhamdulillah ya berwarna..waktu dulu mah mikirnya ya memang nasib ikut orang tua. sekarang merasa bersyukur banget udah sempat dateng ke beberapa daerah di Indonesia :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s