I can dream, so I dream out loud

Kalau ditanya apa salah satu mimpi saya yang paling spesifik, saya akan jawab

Menonton konser U2 dengan mata kepala sendiri.

Mungkin mimpi saya nggak super unik dan pasti ada ribuan orang yang punya keinginan yang sama, tapi kenapa ini spesial (pake telor, kornet sama keju yang banyak ya, bang!) buat saya akan saya jabarkan satu per satu di sini.

Pertama, hampir semua teman dekat saya tahu kalau saya sangat-sangat-suka dengan band yang super solid ini. Saya pertama kali mendengarkan U2 saat liburan kenaikan kelas enam SD saat abang saya menyuruh saya duduk manis dan membiarkan dia memutarkan CD The Joshua Tree. Intro gitar The Edge di track pertama itu seperti momen pencerahan saya. Kayak cinta pada pendengaran pertama! Sejak itu saya resmi mendengarkan U2 dan album pertama mereka yang saya beli adalah Zooropa di tahun 1996.

Kedua, sama seperti penggemar-penggemar U2 atau band lain. Saya rajin mengkoleksi apapun yang berhubungan dengan U2. Album, buku, merchandise sampai kartupos (dan selembar gambar) yang saya dapat dari manajemen U2 sendiri karena niat mengirim surat ke sana.

Buku U2 pertama saya adalah ‘Faraway, So Close’ yang dibeli saat kelas dua SMP dengan harga di bawah 100.000 karena belum krisis ekonomi. Buku yang dibuat oleh B.P Fallon ini sukses membuka mata saya tentang musik. Saya jadi tahu kalau di belakang dan sekitar sebuah band besar itu ada sebuah manajemen (Paul McGuinness), tim tur yang dashyat, produser handal (Brian Eno, Daniel Lanois, Steve Lillywhite, Jacknife Lee), desainer (Steve Averill) dan fotografer (Anton Corbijn) canggih hingga media. Sejak itu pula saya bercita-cita ingin jadi orang di belakang layar/panggung/kamera/Ya-apapun-itu-namanya yang jelas saya ingin jadi salah satu dari mereka yang berkontribusi tanpa terkena ekspos seperti Bono-The Edge-Adam-Larry. Akhirnya, sekarang saya memang terdampar di dunia yang saya inginkan. Bekerja di belakang layar.  Jadi, terkesan berlebihan atau nggak, bagi saya U2 sudah jadi salah satu inspirator dan saya ada di bidang sekarang (kreatif) bukan karena kebetulan : )

Ketiga, sejak itu saya suka sekali menulis tentang musik. Kalau sebelumnya hasrat menulis  dikeluarkan lewat surat-menyurat. Kali ini dirilis melalui musik. Abis saya juga nggak bisa main instrumen musik kecuali rekorder, apalagi nyanyi (bisa trauma deh kalo denger saya nyanyi). Jadi saat itu saya kayak nggak ada pilihan lain selain menulis, terutama soal U2. Mulai dari mading sampai membuat sejarah U2 versi bahasa Indonesia. Nggak percaya? Eits, saya ada bukti otentiknya, lho. Ini adalah sejarah U2 yang saya buat mulai jaman SMA hingga kuliah ;)

U2 into the heart [sejarah U2 1976-2004] oleh nik.e

Keempat, seakan belum puas membuat sejarah U2 karena hanya dinikmati sendiri. Lalu saat kuliah saya membuat situs U2 berbahasa Indonesia. Maklum dulu waktu kuliah memang suka nggak jelas mau ngapain trus dipingit kayak anak ayam, jadi hobinya ngutak-atik Microsoft Frontpage. Jadilah sebuah situs U2 dengan desain culun seadanya yang penting niat. Sayangnya, situs ini sepertinya sudah hilang dari jagat maya. Nah, nggak lama kemudian ada penggemar U2 lain, mba Yayu, yang menghubungi saya untuk membuat situs yang lebih ‘serius’. Akhirnya kami berkolaborasi dan membuat U2indonesia.com . Setelah sekian lama, akhirnya situs ini juga harus selesai meski antusias penggemar U2 lumayan tinggi. Bahkan pemilik situs U2 Indonesia sekarang, http://www.U2-indonesia.com sempat mencari keberadaan para penunggu U2indonesia.com yang hilang tanpa jejak :p  tapi saya masih punya suvenir berupa tampilan halaman depan U2indonesia.com lho!

Kelima, saya sampai detik ini masih dan selalu sukses disihir dengan U2, dan sampai sekarang saya belum pernah menonton mereka langsung. Padahal sejak jaman sekolah saya sempat rutin menonton video ‘Rattle and Hum’ dan ‘Popmart live in Mexico’ setiap hari. Album-album U2 juga selalu setia menemani saya di manapun. Di rumah, di mobil, di mp3 player. Karena tahu saya memang suka kalap kalau sudah soal U2, beberapa teman baik saya juga memberikan barang yang berhubungan dengan U2, mulai kaos, tourbook sampai buku. Terima kasih ya, muah! :D

Mudah-mudahan alasan-alasan saya sudah cukup kuat. Jadi, please please bantuin saya supaya mimpi berikut ini bisa terwujud.

Nonton om Bono, om The Edge, om Adam dan om Larry di Athena, Yunani atau Roma, Italia tahun ini

Langsung ke vote nike l’oreal dream

atau

1.ke www.lorealdream.com

2. log in /register dulu

3. pilih 100 voted dreams

4. Cari nama nike prima & vote :D

.

Seperti, kata om Bono di lagu Acrobat,

You can dream, so dream out loud

so i have this dream and I make it out, loud.

Louder ; )

ps: kalau pun ternyata nanti belum kesampaian, paling nggak  sekarang jadi waktu yang pas buat ngasih ‘peninggalan sepuluh tahun’ lalu ;)

8 thoughts on “I can dream, so I dream out loud”

  1. semoga nanti, suatu saat kita bisa ketemu yah mba…
    nonton u2 Live in Dublin….

    Amiiiiiin….

    *salah satu mimpi terbesar saya juga*

  2. hahaha. obsesi lo sama U2 sama kayak obsesi gua ama radiohead yaaaa. semoga lo bisa nonton U2 dan gua bisa nonton radiohead suatu saat nanti. hihi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s