filosofi rambu lalu lintas

Akhir-akhir ini waktu saya banyak di jalan. Dalam satu hari, memulai bekerja dari satu tempat, lalu ‘melompat’ ke tempat lain hingga tiga atau empat kali sampai malam hari. Beberapa teman berkomentar kalau kondisi seperti itu pasti menyenangkan karena nggak bosan seperti yang kantoran. Bersarang di dalam kubikel.

Kalau menurut saya sih sama saja. Ada enaknya bekerja di depan layar monitor. Konsentrasi menyelesaikan sesuatu, dan itu bisa saya lakukan berjam-jam. Kalau mau mencari tahu lebih dalam akan suatu subjek, bisa langsung membuka sekian jendela di browser lalu membaca dan meraup informasi yang tersaji. Kalau di jalan, apalagi dengan kondisi harus menyetir, kegiatan seperti itu agak sulit dilakukan. Lalu, kalau ada ide yang tiba-tiba mampir tanpa permisi. Agak susah tuh untuk segera mentransfernya ke dalam catatan kecil kalau sedang di jalan dan tidak ketemu dengan lampu merah. Apalagi saya mengakui da menerima kalau diri saya ini pelupa, jadi hal-hal seperti itu (ide-ide sampai printilan yang harus dikerjakan) harus segera dicatat karena kalau tidak, mungkin bisa lupa selamanya. bahaya, ya? Haha. Mungkin dari sekarang saya harus membiasakan diri merekam dengan aplikasi voicenote yang ada di ponsel ya? : )

Nah, itu kendala punya kondisi nomaden. Kalau yang menyenangkan adalah kesempatan untuk melihat sekitar. Memperhatikan sekeliling. Dari mulai yang bernafas, yang bergerak, hingga yang diam. Dua-tiga bulan ini, termasuk minggu ini, objek pilihan saya adalah rambu-rambu lalu lintas. Memang, rambu lalu lintas itu dipasang untuk keamanan dan kenyamanan pemakai jalan. Tapi seru juga “mencuri” isi rambu lalu lintas lalu mengaplikasikannya di kondisi lain. Misalnya, rambu ‘Kurangi kecepatan’ yang sebenarnya pas juga untuk menyindir mereka yang sering grasa-grusu kalau melakukan atau memutuskan sesuatu. Ya, kadang saya juga suka begitu. Jadi rambu ini cukup menohok buat orang yang suka nggak sabar seperti saya. Lalu ada rambu ‘Dilarang stop’ yang bisa mengingatkan kalau biasanya kita perlu tuh usaha lebih giat lagi dan nggak mudah menyerah. Ini juga cocok, karena ya namanya juga manusia, ada kalanya merasa semuanya terlalu “penuh” dan ingin menekan tombol ‘membekukan waktu’ sebentar saja. Alhamdulillah punya teman-teman baik yang memberi dukungan berarti saat panik. Misalnya kalimat “99% hal yang kamu khawatirkan nggak terjadi, kok” yang dikirimkan sahabat saya ketika saya sedang deg-degan karena esoknya bekerja dengan tim baru. Ya, teman-teman baik adalah mereka yang selalu berhasil menarik kaki kita untuk berpijak ke tanah dan tetap berjalan.

Ya ya ya (Eh, ini bukan slogan KB), bisa jadi ini hanya pikiran dan imajinasi warga Jakarta yang terpaksa menikmati waktu berjam-jam di jalan terjepit di kemacetan. Ditambah dengan cuaca akhir-akhir ini yang menyuburkan atmosfir melankolia. Yah, rasanya basi juga sih kalau sibuk mengeluh tentang padat-macet-kemerungsungnya kota Jakarta. Lebih basi daripada mengomentari kasus Ariel Peterporn. Jadi dinikmati saja. Apalagi buat yang punya sopir atau bisa naik kendaraan umum yang nyaman, patut bersyukur karena masih bisa istirahat atau melakukan hal lain seperti membaca dan menulis. Kalau masih mengeluh juga, Ya, mungkin solusi paling baik ya nggak usah kerja, kerja dari rumah atau pindah domisili. Setiap pilihan ada risikonya masing-masing. Sama seperti berkendara di jalan. Kalau mau melanggar peraturan lalu lintas sih nggak ada yang melarang, tapi ada risikonya ; )

selamat menikmati hawa mendung melankolia, teman-teman sesama (meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma) homojakartaensis : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s