seribu kunang-kunang di manhattan

Kalimat itu terdengar modern sekaligus melankolis. Jika diperhatikan, seribu serangga berpendar di bagian tersibuk dan terpadat kota New York tentu terdengar muluk. Namun kalimat yang juga judul cerita pendek ini memang merepresentasikan isi dari kisah dua orang ini.

Saya pertama kali membaca ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan’ saat kelas dua SMP, dan hanya berupa penggalan cerita di dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Namun entah kenapa  ‘rasa’ dari cerita ini sulit sekali dilupakan. Mungkin karena sebelumnya saya yang sebelumnya lebih sering baca komik dan majalah belum pernah bersentuhan dengan tulisan semacam itu. Umar Kayam (1932-2002), penulis cerpen itu, berhasil membuat saya mulai melirik sastra negeri sendiri.

Memang, setelah kontak pertama dengan tokoh Marno dan Jane, dua manusia kesepian di kota yang hirukpikuk ini, saya nggak lantas sibuk mencari karya-karya Umar Kayam. Biasalah, anak sekolah : ) Baru saat kuliah saya mulai tertarik lagi dengan cerita, entah itu novel atau cerpen. Namun, lagi-lagi belum melirik karya-karya beliau. Saya justru mengkoleksi buku-buku Dewi Lestari, Seno Gumira Ajidarma, Remy Sylado, dan sebagainya. Hingga suatu saat saya tiba-tiba kangen dengan tulisan Umar Kayam. Kangen dengan tulisan yang tersusun sederhana namun bermakna. Umar Kayam bukan tipe penulis dengan gaya tajam, sinis atau sarkastik. Bisa jadi karena ia dengan sengaja  memasukkan kepribadian Jawa-nya ke dalam tulisan. Namun kritis dan tepat sasaran. Banyak tulisannya yang membuat saya (dan mungkin para pembacanya yang lain) berpikir setelah selesai membaca. Ia bisa menyederhanakan hal yang rumit namun tetap membuat pembacanya sadar bahwa ada pesan dalam setiap rangkaian katanya. Seperti ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan’. Ada beberapa fragmen di sana. Dua orang yang ‘terjebak’ di satu kondisi. Perbedaan budaya. Kebutuhan. Kesepian. Perselingkuhan. Pengakuan. Masa lalu. Kerinduan. Meski bisa jadi ada yang hanya melihatnya sebagai ‘obrolan dua orang mabuk’ : )

Belum banyak karya Umar Kayam yang saya baca. Sampai saat ini masih seputar kumpulan cerpen ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan’ (Sri Sumarah, Kimono Biru untuk Istri dan Sybil adalah favorit saya), ‘Mangan ora Mangan Ngumpul’ dan ‘Sugih tanpa Banda’ yang dulu jadi bacaan seluruh anggota keluarga -kata ‘mak nyus’ yang sering dipakai Bondan Winarno itu diambil dari sini, lho-, serta ‘Dialog’ yang berisi kumpulan tulisan non-fiksi almarhum. Saya masih punya pe-er membaca ‘Para Priyayi’ dan banyak lagi. Namun meski baru sebagian kecil, karya-karya Umar Kayam membekas sekali. Mungkin kalau waktu SMP saya nggak diwajibkan membaca potongan cerpen itu oleh guru Bahasa Indonesia saya,  saya nggak akan tertarik mengenal sastra Indonesia lebih jauh : )

Baca kisah Marno dan Jane di sini : )

seribu kunang-kunang di manhattan oleh umar kayam

a thousand fireflies in manhattan by umar kayam

6 thoughts on “seribu kunang-kunang di manhattan”

  1. hmm walau aku hobby baca tp blm menyentuh karya sastra jaman dulu..semoga minat ini tumbuh segera *masih berusaha menghabiskan buku karya Tan Malaka*

  2. Gw juga slalu “dihantui” dgn kalimat “seribu kunang-kunang di Manhattan” selama setahun ini. Dlm 1 thn belakangan ini, seringkali gw mendatangi/meninggalkan suatu kota yang gemerlap dgn ribuan lampu keemasan dalam perjalanan gw. Dalam gelap semua kota itu sama cantiknya, namun tanpa nama. Dari Dundee sampai Hongkong, dari Jakarta sampai Brussel. Hanya satu yang gw pikirin setiap gw melihat ribuan kunang-kunang itu dari kejauhan, baik dari udara maupun dari atas sungai (krn kereta gw nyeberangin selat kalau mo ke Dundee)….dari sekian banyak lampu yg gemerlap itu, yang mana yang menanti gw pulang?

  3. hai… aku silent reader, tapi gatel pengen komen gara-gara karya pak umar kayam. segera cari deh novel para priyayinya, sumpaaah keren banget. sayangnya sudah termasuk buku langka, punya aku yang dulu udah ilang :/

    1. hai momon..terimakasih sudah komentar :D
      wah, udah baca ya? apakah selangka itu? sepertinya saya harus segera menuju toko buku untuk mencari ya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s