Bara dan Baja #2

Lakilaki itu merasuk di tempat tidurnya. Gelap. Kamarnya terasa sesak. Padahal berjejal udara di dalamnya. Perempuan itu datang. Menyusup ke dalam selimutnya. Menciumi lehernya, dadanya, bahunya, tengkuknya. Lakilaki itu mencoba menuai segaris senyum.Tapi ia tak bisa. Perempuan itu menyusuri rambutnya, sentuh bibirnya menjelajah lengan, siku, lengan bawah, jarijari lalu telapaknya.

Ia terbawa.

Suhunya menghangat. Ia menarik tubuh perempuan itu. Merengkuh punggungnya. Meresapi wajahnya, menghirup molekul-molekul yang tersebar di kulitnya. Mencoba memasukannya dalam kotak memori.

“Kamu…”, perempuan itu tiba-tiba berhenti dan mencari sepasang mata lakilaki.

“Ya, sayang?”

“Jangan sebut aku sayang. Ada yang aneh malam ini. Kamu…ada yang menahan kamu sekarang. Saat ini. Ada yang kamu pikirkan?”

Lakilaki itu tak langsung menjawab. Ia mengubah posisinya. Perempuan itu menyesak di sampingnya. Lakilaki itu menghadapkan badannya ke depan perempuan itu. Mereka terbaring berhadapan.

“Tidak ada, sayang..”

“jangan ‘sayang-sayang’ dulu sekarang. Aku tidak perlu itu sekarang. Kamu…”

“aku tidak memikirkan apapun. Mungkin kamu terlalu sensitif.”

“Hei, terakhir kali kamu bicara aku terlalu sensitif, setelah itu aku melihat kamu pergi dengan dia dan kamu memegang tangannya. Merangkul dia. Mencium keningnya.”, nadanya meninggi.

“Tapi lihat, aku ada di sini sekarang. Kamu lihat? Aku ada sini. Di depan kamu. Kenapa kamu mempermasalahkan yang lain?”

“Kamu…pasti memikirkan dia, kan?”

Lakilaki itu menghela nafas. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan.

“Kamu mau meneruskan ini?”

Perempuan menatap lekat kedua mata lakilaki. Tibatiba takutnya datang. Ia sedang berbaring namun tubuhnya seakan rubuh.

“Meneruskan?…”

“Ya, meneruskan ini?Kamu mau?Aku tanya kamu sekarang”

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Lho, aku boleh kan bertanya?Aku harus tahu apa yang membuatmu merasa lebih baik. Jadi, aku tanya sekali lagi. Kamu, mau meneruskan ini?”

“Meneruskan apa?”

“Ya, ini!”

“Aku…Aku nggak tau. Aku bingung. Aku bingung sama kamu.”

“Aku juga…”

“Jadi benar kan kamu bingung sama aku?Kamu pasti ingat dia. Iya kan?”

Lakilaki itu bergegas beranjak dari baringnya.

“Saya capek!”

Kali ini perempuan itu benarbenar rubuh. Segala cara ia pertaruhkan selama ini demi dia. Hanya dia. Ia hanya mau dia, dan sekarang dia berkata lelah. Lalu bagaimana semua yang telah ia berikan selama ini untuk dia?tidak berartikah semua perhatian dan kesabarannya selama ini yang hanya untuk dia. Hanya untuk dia. Tidak bisakah ia menghargai sedikitpun? Ia sudah melakukan hampir semuanya. Hampir semuanya, dan sekarang dia berkata lelah.

Lakilaki itu meraih ponselnya. Membaca pesan-pesan yang masuk. Membalasnya. Ia tak berkata apa-apa lagi.

“Kamu pikir aku nggak capek?aku juga capek harus berada dalam situasi seperti ini terus. Aku juga capek. Aku yang harusnya lebih capek dari kamu!”

Lakilaki itu tidak menjawab. Ia meletakkan ponselnya. Ia hendak berdiri, namun perempuan itu menggenggam lengannya seketika. Kuat sekali.

“Dengar dulu! Aku ingin kamu dengar aku sekali saja. Sekali saja. Kamu tidak pernah mendengarkan aku selama ini. Kamu tidak pernah melihat aku selama ini. Kamu tidak pernah benar-benar ada denganku selama ini. Kamu egois…”, bulirbulir itu mulai berjatuhan di wajah halusnya. “Dengarkan aku sekali ini saja. Lihat aku…aku ingin kamu benar-benar melihatku. Sekali saja…”

“Saya memang egois.”

“Kamu…”

Lakilaki itu menatap jendela di seberang tempat tidur, suaranya menebal. “Ya, saya memang egois. Kamu tahu saya egois, dan saya tetap egois hingga detik ini. Saya tidak akan pernah cukup buat kamu.”

“Aku hanya butuh kamu melihat aku…”

Lakilaki itu menghembuskan nafas. Ia menunduk sejenak, lalu memalingkan wajah ke arah perempuan itu. Perempuan itu menyeka wajahnya, genggaman pada lengan lakilaki itu melemah kali ini.

“Saya tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.”

“Jangan katakan itu…”

“Saya harus mengatakan itu, karena saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri lagi. Saya tidak mau membohongi kamu lagi. Saya tidak bisa.”

***

Perempuan itu terbangun lagi dari tidurnya malam ini. Lima hari sudah ia seperti ini. Temannya hanya kopi dan kopi. Hanya itu yang membuatnya tetap terjaga di siang hari, meski harus menanggung sakit kepala yang tak kunjung minggat.

Tidak ada teman bicara. Sahabat-sahabatnya sudah pergi meninggalkannya.

Sebenarnya tidak ada yang pergi dan tidak ada yang tinggal. Hanya saja suatu saat ia memutuskan tak bicara tentang hidupnya lagi. Sahabat-sahabatnya tetap ada di sana. Ia selalu tahu di mana mereka, dan ia yakin mereka akan menerima dengan tangan terbuka jika ia kembali. Namun reaksi sepi mereka ketika ia menyebut nama itu sudah cukup menjadi serangan besar untuknya. Satu nama dan mereka memalingkan muka, atau mencoba berpindah bahan bicara. Tak ada yang mengatakan setuju, namun terlalu lelah memberi tahu. Ia sadar mereka tahu bahwa ia tidak butuh diingatkan. Kembali ke mereka berarti kembali menatap wajah-wajah yang sama.

Ia masih menatap langit kamarnya. Mencoba memejamkan sepasang matanya. Ia meraih ponselnya.

03.03 WIB.

“Pengakuan. Seberat itukah bagi kamu menunjukkan itu?”

Ia menarik nafas. Menghembuskannya sekuat tenaga. Namun dadanya masih terasa terhimpit.

***

Lakilaki itu keluar rumah terburu-buru. Ia tahu akan terlambat lima belas menit dan ini pertemuan dengan klien. Ia tidak menyalahkan siapapun. Tadi malam ia terpaksa pulang larut karena semalam adalah pameran pertamanya, dan ia tidak mau mengecewakannya. Tidak, bukan tidak mau mengecewakannya. Lakilaki itu benarbenar ingin berada di sana, karena itu ia rela kembali bekerja setelahnya meski itu berarti mengorbankan setengah waktu istirahatnya.

Meski itu membuatnya terlambat bertemu klien pagi ini.

Thank you for giving me your endless support. I love you

Lakilaki itu mengingat kalimatnya semalam. Sedikit senyum bisa ia rasakan, namun kembali suram. Ia tidak pernah berpikir bisa merasa bahagia dan sedih bersamaan.

Tidak ada yang lebih menekan selain rasa marah pada diri sendiri.

***

Sayang,

Aku tahu apa yang kamu jalani selama ini. Kamu tidak perlu menceritakannya. Aku terlalu mengenalmu. Kamu juga mengenalku. Mungkin ini bukan soal waktu, tapi hanya tentang kepekaan manusia saja.  Jadi, terkadang tidak perlu satu hurufpun untuk saling merasa. Kamu pasti setuju kan, sayang?

Satu peluk. Derajat hangat dan seberapa pekat erat yang kamu berikan sudah cukup memberi arti ada di mana hadirmu.

Hidup kamu penuh kejutan. Entah itu karena langkah yang kamu putuskan sendiri hingga petasan-petasan yang tidak kamu nyalakan namun meledak karena kamu adalah sumbu. Api hanya perlu sumbu supaya ia bisa menjalar dan memecah. Mungkin kamu sering bertemu api selama ini, atau memang api selalu bisa mengendusmu dari jauh. Mungkin aku juga salah satu apimu.

Mungkin, kamu adalah bara. Kamu adalah baraku, karena di saat kita menyatu. Kita memercik. Kita memercah. Kita meledak. Kita terang.

“I saw sparks”

Bisikku tepat di samping telingamu saat pertama kali kita meledak bersama.

***

20 jam kemudian

Sebuah pesan masuk,

Ia membukanya.

“Bisakah kita berpura-pura, seakan-akan kemarin tidak terjadi?”

Bintaro, 3-4 Mei 2010

Fragmen #1 Bara dan Baja

9 thoughts on “Bara dan Baja #2”

  1. Hmmm…
    Berpura-pura memang cara yang paling jitu. Mengubur semua pertengkaran agar terkesan mulus2 saja, tapi sebenarnya di dalam hati terasa sakit. Bisa jadi bom waktu nantinya.

  2. dear mba nik.e
    selarut ini aku baca2 tulisanmu
    yang ini sungguh mengena
    haha
    ironis memang
    senang rasanya membaca tulisanmu
    terimakasih udah mengerti tanpa harus berbicara :)
    hihi
    lately aku nyoba nulis jg
    tapi memang jauh dr kualitasmu ya
    bahkan terkesan ga jelas malah
    tapi itu genuine,ngikutin alur pikiran n hati saat itu
    haha..seru nik..
    thanx again atas bara n baja nya :)
    keep up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s