tiap titik memberi arti

Amalea menghela nafas dan berkata, “Ah memang mengasyikkan sekali bisa mengkhayal.”. Ia terdiam dan melanjutkan kalimatnya, “Itu bedanya kita dengan mahluk lain. Bisa mengkhayal sesuka hati.”

Durata terusik, “Tetapi bukankah mengkhayal itu kadang akhirnya menyesakkan?”

“Kenapa menyesakkan? Bukankah tadi kamu bilang bahwa mengkhayal begitu mengasyikan.”

“Mengkhayal membuat kita terbuai.”, Durata beranjak dari rebahnya.

“Kita berimajinasi. Lalu kita berpura-pura merasakan yang enak-enak. Seakan-akan semuanya akan baik-baik saja. Kita akan mengkhayal hingga mencapai batas puncak lalu menyadari bahwa itu tidak mungkin.”

Amalea pun ikut duduk, kedua kakinya ditekuk, “ Namun bukankah itu mengapa kita diberi kemampuan untuk berpikir? Agar kita juga bisa mengkhayal. Agar kita punya mimpi.”

“Punya mimpi membuat kita punya harapan.”, kedua mata Durata melanglang jauh ke langit.

“Ya, membuat kita punya harapan.”

“Ada yang salah di sana, Amalea.”

“Apa yang salah?”

“Apakah baik jika kita punya harapan?”

“Bukankah harapan yang bisa membakar kita selama ini?Bukankah harapan yang bisa membuat kita bertahan, Durata?”

“Harapan itu seperti racun.”

“Kamu begitu pesimis.”

“Aku berkata yang sebenarnya.”, suaranya memberat. Amalea tahu tekanan suara itu. Durata benar-benar serius.

“Harapan itu bisa menjadi racun. Kamu tadi mengatakan kalau harapan yang membakar kita selama ini. Kamu salah, Amalea. Bukan harapan yang membakar kita selama ini. Kalau kamu menjadikan harapan sebagai sumbu, maka ia punya batas dan kamu bisa hangus tak bersisa seketika.”

“Buatku harapan itu seperti cakrawala, Durata.”

“Dapatkah kamu menggapai cakrawala, Amalea?”

“Tidak.”

“Lalu untuk apa mengejar harapan? Buat apa menjadikan harapan sebagai pembakar?”

“Manusia perlu alasan untuk hidup, Durata. Manusia perlu alasan mengapa ia hadir di semesta.”

“Namun harapan bukan jawabannya, Amalea. Tadi kamu juga mengatakan kalau harapan yang membuat kita bertahan. Aku tidak setuju. Kita bertahan bukan untuk masa depan. Bukan untuk mimpi.”

“Lalu untuk apa kita bertahan?”

“Karena sesuatu yang lain.”

“Kamu tahu apa sesuatu yang lain itu?”

“Semua orang pasti memilikinya. Entah apa mereka memanggilnya. Namun aku yakin bukan harapan. Sangat yakin.”

“Namun bagaimana mereka yang memang bertahan demi harapan.”

“Mereka akan lelah.”

“Menurutmu mereka berpura-pura?”, wajah Amelea mendakat ke wajah Durata.

“Ya, mereka berpura-pura. Mereka mengalami kelelahan luar biasa.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Aku hanya mengira-ngira.”

“Jadi kamu tidak setuju jika manusia menggunakan otaknya untuk bermimpi?”

“Mimpi sudah jadi bagian dari manusia. Tidak akan bisa dipisahkan.”

“Lalu apa yang sebaiknnya kita lakukan? Apa yang mau kamu lakukan?”

“Aku rasa..Amalea..”, Durata berbisik.

“Aku rasa ini tentang menjadi berarti, Amalea”

Amalea dan Durata saling bersandar. Ada jutaan bintang terhampar di langit. Setiap titik memberi arti. Seperti manusia.

Pertengahan Desember 2008 – Akhir Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s