secangkir lagi

“Mau tambah minum lagi?”

Kamu bertanya sambil melirik cangkir tehku yang dasarnya menyisa ampas.

“Ya, satu lagi.”, aku menjawab lirih.

Kamu memanggil pelayan dan memesan dua. Satu cangkir teh hangat untukku dan segelas teh dengan es untukmu. Aku tahu kamu sebenarnya menyukai teh hangat, namun begitulah cara kita. Sengaja memesan menu yang berbeda supaya aku dan kamu bisa saling mencoba. Saat ingin memesan, kamu selalu bertanya dulu apa yang aku inginkan saat itu dan apa pilihan keduaku. Lalu kamu akan memesan pilihan pertama untukku dan kedua untukmu. Seperti saat ini, saat aku memesan menuman hangat maka kamu akan memilih minuman dingin.

“Kalau kita teruskan ini, akhirnya akan menyakitkan.”

Kamu memecah sunyi dengan kalimatmu.

Aku masih diam.

“Menyakitkan untuk kamu, aku dan semuanya. Aku tidak ingin kamu sakit.”, kamu meneruskannya.

Ah, lidahku seperti lelah. Bibirku tetap kaku. Entah tanganku mendapat kekuatan darimana hingga ia tiba-tiba bergerak mendekat ke wajahmu. Menyentuhnya pelan. Tanganmu segera menangkap tanganku dan mendekapnya erat. Kamu menarik tanganku ke arah bibirmu. Kamu ciumi telapak, jari-jari lalu punggung tanganku. Lalu kamu biarkan telapak tanganku merasakan hangat wajahmu. Ada yang berbeda ketika kita berbicara tanpa kata. Aku tahu itu.

Earl Grey

Secangkir hangat teh Earl Grey yang tinggal ampasnya. Aku mengenal teh ini dari sahabatku. Awalnya aku tak menyimpan rasa tertarik pada teh ini. Namanya yang terkesan tua dan kaku membuatku malas untuk mencobanya. Dulu aku lebih memilih Chamomile yang terdengar lebih manis dan feminin. Namun setelah mencoba Earl Grey, aku tak pernah lagi memesan teh jenis lain. Aku tidak tahu bagaimana awal perkenalanmu dengan Earl Grey hingga kamu juga menyukainya. Ada begitu banyak kesamaan di antara kita namun aku tidak tahu dengan Earl Grey. Apakah kamu juga mengenalnya dari orang yang dekat denganmu? Apakah kamu menemukannya sendiri setelah mencicipi berbagai jenis teh? Aku tidak tahu. Padahal ada begitu banyak jenis teh yang tersebar di dunia dan Earl Grey bukanlah yang berkualitas paling baik, namun entah kenapa aku dan kamu memilihnya. Earl Grey adalah salah satu dari begitu banyaknya kesamaan kita. Meneguknya bisa membuat suasana hati lebih baik. Menghabiskannya dapat menenangkan hati yang meriak. Kenapa aku dan kamu masih memilih Earl Grey padahal kita tahu benar tak perlu bercangkir-cangkir kafein untuk membuat kita tenang? Bukankah kita telah menemukannya saat kita bersama? Ide itu begitu sederhana, dan katamu itu sudah lebih dari cukup. Aku dan kamu bersama, tanpa harus berkata-kata. Tak ada pertanyaan. Tak ada kegundahan.

Malam ini

Saat ini. Bukankah kita selalu merasa begitu damai saat hanya saling memandang atau memberi sentuhan kecil? Pertemuan adalah gelanggang kita untuk melakukan aksi-aksi tanpa tendensi. Hanya keinginan untuk menunjukkan rasa, karena aku dan kamu sering tidak pandai menjaring dan menyulam kata. Mungkin kita sepakat bahwa ungkapan rasa tak perlu selalu dengan muntahan verbal, dan kita telah menyepakatinya tanpa satu kata.

Satu cangkir dan satu gelas datang

Pelayan mengambil cangkir yang telah kosong dan meletakkan secangkir air hangat di depanku dan segelas teh dengan batu-batu es di hadapanmu. Kurobek bungkus kertas teh itu dan mencelupnya ke dalam cangkir. Kuaduk perlahan. Pelan sekali. Aku tahu pemanis dan teh itu telah tercampur sempurna, namun ada keengganan untuk tergesa. Aku ingin malam ini berjalan lebih lamban. Ini menyiksa, tapi mungkin hanya malam ini yang kita punya.

Kamu menghisap dalam rokok yang tinggal sepertiga. Menghembuskannya berat. Penuh kekhusyukan. Seakan kamu telah menformulasikan setiap momen dan beban yang kamu alami ke dalam sekali hisapan. Kamu hembuskan asapnya. Gumpalan  putih keabuan saat ini bergesekan dengan bekunya angin. Ya, aku tahu beban itu.

Tak ada kata terucap. Kamu belum juga menyentuh gelasmu. Gelas teh dengan batu-batu es mengambang itu telah kaku menunggu. Namun usahanya untuk tetap teguh menjadi percuma ketika titik-titik air di dinding gelas mulai meluncur ke dasar. Jika kamu tidak segera meneguknya, aku yakin dalam waktu kurang dari sepuluh menit teh itu akan meluber.

Pelan aku dekatkan wajahku ke cangkir di depanku, bermaksud meneguknya sedikit. Dengan cekatan tangan kirimu menyentuh wajahku dan melekatkan bibirmu di keningku. Dua detik. Empat detik. Semakin kabur dayaku untuk mengucap.

“apa yang sedang kamu pikirkan?”

Tanyamu setelah melepaskanku

“aku sedang berusaha untuk memahami.”

“apa yang ingin kamu pahami?”

“aku ingin memahami bahwa mungkin ada saatnya aku mengalah dengan intuisiku dan berdamai dengan keadaan.”

“Ini yang terbaik.”

“Bisa jadi. Namun apa kamu yakin ini akan membuat aku dan kamu bahagia?”

“aku tidak tahu. Tidak ada jaminan untuk itu. Namun bukan ini yang kita inginkan.”

“Aku ingin kamu bahagia.”

Nonsens.”

Aku tiba-tiba merasa muak.

“Itu benar. Aku aku ingin kamu bisa hidup tanpa harus merasa susah. Aku ingin melihat kamu bahagia. Itu sudah cukup buatku.”

“Kamu benar-benar egois.”

“Aku tidak ingin kamu susah. Darimana letak egoisnya?”

“Susah, tidak susah. Bahagia atau tidak bahagia. Itu semua aku yang rasa. Aku yang memutuskannya. Bukan apa yang kamu pikir aku rasakan. Kamu selalu berpikir kamu tahu cara terbaik untuk semua masalah. Kamu selalu berpikir dengan berkorban maka masalah akan selesai dan semua orang bahagia.”

Kamu diam. Lama kamu memandang ke arah jauh. Tanpa berkedip. Entah kenapa aku merasa badai di dalam dadamu siap membuncah dan aku pun tidak sanggup menahan kata-kata yang tersimpan.

“Pada akhirnya setiap malam kamu akan menemukan diri kamu marah dan mengutuk semua keputusanmu. Iya kan? Katakan aku benar!”

Wajahmu mengeras. Menatapku dingin dan berkata, “Mungkin memang itu akibat yang harus kutanggung. Penyesalan setiap malam. Bahkan setiap detik. Aku sudah biasa dengan penyesalan. Sudah tidak kaget dengan kekecewaan. Aku bisa hidup dengan semua itu.”

“Tidak. Kamu tidak bisa. Aku tahu itu. Sampai kapan kamu ingin seperti ini? Kamu tidak bisa seperti ini terus.”, jawabku dengan suara yang kali ini melemah. Aku mulai ragu dengan sikapnya. Mungkin saja segala yang telah ia lalui bersama memang tidak begitu berarti. Mungkin saja ia selalu menyiapkan perpisahan di setiap awal pertemuan. Namun aku tahu itu bukan dia. Dia tak bisa.

“Jika aku tidak bisa. Itu bukan urusanmu lagi. Aku akan berusaha untuk bertahan. Aku sudah biasa dengan ini.”

Aku merasa telah nyaris di garis batas. Segera kuhabiskan teh hangatku. Aku bisa merasakan wajahku menghangat.

Aku berdiri. Diam. Air di dalam gelasmu meluap. Meluber tak terkendali.

“Kamu tidak ingin tambah minum lagi?”, tanyamu

Aku menggeleng.

“Aku lelah. Apa kamu masih berpikir ada gunaku di sini? Untuk apa aku menawarkan diri kalau memang ini yang kamu inginkan?”

Aku memandang lekat wajahmu. Matamu. Kedua matamu menjadi layu.

Kamu segera berdiri, menarik tubuhku. Memelukku erat sekali. Tak pernah seerat ini sebelumnya.

Di saat seperti ini aku tahu. Kamu tahu.

Kata-kata itu percuma.

a tribute to december skies and you.

6 thoughts on “secangkir lagi”

  1. Entah kenapa, setting cerita ini kok rasanya cocok digambarkan di Kedai ya?
    Kata kata seperti sebuah seni yang tidak semua orang bisa miliki, dan kamu bisa mengalirkannya dari hati. Nicely written hunnceu :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s