Let’s Unite

Kampanye yang berawal dari spontanitas, #indonesiaunite masih segar dibahas di keseharian kita. Peristiwa ledakan bom di hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton yang (lagi-lagi) menelan korban ternyata “membangunkan” sadar kita.  Gerakan #indonesiaunite semakin menggaung. Ternyata, gerakan  ini kita bisa melihat dua hal. Satu, sadar begitu besarnya kita cinta dengan negeri kita. Kesadaran itu semakin nyata ketika melihat ternyata kita selama ini diam-diam bangga dengan negeri kita. Kenapa diam-diam? Karena sebagian dari kita selama ini belum cukup sering menyatakannya secara lisan. Diam-diam lebih senang pecel lele dengan sambel ulek daripada aglio olio spaghetti with anchovies. Diam-diam hapal lagunya Peterpan. Diam-diam ketagihan menyeruput wedang jahe dibanding hot mocha latte.

Ya, selama ini semua itu ada di depan mata kita. Namun kita belum cukup sering menunjukkan seberapa besar cinta atau bangga kita akan berbagai hal ‘Indonesia’, karena kita merasa itu biasa saja karena sejak dulu kita sudah akrab dengan semua itu. #indonesiaunite membuat kita berhenti sejenak dan berpikir, lalu mencoba mendaftar ulang apa saja yang kita cinta dari negeri kita ini.

Hal kedua yang muncul karena gerakan ini adalah kita menjadi sadar begitu banyak hal berharga di negeri kita yang sering kita lewatkan begitu saja. Kita selama ini menghabiskan waktu hidup kita di Indonesia. Bahkan mungkin sebagian besar hanya tinggal di Indonesia sejak lahir. Namun istilah ‘taken for granted’ dan ‘rumput tetangga lebih hijau’ sering membuah kita lengah akan kekayaan yang kita miliki. Indonesia memang belum menjadi negara populer seperti Perancis, Amerika atau Jepang yang diketahui dan menjadi destinasi favorit para penduduk dunia, bahkan penduduk Indonesia Indonesia sendiri. Namun sepertinya nih beberapa tahun ke depan, daerah-daerah cantik di Indonesia bakal jadi tujuan wisata favorit wisatawan lokal. Begitu juga produk-produk, terutama kerajinan, dari Indonesia. Semakin banyak warga Indonesia yang bangga memakai produk lokal.

Buat mereka yang belajar pemasaran atau tertarik dengan bidang pemasaran pasti akrab dengan istilah ‘words of mouth’. Bentuk penyebaran  informasi dari satu orang ke orang lainnya, melalui berbagai tehnik. Mulai dari secara langsung, telepon, SMS, hingga blog dan Facebook atau Twitter. Sebuah penelitian menyimpulkan hampir 90% orang Indonesia lebih memercayai rekomendasi teman atau keluarga saat memutuskan untuk membeli produk.

Jika Indonesia adalah suatu produk dan warganya adalah konsumen atau calon konsumen, maka jika kita menyebarkan informasi positif tentang Indonesia ke sekitar kita. Jadi kita juga ikut berperan meningkatkan kredibilitas negeri kita. Begitu juga sebaliknya, kalau kita bicara buruk tentang Indonesia, berarti kita juga berperan menurunkan kredibilitasnya. Apalagi sekarang teknologi informasi sudah demikian dashyatnya. Informasi yang positif maupun negatif bisa tersebar hanya dengan satu klik. ‘send’, ‘update’, ‘submit’, ‘publish’.

Sudah banyak lho teman-teman kita yang melakukan metode ‘words of mouth’ ini. Misalnya di urusan ‘jalan-jalan’. Kalau sepuluh tahun lalu, pilihan destinasi wisata lokal tak jauh-jauh dari  Bali, Lombok atau Manado. Sekarang ’surga-surga tersembunyi’ seperti Karimunjawa, Sikuai atau Cubadak sudah mulai dilirik. Kenapa? Karena wisatawan lokal sudah mulai  ‘menyiarkannya’ ke banyak orang. Teknologi internet berperan besar karena memudahkan kita menyampaikan dan mengakses informasi. Coba deh ketik nama ‘Karimunjawa’ di mesin pencari Google, dijamin hanya dalam waktu singkat kita bisa mendapat info lengkap tentang pulau indah itu. Nggak sekedar informasi penginapan saja, tapi juga review atau laporan perjalanan lengkap dengan tips yang dibuat oleh bloggers yang sempat mengunjungi Karimunjawa.

Nah, teknologi internet memungkinkan kita untuk menyampaikan informasi selengkap-lengkapnya. Nggak cuma sekedar tulisan singkat, tapi disertai juga dengan gambar bahkan video untuk menunjang informasi yang ingin kita sebarkan. Dengan begitu, mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia akan langsung dapat gambaran. Kalau kita bilang alam Indonesia itu sangat indah, orang pasti akan lebih yakin jika kita menunjukkan buktinya lewat gambar atau video. Kalau kita bilang kain tenun Indonesia itu cantik, jangan lupa foto kain tenun cantik itu dan tampilkan di blog, Facebook atau Twitter kita supaya lebih banyak orang yang tahu. Bisa jadi teman-teman kita yang melihat posting kita itu tertarik dan memberitahu beberapa temannya lagi, dan seterusnya.

Ya, salah satu cara menyelamatkan dan meningkatkan kredibilitas Indonesia adalah dengan menghargainya. Kalau mau dibuat perumpamaan yang sederhana, coba deh kita kembalikan ke diri sendiri. Kalau kita sering mengeluh tentang diri kita, bisa jadi orang sekitar kita akan punya persepsi negatif akan kita. Sementara kalau kita menghargai diri kita, dengan tetap memperbaiki diri tentunya, maka bisa jadi sekitar kita juga akan menerima dan menghargai kita. Begitu juga dengan negeri kita. Mari sebarkan keistimewaan negeri kita. Let’s unite!

Awal Agustus 2009

artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, Oktober 2009

5 thoughts on “Let’s Unite”

  1. Hmmm.. kalau memang penekanannya adalah metode ‘words of mouth’ saya kira dengan melakukan kampanye #indonesiaunite kemarin sangatlah ironis. Dan secara tidak langsung juga kontradiktif dengan misi penyebaran persepsi positif akan keberadaan Indonesia sekarang.

    Artinya kata #indonesiaunite sendiri akan terbaca oleh dunia dengan persepsi sederhana:

    “Lho selama ini Indonesia belum unite tho?”

    :)

  2. metode ‘words of mouth’ bukan untuk kampanye #indonesiaunite. #indonesiaunite hanyalah 1 momen kecil yg menunjukkan bahwa selama ini kita sering mengabaikan apa yang negeri kita miliki..konsep ‘words of mouth’ justru dilakukan untuk menyebarkan kekayaan yg dimiliki negeri kita ke sesama warga Indonesia dan tentunya orang-orang di negara lain :)

    1. Sebenarnya konsep words of mouthnya sendiri sih sepertinya tidak ada masalah. Hanya saja kalau ‘momentum’ yang diacu adalah ‘hype’ dari #indonesiaunite sepertinya sangat menyedihkan.

      Betapa kita sangatlah ‘bolot’ harus disadarkan dengan cara ekstrim seperti bom. Lalu sontak diaplikasikan hanya dengan teriakan-teriakan status, avatar, tweet bahwa kita musti unite! Yang artinya kita dengan lantang menyebarkan aib pada dunia bahwa selama ini kita tidak ‘unite’. Kalau sudah begitu bagaimana mungkin dunia mau melirik ke hal2 positif yang ada di Indonesia? Yang ada cuma menjadi bahan tertawaan saja. Bom lagi, unite lagi, bom lagi unite lagi.

      Saya melihat hal positif di metode words of mouth ini. Artinya kita melakukan hal kecil, sederhana yang semoga akhirnya berujung pada hasil yang kongkret. Namun jangan sampai akhirnya menjadi hal yang dilakukan sebatas ‘hype’seperti yang terjadi pada fenomena #indonesiaunite.

      :)

      1. nah, justru kondisi seperti ini menunjukkan seperti apa negeri kita.
        Tinggal pilihan kita aja..mau sekedar ‘bereaksi’ atau benar-benar ‘beraksi’
        :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s