Let’s Get Connected to the (real) world!

Dulu, fenomena ketergantungan dengan telepon genggam sering jadi topik yang hangat untuk dibahas. Sekarang, perangkat teknologi yang awam dipakai banyak orang tidak hanya telepon genggam atau akrabnya HP, tapi juga laptop, music player hingga blackberry (BB). Memang, HP masih menjadi “tentengan” wajib. Hanya kali ini fiturnya lebih gahar lagi. Mulai dari video call hingga GPS. Apalagi biaya untuk menikmati fasilitas teknologi ini juga semakin murah.

Nah, akhir-akhir ini saya mengalami tiga kejadian yang membuat saya berpikir tentang sebesar apa arti sebuah perangkat teknologi, terutama teknologi komunikasi, dalam kehidupan kita.

Pertama, ketika sedang berada di salah satu coffee shop sebuah mal. Saat masuk dan mulai ”menyapu” ruangan, saya melihat pemandangan yang agak berbeda. Lalu, saya mulai menghitung. Satu, dua, empat, enam… Paling tidak ada enam laptop nangkring dengan manis di meja-meja coffee shop. Setiap meja punya minimal dua penghuni plus satu laptop, dan si empunya laptop sibuk melototin layar “mainan kesayangannya”. Wah, pemandangan di sebuah kafe sekarang ini tidak saya temui saat dua tahun lalu. Sekarang, lebih mirip pemandangan di warnet daripada di kafe. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang datang berempat. Dua orang sibuk dengan laptop, satu sibuk dengan blackberry, satu lagi bengong dengan tampang kasihan minta diperhatikan. Ada yang datang berdua. Satunya sedang tenggelam dengan facebook atau youtube-nya, sementara satunya lagi membolak-balik majalah gratisan yang disediakan kafe itu.

Bentuk interaksi yang hangat, intim dan santai ala kafe sepertinya mulai jarang ditemui. Sebagian pengunjung, baik yang sendiri maupun berdua ataupun rombongan, justru menikmati kegiatannya intimnya dengan gadget masing-masing.

Kedua, ketika saya dan dua teman saya merencanakan cuti bareng sambil berlibur ke sebuah pantai. Awalnya sih bicara tentang lokasi pantai mana yang akan kami singgahi. Kemudian ketika mulai diskusi tentang barang apa saja yang dibawa, argumentasipun dimulai. Satu teman saya mengatakan kalau ia akan membawa semua perangkat komunikasinya. Mulai dari HP-, BB hingga laptop. Teman saya yang satu lagi menimpali, ia tidak akan membawa laptopnya tapi pasti membawa satu HP dan satu blackberry-nya. Saya spontan langsung mengeluarkan jurus-jurus kontra. Menurut saya, salah satu esensi berlibur adalah menenangkan diri. Termasuk dengan cara menjauhkan diri dari distraksi berbagai gadget yang biasa menggerayangi kita seiap hari. Email dari kantor atau klien, kolom-kolom surat kabar, tayangan di televisi, belasan SMS dari teman, deringan HP dan kotak-kotak instant messenger adalah hal-hal yang ingin saya bersihkan dari otak saya di saat berlibur. Apalagi semua perangkat itu butuh listrik. Malas juga membayangkan kami rebutan colokan untuk recharging. Mau liburan kok repot?

Nah yang ketiga adalah ketika saya sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Ketika kami sedang asyik ketawa-ketiwi, mengomentari cerita masing-masing, lama-lama kami sadar…kok ada suara yang kurang ya? sepertinya dari tadi yang seru ngerumpi cuma kami bertigaWah, ternyata satu teman kami itu malah asyik dengan BB-nya. Kami cuma bisa geleng-geleng kepala.

Tiga kejadian ini sudah cukup membuat saya berpikir betapa tergantungnya kita akan teknologi, apalagi teknologi komunikasi. Mungkin hampir semua orang setuju dengan ungkapan “Lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP” . Saya sendiri juga harus mengakui kalau saya lumayan bergantung dengan alat komunikasi ini sejak tujuh tahun lalu. Bahkan, saat tidur saya selalu menaruh HP tidak jauh dari jangkauan tangan. Mungkin hanya pada weekend atau sedang lelah sekali saja saya tidak menyalakan atau menjauhkan HP dari wilayah pribadi.

Ya, sejak 10-15 tahun lalu kehadiran HP sudah cukup menyita waktu pribadi kita, lalu sekarang muncul teknologi lain yaitu BB yang memastikan kita selalu terhubung dengan “dunia” di manapun kita berada. Namun, terasa ironis kalau segala bentuk teknologi ini tidak hanya memberi kemudahan tapi juga memberi efek negatif dalam kehidupan sosial kita, yaitu justru membuat kita terisolasi dan menjauhkan kita dari keintiman dengan orang-orang sekitar kita, termasuk orang-orang terdekat. Kafe yang biasanya merupakan simbol tempat bertemu untuk mengobrol santai dengan teman, sahabat atau orang tersayang, berangsur bergeser maknanya menjadi “warnet” dan para pengunjungnya sibuk membuat “kafe” di dunianya masing-masing, meskipun saat datang ke kafe mereka tidak sendiri. Kalau begini, jadinya bukan ‘jauh di mata dekat di hati’, tapi ‘dekat di mata jauh di hati’ karena secara fisik bersama namun tingkat keintimannya rendah. Lama-lama mungkin orang lebih nyaman berhubungan via twitter dibanding ngobrol langsung.

Kita semua tahu kalau HP, BB, laptop dan kawan-kawannya itu sangat membantu dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi yuk diingat kembali, apakah kehadiran perangkat-perangkat ini membuat kualitas hubungan kita dengan orang sekitar, termasuk orang-orang terdekat, jadi semakin baik atau sebaliknya. Tidak lucu juga kan kalau jadi sering diprotes teman atau pasangan karena nggak bisa melepaskan BB dari tangan saat ber-quality time? Jangan sampai momen yang (sebenarnya) kita miliki kehilangan makna karena kita sibuk menjelajah negeri maya. Selain itu, sesekali otak kita juga perlu rileks. Lagipula kalau setiap saat dibombardir informasi, bisa-bisa sensitivitasnya berkurang lalu kita lupa untuk memperhatikan sekitar dan kehilangan waktu berkualitas untuk orang-orang terdekat juga diri kita sendiri. Keep ourselves connected but don’t forget to stay in the real world.

artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, September 2009

4 thoughts on “Let’s Get Connected to the (real) world!”

  1. fenomena dlm postingan diatas, udah gue rasain dari 3 tahun lalu di kampus, udah nggak ada lagi groomin’2 after class… yg ada para mhs sibuk cari sinyal wifi di campuss.. bener juga bunyi teori komunikasi-nya McLuhan (kalo nggak salah)we live now in Global Village, We create the technology, but they in turn shape us!
    *anywayy jgn lupa mampir ke blog gue juga y…

  2. Iyaaa samaa euy!!! Cool!
    NB: ini bakalan jadi sebuah ironi menarik kalo lo nulis blog ini saat lo sedang nongkrong di coffeshop, dengan yudha yang sibuk dengan laptopnya juga :p

    Enjoy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s