rindu masa ‘kaset’

Hari ini memang hari Pemilu. Lumrahnya saya membuat tulisan tentang Pemilu, tapi saat membaca lagi tulisan tentang ‘album-album sakti’ yang saya buat 1,5 tahun lalu i, saya jadi ingin menulis tentang rasa kangen saya akan masa di saat saya mendengarkan album-album itu. Simpelnya saya namakan masa ‘kaset’. Ya, masa di mana kita “dipaksa” untuk mendengarkan tracks dari awal sampai akhir. Sekarang, kita cenderung memutar track yang kita suka berulang kali dan melupakan tracks lain.

Coba deh kita pikirkan. Sebuah album itu  idealnya hasil nyata dari sebuah konsep kreativitas yang digodok berbulan-bulan. Mulai dari temanya, musiknya, liriknya, atmosfirnya, urutan lagunya hingga visualisasinya, lewat album sleeve dan videoklip. Ngapain juga para musikus ini memperhitungkan urutan lagu? Ya, untuk mengatur mood pendengar saat mendengarkan albumnya. Ibaratnya sebuah film di mana kreatornya benar-benar mematangkan cerita supaya mood penonton terjaga, begitu juga dengan album di mana si pembuat album akan berusaha menformulasikan isi sebaik mungkin agar mencapai impresi tertentu saat album itu didengarkan secara utuh. Namun kalau dipikir lagi, sekarang ini buat apa capek-capek matengin konsep dan mikirin urutan atau atmosfir album? Wong, akhirnya pendengar hanya memilih satu atau dua lagu.

Sekarang, kalau ngomong album baru sebuah band/penyanyi, saat saya tanya, “Eh si A baru ngeluarin album, ya?”, lawan bicara saya langsung menjawab, “Iya, dan gue udah punya. Baru aja gue download kemarin. Lo mau? Besok gue kasih, deh!”. Ya, di satu sisi menyenangkan karena kita bisa dengan cepat mendapatkan album/lagu yang kita mau, tapi di sisi lain ada momen-momen ‘magic’ yang hilang. Sekarang? Tradisi membeli album di toko lalu pulang dan membuka CD/kaset dan mendengarkan dari track pertama hingga akhir sambil menikmati album sleeve-nya semakin jarang dilakukan. Ya, diam-diam saya kangen dengan ‘ritual’ itu. Saya masih ingat saat saya membeli album Monster-nya R.E.M. lalu saya putar dari track pertama. Saya bolak-balik album sleeve berwarna oranye itu, kemudian ‘first impression’ setiap lagu saya tulis. Buat saya, itu bentuk “tamasya” yang menyenangkan sekali.
Sekarang, saya semakin sering mendengar kalimat, “Iya, gue suka band A tapi ya dua lagu yang jadi single aja. Gue udah download tuh. Mau?”. Hmmm, “kuasa” kita untuk hanya memilih dan mendengarkan lagu yang kita suka, membuat kita menilai karya musisi hanya lewat satu atau dua karyanya. Menurut saya kondisi seperti ini jika dilihat dari sisi kreatif nggak fair bagi musikusnya dan nggak baik buat kita sebagai pendengar. Ya, teknologi serba mudah dan cepat memang memungkinkan kita memilih apa yang (kita pikir) kita mau, namun akhirnya membuat semakin banyak orang yang tidak mengapresiasi karya musik secara keseluruhan. Padahal musik (baca: album) itu kan salah satu bentuk karya seni yang paling dekat dengan kita dan layak dinikmati secara lengkap.

Well, lewat tulisan ini saya memang nggak pengen bicara dari sisi ekonomis, karena jika sudah bicara dari sisi komersial semuanya bisa “diatur”:p Oya, dan saya sengaja nggak memasukkan isu ringbacktone karena bisa lebih panjang dan miris lagi ;)

Bintaro, 9 April 2009

One thought on “rindu masa ‘kaset’”

  1. di cd kalo di ulang2 juga bisa rusak
    kalo taro di komp, kalo diulang2 juga bisa rusak ..,aka org2 sekeliling kita jadi bosen dengerin cinta melulu

    heuehuehuehuehue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s