dipilih hidup

Mereka tak bisa tidur.

Tak ada yang salah dengan mereka, begitu juga malamnya.

“Amalea, salahkah aku jika aku sering memikirkan tentang kematian?”

“Apakah kamu takut akan kematian?”

“Tidak. Aku tidak takut,amalea. Namun aku hampir selalu memikirkannya. Aku mulai khawatir ada yg salah dengan otakku.”

“Kamu tidak salah, Durata. Tidak ada yg salah akan kematian. Bukankah itu salah satu fase kamu, aku dan semua mahluk di bumi?”

“Ya tapi aku bisa gila.”

“Aku di sini, Durata. Aku akan mengingatkanmu.”

“Aku tidak mau jadi gila, Amalea. Aku ingin berpikir tentang hidup saja. Menghirup sari-sarinya yang tampak serampangan”

“Karena itu aku di sini, karena itu kamu di sini. Aku mungkin tidak akan membuatmu lebih bahagia, tapi aku ada. Ada di sini.”

Durata menatap lekat amalea.

“Ajari aku mengisi hidup,Β  Amalea”

“Hidup tidak bisa diajarkan, Durata. Ia terus berubah. Seribu nasihat tak akan pernah cukup. Seribu bekal tak akan pernah setimpal dengan kondisi. Namun aku, kamu ditakdirkan untuk hidup.”

Tak ada yang salah dengan mereka, begitu juga takdirnya.

bintaro, 2 agustus 2009

2 thoughts on “dipilih hidup”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s