menjadi duapuluhlima

Ya, sekarang kamu yang sedang membaca tulisan ini mungkin sudah lelah dengan puluhan cerita tentang menjadi ’20 something’. Ratusan tulisan, artikel, cerita, novel hingga film membahas tentang hidup di umur duapuluhan, dan lebih khususnya hidup di pertengahan duapuluhan. Sebagian orang mengatakannya ‘quarterlife crisis’.

Duapuluhlima. Bukan angka yang cukup friendly. Terlalu besar untuk menganggap diri masih remaja, namun terlalu gengsi dianggap dewasa dengan segala hal yang berhubungan dengan ‘settling down’. Paling tidak itu yang saya rasakan sebagai perempuan (lajang) di umur duapuluhlima. Saya tidak tahu persis apa yang dirasakan oleh lakilaki di umur yang sama. Apakah masih menganggap diri sama seperti empat atau lima tahun sebelumnya di mana yang ada di kepala adalah ‘hiduplah seperti tiada hari esok’ atau sedang mengisi pundi-pundi tabung ego dengan mengejar karir dan tentunya materi, atau sudah memikirkan tentang rencana hidup-tenang-berkeluarga-dan-tidak begajulan-lagi-karena-sudah-lelah. Saya tidak tahu, meski saya sering sekali berinteraksi dengan lakilaki berumur duapuluh lima hingga tigapuluh tahun. Saya sendiri berasumsi pikiran sebagian besar dari mereka adalah nomor satu dan dua, pilihan ketiga mungkin baru muncul ketika ada pasangan yang mendampingi dan pekerjaan dalam kondisi jenjang-dan-penghasilan-yang-terjamin.

Bagaimana dengan isi kepala perempuan di umur duapuluhlima? Saya bisa tunjukkan dengan materi obrolan mereka ketika bertemu. Pekerjaan-jodoh-pekerjaan-jodoh-jodoh-pekerjaan—jodoh-jodoh-pekerjaan-pekerjaan. Percayalah. Tidak pernah jauh dari topik tadi. Cukup beragam bukan? ;-) OK. Seperti apa sih obrolan tentang pekerjaan? Penghasilan OK tapi dengan bos dan rekan-rekan kerja yang berjiwa Dementor. Siap menghisap kebahagiaan seketika, tidak peduli kamu sedang butuh waktu untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Atau ini, pekerjaan sesuai impian namun rekening bank bagaikan terminal dengan nominal yang hanya datang dan pergi. Tak ada yang benar-benar singgah apalagi bertambah. Bisa juga ini, pekerjaan sesuai jurusan, gaji lumayan tapi selalu lembur hingga tengah malam plus akhir pekan hingga tidak ada waktu untuk keluarga, teman-teman dan pacar. ‘I have NO LIFE!”, itu yang diucapkan sahabat perempuan saya saat ia curhat tentang keadaan hidupnya. Nah, kira-kira begitu topik seputar pekerjaan yang biasa dibicarakan perempuan saat bertemu sahabat-sahabatnya.

Soal jodoh? Nah, yang ini tidak kalah beragamnya. Punya pacar atau tunangan, semuanya baik-baik saja dan dikenal sebagai salah satu pasangan paling serasi namun entah kenapa tidak kunjung yakin kalau ‘he’s the one’. Bisa juga kasus ini. Sudah bertahun-tahun pacaran tapi hubungan tidak pernah jauh dari status ‘it’s complicated’ dan terbiasa dengan kondisi hubungan seperti lampu yang sekarat, ‘on and off and on and off’. Terlalu ‘panas’ saat bersama namun terlalu takut hidup sendiri. ‘Cerita lama’ banget, kan? Tapi saya yakin kamu pernah mendengarnya atau mungkin mengalaminya. Topik ‘jodoh’ lain adalah selalu berakhir dengan laki-laki yang ‘salah’. Sudah berusaha mencari pilihan yang variatif namun setelah sekian kali mencoba dekat dengan berbagai macam cowok, kok lama-lama merasa seperti magnet yang sudah didisain hanya menarik jenis cowok yang sama : brengsek, bodoh atau bermasalah. Klasik? Ya, memang kisah-kisah kami hanya sekitar itu saja padahal menurut kacamata saya, mereka yang membahas topik-topik tadi adalah perempuan yang pintar, cantik, penampilan stylish dan mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan super. Kenapa sih dua topik itu terus yang jadi isu langganan obrolan perempuan? Ya, mungkin karena dua topik itulah yang selalu dan akan mempengaruhi kehidupan kita di masa depan. Simpelnya begini, dalam bidang karir di umur sekarang sudah bukan saatnya coba-coba pekerjaan lagi. Sudah saatnya memutuskan karir kayak gimana yang ingin dijalani karena seperti bakal telat deh kalau baru memutuskan saat di umur 29 atau 30 tahun. Dalam bidang jodoh, (banyak yang bilang) sudah bukan saatnya main-main lagi. Bukan waktunya cari pacar, tapi cari calon suami. Ya, calon pasangan yang akan ada di saat kita bangun pagi, sarapan, makan malam, nonton TV, tidur malam selama puluhan tahun ke depan. Wow, big deals! Yup, begitulah rasanya hidup di usia duapuluhlima (atau duapuluhan). Situasi “mengkondisikan” kita untuk bisa bijak mengambil keputusan-keputusan yang signifikan karena keputusan-keputusan itu sangat mungkin mempengaruhi kondisi kita di masa depan. Namun di satu sisi, seringkali kita merasa clueless. Bingung memilih apa yang terbaik buat kita. Itu belum ditambah dengan tekanan dari lingkungan seperti orangtua dan keluarga. Kalau sudah begitu, perasaan takut salah, takut gagal, takut kecewa memborbardir pikiran. Wah-wah-wah, rasanya situasi itu seperti ‘knock on the head’ yang menyadarkan bahwa “Hey, wake up girl! Sudah bukan waktunya lagi being careless and free. Banyak keputusan penting yang harus kamu tetapkan.

Akhirnya saya mencoba berpikir. Memutar kembali puluhan obrolan dan curhatan seru yang dilakukan oleh para perempuan duapuluhlima ini. Well, sepertinya semua itu tentang pilihan dan menentukan sikap. Kenapa sih kita nggak kunjung selesai membahas problem di kantor? Karena kita belum menentukan sikap akan situasi yang terjadi di kantor. Kenapa sih kita nggak kelar-kelar bingung memilih antara jadi diplomat, copywriter atau buka butik? Karena kita nggak kunjung berani untuk memilih. Kenapa sih kita nggak bisa juga lepas dari hubungan berstatus ‘it’s complicated’ ini? Ya, karena kita belum berani untuk berbuat tegas pada diri sendiri. Selama kita belum berani untuk melangkah dan menentukan sikap, isu-isu itu akan terus muncul.

Yeah, I know, being twentyfive is hard. Kadang rasanya ingin kembali ke masa kecil. Kalau kata John Mayer, “stop this train. I wanna get off and go home again. i can’t take the speed it’s moving in. I know i can but honestly won’t someone stop this train.” Rasanya ingin loncat ke kondisi di mana semuanya terasa sederhana dan mudah. But well, life is a journey. Hidup itu belajar. Entah saat kita berusia lima, delapanbelas, duapuluhlima, tigapuluhempat atau limapuluhenam tahun. Tetap dan akan selalu menjadi proses belajar. Memang banyak keputusan signifikan yang mungkin sudah dan akan kita, para perempuan duapuluhlima ini, putuskan. Keputusan itu mungkin tepat, mungkin juga keliru. We’re only human, right? dan kalau kita nggak pernah keliru, maka kita nggak pernah belajar. Asalkan kita selalu jujur dengan diri sendiri dan berani menentukan sikap, kita pasti akan ‘tumbuh’. Takut menentukan sikap lah yang membuat kita kembali menghadapi masalah yang sama. Yeah, mungkin hingga beberapa tahun ke depan isi curhatan saya atau kamu dengan para sahabat masih akan tetap berputar di tema yang sama, tapi semoga kita sadar untuk belajar lewat pengalaman-pengalaman sebelumnya, jadi kita bisa lebih bijak menyikapi apapun yang muncul di depan dan sekitar kita.

Bintaro, Maret 2009

artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, Juni 2009

9 thoughts on “menjadi duapuluhlima”

  1. perempuan duapuluhlima, kita hanya harus salah seribukali, dan benar sekali, so c’mon make your own decission(s)! ganbatte! *sambil menyemangati diri sendiri* :-D

    nice article, mbak.. telak! :-)

  2. 25, eh? been there.. ;)
    gimana rasanya jadi 25? mungkin sperti kata kamu, sama sperti menjadi 5, 18, atau 56. tetap akan dihadapkan pada suatu titik di mana harus menentukan pilihan dan menjalaninya.
    yeah, life’s a journey. yg lebih penting adalah perjalanannya. kalo takut memulai langkah, pura-puralah berani..!! :) :)

  3. good! i’ve read it! hehehe

    being 25? it’s something extraordinary, just like every year on your life… we face a new age every year and that is extraordinary, cause you can not repeat it… hehe

  4. iya ya…kenapa kalau sudah umur dua puluhan, yang inget diomongin soal kerjaan,jodoh,kerjaan,jodoh,bosen…. hahahaha…hal sehari-hari yang complicated…. =P

  5. 25 thn..wah udah 1/4 abad ya…harus lebih dewasa :-)
    Indonesian women usually looking for husband on that age, as you said on this post ;-)
    Kata orang jodoh ga ke mana…
    Tapi harus usaha juga kan :-)
    Semoga Nike cepat mendapat yg diinginkan di 25 ini.
    Amin :-)

  6. I really loved being my 25 last year…

    we should make own decision…

    Allah tahu segalanya, kita cuma bisa menjalani PILIHAN kita…

    bener nik, kita harus buang jauh2 segala ketakutan kita untuk menentukan PILIHAN atas hidup kita.
    ntah itu salah atau pun bener nantinya.

    waktu gak akan menunggu kita,
    tapi akan terus berjalan.

    bagus topiknya…

  7. Haduh.. kalo pangjang umur sih this year aku dua lima say.. Being 20 something is hard nampaknya ya.. huhuhu.. Nice writing, ciyee yg mampir di CLEO.. uhuy!! ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s