naik kereta tut.tut.tut

Sudah hampir dua tahun ini saya jadi penumpang kereta ekpres AC Sudirman dan Ciujung. Awalnya saya sempat ragu (dan sedikit jiper) menggunakan transportasi ini. Maklum, kalau mendengar kata ‘kereta ekonomi’ kan pasti yang muncul di pikiran saya adalah kereta yang panas, bau, berdesakan sampai tahap kaki tidak bisa menyentuh lantai karena saking sesaknya. Saat kuliah dulu, saya sering sekali mendengar cerita teman-teman saya yang kebetulan penumpang tetap kereta ekonomi. Katanya mereka baru saja satu gerbong dengan kambing lah, ayam lah sampai bapak-bapak pervert.Belum lagi jadwalnya yang kabarnya sering molor. Waktu itu, sepertinya kereta sudah saya hapus dari daftar transportasi umum. Namun, ketika mulai bekerja di kantor yang berlokasi sekitar Thamrin, pilihan untuk menggunakan kereta sebagai transportasi pergi-pulang kerja saya masukkan. Kebetulan saat itu kakak saya juga bekerja di sekitar Sudirman dan katanya kereta yang ia tumpangi selama ini selalu tepat waktu dan nyaman. Saya yang awalnya ragu akhirnya mau mencoba kereta Sudirman ekpsresΒ  (Serpong-Tanah Abang). Ditemani kakak saya tentunya, karena kalau tidak dijamin baru sampai stasiun sudah kelimpungan.

Ternyata testimonial kakak saya benar. Keretanya nyaman dan tepat waktu. Tanpa harus berdesakan atau satu gerbong dengan ayam atau kambing. Kalau bapak-bapak pervert saya nggak tahu, deh. Toh, kalau ada yang pervert kan gerbongnya lega jadi bisa langsung kabur. Akhirnya, gambaran kereta panas-bau-sesak itu lumayan terkikis dari pikiran saya. Memang sih, harus mengeluarkan biaya lebih untuk bisa naik kereta ekspres AC ini, tapi buat saya, kalau mau dibandingkan dengan naik bus atau kendaraan pribadi. Kereta lebih hemat dan efisien, terutama dari segi waktu. Setiap pagi saya harus sampai kantor maksimal jam 06.30 karena ada program talkshow live jam 7 pagi. Kalau naik kendaraan pribadi atau bus, saya pasti harus berangkat dari rumah jam paling telat jam 05.45. Sementara dengan kereta, saya bisa naik KRL Ciujung jam 06.05 dan sampai di stasiun Palmerah jam 06.15. Tinggal naik ojek dan saya sudah bisa sampai di kantor saya yang sekarang ada di daerah Senayan sebelum jam 06.30. Meskipun sedikit ironis karena ongkos ojek saya (Palmerah-Senayan) lebih mahal dari ongkos kereta (Bintaro-Palmerah). Namun dari segi waktu sangat efisien.

Begitu juga saat pulang. Meski tidak selalu dapat tempat duduk, tapi paling tidak saya cuma perlu berdiri sekitar 20 menit. Bayangkan kalau harus pulang naik bus. Sudah panas, penuh, macet pula. Memang sih ada bus feeder yang menyediakan jalur Sudirman-Bintaro, tapi lagi-lagi waktunya habis di jalan.

Nah, sepertinya sebentar lagi saya harus pamitan nih dengan si Sudirman ekspres dan KRL Ciujung karena nggak lama lagi saya akan pindah kantor. Calon kantor saya ini lokasinya di Kemang. Kereta dan bus sudah dicoret dari daftar transportasi pergi-pulang. Sepertinya saya akan kembali menggunakan kendaraan pribadi. Kembali bertemu jalan macet di mana saya harus rela terjebak di mobil selama (mungkin) satu atau dua jam. Mungkin saya akan kembali melakukan aktivitas favorit kalau sedang nyetir mobil sendiri, dengerin lagu sambil ikutan sing-a-long dengan volume suara nggak kira-kira terus joget-joget sendiri. Aktivitas yang nggak layak saya lakukan kalau saya sedang di atas kereta.

Pastinya saya akan kangen dengan kereta. Suara saat kereta berjalan dan gerbong-gerbongnya beradu itu sering mengingatkan saya akan pengalaman berkereta saat masih kecil dulu. Penumpangnya yang beragam, mulai dari ibu guru, bapak-bapak karyawan BUMN, mbak-mbak cantik dan modis, bule berbaju batik sampai anak-anak sekolah. Saya sering iseng mendengarkan percakapan para penumpang, soalnya kadang saya suka menemukan topik-topik yang lucu atau aneh. Lumayan buat bahan inspirasi.

Kereta juga membuat saya lebih terbiasa untuk jalan sendiri ke tempat asing. Kalau bukan karena kereta, saya kayaknya nggak akan deh menyentuh daerah stasiun Tanah Abang. Dulu, dengar namanya saja sudah malas. Ternyata ya biasa saja. Memang sih harus hati-hati dan (kalau bisa) jangan di sana pas malam hari, tapi ternyata nggak seseram yang dibayangkan.

Kereta membuat saya setuju dengan pernyataan, “coba dulu baru komentar”. Hey, dengan kereta saya juga ikut andil dalam ‘melegakan jalanan Jakarta’. Paling tidak saya bisa bicara, “Ayo, hemat energi” tanpa terlihat seperti omong kosong. Selain itu, naik kereta memberi saya waktu dan ruang untuk ‘mikir’ (atau mengkhayal atau ngelamun).

Kalau sudah begini, saya jadi ingin mendengarkan lagi ‘soundtracks‘ favorit saya kalau sedang naik kereta. ‘Star Guitar’-nya Chemical Brothers dan ’25 to Midnight’-nya Sting.

‘train i ride, don’t be slow.Β  if your whistle can blow.Β  15 miles of track. tell them i’m coming back..’

bintaro, awal mei 2009

7 thoughts on “naik kereta tut.tut.tut”

  1. Huah.. Kak nik.. Kalo aku enough for us a train.. Mau ac ekonomi ataupun express sama2 seperti kandang.. Ga bisa napas,sesek dan bercampur bau2 aduhai.. Waktu jam kedatangan juga ga pernah presisis.. Gimana masyarakat indonesia bisa on time kl transportasinya kaya gini.. Hehehe..

  2. hehe.iya, chiks. untungnya kalo KRL ekspres AC (ini kasus Ciujung krn aku pake ciujung) itu 90% on time. jarang bangettt telat. selalu sampai stasiun jam 06.04

  3. Ah, gini-gini kangen juga lho sama kereta… bisa sekalian olahraga soalnya, ngejar kereta yang udah mau berangkat atau ngejar omprengan di Tanah Abang (yang melibatkan naik-turun tangga dulu) :D.

  4. Haha.. kereta oh kereta, nikeee.. 7 tahun neik kereta, aku pikir aku sudah pro! ternyata saya salah! setelah 7 tahu, baru deh kecopetan.. Tapi kamu belom tahu seninya naik kereta kalo cuma naik kereta ac doang, ki sanak.. hehe.. Karena kalo kamu udah pernah naik kereta ekonomi depok-jakarta jam setengah 7 pagi, atau tebet-depok setengah 7 malem, kamu akan ngerasa kalo kereta AC itu surgaaaa transportasi jakarta. UHUY!

    PS: pindah kantor apa pindah kerja niks?? di mana??!

    *titiwygkangennaikkereta*

  5. penggambaran yang menarik….gw juga suka naek kereta. terutama tebet depok. karena emang seringnya itu buat ke kampus hahahha. naek kereta jam 6 pagi itu emang enak bgt buat merenung sambil dengerin mp3. bah kalo soundtrack naekkereta gw itu: you only live once – the strokes. sama high & dry nya radiohead:)

  6. @ezra : wah sering telat? kalo keterusan kayak gitu, peminatnya bisa makin sepi tuh.
    @berandalan : ya, memang paling enak kalo naik kereta dilengkapi dengan soundtracks ;) enjoy ur ride

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s