setiap detik.setiap menit

Hari ini saya berencana untuk pulang lebih cepat. Biasanya saya pulang kerja di atas pukul enam sore, namun karena sedang berpuasa maka saya berniat sampai ke rumah sebelum waktu buka. Jadi, saya langsung meninggalkan kantor jam 15.30. Kalau biasanya saya langsung menuju halte bus yang ada di seberang kantor, hari ini saya ingin naik kereta. Sudah lama sekali saya tidak naik kereta saat pulang kerja. Nah, karena saya ingin naik kereta maka saya harus ke stasiun Sudirman. Jalan yang saya tempuh menuju stasiun Sudirman lebih jauh dibanding jika saya naik bus. Jadi saya harus jalan kaki dari kantor saya yang berada di Senayan City ke Ratu Plaza, dan dari sana saya baru naik bus lalu berhenti di stasiun yang terletak di daerah Dukuh Atas itu.

Berjalanlah saya ke halte Ratu Plaza. Sampai di sana, saya dengan pedenya langsung masuk ke dalam Kopaja yang kebetulan berpenumpang sedikit. Hap, duduk manis di dekat pintu bus. Sore itu mataharinya lumayan sangar tapi bayangan gerbong kereta yang sepi dan sejuk sudah di dalam kepala jadi hawa panas nggak begitu terasa lagi. Namun ternyata bayangan berada di atas kereta nyaman itu harus buyar ketika bus yang saya tumpangi belok kiri menuju Gatot Subroto. Damn, saya salah bus! Ini pasti bukan bus jurusan Thamrin. Saya langsung siap-siap turun saat bus mendekati Plaza Semanggi. Sambil mengecek waktu di HP, “OK, 15.40. kereta jam 16.15. Masih ada waktu”, saya bergegas turun dan langsung menggunakan jurus ‘jalan cepat tanpa ngesot’ menuju halte Bendungan Hilir yang berada di dekat kampus Atmajaya. Lumayan juga kan jalan cepat dari daerah Plaza Semanggi ke halte Transjakarta Bendungan Hilir? Belum lagi jalan di haltenya lumayan panjang. Sesampainya di halte, wah-wah-wah ternyata antriannya lumayan ramai. Tak apalah, mudah-mudahan frekuensi Transjakarta yang lewat lumayan tinggi jadi saya tidak perlu berlama-lama di sini, apalagi jadwal kereta pulang ini menurut pengalaman saya selalu tepat waktu.

Akhirnya saya naik Transjakarta yang kedua. Sudah jam 16.00. Dag-dig-dug tapi ya sudahlah. Mulai berharap semoga keretanya tiba-tiba terhambat di tengah jalan dan akhirnya telat sepuluh menit. Jam 16.05 saya sampai di halte Dukuh Atas. Halte yang paling dekat dengan Stasiun Sudirman yang sudah setahun tidak saya sambangi. OK, sepertinya butuh perjuangan keras dan kekuatan berjalan super dengan kecepatan turbo supaya saya bisa sampai di stasiun sebelum jam 16.15, dan matahari masih belum rela turun panggung. “Sh*t…OK, nik. Ayo kamu bisa!”. Saya berjalan cepat. Lengkap dengan adegan menyosor beberapa orang yang kebetulan berjalan di depan saya. Tapiiiiiii, setelah berjalan sekian puluh meter, saya baru sadar kalau saya salah jalan. Saya malah berjalan menuju halte lain. Ya, kamu tahu kan kalau halte Dukuh Atas itu punya jembatan yang panjang dan belok-belok itu? Nah, saya sempat dengan langkah gegap-gempita dan tanpa lihat kiri-kanan berjalan ke arah…halte yang ke Pulogadung!

Saat sadar saya langsung muter balik. Itupun dengan acara lihat sana-sini dulu karena lumayan malu. Hiks, padahal jalan dari tempat turun menuju trotoar juga lumayan jauh. Sempat terpikir untuk menyerah dan memilih naik bus ke arah Ratu Plaza saja supaya nanti di sana bisa naik TransBintaro dan pulang dengan tenang, tapi NGGAK BISA. Saya sudah bertekad untuk pulang naik kereta dan sampai di rumah sebelum jam enam sore hari ini! Perjuangan harus diteruskan meski sekarang sudah jam…16.10!!!

Kembali berjalan dengan kecepatan turbo di bawah terik matahari sore yang mengada-ada. Kedua kaki mulai terasa sekit. Eits, jangan bilang manja atau nggak biasa jalan kaki. Kedua kaki saya ini dua hari yang lalu baru saja kram saat saya pulas tidur. Kaki kiri sekali, kaki kanan dua kali. Sumpah, nggak enak banget! Jadi saat bangunan hijau-kuning stasiun Sudirman mulai terlihat, kedua kaki ini sudah mulai nyeri. Sepuluh meter dari pintu stasiun. Sayup-sayup terdengar pengumuman dari arah stasiun. “Waduh, jangan-jangan itu kereta yang ke arah Bintaro…”. OK, saya berusaha mempercapat langkah kaki dan kembali menggunakan jurus ‘nyosor’ karena lalulintas pejalan kaki lumayan padat. Sesampainya di loket, mas penjaga loket senyam-senyum sambil ngomong, “Mbak, yang jam setengah enam ya. Keretanya baru aja berangkat”.

Lemas….

Akhirnya saya membeli tiket kereta jam 17.29. Sekarang jam 16.19. Masih ada waktu sekitar satu jam. Ya, dengan langkah sedikit lunglai saya menuju peron stasiun yang saat itu lumayan padat. Wah, sekarang stasiun ini jadi ramai pedagang. Dulu seingat saya hanya ada penjual majalah, penjual buah dan penjual minuman-makanan kecil. Sekarang selain yang saya sebutkan tadi ada juga penjual bakso pangsit, penjual kue-kue kecil, penjual keripik pedes, dan lain-lain. Banyak lah pokoknya. Saya sedang lumayan lelah dan situasi sedang ramai jadi agak sulit menyusuri peron stasiun Sudirman ini. Setelah bengong sekitar sepuluh menit (lagi-lagi sempat terpikir naik bus menuju Ratu Plaza lagi), akhirnya saya dapat tempat untuk duduk. Saat duduk, sempat meratapi nasib selama satu menit lalu mulai berpikir,

“OK, saya punya waktu satu jam di sini. Saya nggak tahu Tuhan sedang memberi pelajaran sore ini, namun saya sepertinya dipaksa untuk diam selama satu jam. -merogoh tas- Damn, saya lupa bawa earphone! OK, yang pasti kamu nggak bisa menghabiskannya dengan mendengarkan Depeche Mode, Thom Yorke atau Dave Matthews Band, nik.”.

Saya bengong. Satu menit. Dua menit. Lalu melihat ke dalam tas saya. Oya, saya belum selesai baca majalah Tempo yang saya bawa tadi pagi. Akhirnya waktu setengah jam habis untuk membaca sejarah Sutan Sjahrir. Tempo selesai. Kali ini apa? Akhirnya saya mulai menyapu pandangan sekitar Stasiun ini. Saya mulai menikmatinya. Di depan saya ada seorang mbak bertubuh subur yang menjual keripik singkong pedas dan dadar gulung. Ia menyusun bungkus-bungkus keripik itu dengan telaten. Tidak terburu-buru. Saya membayangkan diri saya menyusun bungkus-bungkus itu. Sudah pasti buru-buru dan grasa-grusu. Tapi tidak dengan mbak ini. Saya jadi makin sadar kalau saya orangnya memang nggak sabaran dan sepertinya peristiwa sore ini salah satu bentuk teguran buat orang nggak sabaran kayak saya. Lalu saya memperhatikan para pembeli keripik ini. Memang benar perempuan dan laki-laki itu berbeda. Setiap pembeli berjenis kelamin perempuan pasti memilih setiap bungkus keripik dengan teliti. Dibolak-balik dulu. Dilihat keripik-keripik di bungkusan mana yang paling menggugah selera alias banyak sambelnya. Diperhatikan satu per satu, lalu mengambil dua-tiga bungkus dan membayar. Sementara kalau laki-laki. Datang, langsung menyambar satu bungkus dan dibuka lalu disantap sambil meminta sembilan bungkus lagi ke mbak penjual. Bayar lalu pergi dengan mulut masih asyik mengunyah keripik oranye membara.Saya nggak akan menemukan pemandangan unik ini kalau saya nggak duduk lama di peron ini.
Akhirnya kereta yang ditunggu datang juga, dan saya harus berjibaku dengan penumpang lain saat masuk ke gerbong. Ya, penumpang kereta jam empat sore dan jam setengah enam sore memang punya perilaku berbeda. Penumpang jam setengah enam sore lebih “beringas”. Mungkin karena jumlah penumpang jauh lebih banyak sehingga kesepatan mendapat tempat duduk lebih kecil. Saya pun harus puas berdiri. Saya sudah nggak tahu lagi tampilan diri saya seruwet apa saat itu mengingat saya sedang full makeup karena siangnya saya jadi korban sesi foto dadakan. Mungkin eyeliner hitam saya sudah bleber ke mana-mana :p

Entah kenapa perjalanan kereta kali ini sangat sangat lamban. Biasanya waktu tempuh Sudirman-Bintaro hanya memakan waktu sekitar tigapuluh menit. Namun sudah 30 menit dan saya masih di sekitar Palmerah. Ya, lumayan juga berdiri di kereta, sudah begitu AC-nya juga tidak sejuk. Mungkin karena penumpangnya banyak. Tapi entah kenapa saya sudah tidak kesal lagi. Dinikmati saja. Diam-diam saya juga menguping percakapan ibu-ibu di sebelah saya. Keduanya sama-sama berasal dari Magelang dan sepertinya bekerja di kantor yang sama. Salah satunya baru saja kehilangan ibunya yang memang sudah sepuh. Selebihnya, saya hanya bengong menatap Jakarta di balik jendela.

Sampai di stasiun, saya disambut dengan gerimis. Gusti, terimakasih atas teguran-Mu hari ini kepada hamba-Mu yang memang tidak sabaran dan mudah kesal ini. Saya langsung berlari menuju gerombolan ojek. Hap! “Bang, jalan Mandar, ya”, lalu ngeeeeeng menuju rumah.

Di rumah, Ibu saya sedang menonton TV dan Bapak sedang mandi. Setelah mengobrol sambil melahap kue-kue kecil yang saya beli di stasiun (laper, maklum puasa), saya langsung ambil wudhu dan shalat. Nikmat. Sehabis itu saya makan malam. Kebetulan ada menu favorit,nasi hangat dan sepotong ayam panggang buatan Ibu. Malam dihabiskan dengan menonton TV, makan dan mendengarkan orangtua saya menceritakan tingkah laku cucu-cucu.

Entah kenapa semua terasa menyenangkan. Sederhana namun menenangkan. Saya bisa saja memilih untuk marah-marah dan mengutuk nasib saya sore ini. Namun saya tetap berpikir, kalau saya sampai rumah jam sembilan malam (seperti yang biasa saya lakukan selama ini), saya pasti nggak mendapatkan suasana ini. Meski sore ini tidak berjalan sesuai rencana saya, namun saya tidak kecewa. Saya menikmati setiap menit yang ada, meski itu berarti menunggu di stasiun yang padat dan gerah setelah ketinggalan kereta.

Saya belajar.

Belajar menikmati setiap detik, setiap menit yang diberikan pada saya.

Seperti sore ini :)

Senayan-Bintaro, 16 Maret 2009

6 thoughts on “setiap detik.setiap menit”

  1. Ah.. aku merinding bacanya niks.. nice2.. emang tuh kadang2 kamu akan surprised dengan omongan2 orang di sekitar yang lalu lalang.. Eh btw kalo salah bus ke gatsu bisa ketemu aku dong..? hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s