Inspirator [Ikranagara]

Ikranagara (Loloan Barat, Jembrana Bali. 19 September 1943) adalah salah satu figur yang hidupnya selalu dekat dengan seni. Ia lahir dan besar di Bali, sebuah daerah yang begitu lekat dengan seni. Kemampuannya di bidang sastra membuatnya yakin memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Di era 70 dan 80an, ia aktif di film dan teater. ‘Bernafas dalam Lumpur’, ‘Keluarga Markum’ dan ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ adalah sebagian dari filmnya. Kemudian, ia memutuskan pindah ke Amerika selama sembilan tahun. Setelah kembali ke Indonesia, ia terlibat dalam film garapan Garin Nugroho, ’Di bawah Pohon’ dan juga film terbesar tahun ini (dari segi jumlah penonton dan kritik), ’Laskar Pelangi’.

Saat menerima tawaran sutradara Laskar pelangi, Riri Riza, untuk bermain di Laskar Pelangi, Pak Ikra, begitu beliau biasa disapa, mengaku tak tahu apa-apa tentang novel Laskar Pelangi dan penulisnya, Andrea Hirata. Maklum, ia baru saja pindah ke Jakarta. ”Saat Riri menelpon, saya pikir ia mau bertanya tentang anak saya yang kebetulan satu sekolah dengannya saat di Jakarta. Ternyata ia meminta saya main film.”, begitu kata Pak Ikra. Namun bagi mereka yang sudah membaca novelnya, kemungkinan besar akan setuju kalau sosok Pak Harfan, kepala sekolah yang bijaksana namun idealis, ini dibawakan dengan baik sekali oleh aktor senior ini.

Pertama kali bertemu Pak Ikra, atmosfir hangat langsung terasa. Apalagi saat itu beliau masih berpenampilan ’Pak Harfan’ dengan baju koko dan peci. Sosoknya yang bersahabat membuat obrolan pagi terasa mengalir. Meski mengaku tidak sesabar dan seidealis Pak Harfan, namun kesan kebapakan jelas terpancar.

Berikut ini adalah hasil tanya-jawab saya dengan Pak Ikra lewat surat elektronik sebelum beliau menjadi narasumber di program talkshow yang saya kerjakan bulan September lalu. Kebetulan cerita yang ia bagi di sini tidak begitu berbeda saat di talkshow.

foto oleh nik.e

Semangat seni anda didapat darimana? Apakah dari keluarga atau karena anda tumbuh di Bali, daerah yang kaya akan seni?

Saya sejak kanak-kanak suka menggambar dan mendengarkan dongeng, selain juga gemar menonton pertunjukan seni tradisional Bali. Setelah bersekolah, saya masih terus menggambar, dan guru memuji-muji gambar saya, baik yang polanya realis maupun pola wayang kulit tradisional Bali. saya juga suka membaca buku cerita, dan mencoba menulis cerita juga, untuk pelajaran “mengarang” di kelas. Jadi, sejak masih kanak-kanak saya tampaknya sudah kelihatan punya bakat melukis dan menulis.

Sedangkan soal akting, ketika masa kecil itu saya suka nonton film. Yang paling saya suka adalah film Tarzan. Nah, ada sungai Jogading yang membelah kota kelahiran saya, yaitu kota Negara ibukota kabupaten Jembrana itu. Saya suka ngeluyur sendirian menyusuri sungai, sambil menghayal menjadi Tarzan! Ya, saya juga punya monyet piaraan, yang saya bawa menyusuri sungai yang membelah kota kelahiran saya itu. Dan tentu saja saya suka mempraktikkan teriakan “Auoooo…” yang populer itu. Bacaan? Tentu saja buku komik Tarzan!

Tapi setelah di SMA, yang mendorong saya menekuni kesenian, yaitu melukis dan menulis adalah Bu Guru yang menjadi direktris SMAN di Singaraja. Beliau bernama Ibu Gedong Bagus Oka. Sekolah kami menyediakan sarana berupa Majalah Dinding, dan saya aktif menjadi salah seorang redakturnya, Saya pun menjadi pengisi tetap berupa puisi, cerpen, ilustrasi. Majalah Dinding itu juga dikelola oleh Putu Wijaya. Ya, saya dan Putu adalah siswa yang aktif di bidang kesenian. Nah, kemudian ada grup teater dari Yogyakarta yang menampilkan karya Anton Chekov dalam bentuk penyajian teater arena yang sederhana. Setelah itu, Putu dan saya membentuk grup teater di sekolah kami, dan mementaskan drama. Saya sempat menampilkan karya drama saya yang pertama “Perempuan di Warung itu” di aula SMA kami.

Jadi, Bu Gedong atau juga dikenal sebagai Bu Oka adalah yang mendorong saya dan Putu, dengan menyediakan fasilitas kepada kami untuk berkiprah di bidang sastra, lukis dan teater. Pada masa kami di SMA. Bu Oka juga yang memperkenalkan saya kepada seni modern Barat lewat buku-buku seni rupa yang ada di perpustakaannya.


Ketika sampai di Jakarta, apakah anda benar-benar total menjadi seniman atau anda juga bekerja di luar bidang seni?


Sebelum Jakarta, saya di Yogya dulu, kuliah di UGM, Fakultas Kedokteran. Tapi Yogyakarta itu kan memang kota kesenian! Jadi, yang lebih saya tekuni adalah kesenian, bukan kuliah-kuliah saya itu. Saya meneruskan kegiatan kesenian saya, tapi tidak lagi di dunia lukisan, melainkan di dunia sastra dan teatrer. Puisi dan cerpen saya dimuat di Majalah Sastra & Budaya “Horison”. Pertama kalinya ketika saya di Yogya, dan pemuatan itu saya anggap sebagai ijazah terpenting, semacam pengakuan, bahwa saya adalah sastrawan. Sementara itu, di Yogya saya terus aktif di bidang teater, sebagai aktor, penulis naskah dan juga sutradara. Sempat juga saya bergabung dengan Putu Wijaya yang juga kuliah di UGM ketika itu, yaitu di Fakultas Hukum. Kami mendirikan grup teater, Putu sebagai sutradara dan saya sebagai salah seorang aktornya. Kami mementaskannya di berbagai kota di Jawa tengah, Jawa Timur dan Bali.



Anda mendalami teater dan film. Dari kedua cabang seni peran itu, yang mana yang paling memuaskan anda?

Sebenarnya saya tidak berniat sebelumnya untuk main dalam film. Saya menganggap seni teater lebih serius ketimbang film yang terlalu banyak kecenderungannya sekedar menjadi hiburan pengisi waktu itu. Ya, ada juga memang film yang tidak begitu. Tapi umumnya memang begitulah! Maklum film itu kan seni media massa.

Jadi, habitat saya sebenarnya ya di teater, sedangkan di film itu kalau saya suka saja kepada ceritanya, kepada peran yang diberikan kepada saya, dan percaya kepada sutradaranya, bahwa yang akan dihasilkan tidaklah sekedar hiburan pengisi waktu kosong saja.

Bahwa film memang memberikan peluang untuk tampil sebagai karya seni yang serius, itu sih mungkin saja, dan memang banyak film yang seperti itu. Untuk dunia film di Indonesia ada misalnya karya Syumanjaya, Teguh Karya, Arifien C Noer, sekedar menyebut beberapa nama saja. Yang belakangan muncul mencuat melebihi yang lain adalah Garin Nugroho, terutama dengan karyanya “Opera Jawa” itu yang menempatkan dirinya sebagai filmmaker taraf internasional. Dia seorang maestro! Dari dulu saya ingin  diberi kesempatan untuk main dalam filmnya. Akhirnya saya dapatkan kesempatan itu dalam filmnya terbaru ’Di Bawah Pohon’ (Film ini juga diputar di Jiffest 2008)

Ketika baru saja saya kembali ke Jakarta, dia telpon, katanya mau bikin film di Bali. Lewat telepon, ia bilang mau ketemu saya. Nah, saya pikir dia mau menjadikan saya sebagai narasumber tentang Bali. Rupanya dia punya rencana lain, dia mengajak saya main dalam filmnya! Garin pun nyerocos menceritakan tentang film yang akan dibuatnya di Bali itu. Juga nyerocos penuh semangat menceritakan salah satu tokohnya, bernama Darma, yang ia sediakan untuk saya perankan! Jadilah saya kemudian ikut main dalam filmnya yang seluruhnya dibuat di Bali itu.


foto oleh nik.e


Lalu, bagaimana dengan Laskar Pelangi?

Setelah selesai syuting, saya pun kembali ke Jakarta. Tak berapa lama Riri Riza menelepon saya. Saya kira dia akan menanyakan tentang putra sulung saya yang tinggal di Amerika itu, Sebab mereka satu kelas sampai lulus SMA di Lab School Rawamangun. Rupanya saya salah duga, dia ngajak saya main dalam filmnya. Dia sebut judulnya, dan juga nama pengarangnya. Sungguh saya tidak tahu apa-apa, sebab saya kan baru kembali ke Jakarta. Saya tidak kenal siapa itu Andrea Hirata. Apa itu novel Laskar Pelangi. Namun, akhirnya saya pun membaca novelnya itu, dan kemudian skenarionya. Dari situ saya menilai bahwa skenarionya, juga buku novelnya tentu saja, akan bisa melahirkan film yang bermutu dan penting untuk dibuat. Peran yang ditawarkan kepada saya pun membuka peluang kepada saya untuk menampilkan kekayaan seni akting saya. Karenanya saya dengan senang hati ikut main dalam filmnya itu.

Laskar Pelangi juga memiliki momen-momen dramatik yang mengasyikkan. Momen yang saya sukai adalah ketika saya harus tampil dengan monolog di depan kelas. Adegan yang menuntut kemampuan seni vokal saya itu akan selalu saya ingat sebagai pengalaman yang penting saya dalam seni akting saya. Juga kesempatan bermain dalam satu adegan dengan Slamet Rahardjo di film ini, merupakan kenangan yang indah untuk saya. Dia seorang aktor yang tumbuh bareng dengan saya. Ia satu generasi dengan saya. Dia di grupnya Teguh Karya, saya di grupnya Arifin C Noer, tapi kami belum pernah tampil bareng dalam sebuah adegan. Saya berharap suatu ketika kelak, atau mungkin dalam waktu singkat nanti, siapa tahu, kami berdua kembali mendapatkan peluang seperti itu lagi.. Wah, alangkah bahagianya saya! Dia aktor yang sudah jadi, matang, dan sudah banyak makan garam! Kapan ya ada yang mau bikin film yang bagus ceritanya dan memberikan peluang kepada saya dan Slamet untuk tampil bersama lagi? Tapi dalam porsi yang tuntas dan utuh!

Terimakasih banyak untuk Pak Ikra yang telah mengijinkan saya mempublikasi tanya-jawab ini.

4 thoughts on “Inspirator [Ikranagara]”

  1. saye ayus,, dari loloan, seme tepatnye,, kate datok ncu mana katenye apa’ penter dalem segi seni perfilman, ayus engen le belajar bedik-bedik coz ayus ajak kawan -kawan taen mawa’ ken puisi yang apa’ buat yang jodolnye WIRID SOBO tu…..!!!

    kalo apa’ nengok ni….! minta tolong bales ke …

    pecok_loloan@yahoo.com

    by. ayus loloan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s