pagi terakhir di dunia

Dan pagi ini ia merasa bahwa ini hari terakhirnya di dunia.

Ia membuka mata dan berpikir bahwa ini terakhir kali ia bangun dari lelapnya.Kedua kakinya menyentuh ubin dan ia merasa bahwa ini terakhir kalinya tubuhnya menisik bumi. Hujan di balik jendela. Ini yang terakhir.Β  Wajah di cermin. setiap garis punya kisahnya sendiri. satu garis di kening adalah tentang gundahnya saat mencoba menarik garis di antara nasib. garis halus di tepian bibirnya adalah tentang dua kelahiran dalam hidupnya. Hadirnya dua pelita hati yang menjadi elemen pembakarnya. Genggaman mungil yang selalu membuatnya rindu. Tawa renyah tanpa beban yang membuatnya lupa akan lelah. Semburat kecewa ketika ia mengabaikannya. Atmosfir dingin ketika bersama dua pelita hatinya. Luapan benci ketika ia dianggap tak juga kunjung memahami harapan mereka. Rasa kosong yang menjalar saat menyadari dua pelita hatinya telah merangkai garis hidupnya sendiri. Ini kerutan abadi dan tak akan bertambah lagi.

embun

Ia usapkan embun di kening dan kelopak matanya. Kehangatan masa kecil yang tak bisa diulang lagi. Sungguh dulu ia begitu benci dibangunkan saat langit timur belum memudar. Namun ibunya tak pernah sekalipun lupa menepuk punggungnya dan itu berarti ia harus segera meraih sarung dan bergegas ke surau. Sepuluh tahun terakhir, ia selalu terbangun saat sahutan memanggil itu bergema. Ia tetap memejamkan mata, berharap Ibu menepuk punggungnya. Namun itu tidak terjadi. Tidak dalam sepuluh tahun terakhir ini. Ia hanya berpura-pura itu akan terjadi. Ia hanya berharap itu dapat terulang lagi. Sekarang ia tahu, ini terakhir kalinya melepas harapan.

cincin

Cincin di atas meja rias tersiram kuning pendaran lampu. Ia pasang cincin itu di jari manisnya. Matanya menoleh ke arah istrinya. Masih bermain di dimensi mimpi. Ia tahu itu. Kedua bola mata di balik kelopak istrinya masih bergerak-gerak. Pelan-pelan ia menyentuh bahu lalu lengan halus istrinya. Dihirupnya hangat kulit istrinya. Biarkan bibirnya menelusuri lembut bahu istrinya. Ini yang terakhir.

“Tak usah cemas, sayang.”

Kamu tahu, selama kamu masih bisa mengingat apa yang telah kita rangkai maka aku akan hadir di sana. Selama kamu masih ingat ketika jari-jari mungilmu dengan lincahnya mencari celah di antara sela jemariku. Selama kamu masih ingat malam ketika berdua dan tidak satupun dari kita bersuara, namun itulah malam di saat kegaduhan hanya kita yang merasakan.

Pagi ini

Pagi ini hanya kusimpan untukku. Ini pagi terakhir kamu menemaniku. Tak usah kau buka matamu atau ucapkan apapun. Pagi bersama kamu dengan cara seperti ini sudah cukup untukku. Jika kamu bangun nanti dan mencariku. Mungkin kamu akan merasa gelap ketika kamu tahu bahwa aku sudah tidak perlu kamu cari lagi. Namun aku tahu. Aku tahu kamu akan mengerti. Kamu akan mengerti, sayangku. Seperti kamu memahamiku selama ini, di mana bukan benar dan salah lagi yang menjadi masalah. Hanya ada kamu dan aku, suamimu. Aku membuktikannya. Pada akhirnya bukan kertas penilaian yang kita adu sebagai pembuktian. Sakit dan sesal kita yang rasa. Kehilangan kita yang rasa. Kehadiran kita yang rasa. Senang dan syukur juga kita yang rasa. Tak ada yang lebih benar dan lebih salah. Aku sudah membuktikan. Pagi terakhir ini, kamu dan aku saja, istriku. Aku tahu kamu mengerti, seperti selama ini kamu mengerti.

Ia melangkah keluar. Pagi terakhirnya hening. Hanya gemuruh angin yang terdengar. Namun bukan gemuruh dengan sulutan kegelisahan yang dulu membuatnya gusar. Ini gemuruh yang meyakinkannya, bahwa ini adalah pagi terakhirnya di dunia.

Ia menarik nafas.

Menahannya.

Dua detik.

Lima detik.

Gemuruh melebur dengan hening.

Bintaro-Senayan, 31 Agustus – 1 September 2008

selamat ke-25 untuk saya

4 thoughts on “pagi terakhir di dunia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s