Bara dan Baja

Semburat langit perlahan menjadi gradasi abu lalu jingga.

Lampu-lampu proyek putih-putih masih terpancar.

Aku menatap lekat kilasan-kilasan di balik kaca jendela.

Ah, langit yang perlahan terang. Sekarang masih redup, namun tak lama lagi akan menjadi biru muda. Ternyata aku sudah lama tidak bertemu dengan gradasi abu jingga ini. Sudah lama. Sudah lama aku tidak merasakan suasana ini. Duduk di kursi belakang taksi. Sendiri. Berusaha memejamkan mata, namun tak pernah berhasil.

Dulu, hanya kamu yang aku ingat. Sekarang, gradasi abu jingga di langit mengingatkan aku kembali akan kamu.

Aku sudah hampir lupa dengan kamu. Paling tidak aku berusaha untuk melupakan kamu.

Mencoba menyibukkan diri dan pikiranku supaya tidak ingat kamu. Namun ternyata langit hari ini mengingatkan aku lagi tentang kamu. Padahal aku sudah hampir lupa.

Sekarang, di saat aku mengira aku sudah hampir lupa dengan kamu, ternyata aku masih ingat dengan kamu.

Ingat sekali.

Seperti kamu baru saja muncul di depanku tadi malam.

Padahal kamu sudah lama sekali tidak hadir di depanku.

Sudah lama sekali.

Langit yang akhirnya mengingatkanku pada kamu membuatku sadar bahwa kita sudah setahun tidak bertemu.

Kenapa sekarang ketika akhirnya aku mengingatmu semuanya jadi terasa sangat nyata.

Setiap detil. Setiap nada. Setiap sentuhan. Setiap detak. Setiap degup.

Nyata.

Sangat nyata.

Aku ingat benar apa yang menggeliat di dada ketika kamu menelpon hanya untuk bertanya aku sedang apa. Aku ingat seberapa kencang degupku bahkan ketika kamu hanya menggangguku lewat sebuah pesan singkat di pagi hari. Lalu tatapanmu ketika jeda pembicaraan kita. Langkah kakimu yang tak pernah lelah. Aku ingat semua. Aku ingat. Bahkan di saat seperti ini. Di saat aku sedang tidak ingin mengingatnya. Hanya karena langit pagi ini aku terpaksa mengingatmu. Sungguh, aku tidak ingin. Jika bisa, aku ingin mengumpulkan semua memori itu dalam sebuah kotak lalu aku bakar dan abunya aku sebarkan di laut hingga lenyap dimakan angin. Kemudian aku bisa hidup tenang.

Hidup tenang sudah bagaikan gambar pemandangan indah di sebuah kartupos bagiku. Sangat jelas dan aku bisa membayangkannya lalu tersenyum karenanya, lalu sadar bahwa itu hanya sebuah kartupos. Kartupos dengan gambar yang ditangkap oleh fotografer handal yang mampu merekam sudut dan momen yang tepat hingga gambar itu tampak jauh lebih istimewa daripada yang sebenarnya.

Aku ingin percaya bahwa gambar kartupos itu benar-benar ada, namun terlalu banyak faktor yang membuatku ragu bahwa kenyataannya memang seindah di kartupos. Jangan hakimi aku karena bersikap apatis. Memang hidupku sudah semakin asing dengan ketenangan. Sejak ada kamu. Kamu datang dan semuanya berubah. Tentunya aku tidak bisa menyalahkanmu karena perbuatanmu juga didukung oleh perbuatanku dan jika aku memutuskan untuk mengambil langkah lain pasti sekarang aku tidak akan di sini. Memandangi gradasi langit yang sebentar lagi memudar dan mengingat kamu.

Tidak, aku tidak menyesali apa yang sudah aku jalani. Mengingat hidupku yang sudah tidak tenang lagi tidak membuatku ingin memutar waktu dan mengubah semuanya. Jika aku bisa memutar waktu, maka aku kembali dengan kondisi di saat itu dan aku pasti akan mengambil langkah sama yang kuambil saat itu. Jadi apa gunanya memutar waktu kalau akhirnya akan berada pada titik yang sama seperti sekarang. Tidak penting bagiku. Tidak ada gunanya. Meski sesekali aku berpikir bagaimana jika aku mengambil langkah berbeda waktu itu.

Bagaimana jika aku memilih untuk tidak menoleh?

Bagaimana jika aku memilih untuk menyingkir sebelum kamu menyodorkan tanganmu?

Bagaimana jika aku memilih untuk tidak datang hari itu jadi aku tidak akan bertemu dengan kamu?

tapi bagaimana jika aku memang ditakdirkan untuk bertemu dengan kamu, meskipun aku memutuskan untuk tidak datang hari itu?

Bagaimana jika pertemuan aku dan kamu memang ditakdirkan ada, entah bagaimana caranya. Lalu aku lelah memikirkannya. Memikirkannya tidak akan pernah menemukan tanda titik. Tak akan. Jadi aku memutuskan untuk mencoba berhenti bertanya dengan kata-kata awal “Bagaimana jika” karena tidak akan ada ujungnya. Namun aku tidak pernah berhasil untuk tidak bertanya. Pertanyaan itu selalu timbul di saat tak terduga atau di saat yang tidak terhindarkan. Lalu aku menjadi semakin lelah, dan mulai tidak ingat kapan terakhir kali bertanya tanpa dua kata awal “bagaimana jika”. Sekarang, aku kembali bertanya dengan “bagaimana jika”. Sekarang aku lelah bertanya. Sekarang aku lelah berpikir aku terlalu banyak bertanya.

Langit semakin memudar. Gradasi abu jingga berubah menjadi seperti warna krim di atas cappucinno panas. Kamu sangat suka cappucinno panas tanpa gula. Tapi bukan hanya kamu saja yang suka cappucinno. Ia juga suka cappucinno. Hanya ia suka cappucinno dingin dan manis. Ia selalu memesan cappucinno dingin. Ia selalu memesan minuman dingin. Ia tidak suka minuman tanpa es. Ia selalu memastikan minuman yang ia pesan sudah dingin benar. Begitu juga jika di rumah. Ia tidak pernah meminum air tanpa memasukkan batu-batu es. Lalu ia meminumnya dengan nikmat. ia tidak pernah minum kurang dari dua gelas. begitu pula ketika di restoran atau di warung. Ia selalu meminum paling tidak dua gelas. Dua cangkir. Dua botol. Tak pernah kurang dari dua.

Aku sering berpikir mungkin ia memang membutuhkan minuman yang sangat dingin untuk melelehkan bara di dalamnya. Entah berapa banyak gelas dan puluhan, ratusan batu es yang ia perlukan untuk memadamkan percikan di dalamnya. Kadang aku berpikir ia memiliki bara abadi di dalam tubuhnya dan puluhan ribu gelas air berisi ratusan ribu es batu pun tidak akan bisa mematikannnya. Mungkin bisa membuatnya membeku sesaat, namun akan berpijar lagi.

Kadang, baranya membuatku berbinar seakan energi pijarnya juga tertangkap oleh tubuhku dan aku ikut berpendar. Kadang, pijarnya menyelamatkanku ketika aku tersudut dalam kegelapan. Pijarnya membuatku tahu ke mana untuk melihat. Baranya membuatku terbangun kembali. Baranya membuatku ikut terbakar. Namun kadang bara itu membuatku lelah. Membuatku tersengal kehilangan jeda untuk bernafas. Pijarnya membuatku ingin berlari jauh darinya supaya aku tidak tersulut panasnya.

Dan aku memang mengambil langkah untuk menghilang darinya.

Lalu aku menghilang dengan kamu. Kamu yang jarang berkata. Kamu yang selalu kutunggu untuk membalas khayalanku hingga aku berkali-kali berjanji pada diriku sendiri untuk menyerah. Kamu yang selalu ada ketika aku merasa terbakar.

Haus. Haus. Haus.

Ketika terbakar, aku haus perisai baja dinginmu yang selalu menjadi tempat berlindungku. Kamu dan sentuhan jemarimu yang menjalarkan dingin ke dalam saraf-sarafku hingga tak terasa lagi bekas sulutan bara. Lalu aku menatap lekat matamu. Matamu yang jarang kau pinjamkan untukku hingga membuat aku ingin merampoknya lalu menikmatinya sendiri. Ya, aku hanya mau menikmatinya sendiri saja.

Hanya untukku dan aku tidak ingin membaginya.

Namun tidak begitu dengan kamu.

Kemudian aku lelah.

Lelah bermain-main dengan imajinasiku tentang kamu. Lelah mengikuti arah jejakmu. Lelah menyusuri sudut misterimu. Lelah berpikir tentang kamu, juga tentangnya. Mungkin sebenarnya aku lelah pada diriku. Mendengar anganku menjerit setiap detik seperti berada dalam keramaian pasar malam di saat terserang vertigo, dan kemudian keadaan kembali gelap gulita dan mataku seperti buta. Aku mulai mengais secercah pijar. Namun kini pijarnya tak lagi hanya menawarkan kehangatan. Aku harus berhati-hati karena jika tidak aku bisa habis tersulut.

Sejak itu aku kalut. Tak tahu di mana harus bersarang.

Langit sudah terang biru dengan serat-serat awan.

Ponselku berbunyi nada yang sangat kukenal. Kuraih dan kulihat layar ponsel itu.

Bara

Reject

Taksi terus melaju. Masuk ke pintu tol menuju luar kota.

Senayan-Bintaro, 18-19 Juli 2008

7 thoughts on “Bara dan Baja”

  1. cing,,, ini harusnya di split jadi 2 part nih!!

    >> Sekarang, aku kembali bertanya dengan β€œbagaimana jika”. Sekarang aku lelah bertanya. Sekarang aku lelah berpikir aku terlalu banyak bertanya <<
    ini bagian yang paling gua suka… harusnya bisa jd closing di segmen 1 lo.

    ps: pertanyaan tidak selamanya bersanding dengan jawaban sebagai titik akhir!! usah berpikir… mari berkelakar, tapi jangan ajak saya berzikir, lebih baik kita mereguk segelas bir!!!

  2. wuih panjang….
    yup teru nulis ya….
    jangan menyerah….
    Belanda masih jauh….(ya iyalah diujung sono)
    thanks dah mampir…..
    mampir lagi ya……

  3. sistaaa…
    suka lah aku…
    n jujur, ini mengherankan…
    karena aku kan ga gitu suka ama hal2 yg berbau novel and melankolisme gituh hehe
    tapi…
    yg kamu tulis buat aku…semuanya gampang dicerna
    mungkin karena sama kali yg dialamin
    tapi aku bisa ngerasain n ngerti semua arti dari kiasan dalam kata yg kamu tulis ituuh
    hehehe

    mana cepetaaan yg ke-3 dunks hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s