dekat di mata, jauh di hati

Dulu, fenomena ketergantungan dengan telepon genggam sering menjadi topik yang hangat untuk dibahas. Sekarang, perangkat teknologi yang awam dipakai banyak orang tidak hanya telepon genggam atau akrabnya HP, tapi juga laptop, music player hingga blackberry. Memang, HP masih menjadi “tentengan” wajib. Hanya kali ini fiturnya lebih gahar lagi. Mulai dari video call hingga GPS. Apalagi biaya untuk menikmati fasilitas teknologi ini juga semakin murah. Mungkin anda masih ingat ketika dulu seseorang perlu membayar sekian ratus ribu untuk membeli satu nomor perdana. Sekarang, uang untuk membeli satu nomor perdana bahkan tidak cukup untuk membeli satu paket Burger King.

Nah, akhir-akhir ini saya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya berpikir tentang sebesar apa arti sebuah perangkat teknologi, terutama teknologi komunikasi, dalam kehidupan kita.

Pertama, ketika sedang berada di salah satu coffee shop sebuah mal. Saat masuk dan mulai ”menyapu” ruangan, saya melihat pemandangan yang agak berbeda. Lalu, saya mulai menghitung.

Satu, dua, empat, enam…

Paling tidak ada enam laptop nangkring dengan manis di meja-meja coffee shop. Setiap meja punya minimal dua penghuni plus satu laptop, dan si empunya laptop sibuk melototin layar “mainan kesayangannya”. Wah, pemandangan di sebuah kafe sekarang ini tidak saya temui saat dua tahun lalu. Sekarang, lebih mirip pemandangan di warnet daripada di kafe. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang datang berempat. Dua orang sibuk dengan laptop, satu sibuk dengan blackberry, satu lagi bengong dengan tampang kasihan minta diperhatikan. Ada yang datang berdua. Satunya sedang tenggelam dengan facebook atau youtube-nya, sementara satunya lagi membolak-balik majalah gratisan yang disediakan kafe itu.

Bentuk interaksi yang hangat, intim dan santai ala kafe sepertinya mulai jarang ditemui di kafe yang saya masuki atau lewati. Sebagian pengunjung, baik yang sendiri maupun berdua ataupun rombongan, justru menikmati kegiatannya intimnya dengan gadget masing-masing.

Kedua, ketika saya dan dua teman saya merencanakan cuti bareng sambil berlibur ke sebuah pantai. Awalnya sih bicara tentang lokasi pantai mana yang akan kami singgahi. Kemudian ketika mulai diskusi tentang barang apa saja yang dibawa, argumentasipun dimulai. Satu teman saya mengatakan kalau ia akan membawa semua perangkat komunikasinya. Mulai dari HP-nya (yang ada empat buah itu) dan satu laptop. Teman saya yang satu lagi menimpali, ia tidak akan membawa laptopnya tapi pasti membawa satu HP dan satu blackberry-nya. Saya spontan langsung mengeluarkan jurus-jurus kontra. Menurut saya, salah satu esensi berlibur adalah menenangkan diri. Termasuk dengan cara menjauhkan diri dari gangguan duniawi yang biasa menggerayangi kita saat menjalani hari-hari normal. Email dari rekan kerja atau klien, kolom-kolom surat kabar, tayangan di televisi, belasan SMS dari teman, deringan HP dan kotak-kotak messenger adalah hal-hal yang ingin saya bersihkan dari otak saya di saat berlibur. Berlibur untuk mencari ketenangan, dan banjir informasi yang dikeluarkan oleh perangkat-perangkat tadi pasti akan membuat liburan menjadi kurang tenang. Apalagi perangkat itu kan butuh listrik. Saya malas membayangkan kami rebutan colokan untuk recharging. Mau liburan kok repot banget?

Nah yang ketiga adalah ketika saya sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Ketika kami sedang asyik ketawa-ketiwi, mengomentari kisah masing-masing, lama-lama kami sadar…kok ada suara yang kurang ya? sepertinya dari tadi yang seru ngerumpi cuma kami bertiga. Oalah, ternyata satu teman kami itu malah asyik berinteraksi dengan blackberry-nya. Saat diprotes, perempuan manis tinggi semampai ini malah menjawab, “Ini lagi ngobrol sama X”. X adalah salah satu teman dekatnya yang kami kenal juga. Wah, kami cuma bisa geleng-geleng kepala.

Tiga kejadian ini sudah cukup membuat saya berpikir betapa tergantungnya kita akan teknologi, apalagi teknologi komunikasi. Ungkapan “Lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP” seudah semakin umum didengar. Saya sendiri toh tidak bisa memungkiri kalau saya juga lumayan bergantung dengan alat komunikasi ini sejak tujuh tahun lalu. Sekarang, saat tidur saja saya selalu menaruh HP tidak jauh dari jangkauan tangan. Hanya pada saat akhir pekan atau sedang capek saja saya tidak menyalakan atau menjauhkan HP dari wilayah pribadi. Bisa dibilang saya juga korban HP.

Meski hampir menyebut diri sebagai budak teknologi, saya masih sering bertanya-tanya kalau melihat teman atau orang lain yang mampu memiliki lebih dari tiga HP sekaligus dan ketiganya aktif (Kalau saya budak, mereka apa ya?). Bukan, bukan kemampuan finansial yang membuat saya bertanya-tanya, tapi kemampuan otaknya melakukan peran multi fungsi. Apalagi kalau kejadiannya begini : Ketika sedang bicara dengan HP 1, HP 2 berdering, lalu menjawab telepon HP 2, lalu kembali ke HP 1, lalu masuk SMS di HP 3, lalu membalas SMS di HP 3 sambil terus mengobrol dengan HP 1. Waduh! Apa otaknya nggak mumet, ya?

Ketika kehadiran HP sudah cukup merampok waktu pribadi kita, lalu muncul teknologi lain yaitu laptop lengkap dengan fasilitas internet super cepat dan blackberry yang memastikan kita selalu terhubung dengan “dunia” di manapun kita berada. Tentunya perangkat ini sangat membantu kegiatan kita sehari-hari. Semua serba praktis. Mau kirim foto atau dokumen, tinggal diunduh lalu kirim lewat email. Ukuran besar atau kecil nggak masalah. Semua bisa diatur. Kalau kangen dengan pacar atau anak di rumah, raih HP dan aktifkan fasilitas 3G lalu video call, deh. Pokoknya serba mudah dan beres. Namun, terasa ironis kalau segala bentuk teknologi ini tidak hanya memberi kemudahan tapi juga memberi efek negatif dalam kehidupan sosial kita, yaitu justru membuat kita terisolasi dan menjauhkan kita dari keintiman dengan orang-orang sekitar kita, termasuk orang-orang terdekat. Itulah yang terjadi pada kejadian pertama yang saya ceritakan. Kafe yang biasanya merupakan simbol tempat bertemu untuk mengobrol santai dengan rekan atau sahabat, berangsur bergeser maknanya menjadi “warnet” dan para pengunjungnya sibuk membuat “kafe” di dunianya masing-masing, meskipun saat datang ke kafe mereka tidak sendiri. Biasanya mereka membawa pasangan atau teman-teman. Kalau begini, jadinya bukan ‘jauh di mata dekat di hati’, melainkan ‘dekat di mata jauh di hati’ karena secara fisik bersama namun tingkat keintimannya rendah.

Kalau begini harus bagaimana? Saya tidak akan memberi nasihat mem-PHK perangkat canggih yang ada di dekat anda sekarang atau memberitahu tips-tips mengontrol diri dari banjir informasi. Kita semua tahu kalau HP, internet, dan kawan-kawannya itu sangat membantu dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi yuk diingat kembali, apakah kehadiran perangkat-perangkat ini membuat kualitas hubungan kita dengan orang sekitar, termasuk orang-orang terdekat, jadi semakin baik atau sebaliknya. Tidak lucu juga kan kalau jadi sering diprotes teman, pasangan atau anak karena nggak bisa melepaskan HP dari tangan saat akhir pekan? Jangan sampai momen yang kita miliki kehilangan makna karena kita melanglang buana ke negeri maya. Selain itu, sesekali otak kita juga perlu rileks. Kalau setiap saat dibombardir informasi, bisa-bisa processor-nya ngadat dan sayangnya otak kita tidak seperti komputer yang bisa diformat ulang. Kalau sudah begitu, bagaimana mau hidup nikmat? Lagian gawat juga kalau harus diformat ulang, nanti memorinya hilang semua.

Senayan, 18.59 WIB. 15 Juli 2008

PS: Buat sahabat-sahabatku tersayang. Maaf menggunakan kalian sebagai contoh. Tenang, kita semua memang budak teknologi ;)

 

 

 

 

 

3 thoughts on “dekat di mata, jauh di hati”

  1. digitalcommunicationworld,
    satu hal buat gw pribadi,
    gw aja kadang kelupaan berkomunikasi dengan PEMILIK.
    sampai2 hardisk kita kepenuhan sama duniawi.
    padahal klo dipikir, jika PEMILIK memformatnya,
    tamatlah riwayat kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s