Seribu Rupa

Manusia seribu rupa

Sungguh tidak tertera
Tersenyum polos
Lalu menyeringai kasar
Menatap kosong
Lalu tertawa lepas
Terkadang bingung
Terkadang sinis
Terkadang menggelegak
Seperti ada energi yang terus memompa
Lalu diam
dan bertanya
“Bagaimana dengan kamu?”

Sekitar Bintaro, Awal Februari 2008

 

7 thoughts on “Seribu Rupa”

  1. Seribu rupa? Atau Seribu sifat?? Atau seribu sifat itu menjelma ke dalam rupa manusia??

    Ah, manusia memang cerdas.. mengkombinasikan sifat dan rupa
    mempermutasikan rupa dan sifat

    Senyum di bibir dengan dendam di hati..
    Keberingasan di wajah dengan kelembutan di sanubari..

    Manusia memang cerdas..

  2. @ ika : terima kasih, ika

    @ taliguci : mungkin seribu sifat yg akhirnya trgamparkan lewat rupa, atau justru satu sifat yang memang sengaja ingin ditutupi dengan menggunakan seribu rupa sehingga orang bingung apa sifat sebenarnya ;)

  3. Aku suka dengan puisi – puisi nya

    itulah kamuflase yang sering terjadi dimuka bumi ini, sehingga seringkali orang lupa untuk mengenali diri sendiri……., semoga itu tidak terjadi pada kita ya….

  4. @ eti : terima kasih. ya, mudah-mudahan orang-orang seperti ini tidak semakin banyak atau paling nggak kita dikasih “kemampuan” untuk mengenalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s