setara

duduk di atas sofa

laki-laki menghinggapkan telapak kaki kanannya di tepi meja

perempuan menekuk kedua kakinya di atas sofa

keduanya berbincang

tawa kecil

bercerita tentang sahabat si perempuan yang baru saja punya pacar

membicarakan banjir

membahas tentang perilaku atasan si laki-laki

berdebat tentang di mana tempat tinggal yang ideal

berbicara tentang kebun bunga Oma si perempuan yang kini jadi apotek hidup

sesekali tertawa panjang

sesekali diam sejenak

bukan kehabisan bahan pembicaraan

hanya ingin diam

tapi senang

tidak ingin bicara tentang politik

tidak ingin bicara tentang agama

tidak ingin bicara tentang gender

tidak ingin bicara tentang krisis

tidak ingin bicara tentang pengadilan

tidak ingin bicara tentang bencana

tidak ingin bicara perbedaan

laki-laki mengeluarkan gunting kuku dari tasnya

ia menggunting kuku-kuku kaki perempuan

Bakoel Koffie, awal April 2008 – Bintaro, tengah Juni 2008

7 thoughts on “setara”

  1. i know how it feels… (been-there mode: on)
    selalu ada bayangan menyenangkan tentang cinta. namun saat ini saya tidak membayangkan tentang makan malam romantis dalam temaram lilin. saat ini saya sedang membayangkan duduk bersisian dengan dia di halaman belakang rumah di suatu sore seperti hari-hari biasanya. dan setelah lama larut dalam percakapan akrab, saya dan dia kemudian terdiam, memandang kepada entah apa, sibuk dengan pikiran masing-masing, tetapi berbagi kehadiran, berbagi keberadaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s