Dunia Entertain yang Stylish namun bikin Bete

Gw OTW, ya

“Tadi malam gw baru nonton Iron Man. Keren banget, tapi kadang-kadang jokes-nya slapsticks, sih.

Eh, weekend ini ke mana?”

Duh, bete nih kerjaan nggak abis-abis.”

Empat kalimat tersebut memiliki kesamaan, yaitu menggunakan istilah asing, atau lebih tepatnya Inggris. OTW yang merupakan akronim dari ‘On The Way’ sudah menjadi istilah umum di masyarakat, khususnya Jakarta. Padahal kalau dicermati lagi sebenarnya kalimat “gw OTW, ya” kurang tepat, karena kalau dijadikan bahasa Inggris 100% maka menjadi “I’m on the way”. Sementara kalimat yang  tepat adalah “I’m on my way”.

Pada kalimat kedua, ada kata jokes dan slapsticks. Dua kata ini agak sulit dicarikan padanan kata bahasa Indonesianya. Humor untuk joke terasa tidak pas. Lalu bagaimana dengan slapstick? Sepertinya perlu sedikit memeras otak untuk mencari kata dalam bahasa Indonesia yang bisa mengganti kata slapstick.

Sementara kalimat ketiga ada kata ‘weekend’ yang sebenarnya ada padanan katanya, yaitu ‘akhir pekan’ namun faktor kebiasaan dan kepraktisan (lebih singkat) membuat kata ‘weekend’ lebih akrab di kuping dibanding ‘akhir pekan’. Kalaupun ada kata ‘malam Minggu’ yang lebih lumrah dipakai, namun terlalu spesifik karena malam Minggu berarti khusus untuk hari Sabtu malam.

Kalimat keempat lagi-lagi adalah bentuk singkatan dari kata ‘bad tempered’ yang akhirnya menjadi ‘BT’ lalu sering juga ditulis dalam format ‘bete’. Sebagian besar orang tidak perlu penjelasan lebih lanjut lagi tentang apa itu bete ketika ada seseorang mengatakan kalau dia sedang bete. Kalaupun perlu penjelasan, sepertinya tidak dianjurkan karena suasana yang bersangkutan sedang tidak kondusif.

Mencampurkan bahasa ke dalam kalimat memang tumbuh pesat seperti lapak-lapak yang menjual barang bajakan. Hampir setiap orang, terutama mereka yang hidup di Jakarta, menggunakan bahasa ‘gado-gado’. Memang ada istilah-istilah asing yang akhirnya diserap ke dalam Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar kalau digunakan ke dalam sebuah kalimat. Namun tidak sedikit yang menggunakan istilah Inggris dalam konteks yang tidak perlu.

Mau bukti? Coba anda perhatikan majalah-majalah yang bertebaran saat ini, khususnya majalah yang mengangkat gaya hidup dan memiliki pembaca usia muda. Baik yang dijual maupun gratis. Begitu banyak istilah Inggris bertaburan dalam artikelnya. Bahkan ketika istilah itu sebenarnya masih memiliki padanan kata yang cukup lazim digunakan. Tidak percaya? Saya baru saja membaca sebuah majalah gratis yang menyebut dirinya ‘entertainment & lifestyle guide’. Dalam artikel majalah ini terdapat kata-kata seperti style, cozy dan interview yang tentunya bisa diubah menjadi gaya, nyaman dan wawancara. Mungkin bisa dimaafkan jika kasusnya ada pada kata bangles atau happy hour karena sepertinya dua kata ini butuh lebih dari satu kata untuk mendapat padanan yang tepat.

Entah apa maksud dari majalah-majalah ini. Mungkin ingin menyuguhkan bacaan yang mudah ditangkap oleh pembacanya yang notabene juga sering mencampur bahasa. Mungkin juga faktor kepraktisan saja, karena penulisnya sudah terbiasa berbahasa gado-gado dan memiliki masalah terbatasnya waktu untuk mencari kata pengganti yang sesuai.

Ngomong-ngomong, tidak hanya media cetak saja yang aktif melakukan ‘budaya gado-gado’ ini. Media elektronik seperti televisi dan radio juga tidak kalah gencar. Mulai dari acara sampai iklan menggunakan bahasa gado-gado. Jangan-jangan Tukul yang katanya ndeso itu ingin menyindir kebiasaan yang satu ini lewat aksi sok Inggris-nya selama ini.

Penggunaan bahasa gado-gado tidak berhenti di percakapan sehari-hari atau media yang bersifat informal saja. Remy Sylado dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa sejak dulu dunia sastra sudah memasukkan istilah asing ke dalam novel, cerpen dan bentuk sastra lainnya. Nama-nama seperti Budi Darma dan Umar Kayam termasuk di antara para sastrawan yang pernah menggunakan istilah asing di dalam karya mereka. Kalau jaman sekarang tentunya jauh lebih banyak lagi. Apalagi jika kita berbicara tentang novel-novel pop yang mengangkat tema metropolis. Dijamin anda akan menemukan lebih dari satu lusin istilah asing, terutama Inggris, di dalamnya. Sebenarnya anda tidak perlu repot-repot melongok isi tulisannya. Judulnya saja sudah banyak yang menggunakan bahasa Inggris, seperti ‘Pretty Prita’ dan ‘I Beg Your Prada’.

Kebiasaan memadukan bahasa lokal dan asing tampaknya memang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kota. Alasan kuatnya adalah fakta bahwa kota merupakan pusat bertemunya individu dari puluhan bahkan ratusan budaya. Apalagi selalu ada teknologi baru yang menyokong pesatnya jalur komunikasi, sehingga kemungkinan terjadinya interaksi dan asimilasi budaya semakin tinggi. Nah, salah satu bentuk paling konkritnya adalah pemakaian bahasa, baik sehari-hari maupun di media massa. Asimilasi bahasa di Jakarta sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu. Bahasa sehari-hari di kota Jakarta sendiri banyak berasal dari bahasa Betawi, Jawa, Cina, Arab dan Belanda. Masuknya bahasa Inggris ke dalam bahasa sehari-hari kemungkinan besar disebabkan oleh kemajuan teknologi komunikasi dan media massa.

Tentunya akan sangat melelahkan jika kita fokus pada level menghakimi kebiasaan ini dan mencari siapa biang keroknya, karena memang sudah terlanjur mengakar dan sudah dapat dibayangkan betapa letihnya menggalakkan diri sendiri dan orang lain untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa penggunaan kata asing yang tidak perlu. Namun ternyata kebiasaan ini berdampak buruk pada kemampuan bahasa masyarakat karena nantinya ‘bahasa gado-gado’ ini membuat orang-orang di Jakarta sulit untuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang benar, tapi juga kerepotan untuk bicara bahasa Inggris seratus persen.

Sekarang, yang dapat kita lakukan adalah memulai untuk tidak malas lagi mencari padanan kata Indonesia. Apalagi jika kata Indonesia tersebut sudah cukup umum digunakan. Ya, mungkin anda tidak usah terlalu memaksa dengan menggunakan kata mengunduh untuk mengganti kata download jika itu justru membuat lawan bicara anda mengernyitkan dahi. Kecuali kalau anda memang punya semangat dan waktu untuk menjelaskannya.

Menggunakan istilah asing memang lebih baik dihindarkan, namun jika anda menggunakannya, entah karena kebutuhan, latah atau gengsi, sebaiknya pikirkan dulu. Jangan sampai kata yang anda masukkan keliru dan akhirnya membuat anda tampak bodoh, seperti banyak selebriti di acara gosip televisi yang sering menyebutkan kata ‘hiburan’ dengan ‘entertain‘, bukannya ‘entertainment‘. Contohnya, “Bekerja di dunia entertain itu memang banyak godaannya..”. Ndelalah, kekeliruan ini malah semakin dimantapkan oleh salah satu tabloid hiburan terbesar Indonesia dengan menggunakan kata ‘entertain‘ sebagai kata benda pada artikel-artikelnya. Please, deh. Bikin bete aja.

9 thoughts on “Dunia Entertain yang Stylish namun bikin Bete”

  1. Ada bukunya tuh, “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing”. Gw liat di meja lo bukan ya?

    mungkin semua orang di Indonesia sedang terkena sindrom Cinta Laura
    :p

  2. Akh.. kamu memang penulis yang baik ya niks. Fakta, realitas, opini semua terbalut dalam satu hidangan yang pas. Tidak eneg, dan tidak terlalu hambar. Referensinya pun banyak.. Gak sia2 O channel punya scriptwriter kayak kamu. Atau.. penulis skrip? Ah tired deeeyh..

  3. miranti >> iya, ada di meja gw ;)

    titiw >> thank u, tiw. bukan penulis skrip tapi penulis naskah. hehehehe

  4. Sebuah analisis yang menarik dari seorang communication scholar akan penggunaan istilah asing. Pastinya hampir kita semua setuju untuk menghindari penggunaan istilah asing Jangan sampai kata yang anda masukkan keliru dan akhirnya membuat anda tampak bodoh, terlebih seperti ditulis diatas apabila menggunakannya untuk kebutuhan, latah atau gengsi.

    Tapi ada sisi lain yang mungkin terlupakan dalam pemahaman tersebut adalah dimana hampir semua perbendaharaan kata itu merupakan hasil dari yang disebut dalam analisis ini sebagai bahasa gado-gado. Seperti Gratis yang biasa kita pakai sebagai simbol untuk menerangkan tidak dipungut biaya adalah bahasa Belanda, dan Koran yang merupakan sebutan surat kabar adalah diambil dari Quran dimana lidah orang bule sana menyebutnya dengan “Koran”.

    “Tadi malam gw baru nonton Iron Man. Keren banget, tapi kadang-kadang jokes-nya slapsticks, sih.”

    Sebuah line yang menarik untuk dibahas, bisa jadi sang pengguna bahasa gado2 tersebut ingin terlihat lebih intelek oleh lawan bicaranya tapi kemungkinan besar malah sebaliknya, karena apabila diambil makna dari arti slapsticks itu sediri yaitu: comedy based on deliberately clumsy actions and humorously embarrassing events : [as adj. ] slapstick humor. Mungkin tidak cocok untuk menggambarkan film tersebut bagi beberapa yang telah menonton Iron Man dimana banyak kalimat dan adegan lucu berdasarkan sarcasme which defines karakter sang Tony Spark the Iron Man. Jadi bukan berisi slapstick humor yang isinya keadaan-keadaan lucu atau aksi-aksi clumsy (ceroboh) karena sosok sang Iron Man adalah orang terpelajar yang sangat exact dan penuh perhitungan matang kalo gak gak mungkin dia bisa bikin tuh baju besi secanggih itu.

    Tapi tidak cukup sampai disitu kita juga harus tau the first rule of communication yaitu meaning not in words it self but in people. Dimana bisa saja arti slapstik tersebut mempunyai makna yang sama oleh pelaku komunikasi tersebut, yang maknanya tidak harus sama dengan arti dalam kamus, sehingga mereka mengerti satu sama lain. Dan pengguna kata tersebut mendapatkan tujuan komunikasi nya karena dia memberikan simbol tersebut kepada orang yang memiliki pemaknaan yang sama (field of experience yang sama) akan kata tersebut.

    Jadi sebenarnya bukan menghindari penggunaan bahasa gado2 tadi, karena penggunaan kata gado2 adalah proses alamiah dari komunikasi itu sendiri, dan akan meleburkan hal-hal dan makna baru yang dapat menjadi kata serapan baru dikemudian hari. Tapi bagaimana kita menggunakan kata yang tepat pada orang yang tepat untuk tujuan komunkasi yang diinginkan .

  5. makasih atas tanggapannya :)
    ya, tentunya pemakaian bahasa gado-gado sudah tidak bisa dihindarin, dan memang betul bahwa kemudian nanti akan muncul kata2 baru yg disepakati.
    Maksud dari artikel saya ini sebenarnya : yuk kita sama2 berbahasa yg tepat. meskipun itu bahasa gado2, tp usahakan pemakaiannya tepat ;)

  6. Nik Kemaren gua accidently nonton infotainment pagi karena tumben gua bangun pagi n pas libur hahaha, si pembawa acara baca skrip ttg pernikanan pasangan selebritis

    “Mereka ingin pernikahan mereka berlangsung secara Privacy”

    secara Private kali …..

    hahahah Emang dunia entertaintment yang fuck’n stupid n bikin BT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s