Bulu Tangkis Pagi Hari

Lasmi sedang bunting

Sebentar lagi bayinya lahir

Lasmi bengong Matanya ke kanan, lalu ke kiri

Ke kanan, ke kiri

Rambutnya diikat ke belakang asal-asalan

Sebagian anak rambut di dahinya berkibar digoda angin pagi

Lasmi mengelus perutnya yang melenting

Lasmi memikirkan sesuatu sambil menggerakkan matanya

ke kanan, ke kiri sembari mengelus perutnya

Ke kanan, ke kiri

mengikuti lincahnya bola berbulu yang dipukul bergantian oleh dua adik perempuannya

thak!

thak!

thak!

“Hahaha, kamu bisa main bulu tangkis nggak sih, Sri? hahahaha”

“Eh, kamu tuh kayak paling jago aja, Tri. Siap-siap, nih!”

thak!

thak!

“Aduh”

thak!

“Pelan-pelan dong, Tri”

thak!

“Aggggh”

Dua adik perempuannya lincah sekali meloncat, menyerong, menangkis dengan raket yang mulai karatan

Kedua pasang kaki bersandal jepit yang mulai menipis itu melompat, berjingkat, menyeret cepat di permukaan aspal mulus

Lasmi termangu sambil mengelus perutnya

“Nak, kalau kamu sudah besar nanti jangan seperti ibumu dan dua bulikmu ini. Berolahraga memang sehat. Berkeringat itu sehat, tapi jangan berkeringat terus kayak bapak, ibu dan dua bulikmu ini. Ibu pengen kamu juga menikmati udara sejuk tanpa perlu mendaki ke puncak gunung. Cukup di balik kaca seperti orang-orang di dalam gedung tinggi itu.”

Lasmi mendongak

Matanya tidak lagi bergerak ke kanan ke kiri

Matanya menerawang

Ke kepingan-kepingan besar kaca transparan membentuk kotak yang menjulang hingga berpuluh meter

Kepingan-kepingan itu kadang membuat mata Lasmi silau saat ia sedang menjemur pakaian

Menyilaukan sekali. Apalagi kalau matahari sedang tidak mau berbasa-basi.

Memang menyilaukan

Lalu perlahan mata Lasmi bergerak ke bawah, merekam pemandangan lapangan luas dari batu coklat muda dan abu-abu dengan pot-pot berisi daun-daun hijau panjang dan segar dengan cembung-cembung air

Embun pagi masih ada

Sebentar lagi menguap. Lalu jalan nan mulus ini akan dilewati berbagai kendaraan

“Bukan kendaraan besar seperti yang biasa ditumpangi Bapakmu, nak. Bukan kendaraan yang bisa muat puluhan orang. Kendaraannya jauh lebih kecil. Mungkin hanya muat empat sampai delapan orang. Bahkan ada yang cuma muat dua orang. Sekali-sekali Ibu melihat kendaraan yang cuma muat dua orang. Sepertinya orang-orang di dalamnya bahagia. Pasti di dalam mereka merasa sejuk meski siang menyengat.”

Menyengat memang

Lasmi mengelus perutnya lagi

Senayan pagi di bulan April 2008

2 thoughts on “Bulu Tangkis Pagi Hari”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s