Menyimak, bukan Mendengar

Masih segar di ingatan kita berita mengenai geramnya Presiden karena banyak audiensnya yang tidur atau ngerumpi saat ia pidato. Kita sebagai rakyat tentunya ikutan kesal juga melihat kelakuan para anggota dewan maupun orang-orang yang ditugaskan berada di atas sana untuk merepresentasikan rakyat.

Siapa sih yang nggak mangkel dengan anggota dewan tertidur pulas saat rapat sedang berlangsung, dan itu sering kita saksikan dengan mata kita sendiri, lewat televisi tentunya. Bahkan tidak jarang kita melihat mereka justru asyik bikin “rapat” sendiri alias ngerumpi. SBY aja sempat menegur Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari karena terlihat sibuk diskusi saat SBY sedang di atas mimbar.

Tapi sebelum kita ngegerundel melihat tingkah para beliau tersebut, coba deh kita pikir lagi. Sebenarnya kebiasaan ini tidak hanya terjadi di istana Negara atau gedung beratap hijau itu. Mari mengingat lagi kondisi di kelas saat kita sekolah atau kuliah. Coba ingat-ingat lagi bagaimana perilaku murid atau mahasiswa saat pengajarnya membawakan materi dengan suara datar, kalimat yang tidak efektif, ekspresi monoton. Pokoknya membosankan. Kalau sudah begitu biasanya sebagian ngobrol sendiri, sebagian tidur dan sebagian melakukan kegiatan lain seperti membaca komik (yang ditaruh di bagian dalam textbook). Mungkin sebagian kecil akan tetap mendengarkan si pengajar, tetapi apakah mereka menyimak?

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang suka berbicara dari awal mereka berjabat tangan dan memperkenalkan diri mereka. Orang-orang seperti ini bisa dengan mudah menjabarkan isi kepala mereka di hadapan orang lain, baik yang dikenal, baru dikenal maupun tidak dikenal. Namun saya sesekali juga bertemu dengan orang yang di awal perkenalan terkesan pendiam tetapi setelah melewati sekian waktu ternyata bisa bicara tentang banyak hal. Bukan hanya bisa bicara saja, tetapi senang sekali bicara. Nah, di antara begitu banyak orang yang sudah saya temui, ternyata lebih susah menemukan orang yang suka menyimak. Jadi berdasarkan pengalaman, dapat disimpulkan kalau orang yang senang berbicara lebih banyak daripada orang yang senang menyimak. Ya, menyimak. Bukan mendengar. Mendengar hanyalah proses menangkap gelombang suara dari lawan bicara ke dalam telinga kita, sementara dalam menyimak prosesnya tidak berhenti sampai di situ, thok. Menyimak berarti menangkap gelombang suara lalu menyimpannya ke dalam memori kemudian memprosesnya di dalam otak, dan jika diperlukan menyampaikan hasil proses tersebut ke lawan bicara.

Kalau boleh dipikir secara sederhana, tentunya bicara jauh lebih mudah dibanding menyimak. Kalau berbicara, kita tinggal mencomot arsip yang ada memori, menggodok di otak lalu mengeluarkan hasil dari proses tadi. Bahkan tidak jarang dari kita memencet tombol skip di bagian penggodokan di otak. Menyimak butuh “energi” ekstra.

Nah, ngomong-ngomong soal menyimak. Situasi yang kita lihat di gedung DPR, istana negara atau ruang kelas tadi memang sangat umum terjadi karena manusia sulit untuk menyimak dan penonton dapat diibaratkan sebagai sekumpulan anak kecil manja dan moody sehingga perlu diservis sedemikian rupa supaya bisa tetap fokus.

Oleh karena itu, berbicara di depan umum juga bukan masalah sederhana. Tidak semua orang bisa luwes berbicara di depan orang banyak. Banyak sekali individu yang punya kapabilitas di bidangnya, namun sulit untuk menyampaikan ilmunya di depan publik sehingga ilmunya hanya disimpan sendiri. Orang-orang yang belum mengenalnya lebih jauh juga perlu waktu ekstra untuk mengakui bahwa orang yang berada di hadapannya itu hebat dan pesan yang ingin disampaikannya itu penting untuk diketahui.

Lalu apa hubungannya dengan kasus ‘SBY marah’ tadi? Nah, sepertinya orang-orang pemerintahan dan lembaga-lembaga yang punya kecenderungan bergaya konservatif itu perlu mengubah cara mereka menyampaikan pesan. Kalau kata orang jurusan komunikasi, dalam menyampaikan pesan, tidak hanya isi pesan dan pembawa pesan saja yang penting diperhatikan, namun juga cara menyampaikan pesan itu sendiri.

Kita semua tahu bahwa selama ini masih banyak orang yang terjebak dengan tehnik penyampaian pesan yang “duh, so last decade” (bukan “so last year” lagi). Pidato-pidato dengan dua paragraf awal yang sudah dapat ditebak oleh penonton karena isinya memang itu-itu saja dari era orde baru. Mending kalau struktur bahasanya benar, lha kadang banyak yang ngawur dan tidak efektif. Tapi karena terlanjur sering digunakan maka akhirnya dianggap wajar. Nggak heran banyak ahli bahasa yang teriak-teriak karena frustrasi dengan “kesalahan turun temurun” ini.

Cara penyampaian pesan yang monoton, mudah ditebak dan manut dengan naskah tentu membuat audiens mudah sekali bosan, mengantuk dan akhirnya mencari kegiatan lain. Kalau sudah begitu, materi yang disampaikan jadi sia-sia karena tidak ditangkap secara maksimal, lalu akhirnya jadi buang energi dan waktu saja. Sekarang ini di mana jalur informasi semakin membanjir dan ritme masyarakat semakin cepat, diperlukan tehnik penyampaian informasi yang efektif.

Efektif di sini tidak hanya dari segi waktu dan isi, namun juga cara menyampaikannya. Informasi yang disampaikan dengan waktu singkat dengan isi yang fokus bisa jadi tetap tidak ditangkap oleh audiens kalau si penyampai pesan tidak membawakannya dengan cara yang atraktif. Oya, atraktif bukan berarti para beliau yang bertugas untuk berpidato itu harus memakai kemeja kembang-kembang atau (kalau wanita) dress mini warna merah lho, tetapi dengan intonasi suara yang sesuai dan tidak seperti orang membaca naskah.

mood penonton itu seperti wanita yang sedang mengalami Pre Menstrual Syndrome alias PMS. Mudah sekali naik dan turun. Makanya para MC, pembawa acara di televisi dan penyiar di radio selalu berusaha menjaga mood penonton.

Mungkin sudah saatnya para beliau tersebut menyempatkan diri belajar ‘tehnik bicara di depan umum’ dengan ahlinya supaya bisa memenangkan perhatian penonton, karena mood penonton itu seperti wanita yang sedang mengalami Pre Menstrual Syndrome alias PMS. Mudah sekali naik dan turun. Makanya para MC, pembawa acara di televisi dan penyiar di radio selalu berusaha menjaga mood penonton. Kalau moodnya “naik” terus pasti akan cepat lelah sehingga bisa langsung drop, tapi jangan sampai mood berada di bawah terlalu lama karena bisa-bisa dicuekin dan (kalau di radio atau televisi) akan ditinggal ke saluran lain. Belum lagi faktor kondisi fisik dan mental masing-masing penonton. Kalau dari sononya memang sudah lelah, biasanya moodnya akan lebih fluktuatif lagi. Nah, sepertinya itu yang terjadi pada kasus awal April lalu. Kabarnya para anggota dewan tersebut sudah kelelahan karena sudah melalui serangkaian acara sejak pagi sehingga sulit sekali untuk fokus mendengarkan, apalagi menyimak, apa yang disampaikan Presiden.

Mungkin suatu saat nanti, masyarakat akan lebih memilih figur pemimpin yang atraktif dalam menyampaikan pesan. Figur tokoh yang mungkin tidak harus seorang jenius yang menguasai banyak dimensi, tetapi figur yang luwes saat berbicara baik di depan publik maupun secara personal. Dan tentunya figur tersebut harus pandai menyimak.

Bintaro, 19 April 2008

2 thoughts on “Menyimak, bukan Mendengar”

  1. Akh.. Anda sungguh jenius nona nike.. Aku pernah terpikir hal ini juga “Kenapa orang bosen ya karena pidatonya boring kaliiiiiiiiiiiii” ehehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s