sinis-skeptis-apatis

Tadi saya nonton di televisi. Minggu ini sebuah transportasi pariwisata di Monas baru saja diresmikan. Katanya transportasi pariwisata ini bertujuan memberikan kemudahan para pengunjung Monas, terutama mereka yang lanjut usia, untuk menikmati situs yang menjadi lambang DKI Jakarta ini.

Anda sempat dengar juga tidak? Saat mendengar informasi diresmikannya transportasi gratis ini, apa yang muncul di benak anda?

Mungkin ada yang sama dengan apa yang saya pikirkan.

Ingin tahu yang saya pikirkan?

Hal pertama yang muncul di otak saya adalah “Sampai kapan fasilitas ini akan bertahan? Satu tahun? Enam bulan? Atau mungkin lebih singkat dari itu?”.

Maksud kata ‘bertahan’ di sini tidak cuma bertahan dalam pengoperasiannya saja, tetapi juga pelayanannya.

Jangan-jangan akan seperti fasilitas kota yang lain.

Ah, mungkin saya saja yang terlalu skeptis.

Memang. Kalau berlama-lama tinggal di kota ini membuat diri kita jadi semakin skeptis. Lalu apatis.

Maaf, tulisan ini tidak bermaksud sinis. Namun bagaimana lagi? Kadang hati ini jadi miris, meringis, teriris karena pada akhirnya sebagian fasilitas berakhir tragis.

Bintaro, tengah Maret 2008

3 thoughts on “sinis-skeptis-apatis”

  1. Ya ampun nak.. jangan meringis2 terus dong, nanti dikira kamu itu gak manis, padahal emang bau amis.. hihihihi.. Tulisan yg nice anyway.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s