Kerja Singkat – Untung Mantap

Hai, selamat siang.

Anda mau pilih ‘Kesurupan’, ‘Skandal Cinta Babi Ngepet’, ‘Ayat-ayat Cinta’ atau ‘D.O’?

Judul-judul film tersebut sedang diputar di bioskop Jakarta. Sepertinya, film Indonesia memang semakin menunjukkan geliatnya. Dulu, langka sekali kan situasi di mana kita menengok poster bioskop yang semuanya terdiri dari film Indonesia. Sekarang, semua studio dalam satu bioskop memutar film Indonesia bukan pemandangan berkesan lagi buat kita.

Jika dilihat dari kuantitas, film Indonesia yang dirilis setiap tahunnya semakin bertambah. Jika beberapa tahun yang lalu, film Indonesia yang sowan ke bioskop setiap tahunnya bisa dihitung dengan jari. Saat ini, hampir setiap bulan ada yang mampir. Bahkan tidak cuma satu. Bisa tiga atau empat judul film sekaligus. Seperti yang terjadi dua minggu terakhir ini, bioskop di Jakarta didominasi film Indonesia. Oya, nggak usah bicara soal kualitasnya dulu, ya.

Saya sebagai penikmat film sih tentu saja sangat senang melihat antusiasme masyarakat untuk menonton ‘Ayat-ayat Cinta’ –kabarnya sudah ditonton dua juta. Bahkan presiden kita juga nonton, lho — daripada film-film horror. Maaf, bukannya saya membenci apalagi tidak menghargai mereka yang sudah capek-capek membuat film jenis horror. Hanya sudah lelah saja dengan cerita sekumpulan anak muda yang terjebak atau menjebak diri di tempat angker lalu diteror berbagai bentuk mahluk halus[1]. Kabarnya film horror ini memang mendapat tempat di daerah luar Jakarta. Proyek film horror mungkin juga dianggap mudah dan menyenangkan bagi para pembuat film, karena (kabarnya] proses produksinya sangat singkat, hanya sekitar dua minggu, dan keuntungannya lumayan. Siapa sih yang tidak tergoda dengan proyek singkat dengan keuntungan mantap? Pasti anda juga tergoda.

Kadang saya jadi curiga, jangan-jangan sutradara-sutaradara yang sudah punya nama itu sengaja membuat film horror untuk mengisi kantong modal mereka supaya bisa memproduksi film lain yang sesuai dengan idealisme. Intinya, film-film horror ini cuma proyek cari duit, lah. Jadi, daripada hanya sibuk menggodok materi film ‘idealis’ yang mungkin nantinya akan sulit dapat sponsor karena dianggap kurang komersil, mendingan sekalian bikin film yang katanya disukai masyarakat dulu saja. Itung-itung bisa nambahin modal proyek ‘idealis’ supaya hasilnya maksimal. Gimana menurut anda?

Bicara soal ‘film yang katanya disukai masyarakat’, sampai sekarang topik ‘siapa yang bertanggung jawab atas banjirnya film-film ora mutu di Indonesia’ masih sulit ditemukan kesimpulannya. Pihak pembuat film mengatakan mereka menyesuaikan selera dengan masyarakat [“Penonton kita memang sukanya horror.”]. Sementara pihak penonton merasa tidak diberikan pilihan [ “Gimana, nih? Film yang disajikan ke kita isinya kuntilanak, genderuwo atau suster ngesot melulu!”.]. Namun sekarang sepertinya para pembuat film itu harus berpikir lagi setelah melihat kesuksesan ‘Ayat-ayat Cinta’.

Nah, sekarang yang saya khawatirkan adalah usaha pembuat film untuk mendapat level sukses yang serupa dengan ‘Ayat-ayat Cinta’. Kenapa saya khawatir? Karena saya takut juga membayangkan para produser film ini seperti hiu buas yang lapar dan pengennya sesuatu yang instan, lantas mencontek formula ‘Ayat-ayat Cinta’. Ya, drama, kisah cinta [kalau perlu semua novel Habiburrahman El Shirazy difilmkan), unsur agama, tokoh alim, dsb. Saya seram kalau situasinya nanti mirip dengan situasi saat sinetron Indonesia dipenuhi dengan sinetron bertema reliji yang akhirnya justru mengkhawatirkan karena banyak yang menyimpang.

Ya, saya tahu fenomena ‘latah’ ini yang sering bikin sebal dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Urusan latah ini juga terjadi di Hollywood. Sampai sekarang mereka masih terlena dengan film horror adaptasi film-film Asia [2]. Lalu, masih ingat waktu mereka berlomba-lomba membuat film berjenis musibah alam? Mulai dari tentang meteor yang menyerbu bumi, angin badai sampai tentang banjir. Ngomong-ngomong, kalau soal banjir sih lebih sakti orang Indonesia. Sudah kelelep banjir beberapa kali tapi tenang saja. Jangan-jangan kita sudah terjangkit amnesia massal.

OK, kembali lagi ke masalah film. Sebagai penikmat film, saya tidak akan menuntut para produser dan pembuat film kita untuk memproduksi film super besar yang bisa menghibur juga mengedukasi masyarakat. Bukannya meragukan kemampuan mereka. Saya yakin orang Indonesia tuh kreatifnya minta ampun. Tapi saya tahu, hingga saat ini penonton datang ke bioskop untuk rekreasi. Entah itu rekreasi dengan memacu adrenalin (baca : ditakut-takuti dengan mahluk halus), atau rekreasi bentuk lain tapi yang jelas tidak untuk ‘mikir trus mumet sendiri’. Saya hanya ingin film yang sederhana, menghibur, kalau bisa punya pesan dan tidak mengolok-olok intelejensia apalagi membodohi penonton.

Bintaro, Minggu 30 Maret 2008

[1] by the way, kenapa disebut mahluk halus, ya? Halus kan cukup dekat dengan kata lembut. Rasanya mahluk-mahluk itu tidak ada sangkut pautnya dengan kehalusan atau kelembutan.

[2] Ya, siapa bilang hanya ‘sex & violence’ yang menjual? ghost does sell :)

3 thoughts on “Kerja Singkat – Untung Mantap”

  1. You know what dear..? kalo bisa ngomong, semua makhluk “halus” itu pasti bilang “Capek deeh”.. hem.. kata2 itu sangat cocok diimplemantasikan pada masa sekarang bukan..?

  2. umm mahluk halus….? IMHO..
    kita mulai dari komputer.. lho koq komputer???
    karena komputer bisa dijadikan perumpamaan manusia a.k.a mahluk yang ‘sempurna’, ada hardwarenya ada softwarenya.. ada fisiknya ada ruhnya.. nah mahluk halus..cuma softwarenya saja.. tak ada tapi ada..gimana hayoo.. :D
    nb: engga 100% sama dengan komputer sih, karena ada yang namanya akal dan hati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s