Menikmatimu Menikmati Sore

Sore itu di sebuah kafe

Sebuah kafe kecil dengan sofa-sofa empuk dan sinar temaram matahari dari balik jendela-jendelanya

Suara musik jazz mengisi suasana

Matahari sebentar lagi bersembunyi di sisi barat

Perempuan itu duduk di pojok ruang

Tidak terlalu banyak pengunjung di sana

Hanya ada empat meja terisi, termasuk yang diisi perempuan itu, dan mejaku.

Satu meja lagi terisi lima orang muda, dua laki-laki dan tiga perempuan. Tertawa. Quesadilla. French fries. Cappucinno. Menghisap dan melepas asap rokok. Mengepul.

Satu meja lagi ada sepasang kekasih yang sepertinya bahagia.

Musik jazz dengan iringan saksofon dan vokal serak wanita itu masih melantun.

Perempuan yang dari tadi duduk itu terus memandangi dunia di balik jendela yang sedikit berembun.

Sesekali ia menyeruput secangkir teh. Satu-satunya pesanan. Selebihnya hanya ada sebuah buku kecil, pulpen dan kacamata yang sengaja ia letakkan di atas meja.

Sepertinya ia tidak menunggu siapapun

Ia tidak seperti orang-orang yang datang sendiri lalu sibuk memeriksa telepon genggam atau jam tangan mereka. Entah karena memang menunggu seseorang atau hanya ingin tidak terlihat kesepian.

Mereka tidak ingin dicap sebagai orang-orang yang kesepian.

Padahal apa bedanya dengan mereka yang datang beramai-ramai?

Apakah mereka benar-benar merasa tidak kesepian?

Aku sering mendengar orang yang mengeluh kesepian meski berada di keramaian

Namun kamu berbeda

Sepertinya sejak berangkat dari rumah ia memang berencana untuk datang sendiri

Ah, apa yang sedang kamu pikirkan?

Andai saja semua wanita di dunia ini seperti kamu yang tidak merasa gundah meski harus sendiri.

Wanita-wanita lain banyak yang merengek ketika mendapati dirinya harus sendiri.

Sepertinya kamu tidak begitu

Kamu sepertinya menikmati waktumu

Mungkin untuk kamu waktu berjalan sangat lambat, dan kamu meresapi setiap detaknya.

Tak ada tanda tergesa. Tak ada gelisah.

Bisa saja dugaanku ini salah. Bisa saja kamu sedang menghadapi masalah dengan pacarmu, ibumu, bos kamu atau ketiganya.

Sebenarnya aku tidak terlalu ingin tahu.

Menebak-nebak lebih mengasyikkan daripada mengetahui apa yang nyatanya terjadi.

Pasti akan kurang seru kalau aku tahu apa yang ada di hidupmu

Lebih baik seperti ini. Toh, ini sudah cukup menyenangkan, karena entah kenapa aku ikut terhanyut dengan ketenangan kamu.

Ketenangan yang seperti atmosfir sore hari dengan matahari yang akan bersembunyi di sisi barat.

Ketenangan seperti sore yang sedang kamu nikmati dengan segurat senyum.

Tetaplah seperti itu. Jangan biarkan orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Siapa tahu nanti kita bertemu lagi, atau lebih tepatnya aku akan menikmatimu lagi

Menikmatimu menikmati sore

Kemang, Maret 2008

2 thoughts on “Menikmatimu Menikmati Sore”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s