Be careful, You Heart is Not Fully Protected

Siapa yang bisa bermain-main dengan hati?

Maksud hati ingin bermain-main dengan hati orang lain. Akhirnya malah merasa pusing sendiri.

Maksud hati ingin benar-benar memiliki. Malah disabotase pihak lain.

Maksud hati inginnya hanya bermain-main. Ternyata hatinya tidak kompromi.

Maksud hati ingin mengambil hati hati orang lain. Yang ada malah termakan hati sendiri.

Maksud hati ingin menghancurkan orang lain. Lha, yang hancur kok malah hati sendiri.

Hati itu tidak mengenal status quo. Mulut boleh memuji-muji. Ngomong yang manis-manis saja, atau bahkan yang pahit-pahit saja. Lidah boleh mengeluarkan perbehandaraan ‘kebun binatang’. Marah-marah. Misuh-misuh. Ngomongin orang. Mending kalo dikenal. Lha ini kenal juga tidak. Namun, kalau sudah urusan hati, mungkin saja tidak sama dengan urusan mulut atau perilaku. Mulut ngomong begini, tapi hati ngomong yang lain.

Saya pernah dengar omongan seorang wanita yang waktu itu sedang didekati seorang pria. Begini kalimatnya, “Dari segi tampilan sih biasa. Pendidikan juga standar. Kerjaan masih belum mapan, tapi sepertinya punya karir. Tapi kok kayaknya dia sudah serius banget. Kan aku sebenarnya masih belum pengen serius. Tapi aku juga butuh laki-laki. Aku kesepian. Kalo ada dia, lumayan jadi ada yang nemenin..lagian ini nggak serius, kok. Buat seneng-seneng aja. Ntar juga putus”.

Jadi kesimpulannya, hati si wanita sebenarnya nggak sreg sama pria yang mendekatinya, tapi hati si wanita tampaknya perlu diberi sedikit ‘kemeriahan’. Jadi si wanita memilih untuk membiarkan hati si pria hinggap, kali ajabisa bikin hati si wanita sedikit happy. Tapi lantas bagaimana dengan hati si pria ya kalau si pria yang sudah serius ini “dimanfaatkan” untuk bersenang-senang saja, ya? Sedih? Atau justru senang karena paling tidak diberi kesempatan? Kan hati tidak mengenal status quo. Jadi hari ini ngomong tidak selera, siapa tahu saja 6 bulan lagi justru ketagihan. Tapi ya tidak bisa jamin juga kalau satu tahun atau 2 tahun lagi masih ketagihan atau nggak.

Lain lagi halnya dengan kasus kontradiksi. Di depan orangnya diem. Diajak ngomong, sunyi. Sekali ngomong, singkat. Diajak ngomong agak panjang sedikit, eh malah galak, terus melengos. Lawan bicaranya sampe bingung memikirkan kira-kira dosa apa yang sudah dilakukan sampai dia harus mendapatkan respon seperti itu. Eh, usut punya usut ternyata ada urusannya sama hati. Meski di luar beraksi dingin dan sinis. Ternyata di dalam hati justru merona-rona. Kalau masih ingat film ‘Love Actually’, nah ini salah satu cerita di film ini adalah kasus kontradiksi.

Hati nggak cuma berkutat di urusan asmara atau hubungan, lho. Kalau urusan asmara dengan hati memang nggak bisa dilepas, maksimal dianak tirikan, deh. Nah, kalau urusan karir kadang juga ada hubungannya sama hati. Ada orang yang kerjanya lancar. Posisi tinggi. Waktunya tidak menyita. Gaji di atas rata-rata. Itu belum ditambah bonus setiap bulan. Jadi, buat nyicil rumah, mobil, beli furniture sampai gadgets sih tidak sulit. Namun mengeluh karena katanya tidak enjoy. Rasanya ada yang kosong, tapi tidak bisa dijelaskan. Padahal kalau mau dianalisis pakai logika, semua orang pasti ngiri dan siap mengganti posisinya. Terus kenapa bisa begitu? Kalau boleh mengutip seorang career expert, itu artinya pekerjaan yang ia geluti sekarang tidak sesuai dengan passionnya. Kalau menurut saya yang namanya passion itu erat hubungannya dengan hati. Kalau hati kita nggak sinkron sama karir, ya mau sesukses apa karir kita, tapi hidup terasa kosong. Kenapa? Karena hatinya dicuekin. Meski semua kebutuhan dipenuhi. MUlai dari yang primer sampai yang tersier. Tapi pas sedang bengong sendiri, baru deh si hati yang tadinya dicuekin itu menyentil. Kok saya tidak happy, ya? Semuanya sudah saya dapat. Kurang apa ya? Kok rasanya ada yang hilang? Kalo kata John Mayer, “something’s missing, and I don’t know what is at all” (‘Something’s Missing’, Heavier Things)

Ya, namanya juga hati. Beda sama logika yang bisa diukur, dikira-kira, diprediksi, diperhitungkan sebab-akibatnya. Jadi, apapun yang ingin anda putuskan atau lakukan, jangan lupa untuk mendengar si hati kecil yang kadang suaranya hanya sayup-sayup itu.

Bintaro, 29 Januari 2008

4 thoughts on “Be careful, You Heart is Not Fully Protected”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s