Insya Allah

“Eh, besok siang pada mau makan siang bareng lho di Plaza Senayan. Dateng nggak?”

“Insya Allah”

“Ah, pasti nggak dateng, deh”

“Insya Allah”

“Jangan Insya Allah. Dateng atau nggak?!”

“……..”

Makna kata “Insya Allah” di Indonesia sepertinya memang bergeser. Kata “Insya Allah” seakan-akan menjadi jawaban ketika kita merasa belum pasti apakah bisa memenuhi janji kita, atau bahkan lebih buruk lagi memang sudah punya niat untuk tidak menepati janji.

Kata “Insya Allah” seakan-akan bisa menjadi alasan jika ternyata kita memang tidak menepati janji. “Kan, waktu itu gw bilang Insya Allah, gw ga bilang kalo gw bisa. Ga apa-apa dong?”.

Padahal arti dari kata ini (koreksi jika saya salah) kurang -lebih “Jika Allah mengijinkan..”. Nah, kalau begitu artinya kita sebagai manusia ketika mengatakan kata ini, kita harus bisa memegang apa yang sudah kita janjikan. Ketika kita mengucapkan kata ini, kita memang berniat untuk menepatinya.

Ironis sekali ketika saya harus membuat janji dengan orang lain dan saya yang sebelumnya hampir mengatakan “Insya Allah” kemudian berubah pikiran dan akhirnya mengatakan “Ya, saya akan datang”, karena khawatir si lawan bicara tidak percaya atau tidak yakin dengan saya kalau saya ngomong “Insya Allah”.  Saya pernah membiasakan diri untuk bilang “Insya Allah”, tapi ujungnya malah berargumentasi dengan lawan bicara karena kebetulan lawan bicara merasa kurang diyakinkan dengan kata “Insya Allah”.

Apa memang kebiasaan orang Indonesia begitu? suka mencari celah kalau membuat janji. Kalau bisa cari cara supaya dimelar-melarin dan nggak disalahkan. Mungkin mentalnya memang fleksibel, tapi ujungnya jadi kurang menghargai orang lain. Tapi mungkin saja orang lainnya juga tidak masalah. Wong, sama-sama orang Indonesia. Sudah biasa lah yang namanya molorin waktu atau mengubah rencana di saat-saat terakhir. Nah, untuk mengurangi rasa bersalah atau disalahkan dengan pihak yang berkepentingan, dikeluarkanlah kata “Insya Allah”. Sedikit licik memang. Apa orang Indonesia selain fleksibel juga suka licik?

3 thoughts on “Insya Allah”

  1. wah.. kalo gue ngomong “Insya Allah” udah pasti artinya ga bisa – hihihi bergeser jauh banget yah =P

    *just kidding, sis… btw, i love your writings. i envy u big time!

  2. yup2..emang mesti diluruskan arti Insya Allah sebenernya…yang pasti bener kata kamu..kalo dah bilang Insya Allah..malah harusnya bener2 diniatin…

  3. hi nik.e lam kenal

    Insya Allah kamu bikin saya salut karena ada orangmuda yang membahasnya. Sehat\rusnya kita lebih hati-hati melibatkan Sang Pencipta dalam sebuah janji tanpa niat yang kuat untuk memenuhinya ya..

    Salaam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s