Semar & Yoda

Anda pasti pernah tiba-tiba terbangun di malam hari. Bahkan mungkin sebagian dari anda malah sulit untuk tidur lagi karena mata keburu melek dan nggak mau diajak merem. Saya sering terbangun di malam hari, tapi untungnya bisa tidur lagi. Biasanya pas terbangun di malam hari itu, pikiran saya cenderung kosong atau paling banter ada sekelebat gambar dari mimpi terakhir. Tapi sekitar seminggu yang lalu saya terbangun dan langsung mendapati otak saya mengirim pesan bahwa

”wah, ternyata Semar dengan Yoda yang Star Wars itu punya kesamaan ya.”


Pemikiran itu jadi agak aneh, karena ndelalah muncul tanpa permisi, tanpa proses. Seperti mendapat wahyu. Baru setelah kalimat itu berputar-putar di otak, saya baru merangkai fakta. Benar juga. Memang ada kok kesamaan-kesamaan antara Semar dan Yoda.

Sama-sama tokoh dengan fisik yang tidak meyakinkan, bahkan cenderung lucu, namun ternyata sangat saktinya bukan main.

Latar belakangnya cenderung misterius.

Sama-sama bijaksana dan dianggap sebagai guru.

Entah lah, saya suka Star Wars, tapi mendalami sekali juga tidak. Saya juga bukan pemerhati wayang, untuk hal ini saya serahkan ke Ibu saya yang jauh lebih mengerti.
Mungkin pemikiran ini agak aneh, tapi saya memang cuma mau berbagi pengalaman ‘terbangun di malam hari’ saja. Mungkin lain waktu saya bisa membuat cerita di mana Yoda dan Semar bertemu.

Bintaro, 4 Desember 2007

4 thoughts on “Semar & Yoda”

  1. semar itu katanya berasal dari srilangka, sebelum jadi mitos dia itu tokoh ditanah jawa.

    seperti sebuah pepatah

    sejarah menjadi legenda, legenda menjadi mitos

    walaupun sejarah jadi sedemikian rancunya namun tetap ada sebagian kebijaksanaan terselip didalamnya.

    Semar, kakak Shiwa dan Petruk, teman bagi wong cilik. Dia itu orang bijaksana yang mencintai rakyat pada awal mulanya.

  2. Semar…Putra pertama dari sanghyang Tunggal. Terlahir bernama sanghyang Ismaya, mempunyai dua orang adik, sanghyang Antaga, dan sanghyang Manikmaya…mereka berasal dari sebutir telur, Ismaya berasal dari kuning telur,Antaga dari putih telur,Manikmaya dari kulit telur (atau sebaliknya).

    Pada saat mereka beranjak dewasa,terjadi perdebatan diantara mereka soal siapa yang lebih utama,berdasarkan asal kelahiran mereka.

    Ismaya menganggap dirinya paling utama,karena kuning telur adalah inti kehidupan.Antaga berpendapat bahwa dirinyalah yang utama,karena putih telur paling banyak manfaatnya. Manikmaya mengatakan bahwa,keduanya tidak akan berarti jika tidak dilindungi oleh kulit telur,karena itu dialah yang paling utama.

    Perdebatan itupun memanas. Perkelahian pun tidak bisa dihindari. Ismaya & Antaga berusaha membuktikan bahwa dirinya yang paling kuat. Sementara si bungsu Manikmaya lebih memilih untuk mengamati kedua kakaknya & mengambil keuntungan dari pertikaian tersebut. Duel paling dahsyat dalam sejarah wayang purwa, terjadi diatas Kahyangan, menggema dari Jonggring Salaka (istana tempat tinggal para Dewa/Bhatara) di Suralaya, sampai ke tengah Madyapada (tempat tinggal manusia).

    Ditengah duel, Ismaya menantang Antaga untuk menelan sebuah gunung. Siapa yang dapat melakukannya, akan menjadi pemenang. Antaga menerima tantangan tersebut. Mereka pun berganti wujud menjadi raksasa yang sangat besar & mencari gunung untuk ditelan.

    Ismaya berhasil menelan gunung itu seluruhnya. Akan tetapi ketika dia berubah seperti semula, wujudnya sudah tidak sama lagi. Perutnya menjadi gendut, dan hampir semua giginya tanggal, kecuali 2 gigi depannya sebelah bawah, karena menelan gunung tersebut.

    Adapun Antaga tidak berhasil menelan gunung tersebut. Pada saat dia kembali seperti sediakala,wujudnya juga sudah berubah. Mulutnya menjadi sangat lebar, karena dipaksakan untuk menelan gunung itu.

    Mereka bertiga terkejut atas perubahan wujud yang terjadi diantara mereka. Rasa SESAL pun muncul atas kesombongan yang telah mereka perlihatkan,dan akibat yang telah ditimbulkan olehnya.

    Sanghyang Tunggal muncul ditengah mereka. Dengan bijak, Beliau mengatakan bahwa, sesungguhnya, bukan kelahiran atau keturunanlah yang menjadikan seseorang lebih baik/utama dibandingkan dengan yang lain, tetapi lebih kepada DARMA apa yang bisa mereka lakukan untuk menjaga serta memelihara alam semesta ini.

    Arti sebuah telur tidak dapat dipisahkan antara kulit dengan isinya. Masing2 dapat memberi manfaat, dan saling bergantung satu sama lain. Isi telur tidak akan berarti kalau tidak dilindungi oleh kulitnya, begitu pula sebaliknya, Sebutir telur tidak akan berarti jika hanya terdiri dari kulit, tanpa ada isinya.

    Sanghyang Tunggal lalu memberikan amanat terakhir untuk ketiga bersaudara itu. Karena Ismaya & Antaga tidak memungkinkan kondisinya untuk menjadi pemimpin, maka tampuk pemerintahan diberikan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Sanghyang Jagadnata. Manikmaya diserahi tugas untuk memimpin dunia, meliputi dewa2 di Suralaya & seluruh makhluk di Madyapada.

    Ismaya & Antaga diberikan amanat untuk mengabdi di Madyapada, menjadi punakawan. Ismaya mengabdi pada pihak2 keluarga yang membawa kebaikan, dan berganti nama menjadi Semar. Antaga mengabdi pada pihak2 keluarga yang berada dijalan keburukan & kejahatan, dan berganti nama menjadi Togog.
    Mereka akan terus mengabdi di Madyapada sampai seluruh Darma yang mereka perbuat, dapat membuat mereka berubah seperti semula, dan kembali mendapat tempat di Suralaya, disisi adik bungsunya, Manikmaya…

    -Dikisahkan dari Wayang Purwa jilid pertama, karangan R.A. Kosasih-

    NB : Mohon maaf kalau ada kesalahan penceritaan, maklum, terakhir baca buku2 wayang waktu masih SD…hehehe…bukunya bisa dicari di kok di http://www.goodreads.com….otre2….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s