Perempuan Tertipu Daya

Salahmu sendiri! Sudah tahu dia itu kurang ajar. Tidak menghormati kamu sebagai perempuan. Kamu tuh kalau cari laki-laki yang bagusan sedikit. Laki-laki yang lagaknya petantang-petenteng begitu masih saja diterima. Sekarang kamu sendiri kan yang susah.

Sudah, aku capek!

Brakkk!

Aku banting saja pintu kamarku.Sedikit menyesal karena bukankah sudah tidak pantas di umurku yang setua ini membanting pintu. Bagaimana nanti kalau dilihat adik-adikku?

Ah, sudahlah! Peduli amat dengan adik-adikku. Orang tuaku. Mereka tahu apa tentang aku. Bisanya cuma protes. Komentar. Minimal memandang dengan tatapan menghakimi.

Aku capek

Aku melihat diriku di cermin yang tergantung di sebelah pintu kamarku

Aku buka celana jeans ketatku

Aku lepas kalung yang menggantung di leherku

Aku buka t-shirt putihku

Sekarang hanya ada aku, dengan bra dan celana dalam biru tua yang sengaja aku beli senada supaya terlihat serasi, meskipun hanya aku saja yang tahu apakah hari itu warna bra dan celana dalamku senada atau tidak. Peduli amat dengan orang lain. Meskipun mereka tidak tahu, bukan berarti aku sembarangan memilih baju dalam. Memakai baju dalam yang serasi adalah keistimewaan tersendiri buatku. Tidak peduli jika orang-orang bilang itu tidak penting.

Aku mendekatkan wajahku ke cermin

Aku mengikat rambutku yang tergerai. Kubersihkan mukaku hingga tidak ada make up tersisa.

Yang ada hanya aku, wajahku yang kali ini tanpa make up, dan baju dalamku.

Heran. Meski tanpa make up, aku toh masih menganggap diriku menarik.

Aku bukan seperti sebagian perempuan lain yang panik seketika jika harus keluar rumah tanpa memoleskan bedak atau pensil alis.

Heran aku.

Kenapa kamu masih saja mengecewakan aku?

Apa sih yang kamu cari?

Kamu suka yang lebih muda? Yang warna kulitnya lebih terang? Yang lebih manja? Yang lebih seksi? Yang sepasang kakinya lebih jenjang?

Yang bisa menatap berbinar-binar ketika kamu hadir di sudut matanya?

Ah, benar juga kata ibuku. Buat apa laki-laki macam kamu dipertahankan. Cuma bikin susah saja. Tampang sih boleh. Yang suka sama kamu juga banyak. Cuma mereka nggak tahu kalau kamu itu brengsek.

Iya, kamu brengsek

Lalu, sekarang siapa yang disalahkan karena kebrengsekan kamu?

Aku. Tetap aku yang salah.

Aku yang salah karena aku sebagai perempuan tidak bisa memilih laki-laki yang baik.

Aku yang salah karena membuang-buang waktuku hanya untuk bersama kamu.

Kenapa harus aku yang salah? Karena aku perempuan

Perempuan itu tetap salah, meskipun laki-lakinya yang kurang ajar

Perempuan itu mudah diberi tipu daya, dan kalau sudah terkena perangkap berarti memang perempuannya yang bodoh.

Perempuan itu kalau bertindak seringnya tidak pakai logika, tapi perasaan

Perasaan itu suka menipu, jadinya perempuan suka terjebak.

Kalau sudah terjebak, berarti perempuan yang bego.

Dan kamu? Ya, kamu tetap brengsek, tapi nggak ada yang bilang kalau kamu salah.

Yang salah itu aku

Peduli amat dengan pikiran dan perasaanku, karena hanya yang diluar saja yang bisa terlihat. Selebihnya, itu urusanku.

Itu urusanku, dan kamu tidak perlu tahu. Orang-orang juga tidak perlu tahu.

Tahu atau tidak tahu pun tetap saja yang salah aku

 

Bintaro, 17 Februari 2008

2 thoughts on “Perempuan Tertipu Daya”

  1. haha serasi serasian pula, perempuan dan laki2 sama2 salah, siapa suruh saling milih untuk saling ikat.

    pilihan itu, mengesampingkan kemungkinan lain dengan merealisasikan yang mungkin jadi nyata. ketika nyata, durinya dipegang, gasnya dihirup, debunya masuk kemata, madunya juga diminum.

    tapi kalau madunya juga ga ada, itu namanya : entah apa apalah tu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s