cahaya menyiram ruang kekuningan
aku, kamu dan singa berjemur di savana luas
Ia menguap dan matanya bersinar malas sepanjang durasi
mungkin tak ada yang salah jika kita terbiasa dengan ini
kamu menoleh ke wajahku. Tak lama. Lalu kembali menatap singa termangu itu
sunyi
hanya sayupsayup narator bercerita, atau sesekali bunyi jangkrik mengepakkan sayapnya
lalu di dalam kepalaku mulai berkhayal
“bagaimana kalau kita ke ke negeri yang hijau?”
“maksud kamu? seperti Kalimantan yang hutannya banyak itu?”
“Bukan! bukan itu. Memangnya Kalimantan masih banyak hutannya. Kudengar sudah banyak yang habis dan tandus”
“Lalu, apa maksudmu negeri hijau itu?”
“Seperti Skotlandia. Hijau. Banyak rumputnya”
“Kamu pergi saja ke Kebun Raya Bogor. Di sana juga banyak rumput dan tumbuhan-tumbuhan lain”
“Tapi aku ingin ke Skotlandia”
“Memangnya ada apa di Skotlandia?”
“Ya, ada yang hijauhijau itu!”
“Nah, di Kebun Raya Bogor juga banyak”
“Ah, tapi beda”
“Apa bedanya? di sana juga sejuk, banyak pohon-pohon rimbun”
“Bagaimana bisa kamu menyamakan Skotlandia dengan Kebun Raya?!”
Kamu tak menjawab
Singa yang tadinya menguap itu kali ini berjalan gontai dan berhenti di bawah pohon kering.
“Bagaimana bisa kamu..”
“Ya, kamu itu ada-ada saja. Tiba-tiba bilang ingin ke Skotlandia. Apa yang mau kamu cari di sana? Laki-laki dengan rok kotak-kotak?”
“Tidak. Aku mau melihat yang hijauhijau. Mataku sudah sepat lihat semrawut kota dan hidungku sudah sesak dengan asap knalpot setiap pagi dan sore. Telingaku lama-lama bisa radang diterpa bunyi klakson atau suara mesin motor pemuda kampung yang berisik seperti kaleng rombeng”
“Ya sudah. Ke Bogor saja. Mau kuantar?”
“Aku sudah bilang. Aku mau ke Skotlandia. Skotlandia. Bukan Bogor. Ya, aku mau berkenalan dengan pemuda-pemuda dengan kilt. Aku mau belajar meniup bagpipe. Aku mau berjam-jam menunggu munculnya monster Loch Ness. Aku mau berguling-guling di hamparan rumput hijau”
Kamu diam. Singa pun sudah tergeletak di bawah pohon kering. Tidur
Kamu beranjak dari sofa
Singa sudah diganti dengan tayangan tamasya
dan kali ini destinasinya adalah Skotlandia
“Selamat ya, sayang. Kamu sedang beruntung”
mengecup keningku lalu masuk ke kamar
tidur
seperti singa membosankan itu
tergeletak malas dan tak tahu ada keajaiban di luar sana
dan aku sekarang tak ada bedanya dengan singa itu
lapar. cari mangsa. kenyang. kebosanan
mungkin tak ada yang salah jika kita terbiasa dengan ini
–
Jakarta, tengah September 2008