Archive for the ‘Prosa’ Category

h1

dipilih hidup

August 4, 2009

Mereka tak bisa tidur.

Tak ada yang salah dengan mereka, begitu juga malamnya.

“Amalea, salahkah aku jika aku sering memikirkan tentang kematian?”

“Apakah kamu takut akan kematian?”

“Tidak. Aku tidak takut,amalea. Namun aku hampir selalu memikirkannya. Aku mulai khawatir ada yg salah dengan otakku.”

“Kamu tidak salah, Durata. Tidak ada yg salah akan kematian. Bukankah itu salah satu fase kamu, aku dan semua mahluk di bumi?”

“Ya tapi aku bisa gila.”

“Aku di sini, Durata. Aku akan mengingatkanmu.”

“Aku tidak mau jadi gila, Amalea. Aku ingin berpikir tentang hidup saja. Menghirup sari-sarinya yang tampak serampangan”

“Karena itu aku di sini, karena itu kamu di sini. Aku mungkin tidak akan membuatmu lebih bahagia, tapi aku ada. Ada di sini.”

Durata menatap lekat amalea.

“Ajari aku mengisi hidup,  Amalea”

“Hidup tidak bisa diajarkan, Durata. Ia terus berubah. Seribu nasihat tak akan pernah cukup. Seribu bekal tak akan pernah setimpal dengan kondisi. Namun aku, kamu ditakdirkan untuk hidup.”

Tak ada yang salah dengan mereka, begitu juga takdirnya.

bintaro, 2 agustus 2009

h1

derai sunyi

January 16, 2009

sengaja ia tidak mengingatmu

memanggilmu lagi hanya membuat sunyi

ramai lampu tidak mengobati

bising jalan terdengar semu

tawa di meja bercangkir-cangkir sisa

sembarang kata ia rapal dan buang

namun tetap bersinggungan senyap

pondok indah-bintaro, desember 2008

h1

awal es krim vanilla

November 23, 2008

Singkat cerita aku tahu kenapa aku begitu menikmati permainan kita.


[awal]

begitu mengesankan.

Begitu lumer bagai es krim vanilla yang kamu jilati dengan semangat. Namun begitulah es krim vanilla. Rasa manisnya begitu sederhana. Mengingatkanmu dengan nyamannya masa kecil saat kamu tidak mengerti apapun selain manis. Namun kemudian kamu mulai bosan menjilatinya karena tak ada kejutan di sana. Setelah itu kamu telah terbiasa dengan es krim stroberi yang manis namun asam. Telah biasa dengan choco chips yang sesekali menawarkan rasa pahit. Bahkan tidak terhitung berapa kali kamu harus menghabiskan es krim blueberry, mint dan jeruk dalam satu waktu sekaligus.

Kamu dan aku sedang samasama merasa kelelahan dengan hantaman manis, asam, pahit, asin, gurih, hingga semriwing.

Lelah hingga lidah kita seakan kebas.

Saat itu kita memutuskan untuk melatih diri dengan sesuatu yang sederhana saja. Itu bisa didapatkan dengan Es krim vanilla. Tanpa taburan coklat atau almond. Tanpa sebuah ceri segar mengkilat atau potongan-potongan stroberi menggemaskan.

Tanpa usaha.

Tak ada yang menyangka. Ternyata kamu yang begitu rumit ternyata hanya membutuhkan semangkuk es krim vanilla.

Es krim Vanilla lumer dijilat.

Ups, setetes jatuh di punggung tanganmu

Lengket.

Kamu mulai terganggu.

Menyebalkan

[akhir]

bintaro, november 2008

h1

asing

November 3, 2008

apakah kamu masih berada di sini ketika begitu banyak yang dibiarkan mengendap tanpa sempat terucap?

apakah kamu masih merasa dibuai hangat ketika menyadari bahwa di sekitarmu adalah manusia, bukan malaikat?

apakah kamu masih ingin kembali ketika udara menjadi begitu dingin karena manusia-manusia di dalamnya hilang daya untuk menyentuh?

bintaro, akhir oktober 2008

h1

secangkir lagi

September 25, 2008

kamu tidak lelah?

berlari kepayahan melepas masa lalu dan terengah-engah menangkap masa depan

sudah

duduk saja di sini

ingat apa yang ada di genggaman

terima dan rasakan

tidak ada yang salah atau benar di sini

resah akan selalu ada

gundah sesekali menyergap malam

namun ada lega yang menjadi perekatnya

akan sesak jika udara hanya dihirup saja

rasakan saja

di sini

Jakarta Selatan, September 2008

h1

aku kamu dan singa menguap

September 17, 2008

cahaya menyiram ruang kekuningan

aku, kamu dan singa berjemur di savana luas

Ia menguap dan matanya bersinar malas sepanjang durasi

mungkin tak ada yang salah jika kita terbiasa dengan ini

kamu menoleh ke wajahku. Tak lama. Lalu kembali menatap singa termangu itu

sunyi

hanya sayupsayup narator bercerita, atau sesekali bunyi jangkrik mengepakkan sayapnya

lalu di dalam kepalaku mulai berkhayal

“bagaimana kalau kita ke ke negeri yang hijau?”

“maksud kamu? seperti Kalimantan yang hutannya banyak itu?”

“Bukan! bukan itu. Memangnya Kalimantan masih banyak hutannya. Kudengar sudah banyak yang habis dan tandus”

“Lalu, apa maksudmu negeri hijau itu?”

“Seperti Skotlandia. Hijau. Banyak rumputnya”

“Kamu pergi saja ke Kebun Raya Bogor. Di sana juga banyak rumput dan tumbuhan-tumbuhan lain”

“Tapi aku ingin ke Skotlandia”

“Memangnya ada apa di Skotlandia?”

“Ya, ada yang hijauhijau itu!”

“Nah, di Kebun Raya Bogor juga banyak”

“Ah, tapi beda”

“Apa bedanya? di sana juga sejuk, banyak pohon-pohon rimbun”

“Bagaimana bisa kamu menyamakan Skotlandia dengan Kebun Raya?!”

Kamu tak menjawab

Singa yang tadinya menguap itu kali ini berjalan gontai dan berhenti di bawah pohon kering.

“Bagaimana bisa kamu..”

“Ya, kamu itu ada-ada saja. Tiba-tiba bilang ingin ke Skotlandia. Apa yang mau kamu cari di sana? Laki-laki dengan rok kotak-kotak?”

“Tidak. Aku mau melihat yang hijauhijau. Mataku sudah sepat lihat semrawut kota dan hidungku sudah sesak dengan asap knalpot setiap pagi dan sore. Telingaku lama-lama bisa radang diterpa bunyi klakson atau suara mesin motor pemuda kampung yang berisik seperti kaleng rombeng”

“Ya sudah. Ke Bogor saja. Mau kuantar?”

“Aku sudah bilang. Aku mau ke Skotlandia. Skotlandia. Bukan Bogor. Ya, aku mau berkenalan dengan pemuda-pemuda dengan kilt. Aku mau belajar meniup bagpipe. Aku mau berjam-jam menunggu munculnya monster Loch Ness. Aku mau berguling-guling di hamparan rumput hijau”

Kamu diam. Singa pun sudah tergeletak di bawah pohon kering.  Tidur

Kamu beranjak dari sofa

Singa sudah diganti dengan tayangan tamasya

dan kali ini destinasinya adalah Skotlandia

“Selamat ya, sayang. Kamu sedang beruntung”

mengecup keningku lalu masuk ke kamar

tidur

seperti singa membosankan itu

tergeletak malas dan tak tahu ada keajaiban di luar sana

dan aku sekarang tak ada bedanya dengan singa itu

lapar. cari mangsa. kenyang. kebosanan

mungkin tak ada yang salah jika kita terbiasa dengan ini

Jakarta, tengah September 2008

h1

ada dan sempurna

September 14, 2008

dan durata berkata

“aku butuh seseorang, amalea”

“seseorang seperti apa yang kamu butuhkan?”

“ia tidak harus sempurna, tapi ia harus ada”

“bukankah orang-orang selalu menginginkan orang yang sempurna?”

“tidak dengan aku, amalea. aku tidak butuh yang sempurna. aku butuh yang ada”

“bukankah menyenangkan jika kamu memiliki seseorang yang sesuai dengan harapanmu, durata?”

“itu tidak akan terjadi. kamu tahu, aku selalu berubah. jika ia adalah yang sempurna bagiku saat ini, apakah ia akan menjadi yang sempurna bagiku esok hari?”

“namun paling tidak kamu tahu bahwa ia pernah sesuai dengan harapanmu, durata”

“dan kemudian kecewa karena ternyata ia cacat dan tidak lagi masuk dalam kategori sempurna bagiku”

“lalu siapa yang kau inginkan, durata?”

“seseorang yang ada”

“supaya kamu bisa bahagia?”

“aku tidak perlu bahagia. hidup itu tidak selalu bahagia, amalea”

“namun bukankah itu yang sering menjadi tujuan manusia dalam hidup? bahagia”

“dan kemudian mereka kecewa karena hidup tidak selalu bahagia, karena hidup memang tidak hanya bahagia”

“maksudmu mereka buta?”

“ya, menurutku mereka tak memahami bahwa hidup tidak hanya bahagia”

“lalu kamu tidak ingin bahagia, durata?”

“apa kebahagiaan itu, amalea?”

“kebahagiaan itu ketika kamu merasa semua telah kamu raih”

“apakah kamu percaya kamu bisa meraih semuanya?”

amalea diam

“aku tidak ingin bahagia. aku tidak ingin terendam kesedihan. aku ingin memahami bahwa hidup itu ada bahagia namun ada sedih. ada kosong namun ada saat di mana semua terasa luber. aku hanya ingin memahami bahwa aku ada, dan dia. seseorang itu. dia juga ada”

“kamu tidak perlu bahagia?”

“aku tidak perlu bahagia. aku hanya perlu ada”

“dan seseorang itu…”

“ia juga hanya perlu ada. tak perlu sempurna. namun ada”

amalea kembali diam. matanya bening berair menebal.

“aku ada, amalea. kamu juga ada”

dan malam ini

hening berkejaran dengan gemuruh di hati amalea

dan durata merasa damai

karena ia tahu

ia tahu ini hanya guguran dalam hidupnya

dan mereka ada

Bintaro, 14 September 2008

h1

pagi terakhir di dunia

September 1, 2008

 

Dan pagi ini ia merasa bahwa ini hari terakhirnya di dunia.

Ia membuka mata dan berpikir bahwa ini terakhir kali ia bangun dari lelapnya.Kedua kakinya menyentuh ubin dan ia merasa bahwa ini terakhir kalinya tubuhnya menisik bumi. Hujan di balik jendela. Ini yang terakhir.  Wajah di cermin. setiap garis punya kisahnya sendiri. satu garis di kening adalah tentang gundahnya saat mencoba menarik garis di antara nasib. garis halus di tepian bibirnya adalah tentang dua kelahiran dalam hidupnya. Hadirnya dua pelita hati yang menjadi elemen pembakarnya. Genggaman mungil yang selalu membuatnya rindu. Tawa renyah tanpa beban yang membuatnya lupa akan lelah. Semburat kecewa ketika ia mengabaikannya. Atmosfir dingin ketika bersama dua pelita hatinya. Luapan benci ketika ia dianggap tak juga kunjung memahami harapan mereka. Rasa kosong yang menjalar saat menyadari dua pelita hatinya telah merangkai garis hidupnya sendiri. Ini kerutan abadi dan tak akan bertambah lagi.

embun

Ia usapkan embun di kening dan kelopak matanya. Kehangatan masa kecil yang tak bisa diulang lagi. Sungguh dulu ia begitu benci dibangunkan saat langit timur belum memudar. Namun ibunya tak pernah sekalipun lupa menepuk punggungnya dan itu berarti ia harus segera meraih sarung dan bergegas ke surau. Sepuluh tahun terakhir, ia selalu terbangun saat sahutan memanggil itu bergema. Ia tetap memejamkan mata, berharap Ibu menepuk punggungnya. Namun itu tidak terjadi. Tidak dalam sepuluh tahun terakhir ini. Ia hanya berpura-pura itu akan terjadi. Ia hanya berharap itu dapat terulang lagi. Sekarang ia tahu, ini terakhir kalinya melepas harapan.

cincin

Cincin di atas meja rias tersiram kuning pendaran lampu. Ia pasang cincin itu di jari manisnya. Matanya menoleh ke arah istrinya. Masih bermain di dimensi mimpi. Ia tahu itu. Kedua bola mata di balik kelopak istrinya masih bergerak-gerak. Pelan-pelan ia menyentuh bahu lalu lengan halus istrinya. Dihirupnya hangat kulit istrinya. Biarkan bibirnya menelusuri lembut bahu istrinya. Ini yang terakhir.

Tak usah cemas, sayang.

Kamu tahu, selama kamu masih bisa mengingat apa yang telah kita rangkai maka aku akan hadir di sana. Selama kamu masih ingat ketika jari-jari mungilmu dengan lincahnya mencari celah di antara sela jemariku. Selama kamu masih ingat malam ketika berdua dan tidak satupun dari kita bersuara, namun itulah malam di saat kegaduhan hanya kita yang merasakan.

Pagi ini

Pagi ini hanya kusimpan untukku. Ini pagi terakhir kamu menemaniku. Tak usah kau buka matamu atau ucapkan apapun. Pagi bersama kamu dengan cara seperti ini sudah cukup untukku. Jika kamu bangun nanti dan mencariku. Mungkin kamu akan merasa gelap ketika kamu tahu bahwa aku sudah tidak perlu kamu cari lagi. Namun aku tahu. Aku tahu kamu akan mengerti. Kamu akan mengerti, sayangku. Seperti kamu memahamiku selama ini, di mana bukan benar dan salah lagi yang menjadi masalah. Hanya ada kamu dan aku, suamimu. Aku membuktikannya. Pada akhirnya bukan kertas penilaian yang kita adu sebagai pembuktian. Sakit dan sesal kita yang rasa. Kehilangan kita yang rasa. Kehadiran kita yang rasa. Senang dan syukur juga kita yang rasa. Tak ada yang lebih benar dan lebih salah. Aku sudah membuktikan. Pagi terakhir ini, kamu dan aku saja, istriku. Aku tahu kamu mengerti, seperti selama ini kamu mengerti.

Ia melangkah keluar. Pagi terakhirnya hening. Hanya gemuruh angin yang terdengar. Namun bukan gemuruh dengan sulutan kegelisahan yang dulu membuatnya gusar. Ini gemuruh yang meyakinkannya, bahwa ini adalah pagi terakhirnya di dunia.

Ia menarik nafas.

Menahannya.

Dua detik.

Lima detik.

Gemuruh melebur dengan hening.

Bintaro-Senayan, 31 Agustus – 1 September 2008

selamat ke-25 untuk saya

 

h1

tik tok tik tok

August 25, 2008
dan manusia selalu mengeluh tentang waktu
terlalu singkat
terlalu sempit

ingin kuulang lagi
ingin kuhapus saja

jangan sekarang
oh, ternyata kamu terlambat
seperti tak pernah tepat

melelahkan

Senayan, 22 Agustus 2008
h1

pemburu pelangi

July 10, 2008

Kali ini Amalea dan Durata duduk di atas batang pohon besar kering berwarna kelam dengan ujung melingkar

Durata menyandarkan kepala di atas bahu Amalea

Amalea menatap gradasi langit jingga dan abu-abu

Durata memandangi kelopak mata Amalea yang mengerjap

“Pelangi, aku ingin lihat pelangi”

“Buat apa melihat pelangi, Amalea?”

“Aku suka melihat pelangi. Pelangi itu menyenangkan”

“Ia hanya bias-bias yang tak lama hilang”

“Tak apa meski pelangi hanya sementara. Aku suka pelangi”

“Tapi pelangi tidak akan bisa menemanimu saat malam”

“Aku bisa menunggu lelap di malam hari sambil memikirkan pelangi”

“Pelangi hanya indah dipandang. Ia kehilangan sihirnya saat kau mendekat”

“Bukan masalah buatku. Aku tak perlu dekat dengannya”

“Kamu suka bermimpi, Amalea. Tak usahlah kamu banyak bermimpi. Aku senang memandangimu menikmati pemandangan seperti ini, namun sepertinya kamu perlu mengurangi sedikit khayalmu”

“Kalau aku tidak seperti ini, kamu tidak akan mencintaiku bukan?”

“Mungkin. Mungkin saja, tapi tidak baik jika kamu terus seperti ini”

“Jika aku tidak seperti ini nanti kamu akan berhenti mencintaiku. Biarkan aku seperti ini”

“Kurangilah sedikit”

“Nanti kamu akan berkurang mencintaiku”

“Tidak akan”

“Tapi tadi kamu mengaku bahwa inilah yang membuat kamu menyukaiku”

“Kamu membuat pembicaraan ini menjadi tiada akhir”

“Aku ingin mengejar pelangi”

“Pelangi tak terkejar”

“Aku ingin mengejar pelangi”

“Kamu sungguh keras kepala”

“Aku akan mengejar pelangi. Aku akan melakukan perjalanan, berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengejar pelangi. Aku akan berburu pelangi, Durata”

“Berburu pelangi?”

“Ya, berburu pelangi. Aku akan membuat melukis setiap pelangi yang berhasil kutangkap. Aku akan merangkai kata untuk setiap pelangi. Aku akan menuliskan tiap detil bias warna yang terpendar”

“Kalau begitu aku akan memastikan aku tetap bisa menikmatimu memandangi pelangi, Amalea”

Amalea berbinar

Durata rindu pohon besar kelam dan gradasi langit oranye abu-abu.

Senayan, 16.50 WIB 10 Juli 2008

h1

tak pernah basi dan tanpa tapi

July 9, 2008

kala ia menjangkit

tak akan ada kata tapi

tak ada yang keliru

karena saat ia ada

tak akan kamu mengenal kata namun

hanya

    ada

        dia

           dan

               lalu

                    kamu

                        jatuh     

             tidak sadarkan diri

                        kemudian?

 

Senayan, Juli 2008

h1

menari kesedihan

July 3, 2008

Namanya Amalea

Namanya Durata

Amalea dan Durata berdampingan

Mereka saling pandang

“Durata, aku ingin menari bersamamu”

“Menari apa? Kamu tahu aku tidak bisa menari”

“Menari apa saja. menari apa saja”

“Aku ingin menari sambil berkabung”

“Bicaramu aneh. Apa maksudmu menari sambil berkabung?”

“Ya, menari sambil berkabung. Bersedih”

“Durata, kamu aneh sekali. Orang menari di saat senang. Bukan di saat sedih”

“Memangnya tidak ada tarian khusus untuk orang yang sedang sedih?”

“Mungkin ada. Mungkin saja ada. Tapi jarang orang yang melakukannya, karena biasanya orang menari saat mereka gembira. Misalnya saat pesta ulang tahun, pesta pernikahan…”

“Kamu tahu darimana kalau mereka yang menari di pesta itu sedang bersenang-senang?”

“Mereka tertawa. Mereka punya energi untuk menari. Mereka menari seperti tidak ada hari esok”

“Siapa bilang? Siapa bilang begitu? Mereka bisa saja sedang sedih”

“Tapi paling tidak mereka berusaha untuk senang, kan?”

“Berusaha untuk senang bukan berarti tidak sedang sedih. Mengapa mereka tidak menarikan tarian tentang kesedihan?”

“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan kesedihan, Durata?”

“Aku tidak terobsesi. Aku hanya berpikir realistis saja. Banyak orang sedih di dunia ini”

“Tapi bukan berarti kau harus memikirkannya bukan?”

“Aku tidak bisa tidak memikirkannya. Kamu tega sekali tidak memikirkan mereka”

“Lho, ini bukan tentang tega tidak tega. Kamu bisa lelah luar biasa kalau kamu memikirkannya”

“Aku bilang aku tidak bisa tidak memikirkannya”

“Durata, bisakah kita menari sekarang?”

“Menari kesedihan?”

“Tidak penting menari apa. Aku hanya ingin menari bersama kamu. Kamu boleh memikirkan kesedihan ketika menari bersamaku. Aku boleh memikirkan kamu memikirkan sesuatu yang indah ketika kamu menari bersamaku”

“Setuju. Aku setuju, Amalea”

Amalea dan Durata menari disiram sinar oranye dari matahari yang hampir sembunyi di balik awan abu

Senayan, 17.52 WIB. 3 Juli 2008

h1

mengkhayal andaikan aku jutawan

July 3, 2008
 
aduh!
jakarta hanya untuk konstipasi
karena jakarta bau terasi
Senayan, 3 Juli 2008
h1

tidur siang hari dengan mata terbuka

June 23, 2008

setiap orang meniupkan harapan

aku ingin jari-jariku menari di tepian rambutmu

 

setiap orang melukiskan kenangan

aku ingin merasakan desir angin

 

setiap orang membisikkan cinta di telinga

aku ingin membiarkanmu tertidur

 

tak ada yang lebih dari segaris senyum di bibir

 

Senayan, 17.48, 23 Juni 2008 

 

h1

Seribu Rupa

June 19, 2008

Manusia seribu rupa

Sungguh tidak tertera
Tersenyum polos
Lalu menyeringai kasar
Menatap kosong
Lalu tertawa lepas
Terkadang bingung
Terkadang sinis
Terkadang menggelegak
Seperti ada energi yang terus memompa
Lalu diam
dan bertanya
“Bagaimana dengan kamu?”

Sekitar Bintaro, Awal Februari 2008