Archive for May, 2009

h1

menjadi duapuluhlima

May 26, 2009

Ya, sekarang kamu yang sedang membaca tulisan ini mungkin sudah lelah dengan puluhan cerita tentang menjadi ‘20 something’. Ratusan tulisan, artikel, cerita, novel hingga film membahas tentang hidup di umur duapuluhan, dan lebih khususnya hidup di pertengahan duapuluhan. Sebagian orang mengatakannya ‘quarterlife crisis’.

Duapuluhlima. Bukan angka yang cukup friendly. Terlalu besar untuk menganggap diri masih remaja, namun terlalu gengsi dianggap dewasa dengan segala hal yang berhubungan dengan ‘settling down’. Paling tidak itu yang saya rasakan sebagai perempuan (lajang) di umur duapuluhlima. Saya tidak tahu persis apa yang dirasakan oleh lakilaki di umur yang sama. Apakah masih menganggap diri sama seperti empat atau lima tahun sebelumnya di mana yang ada di kepala adalah ‘hiduplah seperti tiada hari esok’ atau sedang mengisi pundi-pundi tabung ego dengan mengejar karir dan tentunya materi, atau sudah memikirkan tentang rencana hidup-tenang-berkeluarga-dan-tidak begajulan-lagi-karena-sudah-lelah. Saya tidak tahu, meski saya sering sekali berinteraksi dengan lakilaki berumur duapuluh lima hingga tigapuluh tahun. Saya sendiri berasumsi pikiran sebagian besar dari mereka adalah nomor satu dan dua, pilihan ketiga mungkin baru muncul ketika ada pasangan yang mendampingi dan pekerjaan dalam kondisi jenjang-dan-penghasilan-yang-terjamin.

Bagaimana dengan isi kepala perempuan di umur duapuluhlima? Saya bisa tunjukkan dengan materi obrolan mereka ketika bertemu. Pekerjaan-jodoh-pekerjaan-jodoh-jodoh-pekerjaan—jodoh-jodoh-pekerjaan-pekerjaan. Percayalah. Tidak pernah jauh dari topik tadi. Cukup beragam bukan? ;-) OK. Seperti apa sih obrolan tentang pekerjaan? Penghasilan OK tapi dengan bos dan rekan-rekan kerja yang berjiwa Dementor. Siap menghisap kebahagiaan seketika, tidak peduli kamu sedang butuh waktu untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Atau ini, pekerjaan sesuai impian namun rekening bank bagaikan terminal dengan nominal yang hanya datang dan pergi. Tak ada yang benar-benar singgah apalagi bertambah. Bisa juga ini, pekerjaan sesuai jurusan, gaji lumayan tapi selalu lembur hingga tengah malam plus akhir pekan hingga tidak ada waktu untuk keluarga, teman-teman dan pacar. ‘I have NO LIFE!”, itu yang diucapkan sahabat perempuan saya saat ia curhat tentang keadaan hidupnya. Nah, kira-kira begitu topik seputar pekerjaan yang biasa dibicarakan perempuan saat bertemu sahabat-sahabatnya.

Soal jodoh? Nah, yang ini tidak kalah beragamnya. Punya pacar atau tunangan, semuanya baik-baik saja dan dikenal sebagai salah satu pasangan paling serasi namun entah kenapa tidak kunjung yakin kalau ‘he’s the one’. Bisa juga kasus ini. Sudah bertahun-tahun pacaran tapi hubungan tidak pernah jauh dari status ‘it’s complicated’ dan terbiasa dengan kondisi hubungan seperti lampu yang sekarat, ‘on and off and on and off’. Terlalu ‘panas’ saat bersama namun terlalu takut hidup sendiri. ‘Cerita lama’ banget, kan? Tapi saya yakin kamu pernah mendengarnya atau mungkin mengalaminya. Topik ‘jodoh’ lain adalah selalu berakhir dengan laki-laki yang ‘salah’. Sudah berusaha mencari pilihan yang variatif namun setelah sekian kali mencoba dekat dengan berbagai macam cowok, kok lama-lama merasa seperti magnet yang sudah didisain hanya menarik jenis cowok yang sama : brengsek, bodoh atau bermasalah. Klasik? Ya, memang kisah-kisah kami hanya sekitar itu saja padahal menurut kacamata saya, mereka yang membahas topik-topik tadi adalah perempuan yang pintar, cantik, penampilan stylish dan mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan super. Kenapa sih dua topik itu terus yang jadi isu langganan obrolan perempuan? Ya, mungkin karena dua topik itulah yang selalu dan akan mempengaruhi kehidupan kita di masa depan. Simpelnya begini, dalam bidang karir di umur sekarang sudah bukan saatnya coba-coba pekerjaan lagi. Sudah saatnya memutuskan karir kayak gimana yang ingin dijalani karena seperti bakal telat deh kalau baru memutuskan saat di umur 29 atau 30 tahun. Dalam bidang jodoh, (banyak yang bilang) sudah bukan saatnya main-main lagi. Bukan waktunya cari pacar, tapi cari calon suami. Ya, calon pasangan yang akan ada di saat kita bangun pagi, sarapan, makan malam, nonton TV, tidur malam selama puluhan tahun ke depan. Wow, big deals! Yup, begitulah rasanya hidup di usia duapuluhlima (atau duapuluhan). Situasi “mengkondisikan” kita untuk bisa bijak mengambil keputusan-keputusan yang signifikan karena keputusan-keputusan itu sangat mungkin mempengaruhi kondisi kita di masa depan. Namun di satu sisi, seringkali kita merasa clueless. Bingung memilih apa yang terbaik buat kita. Itu belum ditambah dengan tekanan dari lingkungan seperti orangtua dan keluarga. Kalau sudah begitu, perasaan takut salah, takut gagal, takut kecewa memborbardir pikiran. Wah-wah-wah, rasanya situasi itu seperti ‘knock on the head’ yang menyadarkan bahwa “Hey, wake up girl! Sudah bukan waktunya lagi being careless and free. Banyak keputusan penting yang harus kamu tetapkan.

Akhirnya saya mencoba berpikir. Memutar kembali puluhan obrolan dan curhatan seru yang dilakukan oleh para perempuan duapuluhlima ini. Well, sepertinya semua itu tentang pilihan dan menentukan sikap. Kenapa sih kita nggak kunjung selesai membahas problem di kantor? Karena kita belum menentukan sikap akan situasi yang terjadi di kantor. Kenapa sih kita nggak kelar-kelar bingung memilih antara jadi diplomat, copywriter atau buka butik? Karena kita nggak kunjung berani untuk memilih. Kenapa sih kita nggak bisa juga lepas dari hubungan berstatus ‘it’s complicated’ ini? Ya, karena kita belum berani untuk berbuat tegas pada diri sendiri. Selama kita belum berani untuk melangkah dan menentukan sikap, isu-isu itu akan terus muncul.

Yeah, I know, being twentyfive is hard. Kadang rasanya ingin kembali ke masa kecil. Kalau kata John Mayer, “stop this train. I wanna get off and go home again. i can’t take the speed it’s moving in. I know i can but honestly won’t someone stop this train.” Rasanya ingin loncat ke kondisi di mana semuanya terasa sederhana dan mudah. But well, life is a journey. Hidup itu belajar. Entah saat kita berusia lima, delapanbelas, duapuluhlima, tigapuluhempat atau limapuluhenam tahun. Tetap dan akan selalu menjadi proses belajar. Memang banyak keputusan signifikan yang mungkin sudah dan akan kita, para perempuan duapuluhlima ini, putuskan. Keputusan itu mungkin tepat, mungkin juga keliru. We’re only human, right? dan kalau kita nggak pernah keliru, maka kita nggak pernah belajar. Asalkan kita selalu jujur dengan diri sendiri dan berani menentukan sikap, kita pasti akan ‘tumbuh’. Takut menentukan sikap lah yang membuat kita kembali menghadapi masalah yang sama. Yeah, mungkin hingga beberapa tahun ke depan isi curhatan saya atau kamu dengan para sahabat masih akan tetap berputar di tema yang sama, tapi semoga kita sadar untuk belajar lewat pengalaman-pengalaman sebelumnya, jadi kita bisa lebih bijak menyikapi apapun yang muncul di depan dan sekitar kita.

Bintaro, Maret 2009

artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, Juni 2009

h1

jernih

May 10, 2009

saya sering kagum dengan cara-Nya. bagaimana tangan-Nya bisa menarik, menjatuhkan, menggeser, melenyapkan dan memunculkan begitu banyak hal tanpa diduga.

saya termasuk orang yang percaya bahwa doa bukanlah sekadar rutinitas yang dilakukan setelah selesai ibadah atau permintaan-permintaan lirih yang kita susun rapi dan rapal menjelang tidur.

doa adalah apa yang kita ucapkan. tidak hanya pada diri sendiri, tapi juga saat berhadapan dengan orang lain. doa adalah apa yang kita pikirkan. kalimat-kalimat yang berseliweran di dalam benak. doa adalah apa yang kita yakini.

di saat kita mengucapkan ‘tidak tahu’ ketika bicara tentang keinginan atau tujuan. maka doa sendiri menjadi hampa. di saat kita masih penuh dengan tanya. maka doa menjadi nihil.

doa menjadi jelas ketika ketika kita mengetahui. Kemudian lewat cara-Nya kita diberi petunjuk -entah apa yang dimunculkan, digeser, ditarik, dimusnahkan atau  didatangkan kembali-

Ya, doa menjadi jernih di saat kita sadar.

bahkan di saat kita merasa belum cukup banyak bersujud untuk Dia.

foto oleh nik.e

bintaro, 10 april & 10 mei 2009

h1

naik kereta tut.tut.tut

May 5, 2009

Sudah hampir dua tahun ini saya jadi penumpang kereta ekpres AC Sudirman dan Ciujung. Awalnya saya sempat ragu (dan sedikit jiper) menggunakan transportasi ini. Maklum, kalau mendengar kata ‘kereta ekonomi’ kan pasti yang muncul di pikiran saya adalah kereta yang panas, bau, berdesakan sampai tahap kaki tidak bisa menyentuh lantai karena saking sesaknya. Saat kuliah dulu, saya sering sekali mendengar cerita teman-teman saya yang kebetulan penumpang tetap kereta ekonomi. Katanya mereka baru saja satu gerbong dengan kambing lah, ayam lah sampai bapak-bapak pervert.Belum lagi jadwalnya yang kabarnya sering molor. Waktu itu, sepertinya kereta sudah saya hapus dari daftar transportasi umum. Namun, ketika mulai bekerja di kantor yang berlokasi sekitar Thamrin, pilihan untuk menggunakan kereta sebagai transportasi pergi-pulang kerja saya masukkan. Kebetulan saat itu kakak saya juga bekerja di sekitar Sudirman dan katanya kereta yang ia tumpangi selama ini selalu tepat waktu dan nyaman. Saya yang awalnya ragu akhirnya mau mencoba kereta Sudirman ekpsres  (Serpong-Tanah Abang). Ditemani kakak saya tentunya, karena kalau tidak dijamin baru sampai stasiun sudah kelimpungan.

Ternyata testimonial kakak saya benar. Keretanya nyaman dan tepat waktu. Tanpa harus berdesakan atau satu gerbong dengan ayam atau kambing. Kalau bapak-bapak pervert saya nggak tahu, deh. Toh, kalau ada yang pervert kan gerbongnya lega jadi bisa langsung kabur. Akhirnya, gambaran kereta panas-bau-sesak itu lumayan terkikis dari pikiran saya. Memang sih, harus mengeluarkan biaya lebih untuk bisa naik kereta ekspres AC ini, tapi buat saya, kalau mau dibandingkan dengan naik bus atau kendaraan pribadi. Kereta lebih hemat dan efisien, terutama dari segi waktu. Setiap pagi saya harus sampai kantor maksimal jam 06.30 karena ada program talkshow live jam 7 pagi. Kalau naik kendaraan pribadi atau bus, saya pasti harus berangkat dari rumah jam paling telat jam 05.45. Sementara dengan kereta, saya bisa naik KRL Ciujung jam 06.05 dan sampai di stasiun Palmerah jam 06.15. Tinggal naik ojek dan saya sudah bisa sampai di kantor saya yang sekarang ada di daerah Senayan sebelum jam 06.30. Meskipun sedikit ironis karena ongkos ojek saya (Palmerah-Senayan) lebih mahal dari ongkos kereta (Bintaro-Palmerah). Namun dari segi waktu sangat efisien.

Begitu juga saat pulang. Meski tidak selalu dapat tempat duduk, tapi paling tidak saya cuma perlu berdiri sekitar 20 menit. Bayangkan kalau harus pulang naik bus. Sudah panas, penuh, macet pula. Memang sih ada bus feeder yang menyediakan jalur Sudirman-Bintaro, tapi lagi-lagi waktunya habis di jalan.

Nah, sepertinya sebentar lagi saya harus pamitan nih dengan si Sudirman ekspres dan KRL Ciujung karena nggak lama lagi saya akan pindah kantor. Calon kantor saya ini lokasinya di Kemang. Kereta dan bus sudah dicoret dari daftar transportasi pergi-pulang. Sepertinya saya akan kembali menggunakan kendaraan pribadi. Kembali bertemu jalan macet di mana saya harus rela terjebak di mobil selama (mungkin) satu atau dua jam. Mungkin saya akan kembali melakukan aktivitas favorit kalau sedang nyetir mobil sendiri, dengerin lagu sambil ikutan sing-a-long dengan volume suara nggak kira-kira terus joget-joget sendiri. Aktivitas yang nggak layak saya lakukan kalau saya sedang di atas kereta.

Pastinya saya akan kangen dengan kereta. Suara saat kereta berjalan dan gerbong-gerbongnya beradu itu sering mengingatkan saya akan pengalaman berkereta saat masih kecil dulu. Penumpangnya yang beragam, mulai dari ibu guru, bapak-bapak karyawan BUMN, mbak-mbak cantik dan modis, bule berbaju batik sampai anak-anak sekolah. Saya sering iseng mendengarkan percakapan para penumpang, soalnya kadang saya suka menemukan topik-topik yang lucu atau aneh. Lumayan buat bahan inspirasi.

Kereta juga membuat saya lebih terbiasa untuk jalan sendiri ke tempat asing. Kalau bukan karena kereta, saya kayaknya nggak akan deh menyentuh daerah stasiun Tanah Abang. Dulu, dengar namanya saja sudah malas. Ternyata ya biasa saja. Memang sih harus hati-hati dan (kalau bisa) jangan di sana pas malam hari, tapi ternyata nggak seseram yang dibayangkan.

Kereta membuat saya setuju dengan pernyataan, “coba dulu baru komentar”. Hey, dengan kereta saya juga ikut andil dalam ‘melegakan jalanan Jakarta’. Paling tidak saya bisa bicara, “Ayo, hemat energi” tanpa terlihat seperti omong kosong. Selain itu, naik kereta memberi saya waktu dan ruang untuk ‘mikir’ (atau mengkhayal atau ngelamun).

Kalau sudah begini, saya jadi ingin mendengarkan lagi ‘soundtracks‘ favorit saya kalau sedang naik kereta. ‘Star Guitar’-nya Chemical Brothers dan ‘25 to Midnight’-nya Sting.

‘train i ride, don’t be slow.  if your whistle can blow.  15 miles of track. tell them i’m coming back..’

bintaro, awal mei 2009

h1

kebas

May 4, 2009

.sekarang.sekarang.sekarang.

berpikir bahwa hidup hanya sekali maka sudah menjadi hakmu untuk melakukan apa saja yang kamu mau.

namun setelah berpuluh kali. mungkin beratus kali. kamu mulai mempertanyakan esensi dari aksi-aksi impulsifmu.

ya, hidup hanya sekali.

ya, mari hidup seperti tiada hari esok.  namun beginikah cara mengisi sisa hidup yang katanya tiada esok?

k [    ] s [    ] n g

asing

.

.

Tuhan,

“saya hanya ingin hidup tanpa gelisah”

begitu permintaanmu setiap kamu baru saja lepas dari sakit kepala setelah letih semalam menikmati hidup dengan cara yang kamu tahu.

ya, begitu terus hingga permintaan itu seperti tak ada artinya lagi.

karena kamu tidak kunjung memilih.

.

manusia,

sering membuat janji yang kerap dilanggarnya sendiri.

lalu bergumam,

“mari tunggu saja sampai esok” *

bintaro, april-mei 2009

*Just wait till tomorrow.I guess that’s what they all say.Just before they fall apart‘ [new order.regret.1993]