Archive for February, 2009

h1

akses 24/7. di mana saja. kapan saja.

February 27, 2009

Mungkin anda sudah tahu tentang aplikasi ‘Latitude‘ yang beberapa waktu terakhir ini ramai dibahas banyak orang, terutama mereka yang dekat dengan teknologi. Aplikasi ini sebenarnya pengembangan dari Google Maps. Google Maps yang kita kenal selama ini memungkinkan kita untuk melihat citra satelit daerah apapun yang kita inginkan. Nah, kalau ‘Latitude’ itu memungkinkan kita mengetahui di mana posisi orang. Ya, mengingatkan dengan adegan di film-film di mana satelit bisa menangkap di mana si tokoh berada. Bahkan kalau di film, satelit sampai bisa menampilkan dengan detail apa yang sedang dilakukan tokoh tersebut. Hmmm, menakjubkan sekaligus menakutkan. Menakjubkan karena teknologi bisa menampilkan informasi sedetail itu, namun menakutkan kalau kita membayangkan diri kita yang di’trackdown‘ oleh satelit. Semua aktivitas kita dipantau. Bisa-bisa jadi paranoid (nggak pake android :p ).

OK, Latitude mungkin belum “semengerikan”  itu dalam menampilkan informasi. Hingga saat ini, Latitude baru sampai tahap memberi info lokasi saja. Misalnya, kita jadi tahu kalau temen kita sedang berada di daerah Senayan atau Cililitan. Seperti kemarin, sahabat saya bisa tuh ngomong, “Eh, Dian nggak masuk kantor, ya? Sakit lagi? Kok tadi sore cek di Latitude, dia udah di Bintaro”. Kebetulan rumah sahabat kami itu memang di Bintaro. Magic, huh?

Nah, masalahnya adalah apakah semua orang benar-benar nyaman keberadaannya dipantau orang lain? Saya rasa anda pasti tahu jawabannya. Jika konteksnya adalah orangtua dan anak, tentunya ‘Latitude’ akan sangat bermanfaat. Mengingat begitu mengkhawatirkannya keselamatan anak di kota besar seperti Jakarta ini. Namun bagaimana dengan pasangan?pacar?suami?istri?bos? Saya yakin anda pasti mikir berkali-kali sebelum mengaktifkan ‘Latitude’ ini dan memasukkan mereka ke dalam daftar ‘Latitude’ anda ;)

“Tapi meski sudah diinstall, ada fungsi buat matiin, kok. Jadi, kalo nggak mau ketauan di mana. Diset dulu aja, jadi nggak akan terdeteksi.”, sambung sahabat saya tadi.

Jadi, meski sudah memasang ‘Latitude’, kita masih bisa mengelabui dengan mengubah setting terlebih dahulu yang membuat kita seakan masih berada di Bintaro, padahal kita sudah ada di Surabaya. Reaksi saya? “Aduuuuh, kok malah jadi merepotkan, ya?”. Kalau sebelumnya saat bersiap berangkat ke suatu tempat, kita tinggal berangkat saja, sekarang harus ada langkah-langkah antisipasi seperti, “OK, gue mau hore-horean sama temen-temen di Ancol. Wah, pacar gue jangan sampe tau, nih. Set dulu ah, daripada ntar malah ribet“.

Saya jadi ingat jaman kita belum kenal sama yang namanya HP. Satu-satunya sarana komunikasi yang sifatnya realtime adalah telepon rumah. Ya, serepot-repotnya, paling hanya urusan tagihan membengkak atau rebutan telepon sama nyokap atau saudara atau (bahkan) pembantu. Pas udah kenal HP, dimulailah akrabnya kalimat “lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP”.

HP tentu jadi salah satu teknologi paling signifikan dalam keseharian kita, namun di satu sisi juga memunculkan masalah. Terutama masalah hubungan dengan orang sekitar. Pasangan bisa berantem hebat karena salah satunya tidak menjawab telpon atau membalas SMS.

“Emang HP kamu taroh mana, sih? Namanya HP ditaroh deket kamu, dong

“Iya, tapi tadi aku sedang ke kamar mandi sebentar, sayang”

“Kamu di kamar mandi lama amat? emang ngapain? aku udah nelponin dari setengah jam yang lalu nggak diangkat-angkat”

Nah, kira-kira gimana dengan aplikasi ‘Latitude’?

“Kamu di mana?”

“Di Senayan City, sayang. Mau ada meeting, nih”

“Eh, kamu berani-beraninya bohong. Ini aku baru aja cek, kamu sedang di Plaza Senayan. Ayo, ngaku kamu sama siapa di Plaza Senayan?!”

“Oh, iya. Ini memang baru keluar dari Plaza Senayan, nemenin temenku dulu baru abis itu meeting”

“Kamu bohong! Pasti kamu habis ketemu cewek lain”

Wooopsie.

Intinya, teknologi penghubung ini membuat kita tetap ‘terhubung dengan dunia’, namun di sisi lain bisa membatasi ruang pribadi dan menambah daftar kemungkinan problem yang akan kita hadapi. Ya, kalau dijadikan pepatah, “semakin banyak pilihan, semakin banyak manfaat maupun masalah”. Begitu juga dengan urusan si ‘Latitude’ ini. Di satu sisi bisa sangat membantu, misalnya bagi orangtua yang khawatir akan keselamatan anaknya, namun di sisi lain membuat kita merasa dimata-matai . Apalagi kalau misalnya mulai ada orang yang (dengan cerdasnya) mencari cara bisa mengawasi orang lewat ‘Latitude’ tanpa diketahui yang bersangkutan. OK, mungkin hanya saya saja yang paranoid, namun kemungkinan itu sangat besar, kan?

Sebenarnya pada akhirnya ini kembali tentang pilihan.  Well, bukan berarti secara ekstrim nggak menggunakan teknologi sama sekali. Tapi menggunakannya secara bijak dan selalu ingat kalau kita maupun orang lain punya ruang pribadi yang tetap harus dihormati. Punya akses komunikasi 24/7 bukan berarti bisa sesukanya menggunakan akses itu tanpa kenal waktu dan kondisi, kan? Selamat menikmati ragam pilihan teknologi penghubung. Awas, jangan sampai dibuat pusing sendiri ;)

Btw, kalau saya sih sepertinya memilih untuk tidak memasang aplikasi Latitude :p

Jakarta, 27 Februari 2009

h1

ironi

February 23, 2009

’sebenarnya yang gue butuhkan adalah berbagi. Esensi dari memberi.’

‘gue juga. sesederhana itu.’

‘ya, simpel. mungkin yang dibutuhkan hampir semua orang di kota ini adalah sesuatu yang sesederhana itu.’

’seperti jaman batu. jaman di saat kita tidak dihadapkan dengan ratusan pilihan’

‘ya. andai saja”‘

‘ya. asal kita tetap jujur, pasti akan ada”

[diam.]

percakapan terjadi di dalam restoran yang berada di sebuah mal bergengsi.

ice lemon tea-ice cappucinno-melted cheese fries-2 manusia umur pertengahan 20an.

jakarta, tengah februari 2009

h1

belajar

February 10, 2009

sebenarnya yang diperlukan adalah

saya terimakasih

bukan

saya ingin

atau

saya mau

apalagi

kamu harus

bintaro, februari 2009

h1

bff

February 10, 2009

sekarang artinya

blackberry fields forever

selamat datang  di Jakarta, bung dan nona

taktis dan modern itu perlu

jakarta tentunya, februari 2009

h1

intensitas maksimum

February 10, 2009

lebih baik  daripada menyesal karena tidak pernah mencicipi bahkan melihat lalu mengutuk diri karena tidak pernah berani untuk melangkah padahal yang diperlukan hanya jujur pada diri sendiri dan pada siapapun meski kadang tidak semua bisa menerima nilai dari kejujuran itu tapi paling tidak kamu sudah mencoba untuk jujur bagaimanapun caranya dan seperti apapun jawabannya karena ketika kamu jujur kamu tidak akan menyesali apapun.

karena dunia sudah cukup sesak hingga tak ada sela untuk kita sedikit menoleh ke sekitar dan mereka sudah memilih untuk terlalu sibuk.

dengarkan

mungkin suaranya sangat lirih

tapi ada

bintaro, awal februari 2009

h1

up to you, darling

February 10, 2009

gambar oleh nik.e

jakarta, februari 2009

h1

cermin

February 9, 2009

seberapa sering anda menertawakan diri sendiri?

tidak terlalu sulit, kok

jakarta, februari 2009