Kali ini Amalea dan Durata duduk di atas batang pohon besar kering berwarna kelam dengan ujung melingkar
Durata menyandarkan kepala di atas bahu Amalea
Amalea menatap gradasi langit jingga dan abu-abu
Durata memandangi kelopak mata Amalea yang mengerjap
“Pelangi, aku ingin lihat pelangi”
“Buat apa melihat pelangi, Amalea?”
“Aku suka melihat pelangi. Pelangi itu menyenangkan”
“Ia hanya bias-bias yang tak lama hilang”
“Tak apa meski pelangi hanya sementara. Aku suka pelangi”
“Tapi pelangi tidak akan bisa menemanimu saat malam”
“Aku bisa menunggu lelap di malam hari sambil memikirkan pelangi”
“Pelangi hanya indah dipandang. Ia kehilangan sihirnya saat kau mendekat”
“Bukan masalah buatku. Aku tak perlu dekat dengannya”
“Kamu suka bermimpi, Amalea. Tak usahlah kamu banyak bermimpi. Aku senang memandangimu menikmati pemandangan seperti ini, namun sepertinya kamu perlu mengurangi sedikit khayalmu”
“Kalau aku tidak seperti ini, kamu tidak akan mencintaiku bukan?”
“Mungkin. Mungkin saja, tapi tidak baik jika kamu terus seperti ini”
“Jika aku tidak seperti ini nanti kamu akan berhenti mencintaiku. Biarkan aku seperti ini”
“Kurangilah sedikit”
“Nanti kamu akan berkurang mencintaiku”
“Tidak akan”
“Tapi tadi kamu mengaku bahwa inilah yang membuat kamu menyukaiku”
“Kamu membuat pembicaraan ini menjadi tiada akhir”
“Aku ingin mengejar pelangi”
“Pelangi tak terkejar”
“Aku ingin mengejar pelangi”
“Kamu sungguh keras kepala”
“Aku akan mengejar pelangi. Aku akan melakukan perjalanan, berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengejar pelangi. Aku akan berburu pelangi, Durata”
“Berburu pelangi?”
“Ya, berburu pelangi. Aku akan membuat melukis setiap pelangi yang berhasil kutangkap. Aku akan merangkai kata untuk setiap pelangi. Aku akan menuliskan tiap detil bias warna yang terpendar”
“Kalau begitu aku akan memastikan aku tetap bisa menikmatimu memandangi pelangi, Amalea”
Amalea berbinar
Durata rindu pohon besar kelam dan gradasi langit oranye abu-abu.
–
Senayan, 16.50 WIB 10 Juli 2008

