Archive for July 3rd, 2008

h1

menari kesedihan

July 3, 2008

Namanya Amalea

Namanya Durata

Amalea dan Durata berdampingan

Mereka saling pandang

“Durata, aku ingin menari bersamamu”

“Menari apa? Kamu tahu aku tidak bisa menari”

“Menari apa saja. menari apa saja”

“Aku ingin menari sambil berkabung”

“Bicaramu aneh. Apa maksudmu menari sambil berkabung?”

“Ya, menari sambil berkabung. Bersedih”

“Durata, kamu aneh sekali. Orang menari di saat senang. Bukan di saat sedih”

“Memangnya tidak ada tarian khusus untuk orang yang sedang sedih?”

“Mungkin ada. Mungkin saja ada. Tapi jarang orang yang melakukannya, karena biasanya orang menari saat mereka gembira. Misalnya saat pesta ulang tahun, pesta pernikahan…”

“Kamu tahu darimana kalau mereka yang menari di pesta itu sedang bersenang-senang?”

“Mereka tertawa. Mereka punya energi untuk menari. Mereka menari seperti tidak ada hari esok”

“Siapa bilang? Siapa bilang begitu? Mereka bisa saja sedang sedih”

“Tapi paling tidak mereka berusaha untuk senang, kan?”

“Berusaha untuk senang bukan berarti tidak sedang sedih. Mengapa mereka tidak menarikan tarian tentang kesedihan?”

“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan kesedihan, Durata?”

“Aku tidak terobsesi. Aku hanya berpikir realistis saja. Banyak orang sedih di dunia ini”

“Tapi bukan berarti kau harus memikirkannya bukan?”

“Aku tidak bisa tidak memikirkannya. Kamu tega sekali tidak memikirkan mereka”

“Lho, ini bukan tentang tega tidak tega. Kamu bisa lelah luar biasa kalau kamu memikirkannya”

“Aku bilang aku tidak bisa tidak memikirkannya”

“Durata, bisakah kita menari sekarang?”

“Menari kesedihan?”

“Tidak penting menari apa. Aku hanya ingin menari bersama kamu. Kamu boleh memikirkan kesedihan ketika menari bersamaku. Aku boleh memikirkan kamu memikirkan sesuatu yang indah ketika kamu menari bersamaku”

“Setuju. Aku setuju, Amalea”

Amalea dan Durata menari disiram sinar oranye dari matahari yang hampir sembunyi di balik awan abu

Senayan, 17.52 WIB. 3 Juli 2008

h1

Kakilima dan Mahluk-mahluk Berdasi

July 3, 2008

Jakarta baru saja merayakan ulang tahunnya. Di usia 481 tahun, Jakarta menunjukkan transformasi yang begitu pesat. Hingga saat ini, Jakarta masih tetap menjadi destinasi utama bagi mereka yang ingin mengembangkan dirinya, terutama dalam hal ekonomi. Itulah kenapa Jakarta menjadi bentuk nyata dari melting pot di Indonesia.

 

Puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang tumpah di Jakarta untuk mengadu nasib. Sebagian beruntung, sebagian lagi harus bekerja keras dengan hasil yang tak seberapa. Hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Ya, Jakarta bukan cuma gedung tinggi dengan interior luks. Jakarta bukan hanya mal berisi butik disainer ternama dunia. Sosok Jakarta tidak hanya melulu mereka yang berdasi yang duduk di dalam mobil mewah mengkilat. Joki ’3 in 1’ adalah Jakarta. Pemukiman liar dan kumuh juga Jakarta. Pedagang asongan di lampu merah juga sosok Jakarta. Mereka adalah bagian dari jakarta. Kita sering sekali bertemu dengan mereka, namun mungkin kita memilih untuk tidak ”melihat” mereka. Menganggap mereka bagian dari kota ini tanpa memikirkan bagaimana kehidupan yang mereka jalani, bagaimana cara mereka menghidupi diri dan keluarga, apa yang mereka hadapi setiap hari dan apa cita-cita mereka.

Irfan Kortschak adalah salah satu dari penduduk Jakarta yang ”menyadari” kehadiran ’invisible people’ ini. Irfan bukan orang Jakarta. Ia bahkan bukan asli Indonesia. Penulis/Fotografer yang bekerja di UNICEF ini berasal Australia, namun keakrabannya dengan Indonesia tidak perlu ditanyakan. Mengambil studi tentang Indonesia dan Jawa, Irfan yang beristrikan orang Indonesia ini telah berdomisili di Jakarta sejak 1993.

 

Irfan memang bukan ekspatriat pertama yang memiliki perhatian tinggi akan kota Jakarta. Namun lewat buku ’Nineteen’ yang disusunnya bersama fotografer asal Amerika, Josh Estey, Irfan berhasil membuka mata kita sebagai orang Jakarta untuk melihat sosok Jakarta dalam perspektif berbeda. ’Nineteen’ berisi 19 profil orang yang berada di sekitar kita namun sering luput dari perhatian, yaitu para pedagang kaki lima. Irfan (dan Josh Estey) melakukan pendekatan dan mewawancarai pedagang asongan, penjual jamu, pemilik warung di daerah Senen hingga veteran yang menyambung hidup dengan menjual minyak.

 

Jika melihat sosok pedagang kaki lima di sekitar kita, mungkin sebagian dari kita akan memandang pekerjaan mereka dengan sebelah mata. Memang, sektor informal di Jakarta belum dianggap serius, padahal beberapa di antara mereka, penghasilannya tidak kalah dengan mereka yang kerja kantoran, meski setting ”kantor” dan penampilan kerja mereka tidak rapi jali nan wangi seperti mereka yang bekerja di gedung tinggi.

 

Masalah informalitas memang dihadapi kota Jakarta. Berita tentang pedagang kaki lima yang digusur tentunya bukan hal asing di telinga kita. Informalitas sudah menjadi bagian dari sebuah kota. Menurut Ananya Roy dan Nezar Alsayyad, informalitas adalah suatu moda urbanisasi yang menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi dan ruang di kawasan perkotaan. Menurut pengamatan mereka, pada kota-kota di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia, perkembangan kawasan perkotaan disebabkan oleh urbanisasi informal. [lebih detil bisa anda baca di sini]

 

Memang dari segi keamanan (baca: asuransi kesehatan dan pensiun) posisi mereka sangat lemah. Namun tidak semua orang punya kesempatan untuk bersekolah hingga S1 bahkan S2, atau punya kenalan yang bisa membantu mendapat pekerjaan di perusahaan yang bisa memberikan keamanan hidup. Oya, tidak semua orang juga merasa senang dan nyaman bekerja dengan orang lain atau berada di dalam institusi. But well, menurut Kortschak, kita semua yang tinggal di kota Jakarta ini, baik yang pedagang kaki lima maupun yang kerja di ruangan AC toh punya kesamaan, sama-sama berjuang hidup. Sama-sama ingin bahagia. Sama-sama ingin hidup tenang. Meski tahu bahwa mencapai hidup tenang itu kadang terasa mahal. Terasa mahal karena bukan melulu mengenai materi. Bagi setiap manusia di Jakarta, gambaran hidup berkecukupan tentunya sangat berbeda. Namun bagaimanapun, baik pedagang kakilima, maupun karyawan bank tentu setuju kalau hidup perlu diperjuangkan. 

 

Apalagi hidup di Jakarta.

 

Bintaro-Senayan, Juni-Juli 2008

ps : thank you for Mr. Irfan Kortschak and Mr. Josh Estey

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

h1

mengkhayal andaikan aku jutawan

July 3, 2008
 
aduh!
jakarta hanya untuk konstipasi
karena jakarta bau terasi
Senayan, 3 Juli 2008