Archive for July, 2008

h1

Bara dan Baja

July 19, 2008

Semburat langit perlahan menjadi gradasi abu lalu jingga.

Lampu-lampu proyek putih-putih masih terpancar.

Aku menatap lekat kilasan-kilasan di balik kaca jendela.

Ah, langit yang perlahan terang. Sekarang masih redup, namun tak lama lagi akan menjadi biru muda. Ternyata aku sudah lama tidak bertemu dengan gradasi abu jingga ini. Sudah lama. Sudah lama aku tidak merasakan suasana ini. Duduk di kursi belakang taksi. Sendiri. Berusaha memejamkan mata, namun tak pernah berhasil. Dulu, hanya kamu yang aku ingat. Sekarang, gradasi abu jingga di langit mengingatkan aku kembali akan kamu. Aku sudah hampir lupa dengan kamu. Paling tidak aku berusaha untuk melupakan kamu. Mencoba menyibukkan diri dan pikiranku supaya tidak ingat kamu. Namun ternyata langit hari ini mengingatkan aku lagi tentang kamu. Padahal aku sudah hampir lupa. Sekarang, di saat aku mengira aku sudah hampir lupa dengan kamu, ternyata aku masih ingat dengan kamu. Ingat sekali. Seperti kamu baru saja muncul di depanku tadi malam. Padahal kamu sudah lama sekali tidak hadir di depanku. Sudah lama sekali. Langit yang akhirnya mengingatkanku pada kamu membuatku sadar bahwa kita sudah setahun tidak bertemu. Kenapa sekarang ketika akhirnya aku mengingatmu semuanya jadi terasa sangat nyata. Setiap detil. Setiap nada. Setiap sentuhan. Setiap detak. Setiap degup. Nyata. Sangat nyata. Aku ingat benar apa yang menggeliat di dada ketika kamu menelpon hanya untuk bertanya aku sedang apa. Aku ingat seberapa kencang degupku bahkan ketika kamu hanya menggangguku lewat sebuah pesan singkat di pagi hari. Lalu tatapanmu ketika jeda pembicaraan kita. Langkah kakimu yang tak pernah lelah. Aku ingat semua. Aku ingat. Bahkan di saat seperti ini. Di saat aku sedang tidak ingin mengingatnya. Hanya karena langit pagi ini aku terpaksa mengingatmu. Sungguh, aku tidak ingin. Jika bisa, aku ingin mengumpulkan semua memori itu dalam sebuah kotak lalu aku bakar dan abunya aku sebarkan di laut hingga lenyap dimakan angin. Kemudian aku bisa hidup tenang.

Hidup tenang sudah bagaikan gambar pemandangan indah di sebuah kartupos bagiku. Sangat jelas dan aku bisa membayangkannya lalu tersenyum karenanya, lalu sadar bahwa itu hanya sebuah kartupos. Kartupos dengan gambar yang ditangkap oleh fotografer handal yang mampu merekam sudut dan momen yang tepat hingga gambar itu tampak jauh lebih istimewa daripada yang sebenarnya. Aku ingin percaya bahwa gambar kartupos itu benar-benar ada, namun terlalu banyak faktor yang membuatku ragu bahwa kenyataannya memang seindah di kartupos. Jangan hakimi aku karena bersikap apatis. Memang hidupku sudah semakin asing dengan ketenangan. Sejak ada kamu. Kamu datang dan semuanya berubah. Tentunya aku tidak bisa menyalahkanmu karena perbuatanmu juga didukung oleh perbuatanku dan jika aku memutuskan untuk mengambil langkah lain pasti sekarang aku tidak akan di sini. Memandangi gradasi langit yang sebentar lagi memudar dan mengingat kamu.

Tidak, aku tidak menyesali apa yang sudah aku jalani. Mengingat hidupku yang sudah tidak tenang lagi tidak membuatku ingin memutar waktu dan mengubah semuanya. Jika aku bisa memutar waktu, maka aku kembali dengan kondisi di saat itu dan aku pasti akan mengambil langkah sama yang kuambil saat itu. Jadi apa gunanya memutar waktu kalau akhirnya akan berada pada titik yang sama seperti sekarang. Tidak penting bagiku. Tidak ada gunanya. Meski sesekali aku berpikir bagaimana jika aku mengambil langkah berbeda waktu itu. Bagaimana jika aku memilih untuk tidak menoleh? Bagaimana jika aku memilih untuk menyingkir sebelum kamu menyodorkan tanganmu? Bagaimana jika aku memilih untuk tidak datang hari itu jadi aku tidak akan bertemu dengan kamu? tapi bagaimana jika aku memang ditakdirkan untuk bertemu dengan kamu, meskipun aku memutuskan untuk tidak datang hari itu? Bagaimana jika pertemuan aku dan kamu memang ditakdirkan ada, entah bagaimana caranya. Lalu aku lelah memikirkannya. Memikirkannya tidak akan pernah menemukan tanda titik. Tak akan. Jadi memutuskan untuk mencoba berhenti bertanya dengan kata-kata awal “Bagaimana jika” karena tidak akan ada ujungnya. Namun aku tidak pernah berhasil untuk tidak bertanya. Pertanyaan itu selalu timbul di saat tak terduga atau di saat yang tidak terhindarkan. Lalu aku menjadi semakin lelah, dan mulai tidak ingat kapan terakhir kali bertanya tanpa dua kata awal “bagaimana jika”. Sekarang, aku kembali bertanya dengan “bagaimana jika”. Sekarang aku lelah bertanya. Sekarang aku lelah berpikir aku terlalu banyak bertanya.

Langit semakin memudar. Gradasi abu jingga berubah menjadi seperti warna krim di atas cappucinno panas. Kamu sangat suka cappucinno panas tanpa gula. Tapi bukan hanya kamu saja yang suka cappucinno. Ia juga suka cappucinno. Hanya ia suka cappucinno dingin dan manis. Ia selalu memesan cappucinno dingin. Ia selalu memesan minuman dingin. Ia tidak suka minuman tanpa es. Ia selalu memastikan minuman yang ia pesan sudah dingin benar. Begitu juga jika di rumah. Ia tidak pernah meminum air tanpa memasukkan batu-batu es. Lalu ia meminumnya dengan nikmat. ia tidak pernah minum kurang dari dua gelas. begitu pula ketika di restoran atau di warung. Ia selalu meminum paling tidak dua gelas. Dua cangkir. Dua botol. Tak pernah kurang dari dua.

Aku sering berpikir mungkin ia memang membutuhkan minuman yang sangat dingin untuk melelehkan bara di dalamnya. Entah berapa banyak gelas dan puluhan, ratusan batu es yang ia perlukan untuk memadamkan percikan di dalamnya. Kadang aku berpikir ia memiliki bara abadi di dalam tubuhnya dan puluhan ribu gelas air berisi ratusan ribu es batu pun tidak akan bisa mematikannnya. Mungkin bisa membuatnya membeku sesaat, namun akan berpijar lagi.

Kadang, baranya membuatku berbinar seakan energi pijarnya juga tertangkap oleh tubuhku dan aku ikut berpendar. Kadang, pijarnya menyelamatkanku ketika aku tersudut dalam kegelapan. Pijarnya membuatku tahu ke mana untuk melihat. Baranya membuatku terbangun kembali. Baranya membuatku ikut terbakar. Namun kadang bara itu membuatku lelah. Membuatku tersengal kehilangan jeda untuk bernafas. Pijarnya membuatku ingin berlari jauh darinya supaya aku tidak tersulut panasnya. Dan aku memang mengambil langkah untuk menghilang darinya.

Lalu aku menghilang dengan kamu. Kamu yang jarang berkata. Kamu yang selalu kutunggu untuk membalas khayalanku hingga aku berkali-kali berjanji pada diriku sendiri untuk menyerah. Kamu yang selalu ada ketika aku merasa terbakar.

Haus. Haus. Haus.

Ketika terbakar, aku haus perisai baja dinginmu yang selalu menjadi tempat berlindungku. Kamu dan sentuhan jemarimu yang menjalarkan dingin ke dalam saraf-sarafku hingga tak terasa lagi bekas sulutan bara. Lalu aku menatap lekat matamu. Matamu yang jarang kau pinjamkan untukku hingga membuat aku ingin merampoknya lalu menikmatinya sendiri. Ya, aku hanya mau menikmatinya sendiri saja. Hanya untukku dan aku tidak ingin membaginya.

Namun tidak begitu dengan kamu.

Kemudian aku lelah.

Lelah bermain-main dengan imajinasiku tentang kamu. Lelah mengikuti arah jejakmu. Lelah menyusuri sudut misterimu. Lelah berpikir tentang kamu, juga tentangnya. Mungkin sebenarnya aku lelah pada diriku. Mendengar anganku menjerit setiap detik seperti berada dalam keramaian pasar malam di saat terserang vertigo, dan kemudian keadaan kembali gelap gulita dan mataku seperti buta. Aku mulai mengais secercah pijar. Namun kini pijarnya tak lagi hanya menawarkan kehangatan. Aku harus berhati-hati karena jika tidak aku bisa habis tersulut.

Sejak itu aku kalut. Tak tahu di mana harus bersarang.

Langit sudah terang biru dengan serat-serat awan.

Ponselku berbunyi nada yang sangat kukenal. Kuraih dan kulihat layar ponsel itu.

Bara

Reject

Taksi terus melaju. Masuk ke pintu tol menuju luar kota.

Senayan-Bintaro, 18-19 Juli 2008

h1

dekat di mata, jauh di hati

July 15, 2008

Dulu, fenomena ketergantungan dengan telepon genggam sering menjadi topik yang hangat untuk dibahas. Sekarang, perangkat teknologi yang awam dipakai banyak orang tidak hanya telepon genggam atau akrabnya HP, tapi juga laptop, music player hingga blackberry. Memang, HP masih menjadi “tentengan” wajib. Hanya kali ini fiturnya lebih gahar lagi. Mulai dari video call hingga GPS. Apalagi biaya untuk menikmati fasilitas teknologi ini juga semakin murah. Mungkin anda masih ingat ketika dulu seseorang perlu membayar sekian ratus ribu untuk membeli satu nomor perdana. Sekarang, uang untuk membeli satu nomor perdana bahkan tidak cukup untuk membeli satu paket Burger King.

Nah, akhir-akhir ini saya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya berpikir tentang sebesar apa arti sebuah perangkat teknologi, terutama teknologi komunikasi, dalam kehidupan kita.

Pertama, ketika sedang berada di salah satu coffee shop sebuah mal. Saat masuk dan mulai ”menyapu” ruangan, saya melihat pemandangan yang agak berbeda. Lalu, saya mulai menghitung.

Satu, dua, empat, enam…

Paling tidak ada enam laptop nangkring dengan manis di meja-meja coffee shop. Setiap meja punya minimal dua penghuni plus satu laptop, dan si empunya laptop sibuk melototin layar “mainan kesayangannya”. Wah, pemandangan di sebuah kafe sekarang ini tidak saya temui saat dua tahun lalu. Sekarang, lebih mirip pemandangan di warnet daripada di kafe. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang datang berempat. Dua orang sibuk dengan laptop, satu sibuk dengan blackberry, satu lagi bengong dengan tampang kasihan minta diperhatikan. Ada yang datang berdua. Satunya sedang tenggelam dengan facebook atau youtube-nya, sementara satunya lagi membolak-balik majalah gratisan yang disediakan kafe itu.

Bentuk interaksi yang hangat, intim dan santai ala kafe sepertinya mulai jarang ditemui di kafe yang saya masuki atau lewati. Sebagian pengunjung, baik yang sendiri maupun berdua ataupun rombongan, justru menikmati kegiatannya intimnya dengan gadget masing-masing.

Kedua, ketika saya dan dua teman saya merencanakan cuti bareng sambil berlibur ke sebuah pantai. Awalnya sih bicara tentang lokasi pantai mana yang akan kami singgahi. Kemudian ketika mulai diskusi tentang barang apa saja yang dibawa, argumentasipun dimulai. Satu teman saya mengatakan kalau ia akan membawa semua perangkat komunikasinya. Mulai dari HP-nya (yang ada empat buah itu) dan satu laptop. Teman saya yang satu lagi menimpali, ia tidak akan membawa laptopnya tapi pasti membawa satu HP dan satu blackberry-nya. Saya spontan langsung mengeluarkan jurus-jurus kontra. Menurut saya, salah satu esensi berlibur adalah menenangkan diri. Termasuk dengan cara menjauhkan diri dari gangguan duniawi yang biasa menggerayangi kita saat menjalani hari-hari normal. Email dari rekan kerja atau klien, kolom-kolom surat kabar, tayangan di televisi, belasan SMS dari teman, deringan HP dan kotak-kotak messenger adalah hal-hal yang ingin saya bersihkan dari otak saya di saat berlibur. Berlibur untuk mencari ketenangan, dan banjir informasi yang dikeluarkan oleh perangkat-perangkat tadi pasti akan membuat liburan menjadi kurang tenang. Apalagi perangkat itu kan butuh listrik. Saya malas membayangkan kami rebutan colokan untuk recharging. Mau liburan kok repot banget?

Nah yang ketiga adalah ketika saya sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Ketika kami sedang asyik ketawa-ketiwi, mengomentari kisah masing-masing, lama-lama kami sadar…kok ada suara yang kurang ya? sepertinya dari tadi yang seru ngerumpi cuma kami bertiga. Oalah, ternyata satu teman kami itu malah asyik berinteraksi dengan blackberry-nya. Saat diprotes, perempuan manis tinggi semampai ini malah menjawab, “Ini lagi ngobrol sama X”. X adalah salah satu teman dekatnya yang kami kenal juga. Wah, kami cuma bisa geleng-geleng kepala.

Tiga kejadian ini sudah cukup membuat saya berpikir betapa tergantungnya kita akan teknologi, apalagi teknologi komunikasi. Ungkapan “Lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP” seudah semakin umum didengar. Saya sendiri toh tidak bisa memungkiri kalau saya juga lumayan bergantung dengan alat komunikasi ini sejak tujuh tahun lalu. Sekarang, saat tidur saja saya selalu menaruh HP tidak jauh dari jangkauan tangan. Hanya pada saat akhir pekan atau sedang capek saja saya tidak menyalakan atau menjauhkan HP dari wilayah pribadi. Bisa dibilang saya juga korban HP.

Meski hampir menyebut diri sebagai budak teknologi, saya masih sering bertanya-tanya kalau melihat teman atau orang lain yang mampu memiliki lebih dari tiga HP sekaligus dan ketiganya aktif (Kalau saya budak, mereka apa ya?). Bukan, bukan kemampuan finansial yang membuat saya bertanya-tanya, tapi kemampuan otaknya melakukan peran multi fungsi. Apalagi kalau kejadiannya begini : Ketika sedang bicara dengan HP 1, HP 2 berdering, lalu menjawab telepon HP 2, lalu kembali ke HP 1, lalu masuk SMS di HP 3, lalu membalas SMS di HP 3 sambil terus mengobrol dengan HP 1. Waduh! Apa otaknya nggak mumet, ya?

Ketika kehadiran HP sudah cukup merampok waktu pribadi kita, lalu muncul teknologi lain yaitu laptop lengkap dengan fasilitas internet super cepat dan blackberry yang memastikan kita selalu terhubung dengan “dunia” di manapun kita berada. Tentunya perangkat ini sangat membantu kegiatan kita sehari-hari. Semua serba praktis. Mau kirim foto atau dokumen, tinggal diunduh lalu kirim lewat email. Ukuran besar atau kecil nggak masalah. Semua bisa diatur. Kalau kangen dengan pacar atau anak di rumah, raih HP dan aktifkan fasilitas 3G lalu video call, deh. Pokoknya serba mudah dan beres. Namun, terasa ironis kalau segala bentuk teknologi ini tidak hanya memberi kemudahan tapi juga memberi efek negatif dalam kehidupan sosial kita, yaitu justru membuat kita terisolasi dan menjauhkan kita dari keintiman dengan orang-orang sekitar kita, termasuk orang-orang terdekat. Itulah yang terjadi pada kejadian pertama yang saya ceritakan. Kafe yang biasanya merupakan simbol tempat bertemu untuk mengobrol santai dengan rekan atau sahabat, berangsur bergeser maknanya menjadi “warnet” dan para pengunjungnya sibuk membuat “kafe” di dunianya masing-masing, meskipun saat datang ke kafe mereka tidak sendiri. Biasanya mereka membawa pasangan atau teman-teman. Kalau begini, jadinya bukan ‘jauh di mata dekat di hati’, melainkan ‘dekat di mata jauh di hati’ karena secara fisik bersama namun tingkat keintimannya rendah.

Kalau begini harus bagaimana? Saya tidak akan memberi nasihat mem-PHK perangkat canggih yang ada di dekat anda sekarang atau memberitahu tips-tips mengontrol diri dari banjir informasi. Kita semua tahu kalau HP, internet, dan kawan-kawannya itu sangat membantu dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi yuk diingat kembali, apakah kehadiran perangkat-perangkat ini membuat kualitas hubungan kita dengan orang sekitar, termasuk orang-orang terdekat, jadi semakin baik atau sebaliknya. Tidak lucu juga kan kalau jadi sering diprotes teman, pasangan atau anak karena nggak bisa melepaskan HP dari tangan saat akhir pekan? Jangan sampai momen yang kita miliki kehilangan makna karena kita melanglang buana ke negeri maya. Selain itu, sesekali otak kita juga perlu rileks. Kalau setiap saat dibombardir informasi, bisa-bisa processor-nya ngadat dan sayangnya otak kita tidak seperti komputer yang bisa diformat ulang. Kalau sudah begitu, bagaimana mau hidup nikmat? Lagian gawat juga kalau harus diformat ulang, nanti memorinya hilang semua.

Senayan, 18.59 WIB. 15 Juli 2008

PS: Buat sahabat-sahabatku tersayang. Maaf menggunakan kalian sebagai contoh. Tenang, kita semua memang budak teknologi ;)

 

 

 

 

 

h1

pemburu pelangi

July 10, 2008

Kali ini Amalea dan Durata duduk di atas batang pohon besar kering berwarna kelam dengan ujung melingkar

Durata menyandarkan kepala di atas bahu Amalea

Amalea menatap gradasi langit jingga dan abu-abu

Durata memandangi kelopak mata Amalea yang mengerjap

“Pelangi, aku ingin lihat pelangi”

“Buat apa melihat pelangi, Amalea?”

“Aku suka melihat pelangi. Pelangi itu menyenangkan”

“Ia hanya bias-bias yang tak lama hilang”

“Tak apa meski pelangi hanya sementara. Aku suka pelangi”

“Tapi pelangi tidak akan bisa menemanimu saat malam”

“Aku bisa menunggu lelap di malam hari sambil memikirkan pelangi”

“Pelangi hanya indah dipandang. Ia kehilangan sihirnya saat kau mendekat”

“Bukan masalah buatku. Aku tak perlu dekat dengannya”

“Kamu suka bermimpi, Amalea. Tak usahlah kamu banyak bermimpi. Aku senang memandangimu menikmati pemandangan seperti ini, namun sepertinya kamu perlu mengurangi sedikit khayalmu”

“Kalau aku tidak seperti ini, kamu tidak akan mencintaiku bukan?”

“Mungkin. Mungkin saja, tapi tidak baik jika kamu terus seperti ini”

“Jika aku tidak seperti ini nanti kamu akan berhenti mencintaiku. Biarkan aku seperti ini”

“Kurangilah sedikit”

“Nanti kamu akan berkurang mencintaiku”

“Tidak akan”

“Tapi tadi kamu mengaku bahwa inilah yang membuat kamu menyukaiku”

“Kamu membuat pembicaraan ini menjadi tiada akhir”

“Aku ingin mengejar pelangi”

“Pelangi tak terkejar”

“Aku ingin mengejar pelangi”

“Kamu sungguh keras kepala”

“Aku akan mengejar pelangi. Aku akan melakukan perjalanan, berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengejar pelangi. Aku akan berburu pelangi, Durata”

“Berburu pelangi?”

“Ya, berburu pelangi. Aku akan membuat melukis setiap pelangi yang berhasil kutangkap. Aku akan merangkai kata untuk setiap pelangi. Aku akan menuliskan tiap detil bias warna yang terpendar”

“Kalau begitu aku akan memastikan aku tetap bisa menikmatimu memandangi pelangi, Amalea”

Amalea berbinar

Durata rindu pohon besar kelam dan gradasi langit oranye abu-abu.

Senayan, 16.50 WIB 10 Juli 2008

h1

Hidup Nikmat [3]

July 10, 2008

Hidup Nikmat No. 9

‘Mengucapkan selamat ulang tahun pada sahabat. Melihatnya mendapat satu kesempatan untuk mengucapkan harapan’

Hidup Nikmat No. 10

‘Membiarkan telapakmu dijatuhi tetesan gerimis kecil dari atas genting.’

Hidup Nikmat No. 11

‘Menghirup uap teh hangat di pagi hari.’

Hidup Nikmat No. 12

‘Menyandarkan kepalamu di atas pundak seorang teman.’

Senayan, Juli 2008

h1

tak pernah basi dan tanpa tapi

July 9, 2008

kala ia menjangkit

tak akan ada kata tapi

tak ada yang keliru

karena saat ia ada

tak akan kamu mengenal kata namun

hanya

    ada

        dia

           dan

               lalu

                    kamu

                        jatuh     

             tidak sadarkan diri

                        kemudian?

 

Senayan, Juli 2008

h1

menari kesedihan

July 3, 2008

Namanya Amalea

Namanya Durata

Amalea dan Durata berdampingan

Mereka saling pandang

“Durata, aku ingin menari bersamamu”

“Menari apa? Kamu tahu aku tidak bisa menari”

“Menari apa saja. menari apa saja”

“Aku ingin menari sambil berkabung”

“Bicaramu aneh. Apa maksudmu menari sambil berkabung?”

“Ya, menari sambil berkabung. Bersedih”

“Durata, kamu aneh sekali. Orang menari di saat senang. Bukan di saat sedih”

“Memangnya tidak ada tarian khusus untuk orang yang sedang sedih?”

“Mungkin ada. Mungkin saja ada. Tapi jarang orang yang melakukannya, karena biasanya orang menari saat mereka gembira. Misalnya saat pesta ulang tahun, pesta pernikahan…”

“Kamu tahu darimana kalau mereka yang menari di pesta itu sedang bersenang-senang?”

“Mereka tertawa. Mereka punya energi untuk menari. Mereka menari seperti tidak ada hari esok”

“Siapa bilang? Siapa bilang begitu? Mereka bisa saja sedang sedih”

“Tapi paling tidak mereka berusaha untuk senang, kan?”

“Berusaha untuk senang bukan berarti tidak sedang sedih. Mengapa mereka tidak menarikan tarian tentang kesedihan?”

“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan kesedihan, Durata?”

“Aku tidak terobsesi. Aku hanya berpikir realistis saja. Banyak orang sedih di dunia ini”

“Tapi bukan berarti kau harus memikirkannya bukan?”

“Aku tidak bisa tidak memikirkannya. Kamu tega sekali tidak memikirkan mereka”

“Lho, ini bukan tentang tega tidak tega. Kamu bisa lelah luar biasa kalau kamu memikirkannya”

“Aku bilang aku tidak bisa tidak memikirkannya”

“Durata, bisakah kita menari sekarang?”

“Menari kesedihan?”

“Tidak penting menari apa. Aku hanya ingin menari bersama kamu. Kamu boleh memikirkan kesedihan ketika menari bersamaku. Aku boleh memikirkan kamu memikirkan sesuatu yang indah ketika kamu menari bersamaku”

“Setuju. Aku setuju, Amalea”

Amalea dan Durata menari disiram sinar oranye dari matahari yang hampir sembunyi di balik awan abu

Senayan, 17.52 WIB. 3 Juli 2008

h1

Kakilima dan Mahluk-mahluk Berdasi

July 3, 2008

Jakarta baru saja merayakan ulang tahunnya. Di usia 481 tahun, Jakarta menunjukkan transformasi yang begitu pesat. Hingga saat ini, Jakarta masih tetap menjadi destinasi utama bagi mereka yang ingin mengembangkan dirinya, terutama dalam hal ekonomi. Itulah kenapa Jakarta menjadi bentuk nyata dari melting pot di Indonesia.

 

Puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang tumpah di Jakarta untuk mengadu nasib. Sebagian beruntung, sebagian lagi harus bekerja keras dengan hasil yang tak seberapa. Hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Ya, Jakarta bukan cuma gedung tinggi dengan interior luks. Jakarta bukan hanya mal berisi butik disainer ternama dunia. Sosok Jakarta tidak hanya melulu mereka yang berdasi yang duduk di dalam mobil mewah mengkilat. Joki ’3 in 1’ adalah Jakarta. Pemukiman liar dan kumuh juga Jakarta. Pedagang asongan di lampu merah juga sosok Jakarta. Mereka adalah bagian dari jakarta. Kita sering sekali bertemu dengan mereka, namun mungkin kita memilih untuk tidak ”melihat” mereka. Menganggap mereka bagian dari kota ini tanpa memikirkan bagaimana kehidupan yang mereka jalani, bagaimana cara mereka menghidupi diri dan keluarga, apa yang mereka hadapi setiap hari dan apa cita-cita mereka.

Irfan Kortschak adalah salah satu dari penduduk Jakarta yang ”menyadari” kehadiran ’invisible people’ ini. Irfan bukan orang Jakarta. Ia bahkan bukan asli Indonesia. Penulis/Fotografer yang bekerja di UNICEF ini berasal Australia, namun keakrabannya dengan Indonesia tidak perlu ditanyakan. Mengambil studi tentang Indonesia dan Jawa, Irfan yang beristrikan orang Indonesia ini telah berdomisili di Jakarta sejak 1993.

 

Irfan memang bukan ekspatriat pertama yang memiliki perhatian tinggi akan kota Jakarta. Namun lewat buku ’Nineteen’ yang disusunnya bersama fotografer asal Amerika, Josh Estey, Irfan berhasil membuka mata kita sebagai orang Jakarta untuk melihat sosok Jakarta dalam perspektif berbeda. ’Nineteen’ berisi 19 profil orang yang berada di sekitar kita namun sering luput dari perhatian, yaitu para pedagang kaki lima. Irfan (dan Josh Estey) melakukan pendekatan dan mewawancarai pedagang asongan, penjual jamu, pemilik warung di daerah Senen hingga veteran yang menyambung hidup dengan menjual minyak.

 

Jika melihat sosok pedagang kaki lima di sekitar kita, mungkin sebagian dari kita akan memandang pekerjaan mereka dengan sebelah mata. Memang, sektor informal di Jakarta belum dianggap serius, padahal beberapa di antara mereka, penghasilannya tidak kalah dengan mereka yang kerja kantoran, meski setting ”kantor” dan penampilan kerja mereka tidak rapi jali nan wangi seperti mereka yang bekerja di gedung tinggi.

 

Masalah informalitas memang dihadapi kota Jakarta. Berita tentang pedagang kaki lima yang digusur tentunya bukan hal asing di telinga kita. Informalitas sudah menjadi bagian dari sebuah kota. Menurut Ananya Roy dan Nezar Alsayyad, informalitas adalah suatu moda urbanisasi yang menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi dan ruang di kawasan perkotaan. Menurut pengamatan mereka, pada kota-kota di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia, perkembangan kawasan perkotaan disebabkan oleh urbanisasi informal. [lebih detil bisa anda baca di sini]

 

Memang dari segi keamanan (baca: asuransi kesehatan dan pensiun) posisi mereka sangat lemah. Namun tidak semua orang punya kesempatan untuk bersekolah hingga S1 bahkan S2, atau punya kenalan yang bisa membantu mendapat pekerjaan di perusahaan yang bisa memberikan keamanan hidup. Oya, tidak semua orang juga merasa senang dan nyaman bekerja dengan orang lain atau berada di dalam institusi. But well, menurut Kortschak, kita semua yang tinggal di kota Jakarta ini, baik yang pedagang kaki lima maupun yang kerja di ruangan AC toh punya kesamaan, sama-sama berjuang hidup. Sama-sama ingin bahagia. Sama-sama ingin hidup tenang. Meski tahu bahwa mencapai hidup tenang itu kadang terasa mahal. Terasa mahal karena bukan melulu mengenai materi. Bagi setiap manusia di Jakarta, gambaran hidup berkecukupan tentunya sangat berbeda. Namun bagaimanapun, baik pedagang kakilima, maupun karyawan bank tentu setuju kalau hidup perlu diperjuangkan. 

 

Apalagi hidup di Jakarta.

 

Bintaro-Senayan, Juni-Juli 2008

ps : thank you for Mr. Irfan Kortschak and Mr. Josh Estey

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

h1

mengkhayal andaikan aku jutawan

July 3, 2008
 
aduh!
jakarta hanya untuk konstipasi
karena jakarta bau terasi
Senayan, 3 Juli 2008